Oleh: J.A. Noertjahyo | 21/06/2011

Jakob Oetama: Sekapur Sirih

Inilah “Sekapur Sirih”  dari Bapak Jakob Oetama untuk buku “Dari Ladang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani” (Penerbit Buku Kompas, Februari 2005):

DARI mana dan bagaimana memperbaiki hidup petani? Jawaban menurut akal sehat: dengan menaikkan produktivitas dan kualitas produk pertanian. Dengan menjaga tingkat harganya, mengingat apalagi dalam masa globalisasi ini, harga produk pertanian dipengaruhi oleh kebijakan harga produk pertanian di negara-negara lain.

Jakob Oetama

Sementara itu, bukankah petani rata-rata tidak lagi bisa kecukupan hidupnya dari hasil bertani, hanya karena sempitnya lahan yang mereka miliki? Belum lagi dilema yang setiap kali dihadapi pemerintah. Misalnya dilema antara melindungi petani dengan politik harga dengan tugas pemerintah untuk juga melindungi penduduk nonpetani. Masalah impor beras, gula, kedelai, dan lain-lain berikut kebijakan harganya merupakan salah satu contoh. Masalah itu terus-menerus aktual.

Perihal peranan pemerintah lewat departemen dan berbagai lembaga serta birokrasinya juga amat menentukan. Sepertinya serba masalah saja yang dijumpai. Persoalan tali-temali, namun bagaimana mengurainya dan membuat efektif, efisien, partisipatif dan terbuka untuk pengawasan dan koreksi, merupakan pekerjaan rumah yang belum selesai.

Kita segera pula diingatkan, negeri Indonesia yang berkepulauan, betapa pun negeri ini adalah negeri maritim, berlaut dengan segala isi kekayaannya, dikenal pula sebagai negeri agraris. Lambat laun, kualifikasi agraris bagi Indonesia, lebih seakan-akan karena kita juga belum berkembang sebagai negara industri.

Dicobalah berbagai jalan keluar. Di antaranya, bagaimana jika produk pertanian sekaligus diolah sebagai produk yang diperdagangkan. Agraris berkembang sebagai agribisnis. Agar ada nilai tambah.

Pernah pula dicoba menempuh jalan pintas. Bukan lewat jalan gradual industrialisasi kecil dan menengah, tetapi sekaligus membuat lompatan ke industri canggih. Misalnya membangun industri pesawat terbang. Ternyata, menurut faktanya, lompatan itu pun bukan jawaban yang tepat.

Maka, sehari-hari pun, hidup kita terganggu. Masuk toko buah-buahan. Luar biasa bagus tampang, jeruk, durian, anggur, lengkeng, apel yang dijajakan. Setiap kali pembeli bertanya, dari mana buah-buahan itu, dijawab pelan oleh penjualnya, dari Bangkok atau negeri lain.

Apa sebenarnya masalah kita dan bagaimana kiranya jalan keluar untuk mengatasinya? Begitulah isi dan semangat buku wartawan Kompas Noertjahyo yang diberi judul: ”Dari Ladang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani,”  yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Buku ini karya jurnalistik. Karya wartawan. Hasil kerja lapangan yang dilengkapi dengan bahan dokumentasi serta pendapat ahli-ahli dan pejabat yang bersangkutan. Pernah dimuat sebagai tulisan lepas atau seri tulisan. Diterbitkan lagi sebagai buku setelah dilengkapi dengan akumulasi fakta, data, analisa serta beragam pendapat.

Gaya tulisan Noertjahyo lancar, bertutur, bercerita, karena itu enak dibaca. Untuk penulisnya, inilah karya yang melengkapi kerja jurnalistiknya. Bukan lepas-lepas atau sekadar Seri Laporan, melainkan dikumpulkan sebagai buku.

Dengan menulis dan menerbitkan buku ini, wartawan penulisnya ikut merintis tradisi yang sudah umum di negeri lain, yakni wartawan juga mau dan mampu memaparkan pengetahuan dan pengalamannya dalam sebuah buku.

Latar belakang dan pengalaman penulisnya menarik pula. Sambil bekerja di pabrik rokok di Malang, ia menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya, Malang. Ia belajar jurnalistik secara otodidak. Kemudian menulis dan diangkat sebagai koresponden Kompas di Malang, lalu koordinator wartawan Kompas daerah Jawa Timur dan Bali. Barulah kemudian ia ditarik ke Jakarta, ke kantor Redaksi Kompas. Berbagai pekerjaan ia jalani, namun toh inklinasinya yang lebih kuat adalah turun ke lapangan. Melakukan reportase dan yang digeluti sebagai preferensinya adalah pertanian serta para petaninya.

Jika reportasenya dicermati, ia lambat laun menggabungkan suatu reportase yang diperkaya. Adalah obsesi wartawan umumnya turun ke lapangan, melakukan kerja reportase. Reportase ialah meliput fakta di lapangan. Agar fakta lebih berbicara dan bermakna, reportase berbekal sekurang-kurangnya pengetahuan dan pemahaman minimal perihal bidang yang akan dilaporkan.

Berlangsung suatu cara dan proses kerja yang simultan serta berinteraksi. Ke lapangan membawa bekal pengetahuan dan pemahaman. Dengan bekal itu membuat laporan lebih kaya dan bermakna. Kumpulan pengalaman lapangan menambah sekaligus modal pengetahuan dan pemahaman. Membuka diri untuk akumulasi fakta, data, persoalan dan wacana.

Pengalaman kerja jurnalistik seperti itulah yang terasa ketika membaca tulisan-tulisan penulis. Dan hasil akumulasi pengetahuan, pengalaman yang diiteraksikan dengan sikap serta pandangannya sebagai wartawan ikut memberi bobot serta memperkaya perspektif buku ini.

Jakarta, Januari 2005

Jakob Oetama

Pemimpin Umum Harian Kompas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: