Oleh: J.A. Noertjahyo | 15/09/2009

Nikmatnya Durian “Ripto” Trenggalek

MUSIM durian nyaris usai dan tidak sedikit konsumen yang dikecewakan. Baik mereka yang menyantap durian asal Ngantang (Malang), produksi Pacet (Pasuruan), atau durian dari daerah Ponorogo-Madiun dan sekitarnya. Ternyata tidak semua buah durian yang menyandang “nama lezat” itu bermutu baik. Boleh jadi karena lain  varietasnya, salah pilih, atau si penjual yang kurang jujur.

Namun konsumen yang melahap durian “ripto” asal Trenggalek umumnya menyatakan kepuasannya. Tekstur daging buahnya tebal-lembut berwarna putih-kekuningan, rasanya gurih tersaput manis yang terukur sehingga tidak menyebabkan mblenek. Buah yang sudah masak tidak begitu sulit “memecahnya” sehingga risiko terkena tajamnya ujung duri sangatlah kecil.

Meskipun namanya belum sepopuler durian petruk, si tokong, bajul atau si otong yang sudah dikenal sebagai duriang unggul, namun durian ripto sudah menjelajah lidah para maniak durian di Jawa Timur, termasuk beberapa pejabat tingkat kabupaten sampai provinsi. Sejak tahun 2000 pucuk dahan durian asli Desa Dukuh di Kecamatan Watulimo Trenggalek ini digunakan sebagai entris kegiatan top working (penyambungan pohon dewasa).

* * *

DURIAN ripto merupakan warisan berharga yang diterima Suripto (66) dari orangtuanya. Nama “ripto” diambil dari penggalan nama si penerima warisan  tersebut. Pohon yang usianya sudah lebih dari 100 tahun dan tumbuh pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut ini bisa  menghasilkan 500-600  buah per musim  Dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp25.000/buah, pohon ini  dapat menghasilkan uang Rp 7 juta – Rp 10 juta setiap panen. Padahal tenaga dan biaya yang diperlukan untuk perawatannya sangat sedikit.

Pada masa pemerintahan Bupati Sutran, Kecamatan Watulimo Trenggalek merupakan salah satu sentra tanaman cengkeh. Setelah “kemelut cengkeh” pada era BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) terjadi, tanaman cengkeh di Trenggalek nyaris punah. Masyarakat Watulimo banyak yang beralih menanam hortikultura, terutama manggis, salak pondoh, dan durian.

Untuk meningkatkan dan menyeragamkan kualitas buah, Dinas Pertanian Jawa Timur banyak mengembangkan alpukat, manggis, dan durian dengan sistem top working. Salah seorang praktisi-ahlinya adalah Hariyanto, karyawan Badan  Penelitian Jeruk dan Buah-buahan Subtropik di Tlekung, Kota Batu. Lelaki berusia 57 tahun inilah yang memelopori pelaksanaan top working durian ripto, dan dilanjutkan oleh sejumlah kelompok tani di Trenggalek.

* * *

Menurut Suripto, Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki dan pewaris durian ripto, selama lima tahun terakhir lebih dari 5.000 pohon durian ripto hasil top working ditanam penduduk setempat, dan sebagian sudah berbuah. “Rasanya persis sama dengan buah induknya,” kata Hariyanto yang mendampingi Suripto saat melihat-lihat bibit dan pohon durian ripto akhir Maret 2007. Dan saat mencicipi durian masak-pohon, omongan mereka tentang kelezatan ripto memang terbukti.

Ternyata para penangkar benih durian di Dukuh Watulimo juga mampu mencium selera konsumen. Bukan hanya entris ripto yang mereka gunakan, tetapi juga entris monthong yang banyak diambil dari daerah Malang dan Pasuruan. Harga bibit yang siap tanam dan dapat berbuah 3-4 tahun kemudian berkisar Rp 15.000 – Rp 25.000/batang. Bibit durian ripto sudah menyebar hampir di seluruh kabupaten-kota Jawa Timur, meskipun belum berlabel.

Dibanding dengan tanaman cengkeh dulu, para petani di Watulimo menyatakan “lebih ayem” menanam buah-buahan. “Harga buah sulit dipermainkan oleh para pedagang, lain dengan harga cengkeh,” kata Suripto yang dibenarkan beberapa anggota Kelompok Tani Sri Rejeki. Lelaki asli Desa Dukuh ini telah menerima beberapa pe4nghargaan atas pengabdiannya di bidang pertanian, antara lain dari Gubernur Jawa Timur, Dirjen Bina Produksi Hortikultura Deptan, dan dari Menteri Pertanian  dalam Penas Agribisnis tahun 2001.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: