Oleh: J.A. Noertjahyo | 22/08/2009

Sigaret Kretek, Tonggak Bangsa

Artikel ini dikutip dari tulisan saya di buku  “Seribu Tahun Nusantara“, halaman 276-287, Penerbit Harian Kompas, Jakarta, Januari 2000.

SULIT dibayangkan, seorang pribumi yang tidak pernah mendapat pendidikan formal di sekolah, mempunyai anak buah kulit putih yang ahli dalam pembukuan. Apalagi itu terjadi di masa Belanda berkuasa di negeri ini. Akan tetapi itulah fakta sejarah pada masa jayanya “Raja Kretek” M Nitisemito. Pemilik pabrik rokok cap “Bal Tiga” di Kudus ini mempekerjakan akuntan HJ Voren di perusahaannya, dan akuntan dari pemerintah kolonial bernama Poolman.

Dalam bidang bisnis Nitisemito sukses, tetapi dalam menghadap bupati dan pengadilan ia diperlakukan sebagai layaknya bumiputera lainnya: harus duduk bersimpuh di lantai. Arogansi kekuasaan enggan menghargai suatu prestasi yang muncul dari bawah, meskipun secara ekonomis menguntungkan. Apalagi kekuasaan berada di tangan pemerintah kolonial dan prestasi muncul dari rakyat yang dijajahnya!

Sejarah tetap setia mencatat berbagai peristiwa penting. Kisah industri kretek merupakan kisah sukses negeri ini. Ia merupakan salah satu tonggak bangsa yang ditancapkan lebih dari 100 tahun yang lalu. Dia punya peran penting dalam pemasukan uang bagi negara, menggelindingkan perekonomian rakyat, sekaligus menampung sejumlah besar tenaga kerja. Dan, yang tak kalah pentingnya, industri ini telah menyadarkan kita bahwa ada anak bangsa yang brilian, yang mampu mencipta dan menunjukkan prestasi besar.

Pada awal kemunculan kretek Pemerintah Hindia Belanda pun sudah mencium nilai ekonomis di dalamnya. Maka pajak tembakau pun menjadi salah satu pemasukan bagi pemerintah. Menurut Lance Castles dalam bukunya berjudul “Tingkah Laku Agama, Politik dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok Kudus“, pajak tembakau pada tahun 1938 mencapai Rp 1.790.000, atau 6,2 persen dari total pemasukan pajak dan bea. Dua puluh tahun kemudian (1959) jumlah itu telah melejit menjadi Rp 244.930.000 dan merupakan 18,2 persen dari total penerimaan pajak dan bea bagi pemerintah. Jadi dalam 20 tahun kenaikannya mencapai hampir 137 kali (13.700 persen!).

Bagaimana dalam kurun waktu 10 tahun terakhir? Menurut data Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), tahun 1988 pembayaran cukai rokok anggotanya mencapai Rp 1.090.241.756.641. Dan, pada tahun 1998 telah berlipat lebih dari enam kalinya, yaitu mencapai Rp 6.286.982.466.382.

Data itu menunjukkan besarnya peran industri kretek dalam memasukkan uang ke kas negara. Jumlah itu pasti akan bertambah besar dengan memperhitungkan pemasukan dari jenis pajak lain, misalnya pajak perseroan, penjualan, reklame, ekspor-impor, dan sebagainya.

“Bagi pemerintah industri rokok kretek merupakan sumber pendapatan yang sangat penting artinya,” tulis Amen Budiman dan Onghokham dalam bukunya “Rokok Kretek, Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa Dan Negara” (1987). Disebutkan sebagai contoh, pada tahun 1962 penerimaan pemerintah dari cukai tembakau mencapai 21,70 persen dari pemasukan berbagai macam pajak dan bea. Juga diuraikan peran industri kretek dalam menampung tenaga kerja, serta keterkaitannya dengan penampungan tenaga di bidang pemasaran rokok, perkebunan cengkeh maupun tembakau. Masih ditambah sumbangannya secara langsung dalam berbagai bidang pembangunan, baik secara nasional maupun regional, khususnya di lokasi industri kretek berdomisili.

“Kediri akan suram tanpa kehadiran Gudang Garam,” komentar seorang pejabat teras di kota yang dibelah Kali Brantas itu. Dari kalangan Gappri pun mengingatkan peran Djarum Kudus dalam penghijauan kota dan olahraga bulu tangkis, serta drumband Sampoerna yang pernah mengguncang Pasadena dalam festival bunga. Semua terkait dengan berkembangnya industri kretek.

Awalnya untuk obat

Embrio kretek adalah kebiasaan masyarakat yang menghisap rokok. Tidak ada catatan untuk mengetahui secara pasti kapan penduduk Indonesia mulai merokok. Menurut Solichin Salam, dalam tahun 1624 para pembesar Jawa di Keraton Kartasura sudah gemar menghisap rokok dari tembakau.

Thomas Stamford Raffles dan De Condolle menyebutkan bahwa tembakau dan kebiasaan merokok telah masuk ke Pulau Jawa pada sekitar tahun 1600. Sementara itu Amen Budiman dan Onghokham menyebutkan dalam bukunya, halaman 84, beberapa kesaksian bahwa Sultan Agung (Raja Mataram 1613-1645) adalah seorang perokok kelas berat.

Kisah romantis yang terkait dengan rokok di masa pemerintahan Sultan Agung itu adalah kisah Roro Mendut – Pranacitra. Karena tak bersedia menjadi selir Tumenggung Wiraguna yang telah berusia tua itu, Roro Mendut dihukum membayar pajak tiga real sehari. Untuk memenuhi denda yang begitu besar, Roro Mendut berusaha membuat dan menjual rokok, sehingga akhirnya bertemu dengan Pranacitra yang muda dan rupawan. Sepasang sejoli saling jatuh cinta, namun akhirnya Pranacitra dibunuh oleh Wiraguna dan Roro Mendut pun bunuh diri.

Dalam bukunya berjudul Kudus dan Sejarah Rokok Kretek yang diprakarsai Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) itu, Solichin Salam juga menulis: “Orang-orang Indonesia pada masa itu mempunyai suatu kebiasaan untuk menggulung rokoknya sendiri, dengan cara yang amat sederhana susunan maupun bentuknya. Oleh sebab itu rokok bagi penduduk asli di Indonesia di zaman itu belum merupakan barang dagangan yang menarik. Sesudah adanya usaha untuk mencampur tembakau dengan berbagai rempah-rempah seperti cengkeh misalnya, atau damar dan akar-akar wangi, bentuk kesederhanaan rokok itu mulai beralih ke arah barang dagangan yang lebih berarti dan menguntungkan.”

Kebiasaan melinting rokok sendiri itu pun masih tetap dilaksanakan sebagian masyarakat kita, khususnya di daerah-daerah pedalaman yang miskin. Rokok demikian dikenal sebagai “tingwe” (singkatan dari “nglinting dewe” atau “menggulung sendiri”). Bahkan sering terjadi rokok itu hanya terdiri dari pembungkus (kelobot) dan tembakau, tanpa cengkeh atau jenis rempah-rempah lain.

Kisah yang hidup di kalangan pabrik kretek dan telah ditulis dalam beberapa buku, adalah penduduk Kudus yang bernama Haji Djamari sebagai penemu/perintis rokok kretek. Awalnya ia merasa sakit di bagian dadanya. Ia coba mengobatinya dengan minyak cengkeh yang dioleskan pada bagian yang sakit itu. Hasilnya, rasa sakitnya berkurang. Ia lalu merajang cengkeh dan dicampurkan dalam tembakau yang akan dilintingnya menjadi rokok. Melinting sendiri rokok yang akan dihisapnya memang sudah menjadi kebiasaannya, seperti halnya yang dilakukan kebanyakan anggota masyarakat saat itu. Setelah menghisap “rokok cengkeh” itu, rasa sakitnya semakin terasa berkurang. Demikianlah, setelah beberapa waktu selalu menghisap “rokok cengkeh” Haji Djamari merasa penyakitnya telah hilang.

Kabar gembira itu pun menyebar dari mulut ke mulut. Akhirnya Haji Djamari menjadi produsen “rokok cengkeh” karena banyaknya permintaan. Beberapa kenalannya pun akhirnya mengikuti menjadi produsen rokok “penemuan” Haji Djamari. Karena sewaktu dihisap cengkeh yang terbakar menimbulkan bunyi “kretek … kretek … kretek”, maka “rokok cengkeh” itu akhirnya lebih dikenal dengan nama “rokok kretek”.

Haji Djamari meninggal dunia tahun 1890. Kalangan pabrik rokok menafsirkan penemuan Haji Djamari terjadi antara tahun 1870-1880. Itulah saat-saat yang diyakini sebagai kelahiran rokok kretek di Kudus, yang berawal dari upaya pengobatan dan berkembang menjadi mata dagangan yang melahirkan “kerajinan rumah tangga”. Masih terlalu “wah” untuk disebut sebagai kegiatan industri rumah tangga. Haji Djamari tentunya tak pernah membayangkan bahwa penemuan dan rintisannya itu akan terus disempurnakan dan berkembang sehingga menjadi industri kretek raksasa seperti yang kita saksikan saat ini.

Terus berkembang

Pada awal kelahirannya itu kretek umumnya dibungkus dengan kelobot, baik yang dipungut dari jagung muda maupun setelah berusia tua. Sangat sedikit produsen yang menggunakan bungkus kelaras atau daun kawung, kecuali dalam kesulitan memperoleh kelobot. Batang-batang rokok hanya diikat dengan jumlah tertentu (kebanyakan 10 dan 20 batang per ikat) untuk dipasarkan. Belum dikenal kertas pembungkus, sehingga rokok bisa disebut “bertelanjang bulat” di pasaran. Cara penjualannya pun kebanyakan dari tangan ke tangan, secara kecil-kecilan. Tidak ada kios khusus rokok, dan produsen membuatnya sebagai kegiatan keluarga.

Rokok kretek ternyata sangat digemari masyarakat, sehingga terus berkembang jumlah produksinya untuk bisa memenuhi permintaan. Dari Kudus, kerajinan membuat kretek merembet ke daerah-daerah lain, sampai ke Semarang, Surakarta, bahkan ke Jawa Timur. Produsennya pun tidak lagi terbatas di kalangan pribumi, tetapi juga keturunan Cina. Maka kegiatan yang semula bersifat “kerajinan keluarga” meningkat menjadi “industri rumah tangga”, sebelum akhirnya menjelma menjadi industri kretek.

Ramuan pencampur tembakau pun mengalami berbagai uji coba mengikuti kreativitas produsen dan selera konsumen, sampai pada akhirnya ditemukan formula “paten” yang terdiri dari tembakau, cengkeh, dan saos. Dalam klausula paten ini pun terjadi berbagai variasi akibat dari kualitas saos dan cengkeh yang digunakan, maupun kualitas dan jumlah jenis tembakau yang digunakan.

Permulaan abad ke-20 dicatat sebagai fajarnya kebangkitan industri kretek, yang terus berkembang dan menimbulkan persaingan antara para produsen. Di Kudus, persaingan sangat sengit terjadi antara produsen pribumi dan keturunan Cina. Amen Budiman dan Onghokham melukiskan situasinya demikian:

“Pada awal mulanya seluruh perusahaan rokok di Kudus berada di tangan orang pribumi. Namun, setelah para pengusaha ini berhasil mencapai demikian banyak kemajuan dalam waktu yang relatif singkat, para pengusaha Tionghoa beramai-ramai mengikuti jejak mereka. Di antara kedua pihak kemudian muncul persaingan hebat. Pada tahun 1918 persaingan itu telah mencapai puncaknya, hingga menjadi salah satu faktor penting penyebab meletusnya sebuah kerusuhan hebat yang meledak di Kudus pada tanggal 31 Oktober tahun itu juga.

Banyak korban berjatuhan pada kedua pihak. Sejumlah rumah dan pabrik telah terbakar. Banyak pengusaha pribumi yang berpengaruh telah diajukan ke muka pengadilan dan dijatuhi hukuman. Akibatnya industri rokok kretek pribumi di Kudus mengalami kemunduran. Sebaliknya, dengan terpidananya pengusaha pribumi tersebut para pengusaha Tionghoa berhasil memperkuat posisi mereka dalam industri rokok kretek di Kudus. Fajar kemakmuran mereka pun mulai merekah.”

Kerusuhan itu memang mengakibatkan kerusakan cukup berat bagi industri kretek di Kudus. Namun, pelan tetapi pasti industri kretek bangkit lagi. Salah satu pendorongnya adalah permintaan konsumen yang sudah telanjur merasakan dan kecanduan nikmatnya menghisap kretek. Pada tahun 1924 praktis industri kretek di Kudus sudah pulih, dengan mencatat kehadiran sekitar 35 pabrik skala besar, menengah, dan kecil. Tahun 1928 jumlah itu meningkat menjadi 50 pabrik, dan komposisi kepemilikan antara pribumi dan Tionghoa nyaris seimbang.

Jumlah pabrik dan komposisi kepemilikannya periode 1924-1933 digambarkan dalam hasil penelitian Van der Reijden, yang dikutip Lance Castles dalam bukunya di halaman 179 (Tabel 1).

Bangkitnya industri kretek Kudus diikuti daerah-daerah lain di Jawa Tengah, bahkan sampai ke Jawa Timur, Bali-Lombok, dan Sumatera. Penggambaran produksi kretek tahun 1934 dan 1961 dipaparkan dalam hasil penelitian Van der Reijden, seperti tercantum dalam Grafik 1. Terlihat bahwa dalam tahun 1961 dominasi produksi kretek di Karesidenan Jepara-Rembang (termasuk Kudus) sudah dibuntuti oleh Karesidenan Kediri dan Karesidenan Malang. Kepemilikan modal dan keuntungan pun mulai didominasi pengusaha Tionghoa.

M Nitisemito yang mulai terjun ke industri kretek tahun 1909, tidak diketahui banyak tentang perannya sebelum terjadi dan pada saat terjadi kerusuhan tahun 1918. Menurut Solichin Salam, cap Bal Tiga mulai digunakan tahun 1924-1925. Antara tahun 1930-1934 produksinya baru sekitar 2-3 juta batang/hari. Pada tahun 1938 produksinya melonjak tajam hingga mencapai 10 juta batang/hari dengan buruh sekitar 10.000 orang.

Nitisemito dikenal sebagai “Raja Kretek” yang kaya-raya, sekaligus sebagai pengusaha kretek yang memelopori diterapkannya manajemen secara modern. Sistem administrasi dan pembukuan dilakukan menurut teori “barat”, disertai kegiatan promosi dan diversifikasi usaha. Ia berani menyewa pesawat terbang jenis Fokker seharga 150-200 gulden untuk memromosikan rokok cap “Bal Tiga” ke kota Bandung dan Jakarta. Diversifikasi usaha sekaligus sebagai alat promosi tidak langsungnya adalah pendirian Radio Vereneging Koedoes (RVK) tahun 1937. Begitu terkenalnya nama M Nitisemito sehingga Sri Susuhunan Paku Buwono X mengunjungi pabriknya pada tahun 1938, dan Bung Karno dalam pidato “Lahirnya Pancasila” pada 1 Juni 1945 juga menyebut namanya.

Terus meningkat

Produksi kretek memang berfluktuasi, namun kecenderungannya lebih sering terjadi peningkatan. Menurut data Gappri, periode 1959-1970 relatif stabil dan produksi tertinggi terjadi tahun 1967 dengan jumlah 23.165.132.067 batang. Tiga tahun kemudian (1970) jumlah ini menurun hingga tinggal 18.147.835.339 batang.

Untuk periode 1971-1983 rata-rata produksi naik sekitar 11,18 persen per tahun. Tahun 1973 jumlahnya sudah mencapai 30.221.663.229 batang, dan sepuluh tahun kemudian sudah menjadi lebih dari dua kali lipatnya, yaitu (1983) sebanyak 65.210.612.738 batang. Tajamnya peningkatan produksi itu antara lain dipacu penerapan filter untuk kretek yang dimulai tahun 1970, disertai penampilan kemasan yang semakin “oke”. Kretek pun berhasil memikat konsumen “gedongan”, sekaligus menggusur dominasi sigaret putih di kalangan konsumen elite.

Lima tahun kemudian tingkat produksi sudah hampir dua kali lipat dibanding tahun 1983, yaitu sebanyak 118.271.331.688 batang. Jumlah ini meningkat menjadi sekitar 165,5 milyar batang pada tahun 1998 yang lalu, sedikit menurun dibanding produksi 1997 yang berjumlah 180,5 milyar batang. Perkembangan produksi 1988-1998 dan pembayaran cukainya, digambarkan Gappri seperti pada Tabel 2.

Gappri membawahi 12 organisasi pengusaha kretek di 12 daerah/lokasi, yaitu Kudus, Semarang, Surakarta, Magelang, Gombong, Malang, Kediri, Surabaya, Madiun, Bojonegoro, Blitar, dan Pematangsiantar. Dilihat pembayaran cukainya ternyata Gaperoked (Kediri) menduduki tempat teratas dalam tahun 1998, hampir Rp 3,8 trilyun. Peringkat kedua ditempati Gapero Surabaya (Rp 1,1 trilyun lebih), Kudus di tempat ketiga (Rp 940 milyar lebih) dan Malang di tempat keempat (Rp 348 milyar lebih). Sedang tempat terbawah diduduki OPS Rokok Kretek Gombong dengan pembayaran sebesar Rp 47,5 juta.

Jumlah anggota Gappri tahun 1988 sebanyak 113 perusahaan, dan selama 10 tahun terakhir berfluktuasi seirama dengan jatuh-bangunnya beberapa pabrik. Jumlah anggota tahun 1997 tercatat 159 pabrik, namun tahun 1998 yang lalu merosot menjadi 151 perusahaan. Naik turunnya jumlah pabrik tersebut diikuti pula naik-turunnya tenaga kerja yang terserap. Tahun 1988 mencatat karyawan sebanyak 135.164 orang dan tahun 1998 sebanyak 163.524 orang. Jika disimak, kenaikan jumlah tenaga kerja kurang sebanding dengan kenaikan produksi maupun kenaikan pembayaran cukai. Ini antara lain disebabkan kenaikan produksi dan tarif cukai yang terbesar terjadi pada jenis sigaret kretek mesin (SKM) yang lebih bersifat padat modal dan teknologi. Sementara sigaret kretek tangan (SKT) dan kelobot (KLB) yang menyerap banyak tenaga kerja, kenaikannya kurang memadai.

Dilihat dari komposisi modal dan kepemilikan, kecenderungan arah yang terjadi setelah kerusuhan di Kudus tahun 1918 semakin menggelinding kepada pengusaha Tionghoa. Ini mudah dibaca dengan besarnya pembayaran cukai di atas, yang berturut-turut merupakan domisili pabrik Gudang Garam, HM Sampoerna, Djarum, dan Bentoel. Meskipun demikian industri kretek tetap tercatat sebagai salah satu tonggak bangsa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: