Oleh: J.A. Noertjahyo | 19/03/2011

Bengkel Ketok Magic (2)

TERNYATA bengkel ketok magic terus berkembang dan konsumennya pun cukup banyak. Namun tidak semua pengusaha bengkel itu pernah belajar kepada Pak Turut. Bahkan juga tidak semua mereka berasal dari Blitar meskipun pada papan nama bengkelnya diberi embel-embel “Asli Blitar” atau “Dari Blitar”. Fenomena tersebut mendorong saya untuk menelusuri kembali perkembangan bengkel ketok magic. Seizin pimpinan Redaksi Kompas saat itu, saya bersama beberapa teman wartawan di beberapa kota melakukan penelusuran di lapangan, dan hasilnya diturunkan dalam Harian Kompas tanggal 8 April 1990, sebagai berikut: .

Ketok Magic Sekadar Nama

Foto ilustrasi: Suzuki Katana di garasi

KATA magic yang disandang nama bengkel mobil, memang terasa cukup aneh. Bahkan bisa menimbulkan interpretasi dan asosiasi macam-macam. Dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat gaib, sihir, atau bahkan yang berbau klenik, kebatinan, dan pedukunan. Apalagi jika di belakang kata magic itu masih ditambah dengan embel-embel Putra Blitar.  Suatu peluang terbuka untuk menghubungkannya dengan berbagai kisah dan ramalan tentang Gunung Kelud yang baru saja meletus. Bahkan juga dikaitkan dengan pimpinan pemberontak Peta Blitar Supriyadi, yang diyakini banyak orang kini masih tetap hidup di alam gaib.

Kenyataannya, sebagian pemilik atau pekerja di bengkel magic justru tak sepaham dengan macam-macam penafsiran itu. “Kalau ada bengkel ketok magic yang menggunakan kembang, kemenyan, atau menutupi mobil Anda dengan kain mori, pasti ia bohong,” kata Suwardi (41), pemilik bengkel di Kali Malang, Jaktim. Ia mengaku sebagai murid pertama Pak Turut, pelopor dan pendiri bengkel semacam itu di Desa Bangsri, Blitar.

“Magic itu hanya sebuah nama belaka,” kata Aman Yahya (37) mitra kerja Soewarno (21) yang memiliki Bengkel Ketok Magic di Desa Pasirkuda Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Ditegaskan, sebagai nama Bengkel Ketok ‘Magic’ sama halnya dengan Bengkel Ketok ‘Murah’ atau Bengkel Ketok ‘Maju’.

Foto ilustrasi: Suzuki Escudo

“Yang jelas, kami tidak menggunakan magic. Tak ada palu yang bisa memukul sendiri,” jelas Soewarno yang mengaku berasal dari Desa Gledug Kecamatan Sanankul;on, Blitar. Ia mengaku, setiap akan mulai bekerja selalu diawali dengan mengucapkan bismillah.

Hal senada juga diutarakan oleh Sugeng (25), kepala Bengkel Ketok Magic di dekat jembatan tol layang Kuningan. “Kami tidak memakai ilmu gaib, tapi memakai keahlian biasa yang bisa dipelajari setiap orang,” katanya.

Sama halnya dengan Widodo dari Bengkel Putra Kelud di Surabaya. Ia mengaku, perbaikan yang dilakukan hanya menggunakan alat-alat biasa. Apa tidak menggunakan tenaga dalam? “Ya, tapi tenaga dalamnya itu hanya nasi. Kalau punya magic, itu hanya untuk menarik perempuan,” ujarnya sambil tertawa, terlihat menyembunyikan sesuatu.

Bahkan ‘bapak’ dari ilmu perbengkelan semacam itu, Pak Turut (almarhum) menyatakan bahwa cara kerjanya sama saja dengan orang lain. Ia mengaku tak menggunakan ‘ilmu gaib’, meskipun sekilas nampak menyembunyikan sesuatu. (Kompas 2 Mei 1977). Hal serupa juga dikatakan anak lelakinya, Warsidi, yang kini juga menjadi pemilik bengkel di Bangsri, Blitar. Tetapi bengkel Warsidi justru tak memakai predikat magic, bahkan ia pun tak memasang papan nama.

Senada dengan itu juga diucapkan Yulius Tukidi, menantu almarhum Pak Turut yang kini meneruskan bengkel mertuanya di Bangsri. “Papan nama yang kecil itu pun bukan buatan saya,” ujarnya. Di pintu masuk pekarangan/bengkel itu memang ada papan nama kecil, bertuliskan “Bengkel Pak Turut”. Tak ada embel-embel magic, yang ada justru nama sebuah pabrik rokok besar di Jatim. Rupanya itu pesan sponsor. Dan menurut pengakuan Yulius Tukidi, pabrik rokok besar itu memang salah satu langganannya.

Namun agak lainlah pengakuan Moh. Roji (31) dari Bengkel Ketok Magic di Jl. Raya Karangkimpul Semarang, yang mengaku pernah belajar pada Pak Turut selama 6 tahun. Katanya, dalam memperbaiki kendaraan di samping mengucapkan ‘doa jampi’, ia juga menggunakan sejumlah peralatan rahasia buatannya sendiri. Tapi ia tak mau menyebutkan/mengucapkan doa tersebut di hadapan Kompas. “Itu merupakan rahasia perguruan,” ujarnya.

Pengakuan tentang penggunaan mantra dan peralatan khusus itu juga diucapkan oleh beberapa pekerja bengkel semacam di Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Bahkan Soewardi di Kali Malang Jaktim pun mengakui punya ‘ilmu kebatinan’.

Maka cara kerja bengkel-bengkel itu pun masih merupakan kontroversi. Setidaknya bagi mereka yang tak terlibat di dalamnya.

* * *

Ilustrasi: Taft di halaman Gonzaga Jakarta

LEPAS dari soal magic, mantra dan jampi mungkin Pak Turut (alm) memang pantas mendapat acungan jempol. Enurut beberapa tetangga dan muridnya, ia telah banyak berbuat amal semasa hidupnya. Dan setelah meninggal bulan Desember 1982, ratusan orang bisa hidup dengan meniru cara kerjanya. Diperkirakan lebih dari 200 bengkel ‘ketok magic’ kini bertebaran di berbagai kota di Jawa dan beberapa lagi di luar Jawa. Di Jakarta saja diperkirakan lebih dari 70 bengkel. Tiap bengkel paling tidak mempekerjakan tiga orang, dan yang besar bisa mencapai 9 orang bahkan lebih. Pada tahun 1977 bengkel Pak Turut mempunyai 22 karyawan, dengan penghasilan terkecil tiap bulannya Rp 124.000/orang.

Yulius Tukidi yang meneruskabn kegiatan bengkel mertuanya segan menyebutkan penghasilan. Namun diakui, tiap karyawannya paling tidak bisa mendapat Rp 5.000/orang/hari. Warsidi pun hanya menyebut kata ‘cukup’ tentang besarnya penghasilan itu. Kedua ahli waris Pak Turut itu sama-sama mengakui, usaha yang dilakukan bekas murid Pak Turut di kota-kota lain memang lebih maju.

Foto ilustrasi: Suzuki Escudo

Soewardi di Kali Malang tak bisa menyebutkan penghasilan anak buahnya. Tapi untuk bengkel itu ia menyewa tanah Rp 1,45 juta/tahun. Tiap hari menangani 4-6 mobil rusak, termasuk hari Minggu. Ongkos perbaikan 50% digunakan untuk peralatan dan sewa tanah tersebut. Separuhnya dibagi rata untuk karyawan yang melakukan perbaikan mobil itu.

Lain dengan Sugeng di Kuningan (Jakarta). Karyawan yang berketrampilan biasa, katanya bisa menerima Rp 250.000/bulan, dan yang trampil bisa mencapai Rp 400.000/bulan. Sedangkan Budi di Pejaten Jakarta menyebutkan, lima karyawannya bisa menerima Rp 300.000 sampai Rp 400.000/bulan.

Bagaimana penghasilan di luar Jakarta? Moch. Roji di Semarang menyebut angka minimal Rp 250.000, jumlah yang sama untuk kota Bandung. Sedang di Bengkel Putra Meraqpi Surabaya menerima sekitar Rp 4.500/orang/hari. Di Yogyakarta, Bengkel Adi Wijaya menyebut penghasilan minimal Rp 250.000/orang/bulan, dan Lambang Kencana minimal Rp 5.000/orang/hari.

Menurut pengamatan, sistem kekeluargaan banyak diterapkan untuk pembayaran di bengkel-bengkel tersebut. Karenanya agak sulit menyebutkan angka yang pasti. Umumnya makan-minum diberikan secara gratis oleh pemilik bengkel. Penghasilan terkecil yang terekam adalah Rp 5.000/hari atau sekitar Rp 150.000/bulan. Ini merupakan penghasilan bersih, suatu jumlah yang sulit dicapai di Desa Bangsri, Blitar.

Mungkin penghasilan itulah salah satu pendorong berkembangnya usaha perbengkelan magic ini. Hampir semua pemilik/pekerjanya mengaku berasal dari Blitar. Mungkin ini ada kaitannya dengan cerita Suwoto di Bogor. Menurut karyawan bengkel milik Sutrisno di Sindangbarang ini, Kepala Desa Bangsri menghjmpun para remaja putus sekolah di desanya dalam Karang Taruna. “Mereka kemudian dikirimkan ke bengkel-bengkel ketok magic di berbagai kota untuk bekerja,” katanya. Ini untuk menanggulangi penganggguran di desa tersebut.

Setelah beberapa tahun bekerja dan punya keahlian, kata Suwoto, ada yang berinisiatif membuka bengkel sendiri dengan beberapa rekannya. “Karena itu tak mengherankan bila kini bengkel ketok magic tumbuh menjamur,” katanya.

Jika rata-rata tiap bengkel mempekerjakan 5 orang, sekitar 200 bengkel ketok magic berarti menyerap sedikitnya 1.000 tenaga kerja. Dan mereka ini tiap bulannya menyedot sekitar Rp 150 juta uang di berbagai kota untuk menghidupi keluarganya di desa-desa Blitar. Inilah jasa Pak Turut almarhum, orang desa yang lugu dan rendah hati.

* * *

Ilustrasi: Honda Civic dalam perjalanan

RASANYA memang agak janggal. Di tengah semakin canggihnya teknologi khususnya di bidang permobilan, bengkel ketok magic berkembang cukup pesat. Di mana kuncinya?

“Ongkos perbaikan lebih murah dan cepat selesai,” kata seorang karyawan perusahaan besar di Jatim, yang berlangganan dengan bengkel Yulius Tukidi. Hal itu juga dibenarkan seorang sarjana di Surabaya yang pernah memperbaiki mobilnya ke sana.

Dari berbagai pembicaraan dengan konsumen maupun pekerja bengkel diketahui, biaya di bengkel tersebut rata-rata hanya separuh dari biaya perbaikan di bengkel ‘biasa’,. Dan waktu mengerjakannya pun lebih cepat. “Waktu saya bawa ke bengkel biasa, katanya perlu dua minggu. Ternyata di bengkel Pak Tukidi hanya tiga hari sudah selesai,” tutur seorang pedagang mobil bekas di Malang.

Mengenai ongkos perbaikan ia mengatakan, di bengkel biasa minta Rp 350.000. Ternyata di Bangsri hanya membayar Rp 130.050. “Murah ‘kan? Sebab catnya tidak rontok, dan tidak perlu mencat lagi,” sambungnya dengan nada meyakinkan. Ketika Kompas diajak mengamati mobilnya itu, memang tak terlihat adanya cacat.

Pengamatan menunjukkan, memang ada persamaan antara bengkel Pak Turut dengan beberapa bengkel yang menggunakan predikat magic. Pertama, pemilik kendaraan tak boleh melihat perbaikan yang dilakukan. Kedua, bengkel hanya memperbaiki bagian-bagian kendaraan yang pesok dengan cara mengetok, tanpa melakukan pendempulan/pencatan. Ketiga, ongkos perbaikan jumlahnya ‘berbuntut aneh’, misalnya Rp 10.025. Jika sulit menemukan uang 25 rupiahan bisa juga berekor lima puluhan atau ratusan, misalnya Rp 200.050 atau Rp 350.100.

Beberapa pengelola bengkel menyatakan, jumlah ongkos dengan ekor ‘ganjil’ itu sudah merupakan tradisi. Pak Turut sendiri menuturkan, diambilnya satuan uang paling kecil itu dengan alasan, “Kita menghitung mulai dengan yang kecil.” Persamaan keempat, biaya perbaikan umumnya lebih rendah dibanding ‘bengkel biasa’. Dan kelima, penyelesaian perbaikan biasanya lebih cepat dibanding di ‘bengkel biasa’.

Yang tak kalah pentingnya, Pak Turut tak pernah melakukan ‘pemanasan’ untuk meluruskan bagian-bagian kendaraan yang bengkok, misalnya chasis truk sekalipun. Juga tak pernah melakukan pengelasan, pendempulan dan pencatan. “Dengan mencat, pekerja yang tidak terampil bisa menipu konsumen. Kalau hasil ketokan tidak rapi, dempul diperbanyak dan dicat. Toh konsumen tidak tahu,” ujar Soewardi, yang mengaku bengkelnnya tak melakukan pencatan.

Ilustrasi: Mama dan Toyota Corolla, Tanjung Kodok

Baik Warsidi maupun Yulius Tukidim mengakui, tak tertutup kemungkinan mereka yang membuka bengkel ketok magic itu ada yang hanya mengaku-aku. Artinya, tidak melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Pak Turut dulu. Hal serupa juga dikatakan beberapa pemilik bengkel semacam, baik di Jakarta, Bandung maupun kota lainnya. Karena itu, menurut Budi di Pejaten Jakarta, dalam waktu dekat ini akan diadakan ‘musyawarah para pengusaha bengkel ketok magic’, dan katanya akan dibentuk semacam organisasi. Setelah itu akan dilakukan penertiban. “Yang boleh beroperasi dengan nama Bengkel Ketok Magic, nantinya hanya mereka yang diberi izin oleh Ketua dan Sekretaris,” katanya.

Selama ini memang tak ada koordinasi formal antarbengkel tersebut, meskipun di antara beberapa bengkel terkadang punya hubungan dan melakukan kerja sama. Yang sering dilakukan, saat mereka mudik Lebaran sama-sama melakukan ziarah ke makam Pak Turut. Dalam kesempatan itu mereka pun bisa saling bertemu, bertukar pikiran dan pengalaman. Sekaligus untuk saling memaafkan kesalahan pada hari Lebaran.

(rio/pun/ary/pom/wgt/ij/not)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: