Oleh: J.A. Noertjahyo | 19/09/2009

Berburu Nasi Pecel di Kota Malang

Berburu Nasi Pecel di Kota Malang

            MUNGKIN Anda sulit membayangkan bahwa di Kota Malang terdapat lebih dari 100 penjual nasi pecel. Hampir di setiap jalan atau perkampungan dengan mudah kita menemukan makanan ini. Sebutlah sepanjang Jl Kawi dan sekitarnya, atau Jl Sukarno-Hatta, daerah Glintung, Sarangan, dan sekitar jalan yang menggunakan nama-nama pulau. Masih ditambah pedagang yang berlokasi di sekitar kawasan Pasar Blimbing, Pasar Dinoyo, Pasar Bunulrejo, dan pasar-pasar lainnya sampai menginjak wilayah Pasar Besar yang merupakan jantung daerah perdagangan.

Daerah asal “merek” dagangan mereka pun berbeda-beda. Umumnya pedagang mengusung nama kota yang sudah dikenal masakan pecelnya, seperti Madiun, Magetan, Tulungagung, Blitar, dan lain-lain. Tidak ketinggalan ”pecel asli malang”. Blitar memang sudah lama dikenal produk sambal pecelnya, bahkan Bung Karno pun sangat menggemarinya. Saat menjabat presiden dulu, jika melakukan kunjungan keluar negeri beliau tidak lupa membawa bekal sambal pecel. Dan di berbagai pasar swalayan tidak sulit menemukan sambal pecel made in Blitar dalam kemasan yang cukup elite.

Madiun merupakan kota yang gencar memasyarakatkan nasi pecel untuk santap malam. Tahun 1980-an warung khusus nasi pecel yang terkenal di kota ini adalah ”Pecel Pojok” yang hanya buka pada sore-malam hari. Di beberapa kota lain di Jawa Timur umumnya nasi pecel dijual pada pagi hari untuk sarapan. Hanya sebagian kecil yang berjualan sampai siang, bahkan sangat sedikit yang berjualan pada malam hari.

Nama-nama kota untuk merek di atas lebih menunjuk pada rasa sambalnya, sebab berbagai macam sayur yang dikulup (direbus) semuanya berasal dari daerah Malang dan Batu. Namun tidak ada jaminan apakah sambal pecel mereka memang sesuai dengan rasa sambal dari daerah yang mereka promosikan. Sebagian besar memang memenuhi “rasa normatif” pecel, yaitu pedas-manis-asin. Ketiga rasa pokok itulah yang “dipermainkan” untuk menentukan jatidiri masing-masing produk sambal, menonjolkan salah satunya (pedas/manis/asin), atau tetap diseimbangkan. Biasanya masih dipoles dengan rasa penyedap, baik yang alami atau esens buatan pabrik.

Unsur persaingan lain menyangkut jumlah jenis sayurannya, serta enak-tidaknya lauk yang disediakan berupa rempeyek dan atau tempe goreng. Semakin banyak jenis sayurannya semakin disukai konsumen. Selain kecambah dan sayuran umum seperti bayam, kacang panjang, daun singkong, sawi, kenikir, kangkung dan lain-lain yang banyak dibudidayakan pekebun, pedagang yang jeli merambah ke sayuran yang unik dan terkadang langka. Misalnya jantung (bunga) pisang yang sering disebut ontong, bunga turi, genjer, dsb. Tidak terlupakan mentimun rajang, daun kemangi, dan petai cina (lamtara). Ada pedagang yang mengkombinasi dengan sambal tumpang, atau sayur lodeh. Yang terakhir ini terasa agak asing bagi kebanyakan kita, namun ternyata juga nikmat. Apalagi lauknya ditambah dengan udang goreng kering dan empal daging.

Rempeyek pun berbeda-beda, baik jenis dan tebal-tipisnya lempengan tepung maupun rasa bumbunya. Masih diperhatikan ”isi” rempeyek tersebut, kacang tanah, kacang hijau, teri atau udang. Ada juga yang mengkombinasikan dua di antaranya. Sebagian pedagang juga menyediakan berbagai lauk gorengan, seperti telur ceplok, jeroan, ikan,  pergedel, bakwan-jagung, mendoan, menjes, tahu, kerupuk, mendhol dan lain-lain sampai ke sate komoh dan telor muda.

Warung dan kaki lima

            Di Malang tidak ada warung tetap yang khusus menjual nasi pecel, namun begitu banyak pedagang nasi pecel di kaki lima yang berjualan pada pagi hari saja. Salah seorang pedagang yang berjualan malam hari bisa ditemukan di Jl Sarangan, dekat taman yang digunakan untuk lapangan sekolah. Pada umumnya PKL pecel memilih tempat di trotoar, tepi jalan yang agak lapang atau tanah kosong, menata meja dan bangku panjang dengan memasang tenda sementara, sebagian juga di alam terbuka. Lainnya menggunakan gerobak dorong, becak sampai mobil pikup. Bahkan ada pedagang yang berkeliling dengan speda motor.

            Beberapa teman di Kota Surabaya dan kota lain di luar Malang umumnya hanya mengenal warung ”Pecel Kawi” yang berlokasi di Jl Kawi (atas). Meskipun namanya menonjolkan ”pecel”, tetapi warung ini juga menjual masakan lain dan buka sepanjang hari. Di kawasan itu masih ada warung pecel di Jl Rajekwesi dan PKL pecel di Jl Panderman. Karena tanpa nama, PKL terakhir ini dikenal konsumennya sebagai ”pecel panderman” dan sangat ramai pada hari Minggu pagi.

            PKL pecel lain yang terkenal berada di depan Malang Plaza, Jl Sukarno-Hatta, komplek Griya Shanta (jalan menuju perumahan Permata Jingga), Jl Kalimantan, Jl Ternate, Jl Parangtritis di selatan Pasar Tawangmangu, dan beberapa tempat lain. Meskipun di alam terbuka dengan tenda sederhana, pedagang di dekat perumahan Permata Jingga yang asal Madiun itu larisnya sangat menonjol. Pada hari Sabtu-Minggu atau hari libur, bisa saja konsumen harus antre sekitar satu jam untuk mendapat giliran dilayani. Pada puncak keramaian pembeli, sekitar 20 mobil konsumen dan sebaris speda motor memadati tempat ini. Inilah salah satu pedagang yang sambalnya memiliki rasa khas, dan jenis sayurannya (kulup) dikenal lengkap.

Sedangkan pecel-lodeh dapat ditemukan di warung ”Rawon Nguling” di Jl Zainul Arifin dan ”Rawon Tesi” di Jl Trunojoyo (kios dekat stasiun KA Kota Baru). Kedua warung ini memang memiliki kemiripan, karena pemilik “Rawon Tesi” sebelumnya salah satu karyawan di “Rawon Nguling”. Keduanya juga lebih dikenal masakan rawonnya, namun “pecel-lodeh” masih merupakan menu yang jarang ditemukan di warung lain. Jika ingin nasi pecel plus sambal tumpang, telusurilah Jl Sukarno-Hatta menuju Universitas Brawijaya. Sekitar dua ratus meter sebelum jembatan Kali Brantas, tengoklah ke kanan, tepat di lokasi PKL yang kelambunya ditulisi makanan tersebut.

Jika Anda ingin mencicipi nasi pecel yang khas di Malang, jangan melihat iklan atau papan nama. Tanyalah kepada mereka yang suka memburu pecel, karena iklan dari mulut ke mulut biasanya bukan iklan ”jual kecap”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: