Oleh: J.A. Noertjahyo | 17/09/2009

Keruwetan Masalah Rokok

Keruwetan Masalah Rokok

             BERBAGAI diskusi dan wacana tentang dampak rokok yang terkait dengan kesehatan, keuangan negara, dan tenaga kerja, sudah puluhan tahun digulirkan. Setidaknya sejak tahun 1960-an, saat pabrik rokok Gudang Garam (Kediri), Djarum (Kudus), serta Bentoel dan Grendel (Malang) menapaki masa kejayaannya. Konsumen sigaret (putih), saat itu sebagian besar  menggemari produk-produk BAT (British American Tobacco), Faroka, dan Atomcy sebagai pemain baru.

Masalah rokok terus berlanjut sampai negara ini mengalami pergantian sekian menteri kesehatan yang menjadi ”lawan utama” pabrikan rokok. Namun sudah sekitar setengah abad masalah ini belum menemukan solusi. Batu sandungan utamanya, pemerintah nampak masih terus bersikap “mendua” – tarik-ulur antara uang dengan kesehatan – dan belum meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC).

Menjelang kenaikan tarif cukai yang diberlakukan pemerintah bulan Februari 2009, masalah rokok pun mencuat kembali. Antara lain diskusi yang dilaksanakan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) di Jakarta, pro-kontra pendapat tentang fatwa haram merokok Majelis Ulama Indonesia (MUI) bagi anak, remaja, dan wanita hamil, serta reaksi dari pengusaha rokok dan petani tembakau.

Hiruk-pikuk munculnya berbagai pendapat dan sikap itu terasa tetap tidak menyelesaikan masalah secara tuntas. Masyarakat tetap terbelah antara yang pro dan kontra, sebagian lagi bersikap cuek. Sementara itu kepulan asap rokok masih terjadi di mana-mana dan iklan-iklan rokok pun masih gencar merayu konsumen, baik melalui media cetak maupun elektronika.

Setengah hati

            Kelompok yang sangat peduli pada kesehatan masyarakat melihat bahwa langkah-langkah untuk menyempitkan ruang gerak perokok sebagai tindakan positif. Misalnya adanya ”penerbangan bebas rokok”, larangan merokok dalam bus/taksi dan dalam ruangan ber-AC, adanya hotel dan rumah makan yang memisahkan kelompok perokok dan non-perokok, sampai dikeluarkannya Peraturan Daerah (Perda) larangan merokok di tempat-tempat umum. Langkah ”berani” diproklamirkan sebuah hotel di Surabaya yang menyatakan kawasannya secara total bebas dari rokok, disertai sanksi jelas bagi pelanggarnya.   

            Perda larangan merokok pertama kali dikeluarkan oleh Pemda DKI Jakarta dan mendapat apresiasi kelompok antirokok. Namun dari pemberitaan berbagai media massa  terdeteksi bahwa pelaksanaannya belum memuaskan. Pengguna angkutan udara  di Bandara Soekarno-Hatta masih melihat di sana-sini orang merokok secara bebas tanpa merasa risi ”melanggar” larangan Perda atau dilirik orang lain yang terganggu asap rokoknya. Beberapa ruang/tempat yang disediakan khusus untuk perokok juga kurang dimanfaatkan.

            Bandara yang arealnya relatif sempit dan merupakan lokasi berskala internasional itu, pengawasan tentang pengaturan merokok belum efektif. Hal ini juga terjadi pada sebagian rumah-makan, hotel mewah, kendaraan, dan lain-lain yang memiliki aturan sama. Maka dapat dimengerti bahwa pengawasan bebas rokok untuk tempat-tempat umum di wilayah DKI Jakarta yang begitu luas, dapat dikatakan masih amburadul. Nasib sama juga menimpa beberapa daerah yang memiliki peraturan sama, bahkan sudah mengeluarkan biaya cukup besar.

Di lain pihak, kita menyaksikan bahwa beberapa maskapai penerbangan dapat menegakkan aturan ”bebas rokok”.  Kuncinya adalah pengawasan dan tindakan tegas terhadap setiap pelanggaran. Rasanya kita sependapat bahwa berhasil-tidaknya pelaksanaan setiap peraturan diperperlukan pengawasan ketat dan tindakan tegas secara  konsisten, tidak setengah hati.

Budaya dan pendidikan

Merokok bagi sebagian kelompok masyarakat kita merupakan hal biasa, bahkan mungkin sudah membudaya. Sering terjadi olok-olok bahwa (anak) lelaki yang tidak merokok dikatakan banci, atau pelit. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa merokok merupakan media untuk dapat bergaul secara akrab. Karena itu di berbagai pertemuan, seperti rapat, pesta dan lain-lain selalu disediakan rokok yang cukup, terutama di kalangan masyarakat ”menengah ke bawah”. Ini dapat kita saksikan misalnya pada pesta perkawinan di desa-desa. Jadi sebagian masyarakat kita secara sadar maupun tidak sudah mendidik dan melestarikan kebiasaan merokok kepada lingkungannya. Termasuk kepada generasi penerus mereka.

Sebaliknya, di sekolah-sekolah (dasar/menengah) nyaris tidak ada pelajaran tentang bahaya merokok dan larangannya. Demikian juga di berbagai tempat layanan kesehatan, baik lembaga maupun pribadi. Mulai dari Puskesmas sampai rumah sakit yang bertaraf internasional, dari mantri kesehatan sampai dokter ahli. Jika ada, layanan itu lebih bersifat individual, bukan massal. Bahkan brosur tentang bahaya merokok yang dikeluarkan Depkes peredarannya sangat terbatas. Dan iklan-iklan yang mencantumkan kata-kata “Merokok membahayakan kesehatan” di media elektronika, melintas begitu cepat sehingga sudah lenyap sebelum terbaca lengkap.

Mengingat kerugian kesehatan akibat merokok jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan ekonomi (Kompas 15/1-2009), tidak berlebihan jika disarankan agar “kawasan bebas rokok” perlu terus diperluas dengan pengawasan ketat dan tindakan tegas bagi pelanggarnya. Selain itu perlu dikikis anggapan (budaya) yang salah tentang kebiasaan merokok, serta dirintisnya pendidikan di sekolah-sekolah agar generasi muda kita tidak terjerumus dalam kebiasaan merokok.

Kepada para petani tembakau – terutama di kawasan Temanggung, Bojonegoro, Madura, dan lain-lain sentra tanaman itu – perlu dimasukkan wawasan bahwa tembakau bukanlah satu-satunya jenis tanaman yang dapat menguntungkan. Sepanjang pengamatan, hampir semua petani tembakau nyaris tak beranjak dari nasibnya meskipun banyak pabrik rokok yang dapat mengeruk keuntungan melimpah. Para ahli pertanian mestinya dapat menemukan tanaman alternatif yang lebih menguntungkan dibanding tanaman tembakau, tanpa menimbulkan ekses negatif bagi bangsa ini.


Responses

  1. tulisan yang bagus, sebelum kasih komentar yg lainnya, saya perkenalkan dulu nih, saya Agus Suhanto

  2. Tks atas komentarnya, silakan untuk mengemukakan pendapat Anda tentang masalah rokok terkait dengan kesehatan masyarakat. Hal ini dapat bermanfaat bagi kehidupan kita.

  3. Bapak J.A. Noertjahyo, tulisan bapak Sigaret Kretek memiliki semangat kedaulatan bangsa yang hebat, sangat berbeda dengan tulisan di atas yang justru akan menjerumuskan kedaulatan bangsa yang secara historis dan budaya adalah nyata dimiliki bangsa ini. kenapa bapak berubah haluan berpikirnya? sepertinya bapak tak punya ideologi sekarang, benarkah?

    • Maaf, saya lama tidak membuka Blog karena ada masalah internet. Pribadi saya tetap, namun tulisan untukelayani pembaca yang berbeda-beda. Terima kasih atas perhatian Anda, semoga selalu sukses.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: