Oleh: J.A. Noertjahyo | 25/08/2009

Ir Sutrisno dalam Petualangan Limbah

KELUHAN terhadap limbah pemotongan ayam terjadi di mana-mana. Terutama terhadap bau sangat menyengat yang muncul dari berbagai jenis limbah dalam proses pembusukannya. Baik membusuknya limbah dalam bentuk ceceran darah, serpihan organ yang kocar-kacir, bulu, atau isi perutnya. Limbah paling banyak adalah bulu ayam, dan sangat sulit dimusnahkan. Apalagi dimanfaatkan. Inilah yang mengusik pikiran Ir H Zakaria Sutrisno (40), bagaimana mengolah limbah bulu ayam menjadi produk berharga dan ramah lingkungan.

Setelah lama berpikir dan membuat rancangan alat pemroses, sarjana teknik itu akhirnya mampu “menciptakan” mesin pemroses serba-guna. Alat ini terdiri dari bagian pemanasan, penghancuran, dan pengeringan. Limbah yang dimasukkan ke dalam “ketel” menerima “daya tekan” sampai sekitar tiga kilogram pada temperatur sekitar 100 derajat Celcius. “Dalam kondisi seperti itu ikan dan tulang-tulangnya hancur menjadi tepung,” ujar ayah tiga orang anak itu.

Awalnya, mesin buatan Pak Tris – sebutan akrabnya – memang digunakan untuk memproses tepung ikan. Namun karena beberapa kendala, ia banting setir dengan memproses bulu ayam sejak September 2005. Dan “petualangannya” menunjukkan titik terang. Dalam bulan Desember 2005 ia mampu memproduksi tepung bulu ayam sampai sekitar 20 ton per bulan, dipasok ke pabrik pakan ternak di Jl Raya Tongas, Probolinggo  (Jawa Timur). “Pabrik minta 30 ton per bulan, tetapi saya belum mampu memenuhi,” ujar Pak Tris, penduduk Desa Puntir Purwosari (Pasuruan).

Ditanya kemungkinannya untuk memproses ayam-ayam yang terserang flu burung, Pak Tris langsung menjawab: “Beres, ditanggung tuntas dengan semua virus dan penyakit lainnya!”  Cara ini rasanya memang lebih efektif dan efisien dibanding membakar atau mengubur bangkai ayam seperti yang banyak dilaksanakan saat ini. Nilai plusnya, bangkai ayam (yang belum membusuk) masih mempunyai nilai ekonomis.

. * * *

KELEBIHAN lain mesin bikinan Pak Tris, proses pemanasannya tidak harus menggunakan BBM (bahan bakar minyak), namun menggunakan kayu bakar yang dimasukkan dalam dapur/tungku pembakaran. Baik pemanasan dalam proses “penggilingan” maupun pengeringan produknya. Kayu bakar itu pun berupa sisa-sisa (limbah) yang dibeli dari perusahaan penggergajian. Bagian kayu yang bentuk dan mutunya jelek itu tidak bisa digunakan untuk pembuatan meubel, namun tetap berguna sebagai kayu bakar.

Menurut alumnus Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Merdeka Malang tahun 1993 itu, satu truk kayu seharga Rp Rp 400.000 bisa digunakan selama tiga hari kerja (sekitar 20 jam). Jika menggunakan solar, tiap jam dibutuhkan sekitar 15 liter. Artinya, satu truk kayu identik dengan 300 liter solar. Bisa dihitung bahwa penggunaan kayu jauh lebih hemat dibanding memakai solar. Apalagi kayu bakar yang digunakan sekaligus juga “memusnahkan” limbah industri.

Menurut pengalaman Pak Tris, pemrosesan bulu ayam menjadi tepung memang jauh lebih sulit dibanding bahan lainnya. Dijelaskan, mesin buatannya mampu mengubah dua ton ikan menjadi tepung dalam waktu satu jam. Namun untuk mengolah bulu ayam, selama dua jam hanya bisa menghancurkan tiga kuintal bulu. “Bulu ayam memang sangat keras. Dan yang sangat keras adalah bulu-bulu sisa pembuatan shuttlecock,” ujar lelaki yang sejak kecil sudah diajari berdagang oleh ayahnya itu.

Tidak mengherankan jika Pak Tris begitu ulet dalam berusaha, termasuk mecari peluang-peluang baru. Ia telah menggeluti pabrik minyak klenteng (biji kapuk randu) sejak tahun 1989. Ia sadar kegiatan industri kapuk terus menyusut karena banyak pohon randu yang ditebang, sementara nyaris tak ada peremajaan. Otomatis volume klenteng dari tahun ke tahun terus berkurang. “Kenyataan ini bisa mengarah pada kematian pabrik  minyak klenteng,” kata Pak Tris.

Karena itu ia kemudian membuka bengkel mobil dan motor, diteruskan dengan mencari terobosan lain berupa pemrosesan bulu ayam tersebut. “Ini untuk mengganti usaha jika nanti pabrik minyak klenteng bangkrut,” ujarnya. Ketiga usahanya itu mampu  menampung 35 tenaga kerja. Ia masih punya obsesi memanfaatkan mesin pemroses bulu ayam tersebut untuk mengolah blothong (limbah pabrik gula) menjadi salah satu bahan untuk pembuatan pakan ternak.

* * *

PAKAN ternak murah yang diproduksi PT Samodera Omega Jaya Makmur di Probolinggo tersebut memanfaatkan sekitar 20 limbah pertanian dengan berbagai variasi. Produksinya sudah banyak digunakan untuk para peternak ruminansia, baik di Jawa maupun luar Jawa. Tepung bulu ayam merupakan salah satu bahan pokok yang bernilai tinggi. Menurut penelitian Sucofindo Surabaya, kandungan proteinnya 78,5 – 87,8 persen, kadar abu 16-18 persen (ambang batas maksimal 25 persen), dan kalori 3.268 KCAL.

Sebagai pembanding, menurut Pak Tris kandungan protein tepung ikan yang paling bagus hanya berkisar 57-60 persen. “Jika salah melakukan prosesing, malah bisa hanya 45 persen,” katanya.

Haji Zakaria Sutrisno mengaku tidak kesulitan memperoleh bahan baku berupa bulu ayam. Bahkan saat ini kewalahan untuk menampungnya, pasokan dari usaha pemotongan ayam di berbagai daerah Jawa Timur. Sampai di lokasi pabriknya harga bulu ayam Rp 750/kg, dan tepungnya disetor ke pabrik pakan Rp 2.500/kg.

Pak Tris yakin usaha ini bisa berkembang karena hijauan sebagai pakan ternak akan semakin berkurang dengan terus menyempitnya lahan karena pembangunan. Di lain pihak permintaan daging akan terus meningkat sehingga mendorong usaha peternakan terus berkembang.

Apakah mesin buatan Pak Tris sebatas untuk memproses tepung ikan dan bulu ayam? “Tidak, alat ini serba guna,” tegasnya. Semua bahan atau limbah yang bisa menjadi bahan pokok pakan ternak bisa diolah dengan alat ini. Malahan ia menganjurkan limbah dari rumah-rumah makan di kota-kota diproses menjadi bahan pakan ternak. Juga “sampah alami” yang dihasilkan masyarakat perkotaan, yang selama ini penanganannya sering membuat para pejabat pusing.

“Semuanya bisa menjadi tepung, termasuk berbagai jenis tulang yang ada di dalamnya,” kata lelaki yang penampilannya selalu sederhana itu. Bagi mereka yang belum mengenalnya, susah membedakan Pak Tris dengan para karyawannya. Baik di bengkel, di pabrik minyak klenteng, atau di pabrik tepung bulu ayam.

* * *

KEGIATAN dengan menggunakan mesin buatan Pak Tris bisa dilakukan oleh UKM (usaha kecil mengengah). Baik di kota-kota atau di tempat pendaratan ikan, serta di sentra-sentra limbah pertanian. Seperangkat mesin itu bernilai sekitar Rp 350 juta, bisa ditempatkan pada bangunan seluas 12×10 meter. Ini sudah termasuk penampungan bahan baku yang akan diproses.

“Untuk menghasilkan satu unit perlu waktu sekitar tiga bulan,” ujar lelaki yang punya hobi memelihara dan “memoles” burung berkicau itu. Pembuatan mesin itu sendiri dilakukan di bengkel khusus yang berdekatan dengan tempat tinggalnya di Desa Puntir. Dan tempat ini merupakan salah satu “saksi-mati” deari petualangan Pak Tris dari limbah ke limbah.

Hobi “memoles” burung pun, bagi Zakaria Sutrisno bisa menghasilkan uang. Dalam obrolan santai di bengkelnya, ia berceritera tentang pembelian seekor burung berharga Rp 3 juta. “Setelah saya rawat beberapa bulan dan menang dalam kejuaraan, ternyata laku Rp 25 juta,” katanya. Kreativitas dan kerja keras menjadi kunci untuk menangguk keuntungan! (JA NOERTJAHYO, wartawan tinggal di Malang)..

Catatan: Dimuat Rubrik “SOSOK” Harian Kompas (hal.16) tgl……….


Responses

  1. boleh minta alamat dan no hp pak tri ?

    • Ir Sutrisno, Service Station Surya Barokah Motor, Jl. Raya Purwosari 85, Purwosari Pasuruan, Telp. 0343-613767, HP.081.136.4355. Semoga berhasil dan sukses. Tks perhatiannya.

  2. siip..! Apa bisa sy minta alamat lengkap pabrik Pk tris? Sy mau berguru n belajar dr pk tris. Trims.

    • Maaf Mas Ikram, internet saya banyak ngadat jadi susah mau balas. Ini alamat Pak Tris: Service Station Surya Barokah Motor, Jl. Raya Purwosari 85 Purwosari Pasuruan, Telp. 0343-613767. Smg berhasil.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: