Oleh: J.A. Noertjahyo | 24/09/2009

RS-PN dalam “Jawa Pos Radar Malang”

Wartawan Mardi Sampurno menulis dalam “Jawa Pos Radar Malang” hari Jumat 24 Juli 2009, halaman 29 bersambung ke halaman 43, sebagai berikut:

 

Mereka yang Berperan atas Keberadaan Rumah Sakit di Kota Malang (2-Habis)

Semangat untuk Pribumi, Pernah Dijuluki Sokeh

            Selain RS Lavalette, RS Panti Nirmala atau RS Tiong Hwa Ie Sa (THIS) yang berlokasi di Jl Martadinata 40, juga memiliki latar belakang sejarah yang menarik. RS ini merupakan bukti kepedulian etnis Tionghoa terhadap keberadaan nasib warga pribumi. J.A. Noertjahyo SH, mantan Ketua Yayasan Panti Nirmala ke-7 mengisahkan bagaimana proses berdirinya RS ini.

Mardi Sampurno

            JIKA ada RS yang bisa tumbuh dan berkembang berkat bantuan orang banyak, itulah RS Panti Nirmala. RS yang berdiri sejak 1 Oktober 1929 ini memiliki ratusan donatur yang secara sukarela menyumbangkan sebagian dananya untuk proyek kemanusiaan ini.

            Daftar nama ratusan donatur yang rata-rata warga keturunan etnis Tionghoa itu terpampang di sebuah ukiran batu marmer hitam di sebelah kanan pintu masuk lobi RS. Mulai nama Mochtar Riyadi (bos Grup Lippo), Ongko Widjojo (bos PR Oepet), dan sederet nama pengusaha besar lokal dan nasional. Itulah mengapa sejumlah pengurus yayasan RS Panti Nirmala menyebut lembaga kesehatan itu RS ”Sokeh”. Karena artinya Sokongane Wong Akeh (bantuannya orang banyak).

            Selain dibangun atas bantuan orang banyak, RS ini merupakan potret besarnya jiwa sosial warga etnis Tionghoa terhadap pelayanan kesehatan warga pribumi yang saat itu sangat kurang karena dampak penjajahan Belanda dan Jepang.

            RS ini didirikan dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 25/1934 tanggal 8 Maret 1934..

            SK tersebut dimuat dalam Javasche Courant No.23 tanggal 20 Maret 1934. Sebagai pihak yang mengajukan permohonan adalah seorang pengurus THIS, Kwee Sien Po. Dalam SK tersebut, pada pasal 1 tertera jika RS berdiri terhitung sejak 1 Oktober 1929.

            JA Noertjahyo SH, adalah salah satu pelaku sejarah berdirinya RS yang berdiri di tengah-tengah perkampungan padat di Kecamatan Kedungkandang itu. Dalam kearsipan RS ini, pria kelahiran Blitar 1 Maret 1939 ini tercatat sebagai ketua yayasan ke-7. Dia merupakan orang pribumi satu-satunya yang pernah memimpin yayasan ini. Bahkan, dialah yang hingga kini getol melacak sejarah berdirinya RS yang pernah dipimpin selama 19 tahun itu (1982-2001).

            Ditemui di rumahnya di Jl Taman Borobudur Selatan, Blimbing, mantan wartawan terbitan ibu kota ini, mengaku bangga dengan perkembangan RS Panti Nirmala. ”Indikator kemapanan sudah bisa terlihat. Sekarang harus terus ditingkatkan kualitas pelayanan dan kemampuannya,” ujar bapak dua anak ini.

            Alumni Fakultas Hukum Universitas Atnajaya di Malang (sekarang Univ Widya Karya) ini, melihat perkembangan RS maju cukup pesat, mulai dari infrastrukturnya hingga SDM-nya.

            Berdirinya RS Nirmala ini diawali pada 1920 ketika ada sekelompok warga Tionghoa yang terketuk hatinya untuk mendirikan sebuah tempat pengobatan dan tempat bersalin bagi masyarakat pribumi. Klinik kesehatan itu diasuh oleh dua dokter, (alm) dr Liem Ghik Djiang dan (alm) dr Tjan eng Jong.

            Dalam perkembangannya, kedua dokter tersebut bergabung dengan sejumlah pengusaha yang kala itu diketahui cukup sukses. Pengusaha itu adalah Tan Hok Wan, Kwee Sien Po, dan Han Kang Hoen. Gabungan pengusaha yang memperjuangkan misi kemanusiaan itu diberi nama Tiong Hwa Ie Sa (THIS).

            Kalimat Tiong Hawa diambil karena pendirinya adalah para pengusaha Tionghoa, sedang Ie Sa dalam bahasa China berarti rumah sakit. ”Menempatkan kalimat Ie Sa dilatarbelakangi cita-cita ingin menjadikan poliklinik kesehatan itu menjadi sebuah RS seperti sekarang ini,” kata Noertjahyo.

            Poliklinik yang dibangun selalu berpindah-pindah, karena lokasinya nunut di rumah sejumlah warga yang peduli terhadap keberadaan yayasan THIS. Awalnya lokasi poliklinik terletak di Jl Pecinan dengan kondisi yang sangat tidak layak.

            Selain kebersihannya, juga fasilitas yang tersedia terbatas. Di Pecinan, poliklinik tidak bertahan lama dan pindah ke Jl Kotalama, kemudian pindah lagi ke Jl Kidul Pasar (Kyai Tamin), lalu ke Jl Jagalan, dan terakhir pindah ke Jl Klenteng (sekarang Jl Martadinata 40) hingga sekarang.

            Saat itu, keterbatasan dana membuat poliklinik tidak bisa memenuhi kebutuhan dokter dan perawat. Misalnya, mengambil dokter ahli untuk standby di klinik guna mengobati pasien. Yang bisa dilakukan pengurus yayasan hanyalah mencari tenaga-tenaga sukarelawan kesehatan. Tercatat tenaga sukarelawan itu di antaranya adalah, Ny Go Gwat Tjing (Ny Mien Sriwulan). Dia adalah adik pengusaha (alm) Go In Kiem yang tinggal di Jl Martadinata 40. Rumah itu kini dijadikan lokasi RS.

            Ketika perang dunia (PD) II, RS ini banyak merawat pasien para pejuang kemerdekaan yang terluka tembak setelah bertempur dengan penjajah. Karena banyak yang membutuhkan pelayanan, sehingga diputuskan menyewa gudang kopi di Jl Gudang Garam (sekarang Jl Kebalen Wetan). Gudang milik keluarga Han Kang Hoen (pendiri THIS) ini dijadikan sebagai tempat perawatan para pasien.

            Setelah PD II usai, THIS memutuskan untuk membeli gudang milik pengusaha perkebunan kopi di kawasan gunung Kawi. Tujuannya untuk mengembangkan RS. Dalam perkembangannya, bukan hanya gudang kopi yang dibeli, namun rumah induknya di Jl Kebalen juga dijadikan perluasan.

            Perluasan lokasi secara keseluruhan dilakukan sejak 1954. Meski mampu untuk membeli tanah untuk perluasan gedung, namun RS selalu rugi dan yayasan kebingungan untuk mencari bantuan. ”Saat itu banyak donatur tetap yang hilang karena ada kebijakan pemerintah untuk mengembalikan etnis perantauan ke negara asalnya,” kata pria yang sempat mengenyam bangku kuliah di IKIP Malang (UM).

            Sebagai solusi, pada 1952 yayasan mendatangi Keuskupan di Jl Ijen menemui (alm) Mgr AEJ Albers O.Carm. Pengurus meminta supaya keuskupan memberikan bantuan pengelolaan untuk menyelamatkan operasional RS. Albers O Carm pun merespon tawaran tersebut dengan syarat RS dikelola seperti RS Panti Waluyo di Sawahan.

            Dalam perjalanannya, para ketua perkumpulan berjuang keras untuk membantu RS ini maju. Ketua yayasan yang di RS ini adalah Tan Hok Wan (1929-1950), Liem Bian Sioe (1950-1957), Yap Wie Tjhing (1957-1961), Tan Hong Bok (1961-1963), berikutnya Tan Hwie Liong (1963-1965), lalu Drg Oei Boen Thong (1965-1982), JA Noertjahyo SH (1982-2001), dan Guntur Gunawan (2001-sekarang).

            Noertjahyo sendiri mengakui pernah mendatangkan seorang konsultan manajemen RS dari Surabaya. ”Saya harus banyak belajar soal pengelolaan RS, karena saya bukan seorang ahli manajemen RS,” kata suami Endang Tri Martati.

            Untuk mencari jalan keluar kesulitan dana, pengurus membuat terobosan dengan menggelar arisan yang dinamakan ”Arisan Gotong Royong”. Arisan ini diikuti oleh pengusaha dan bunga atas simpanan di bank digunakan untuk mendanai operasional serta pengembangan RS. Arisan yang bertahan selama tiga tahun ini mampu meraup jutaan rupiah dan hasilnya bisa digunakan untuk membangun gedung baru. (*/zis)

 Catatan:

1.             Tulisan RS Panti Nirmala adalah yang ke-2 (II-Habis), tulisan pertama tentang RS Lavalette.

2.             Saya diwawancarai wartawan tsb – katanya atas rekomendasi Pengurus Yayasan dan Direksi yang telah diwawancarainya – sehingga ada kata/ucapan yang dimuat tetapi bukan dari saya. Kesalahan substansi, dan ejaan (misalnya ”Sa” seharusnya ”Sia”) oleh wartawan, termasuk kesalahan lokasi RS yang ditulis di Jl Martadinata 40 (seharusnya Jl Kebalen Wetan 8, dan gedung baru di Jl Kol. Sugiono 19-21 Malang).

3.             Tulisan di atas disertai foto gedung utama di Jl Kebalen Wetan, dan foto saya menunjukkan foto 4 Ketua yayasan yang lama.

4.             Substansi sejarah yang benar adalah yang dimuat dalam ”70 Tahun Rumah Sakit Panti Nirmala Malang (bahan yang dikutip oleh wartawan di atas dengan melakukan improvisasi); serta kelengkapannya dalam ”In Memoriam Dokter Gigi Oei Boen Thong, Pendiri Yayasan RS Panti Nirmala  Malang”.

5.             Saya sudah minta melalui SMS agar kesalahan diralat.

– – – o – – –


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: