Oleh: J.A. Noertjahyo | 06/09/2010

Gunung Kelud

Gunung api yang masih aktif di Jawa Timur, terletak di tapal batas Kabupaten Blitar dan Kediri. Tinggi 1.731 meter di atas permukaan laut; dengan struktur puncak berbentuk cawan/mempunyai kawah yang sanggup menampung jutaan meter kubik air. Setiap kali meletus, gunung ini selalu memuntahkan air bersama material-material lepas. Letusan-letusannya selalu meminta korban jiwa/harta benda yang tidak sedikit; misalnya letusan tahun 1919 meminta korban jiwa 5.110. Letusan terakhir tahun 1966, memuntahkan 20.500.000 meter kubik air kawah dan 90 juta meter kubik material-material lepas; lahar panas meluncur sejauh 31 kilometer, mengakibatkan 25 desa hancur, 282 orang meninggal.

Berdasarkan penelitian Direktorat Geologi Bandung, perioda letusan Gunung Kelud terjadi 15 tahun sekali, sehingga diperkirakan letusan berikutnya terjadi tahun 1981. Untuk menekan bencana alam yang ditimbulkan sejak tahun 1973 telah dibangun tanggul-tanggul kantong lahar untuk menghambat serta mencegah kederasan meluncurnya material-material lepas ke daerah persawahan, perkebunan, dan perkampungan: antara lain telah selesai dibangun di Kali Semut, Kabupaten Blitar. (Dikutip dari Ensiklopedi Indonesia 3, halaman 1729-1730).

Dongeng Kuno tentang Gunung Kelud

Prabu Brawijaya dari Majapahit mempunyai seorang putri yang amat cantik, ialah Putri Sekar Kedaton atau Putri Kediri. Banyak anak raja dan pemuda bangsawan tergila-gila pada kemolekan putri Majapahit tersebut.

Adapun Putra Mahkota Kerajaan Blambangan, Raden Wimba atau Lembusuro sangat rindu dendam hendak memperistri putri itu. Wimba tidak berwajah seperti manusia kebanyakan, melainkan berkepala sapi dan bertanduk, makanya disebut Lembusuro. Hal ini adalah karena perbuatan tukang sulap yang pandai dapat merubah Wimba menjadi berkepala sapi tapi tak dapat memulihkannya.

Syahdan Wimba mengirimkan utusan untuk meminang sang putri. Prabu Brawijaya dan Putri Sekar Kedaton bingunglah. Siapakah mau mempunyai menantu berkepala lembu? Tapi menolak lamaran dengan terus terang tak berani pula, karena Wimba amat sakti.

Kemudian Sang Putri menemukan sebuah akal. Ia mau terima pinangan itu, asal Wimba sanggup menggali sebuah sumur di puncak Gunung Kelud hingga keluar air yang dapat dibuat mandi pengantin.

Sang Ayah menjadi girang, dan disampaikannya permintaan putrinya pada Wimba. Wimba sanggup memenuhinya. Dengan menggunakan tanduk dan kesaktiannya Wimba telah dapat membuat sumur itu amat dalam hingga mengeluarkan air.

Prabu Brawijaya menjadi bingung ketakutan. Maka diperintahnya rakyatnya melemparkan batu-batu dan tanah ke dalam sumur itu hingga Wimba teruruk. Sebelum mati tertimbun, terdengar suaranya berseru: ”Wahai Prabu Brawijaya, betul badanku telah mati karena perbuatanmu yang khianat, tetapi arwahku masih hidup langgeng. Ingat, setiap 16 tahun sekali aku akan bikin pembalasan dengan merusakkan kerajaanmu!”

Prabu Brawijaya bertambah takut. Kemudian dikeluarkannya perintah supaya rakyatnya mendirikan tanggul besar yang kini merupakan Gunung Pegat di bilangan Srengat, Blitar.

Benarlah, 16 tahun kemudian Gunung Kelud muntahkan laharnya yang pertama, tapi tak dapat menghanyutkan ibu kota Majapahit, karena terhalang oleh tanggul Gunung Pegat yang besar itu.

Selanjutnya, Gunung Kelud tetap muntahkan lahar, tapi menurut catatan tidak tetap tiap-tiap 16 tahun, entah Wimba lalai atau lupa pada dendamnya walahualam. (Dikutip dari buku Picnic ke Surga Jawa Timur, karangan Nyoo Cheong Seng dan diterbitkan oleh Prana Agency Service Malang, 1953).


Catatan tambahan:

Di komplek Pendopo Kabupaten Blitar terdapat bangunan yang disebut ”Rumah Lahar”. Menurut ceritera pinisepuh, saat terjadi lahar tahun 1919, Bupati Blitar (namanya lupa, sori) yang sakti mengacungkan pusakanya ke arah lahar yang mau masuk ke Pendopo, dan aliran lahar berhenti di tempat “Rumah Lahar” didirikan. Foto di bawah inilah bentuk “Rumah Lahar” yang sampai saat ini bisa kita saksikan.

”Rumah Lahar” di samping kanan Pendopo Kabupaten Blitar

(Foto: JA Noertjahyo).

* Biarabebas, 29 Juli 2010, Pasutri JA Noertjahyo*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: