Oleh: J.A. Noertjahyo | 24/09/2009

Sejarah RS Panti Nirmala Malang

Kata Pengantar:

Tiga naskah yang berisi dan terkait dengan ”Sejarah Yayasan & RS Panti Nirmala Malang” di bawah ini –  disajaikan secara kronologis sesuai dengan naskah aslinya, dengan mengoreksi kesalahan beberapa editing dalam naskah yang dimuat dalam buku ”70 Tahun Rumah Sakit Panti Nirmala Malang”. Harap para pembaca maklum.

Salam dan hormat:

Penghimpun dan Penyusun Sejarah,  J.A. Noertjahyo

 – – – – – –

Catatan:

Tulisan tentang Sejarah RS Panti Nirmala Malang dan yang terkait, merupakan karya cipta yang dilindungi UU-RI No.19/2002 tentang Hak Cipta.

– – – – – –

 Liku-liku Penyusunan Sejarah

YAYASAN & RS PANTI NIRMALA MALANG

             MENURUT beberapa penelitian di bidang sosiologi, antropologi, sejarah dan beberapa ilmu sosial lainnya, masyarakat Indonesia masih akrab dengan ”budaya lisan”. Masalah tulis-menulis, baca-membaca, arsip dan lain-lain yang terkait dengan ”budaya tulis” belum begitu diminati. Hal ini disadari oleh Pengurus Yayasan RS Panti Nirmala pada sekitar tahun 1990-an.

            Atas dasar kesadaran tersebut, Pengurus sepakat untuk segera menelusuri berbagai dokumen dan saksi hidup tentang perjalanan karya sosial Panti Nirmala. Ini dinilai sangat penting, sebab bila tidak ada ”sejarah” tentang lembaga ini dikhawatirkan generasi penerus kurang paham dan tidak bisa menangkap esensi visi dan misi yang digariskan oleh pendirinya.

            Dalam rapat Pengurus pada akhir tahun 1989 disepakati Yayasan mencari orang yang bisa menyusun sejarah Panti Nirmala. Setelah didiskusikan akhirnya disepakati sejarahwan dari IKIP Malang, Drs Habib Mustopo akan diserahi tugas tersebut. Sebagai penghubung dan pendamping ditunjuk satu tim yang diketuai Drg Oei Boen Thong, dengan anggota Ketua Yayasan (J.A. Noertjahyo SH), dan Wakil Ketua (Drs J.P. Soegiharto Prajogo).

            Tugas tim tersebut adalah: (1) Mengumpulkan semua dokumen, foto-foto dan yang berkaitan untuk diserahkan kepada penyusun, (2) Selalu berkomunikasi dan bekerja sama dengan penyusun agar terarah dan selektif materinya, (3) Menuntaskan penyusunan sejarah sampai tercetak dalam satu buku.

            Namun ternyata pengumpulan dokumen dan wawancara dengan para saksi hidup tidak semudah seperti yang dibayangkan semula. Hal ini antara lain disebabkan karena: (1) Dokumen tercecer di berbagai tempat/personel dan pengarsipannya tidak sistematis, (2) Beberapa saksi hidup yang ditemukan tidak sepenuhnya mengetahui perkembangan lembaga, (3) Baik penyusun maupun para anggota tim mempunyai kesibukan cukup tinggi (apalagi Ketua berdomisili di Jakarta) sehingga masing-masing kekurangan waktu luang dan menjadi kendala lancarnya komunikasi.

Jalan pintas

            Pada rapat tahun 1992, tim tiga orang di atas mengusulkan kepada Rapat Pengurus Yayasan untuk menentukan HUT Yayasan & Runah Sakit Panti Nirmala dijatuhkan pada tanggal 1 Oktober, dengan alasan:

            (1) Ada Notulen/catatan tentang perayaan HUT ke-20 & ke-25, tetapi   tidak disebutkan tanggal HUT-nya.

            (2) Ditemukan tanggal pendirian Perkumpulan THIS, yaitu 1 Oktober 1929 dalam  Anggaran dasar Perkumpulan THIS, pasal 1. Aslinya termuat dalam Surat

      Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No.25 Tahun 1934, tanggal 8 Maret 1934, dan dimuat dalam Javasche Courant No.23 tanggal 20 Maret 1934. (lihat buku “64 Tahun RS Panti Nirmala Malang”, halaman 35).

            Rapat menyetujui usulan di atas, karena tidak menemukan data lain tentang HUT Yayasan/RS Panti Nirmala. Pada awalnya Pengurus mengharapkan bisa menemukan ”Buku HUT Ke-20” dengan harapan banyak data yang termuat di dalamnya, namun sampai tahun 1999 tidak satu pun buku yang ditemukan.

 Catatan yang ditemukan saat HUT ke-25, berbunyi selengkapnya sebagai berikut (ejaan disesuaikan dengan ejaan baru/Pen-not):

Kata Pengantar

Bilamana pada Ulang Tahun RS Tiong Hwa Ie Sia yang ke-20, kami menerbitkan buku peringatan untuk melaporkan kejadian-kejadian dalam perkumpulan kami selama waktu itu, maka pada Ulang Tahun kami yang ke-25 ini, kami hanya menggunakan buku programa ini untuk pelaporan sekedar kejadian-kejadian selama 5 tahun yang terakhir.

            Tiong Hwa Ie Sia merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-25 ini dengan perasaan terima kasih tak terhingga pada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan-Nya dan kepada para pekerja serta para dermawan dari dalam maupun luar kota, yang memungkinkan Tiong Hoa Ie Sia melangsungkan usahanya selama 25 tahun dan memungkinkan pula perayaan ulang tahun ini.

            Peringatan berdirinya Tiong Hoa Ie Sia ke-25 tahun kami rayakan dengan receptie sederhana di Rumah Sakit kami dan dengan mengadakan Fancy Fair serta pertandingan-pertandingan Olah Raga amal guna mencari uang untuk perluasan Rumah Sakit yang dibutuhkan untuk memperbesar usaha amal Tiong Hwa Ie Sia menolong penderita-penderita sakit sebanyak mungkin.

            Mudah-mudahan usaha amal di atas selalu mendapat perhatian, bantuan, dan sokongan dari khalayak ramai.

Pengurus Tiong Hwa Ie Sia

 Catatan:

            Terbaca bahwa pada HUT ke-20 ada penerbitan buku peringatan, tapi tak satu buku pun sampai 1999 bisa ditemukan. Dalam ”Kata Pengantar” di atas disebut ”Buku Programa”, tapi tak satu pun bisa ditemukan. Tidak disebutkan tanggal berapa ulang tahun, dan tanggal berapa perayaan dilakukan. Penulis ”Kata Pengantar” hanya dicantumkan ”Pengurus Tiong Hwa Ie Sia”, sehingga tidak dapat ditelusuri personnya, juga personalia pengurusnya. Juga tidak dicantumkan tanggal, bulan dan tahun pembuatannya.

                Contoh-contoh ”kekurangan” seperti itu mempersulit pelacakan berbagai kegiatan/peristiwa, sehingga penyusunan sejarah bisa kurang akurat, dan harus disempurnakan dari waktu ke waktu.(Pen/not)

             Dengan keputusan rapat bahwa HUT jatuh tanggal 1 Oktober, maka direncanakan merayakan HUT Ke-64 (Delapan Windu) secara cukup besar, sebab HUT Ke-64 juga berarti berusia 8 (delapan) windu. Dalam hitungan Jawa, satu windu adalah 8 tahun, sehingga usia 64 tahun sama dengan 8×8 tahun, dan biasa disebut sebagai ”Tumbuk Ageng”. Angka ini mempunyai ”nilai tersendiri” dan biasanya dirayakan dengan cukup meriah. Atas dasar itulah Pengurus merencanakan penerbitan sebuah buku peringatan, dan yang terpenting berisi sejarah Yayasan & RS Panti Nirmala.

            Karena sempitnya waktu, penyusun buku sejarah yang diserahi (Drs Habib Moestopo) tidak sanggup menyelesaikan dalam waktu 3-4 bulan. Akhirnya Rapat Pengurus mengambil ”jalan pintas”: ”menyusun sejarah sebisanya sesuai dengan data yang tersedia.” Semua bahan yang sudah diserahkan kepada Drs Habib Mustopo dibicarakan dengan yang bersangkutan untuk ditarik kembali, dan kepadanya diberi imbalan jasa sejumlah yang disepakati kedua belah pihak.

            Masalahnya sekarang, siapa yang sanggup menyusun sejarah dalam waktu 3-4 bulan? Pilihan akhirnya jatuh kepada J.A. Noertjahyo, dengan alasan bisa menulis cepat karena profesinya sebagai wartawan. Berdasarkan dokumen dan bahan-bahan yang ada serta penjelasan dari beberapa saksi hidup, akhirnya sejarah Yayasan & Rumah Sakit Panti Nirmala tersusun seperti dimuat dalam buku ”64 Tahun RS Panti Nirmala Malang”. Sempitnya waktu penyusunan tersebut mengakibatkan beberapa data/peristiwa belum termuat di dalamnya. Karena itu pada HUT Ke-70 ini ada beberapa tambahan dari perjalanan sampai usia 64 tahun, dan tambahan bahan-bahan baru selama lima tahun berikutnya.

Hilang dan tercecer

            Notulen, catatan, dan data-data antara 1929-1948 tidak ditemukan sama sekali. Menurut beberapa saksi hidup, bisa saja tercecer di tangan Pengurus, atau hilang di saat Perang Kemerdekaan. Ada informasi pula bahwa seorang Pengurus mengaku pernah membakar dokumen-dokumen Perkumpulan THIS, dengan alasan yang kurang jelas. Maka mata-rantai kehidupan 1929-1948 pun sulit ditelusuri, hanya diperoleh sepotong demi sepotong dari pelaku/saksi yang masih hidup!

            Usaha mengumpulkan data-data dan foto-foto dari para ahliwaris para perintis/ pengurus/pendahulu dan lain-lain memerlukan waktu sangat lama dan tidak semudah yang dibayangkan. Ada ahliwaris yang begitu antusias karena mendapat perhatian dan penghargaan dengan diungkapnya peran orangtua (atau kakek-nenek) mereka dalam karya sosial di THIS (Panti Nirmala). Tapi ada juga yang bersikap apatis, seperti was-was dan bahkan cenderung curiga. Bahkan ada yang sama sekali belum terlacak ahliwarisnya, misalnya Ong Kie Hiang dan Han Kang Hoen yang sudah diangkat sebagai “Anggota Kehormatan” oleh Pengurus Perkumpulan karena jasanya yang besar.

            Data baru yang cukup menarik adalah tentang Dokter Liem Ghik Djiang yang diangkat sebagai “Bapak Tiong Hwa Ie Sia”. Ini tercantum dalam notulen Panitia Perayaan Ke-20 tanggal 25 Oktober 1949.

            Dengan banyaknya catatan yang hilang dan tercecer itu, rasanya perlu penambahan dan atau perbaikan-perbaikan tentan uraian sejarah terutama untuk periode 1929-1948. Dan bagi mereka yang mungkin masih mempunyai/menyimpan catatan (terutama Buku Peringatan HUT Ke-20 dan Buku Programa HUT Ke-25), sangat diharapkan bisa memberi keterangan, syukur kalau meminjamkan/menyerahkan bukunya kepada Pengurus Yayasan RS Panti Nirmala.

Beberapa hal yang “hebat”

            Ada beberapa data yang bisa dinilai “hebat”, setidaknya menakjubkan bila dianalisa. Pertama-tama tentang pendirian Perkumpulan THIS pada tanggal 1 Oktober 1929, terkait dengan kenyataan bahwa tanggal 1 Oktober saat ini diperingati sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”! Bila dicermati, kesatuan falsafah, visi dan misi THIS/Panti Nirmala semuanya juga terkandung dalam butir-butir mulia yang tercantum dalam kelima sila Pancasila.

            Sewaktu membuka-buka arsip lama untuk perbaikan sejarah pada HUT Ke-70 ini, saya cukup terkejut menemukan nomor telepon RS-THIS dulunya juga 70! Nomor ini setidaknya terbaca dalam surat-surat dalam tahun 1948-1957. Nomor tersebut kemudian berubah menjadi 1459, lalu 2459, dan saat ini menjadi 362459.

            Data yang rasanya cukup hebat juga adalah bahwa beberapa surat keluar ditulis dan ditanda-tangani oleh personel yang tidak jelas kedudukannya dalam Perkumpulan. Bahkan ada yang ditanda-tangani tanpa ditulis nama jelas siapa pemilik tanda tangan. Padahal baik model pertama atau kedua, di atasnya tertulis: ”Hormat kami, Pengurus Tiong Hwa Ie Sia”. Jadi belum ada pemisah tegas antara Perkumpulan (kini Yayasan) dengan Rumah Sakit. Dan tidak dicantumkannya jabatan, mungkin menunjukkan sikap ”rendah hati”, dan barangkali belum terpikir hal semacam itu bisa ”membutakan sejarah”.

            Ada hal ”misterius” tentang lembaga di Negeri Belanda. Semula saya mendapat informasi tentang lembaga “SIMAVI”, tapi setelah proses editing sejarah HUT Ke-64 tertulis “SIMAWI” (huruf ‘V’ menjadi ‘W’). Tidak jelas bagaimana itu terjadi, mungkin karena dalam alfabet huruf “V’ dan “W” kedudukannya berurutan. Tapi setelah saya teliti ulang, ternyata yang benar adalah “SIMAVI” (dengan “V”). Lengkapnya, nama lembaga itu “Vereniging SIMAVI”, dan SIMAVI itu merupakan singkatan dari “Steun In Medische Aangelegenheden Voor Inheemschen” . Lembaga ini banyak membantu peralatan medis, dan mungkin masih dapat dihubungi lagi untuk meneruskan “kerja sama” yang pernah terjalin.

            Bahasa yang digunakan dalam notulen, surat-menyurat, maupun catatan lain terkadang agak ”kacau”. Hal ini diduga si penulis berpikir dalam bahasa Belanda, tapi dituangkan dalam bahasa Indonesia, sehingga sering mengalami kerancuan sistem tatabahasa. Dan beberapa surat memang ditulis dalam bahasa Belanda. Malahan ada notulen/surat yang ditulis dengan ”huruf kanji”, sehingga tidak semua orang dapat membacanya! Namun inilah bagian dari perjalanan hidup THIS/Panti Nirmala

            Jika diteliti rasanya masih banyak hal-hal yang ”hebat” atau ”lucu”. Tapi biarlah itu berkembang lagi di masa yang akan datang!

 Malang, 3 September 1999.

Penghimpun & Penyusun Sejarah,

J.A. Noertjahyo SH.

– – o – –

 

SEJARAH

Suatu Perjalanan Panjang Yayasan dan Rumah Sakit

             NAMA Tiong Hwa Ie Sia untuk sebuah rumah sakit di Kota Malang, bagi generasi tua masih lebih populer ketimbang Panti Nirmala. Dan kedua nama itu sebenarnya hanya digunakan untuk satu lembaga yang bergerak di bidang kesehatan tersebut. Jadi ”RS Tiong Hwa Ie Sia” identik dengan ”RS Panti Nirmala”. Nama pertama digunakan sejak kelahirannya di tahun 1929, dan pergantian nama dilakukan di tahun 1961.

Menengok masa lalu

            Di tahun 1920-an sekelompok warga Tiong Hwa di Kota Malang terketuk simpul kemanusiaannya di lubuk hati yang terdalam menyaksikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat ”bawah” yang cukup memprihatinkan. Kelompok cendekiawan yang bergabung dengan beberapa pengusaha setelah melewati berbagai diskusi dan pengkajian cukup panjang, akhirnya sepakat membentuk sebuah wadah pengabdian lewat pelayanan kesehatan. Maka di tahun 1929 – setelah sembilan tahun ide dicetuskan – didirikanlah sebuah poliklinik sederhana dan semacam BKIA, berlokasi di Jalan Pecinan (sekarang Jalan Pasar Besar) Malang. Menurut catatan yang ada, lembaga kesehatan ini diasuh dua dokter, Dr Liem Ghik Djiang dan Dr Tjan Eng Jong (keduanya sudah almarhum). Kedua dokter itu diminta bekerja sama oleh para pemrakarsa (perintis) yang akhirnya bergabung dalam satu perkumpulan yang diberi nama Perkumpulan Tiong Hwa Ie Sia. Para perintis itu antara lain adalah Tan Hok Wan, Kwee Sien Po, Liem Bian Sioe, dan Han Kang Hoen. Nama Perkumpulan ”Tiong Hwa Ie Sia” (THIS) ini pula yang kemudian digunakan untuk nama sebuah poliklinik – rumah sakit.

            Anggaran Dasar (AD) THIS dikukuhkan dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No.25 Tahun 1934, tanggal 8 Maret 1934, dan dimuat dalam Javasche Courant No.23 tanggal 20 Maret 1934. Surat Keputusan tersebut dikeluarkan atas permohonan seorang pengurus THIS, Kwee Sien Po.

            Dalam Pasal 1 AD tersebut tertulis, organisasi (rumah sakit) berdiri terhitung sejak tanggal 1 Oktober 1929. Maka tanggal 1 Oktober adalah hari ulang tahun perkumpulan (yayasan) dan Rumah Sakit Panti Nirmala Malang.

Pindah lokasi

            Lokasi poliklinik yang terletak di Jl Pecinan sifatnya memang ”darurat” dan karenanya kurang memenuhi syarat. Sifat ”darurat” itu juga merupakan akibat keterbatasan kemampuan (finansial) dari oraganisasi THIS. Ini tercermin dari beberapa kali kepindahan lokasi poliklinik, dari Jl Pecinan ke Jl Kotalama, pindah lagi ke Jl Kidul Pasar (kini Jl Kyai Tamin), lalu pindah lagi ke Jl Jagalan, untuk kemudian pindah ke Jl Klenteng (sekarang Jl Martadinata) No.40 Malang.

            Dalam keadaan serba sulit itu, kelangkaan tenaga juga terasakan, sehingga pengurus mencari tenaga-tenaga sukarelawan untuk memenuhi pelayanannya kepada masyarakat. Di antara sukarelawan tersebut adalah bidan Ny Go Gwat Tjing (Ny Mien Sriwulan), adik pengusaha Go In Kiem (alm), salah seorang saksi hidup yang kini tinggal di Jl Klenteng (Martadinata) No.40 Malang.

            Seusai PD II, dengan terjadinya Revolusi Kemerdekaan yang antara lain ditandai berkecamuknya pertempuran di Surabaya, banyak korban perang yang dibawa ke Malang dan dirawat di rumah sakit pemerintah yang ada. Begitu banyak yang membutuhkan pelayanan kesehatan, sehingga tak tertampung di RS yang disediakan. Maka Pengurus THIS pun terketuk hatinya untuk ikut menangani para korban tersebut, dan diputuskan untuk menyewa sebuah gudang kopi di Jl Gudang Garam No.8 Malang (sekarang Jl Kebalen Wetan). Di sinilah pelayanan kesehatan dan bantuan lain yang diperlukan bagi para korban diberikan oleh para sukarelawan Poliklinik THIS.

            Setelah perang usai, gudang kopi milik pengusaha keluarga Han yang mengusahakan perkebunan kopi ”Bumi Redjo” di lereng Gunung Kawi itu, akhirnya dibeli oleh Pengurus THIS dengan dukungan para pengusaha dan dermawan simpatisannya. Bahkan juga bangunan induknya yang biasanya dijadikan rumah tinggal, ikut dibeli. Di antara pengusaha dan dermawan tersebut adalah Tan Kee Liang, Ong Kie Hiang, Go In Kiem, dan Kwee Hok Hay.

            Mereka itu (para dermawan/usahawan) selanjutnya duduk dalam Badan Pengurus THIS, melakukan pembangunan kantor dan lain-lain yang dibutuhkan rumah sakit. Lokasi ini adalah lokasi RS Panti Nirmala sekarang (Jl Kebalen Wetan 8/Pen-not).

            Perluasan lokasi dilakukan pada tahun 1954, bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Perkumpulan/Rumah Sakit, dengan penambahan tanah seluas 5.000 M2. Areal ini dimanfaatkan untuk bangunan poliklinik, kebidanan, penyakit dalam, klinik gigi, dan perawatan.

            Gedung induk RS masih mempergunakan bangunan aslinya yang mengalami beberapa renovasi. Beberapa bangunan baru didirikan di sekitarnya, umumnya dilakukan secara tambal-sulam karena disesuaikan dengan kebutuhan dan dana yang tersedia. Saat ini lokasi telah diperluas dengan pembelian sebuah bangunan (rumah) di sebelah barat komplek RS, dan sebidang tanah kosong di depannya. Rencana perluasan bangunan dan relokasi penggunaannya sedang dikerjakan oleh Pengurus Yayasan.

Langkah-langkah pengabdian

            Sejak awal berdirinya, lembaga ini melakukan pengabdian tanpa terputus, meskipun mengalami pasang surut sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Pada masa Revolusi Kemerdekaan, sejak 8 November 1945 RS juga digunakan untuk menampung para pengungsi dari Surabaya. Periode Agustus 1945 – Desember 1947 melakukan pengobatan dan perawatan dengan cuma-cuma, sehingga Pengurus mengalami cukup kesulitan dalam pengelolaannya. Masa kritis sangat terasa saat terjadi pergantian uang Jepang ke uang RI (ORI) pada November 1946.

            Pada waktu Agresi Belanda ke Kota Malang, 30 Juli 1947, RS-THIS tetap dibuka terutama Bagian Poliklinik. Karena situasi dan kondisi yang tidak menentu, kegiatan untuk bagian lain juga tak bisa kontinyu. Namun pada 1 April 1948, RS-THIS beroperasi penuh dengan 60 tempat tidur. Dalam berbagai situasi sulit yang berkaitan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, RS-THIS tetap menjalankan fungsinya, mengabdi kepada sesama melalui pelayanan kesehatan. Dan pada masa perjuangan itu sekaligus terjadi peningkatan integrasi antar-etnis, antar-kelompok, dan antar-agama yang ada di Malang, sehingga dapat dikatakan bahwa RS-THIS merupakan wadah pengabdian bagi segenap lapisan masyarakat yang memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Para perintis organisasi (rumah sakit) THIS sejak awal memang sadar sepenuhnya bahwa filosofi dan dasar pengabdian mereka adalah kodrat kemanusiaan yang bersifat universal, kekal, dan mutlak.

            Integrasi “tanpa pandang bulu” itu antara lain terbukti dari peran Prof Dr M Soetojo merancang kamar operasi di saat beliau mengungsi dari Surabaya ke Malang di zaman Revolusi Kemerdekaan tersebut, serta bantuan obat-obatan dari PMI (Palang Merah Indonesia).

            Rumah sakit ini juga mendapat bantuan sangat berharga dari lembaga pemasok alat-alat kesehatan dari Negeri Belanda, yaitu SIMAVI (Steun In Medische Aangelegenheden Voor Inheemschen). Bantuan SIMAVI atas rekomendasi ahli bedah Dr Lodder itu di antaranya peralatan ruang operasi lengkap dengan meja operasinya, sebagai kelengkapan untuk ruang operasi yang dirancang Prof Dr M Soetojo. Alat-alat yang kini sudah berumur lebih dari 50 tahun tersebut, sebagian masih dalam keadaan baik dan masih dipergunakan dalam kegiatan operasi. Bantuan ini bukan hanya memenuhi kebutuhan peralatan saja, tapi juga sekaligus memberi dorongan moril yang sangat besr bagi Pengurus THIS untuk lebih giat dan bersemangat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkannya. Sampai sekarang Lembaga SIMAVI di Negeri Belanda tersebut masih ada, dan kekhususan aktivitasnya adalah memberi bantuan alat-alat kesehatan kepada Negara-negara Dunia Ketiga/Negara Berkembang.

            Ruang Operasi RS-THIS/RS-PN memang punya kisah unik tersendiri, yaitu merupakan titik temu semangat perjuangan dan pengabdian. Bagaimana tidak! Desain yang dirancang Prof Dr M Soetojo merupakan sumbangan spontan atas keinginan Pengurus THIS membangun ruang operasi yang dirasa sangat dibutuhkan untuk melayani para pasien. Tetapi setelah desain selesai, Pengurus THIS pun kelabakan karena kekurangan dana untuk membangunnya. Maka dikontaklah Sekolah Ma Chung di Malang, diminta membantu dalam pengumpulan dana, dan gayung pun bersambut. Guru-guru dan para murid Ma Chung bekerja keras menghimpun dana, di antaranya dengan cara keliling ke beberapa kota untuk melakukan ”pertunjukan sandiwara amal” yang dimainkan murid-murid Ma Chung. Atas bantuan mereka itulah akhirnya dana terkumpul sehingga pembangunan ruang operasi bisa diselesaikan ……!

            Maka tak akan terlupakan andil pengabdian yang diberikan oleh Prof Dr M Soetojo, Dr Lodder, Lembaga SIMAVI di Negeri Belanda, keluarga besar Sekolah Ma Chung, dan para dermawan lainnya yang bersatu padu dengan Pengurus RS-THIS/RS-PN dalam mewujudkan ruang operasi tersebut. Satu bukti bahwa cinta kasih dan kemanusiaan bersifat universal, tak mengenal ruang dan waktu, tak dibatasi oleh jarak dan nasionalitas ………..!

            Di masa Revolusi Kemerdekaan tersebut RS-THIS juga mendapat bantuan sangat berharga dari Dr Soerodjo, ahli kebidanan terkenal di Malang saat itu. Juga dari beberapa dokter lain yang bergabung dengan motivasi mengabdi kepada sesama manusia yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

            Pada masa transisi yang sangat sulit itu, untuk pengelolaan RS Pengurus THIS mendapat uluran tangan yang sangat berharga dari Uskup Malang saat itu, Mgr A.E.J. Albers O.Carm (alm) dengan dirintisnya kerja sama antara Perkumpulan THIS dengan Kongregasi Suster Misericordia di tahun 1952. Bangunan dan berbagai sarana RS dibenahi sehingga kuantitas dan kualitas pelayanannya dapat terus ditingkatkan. Tidak dapat dipungkiri eksistensi RS-THIS ini berkat kerja keras dan pengabdian para Suster Misericordia yang bekerja sama dengan Pengurus THIS selama sekitar 36 tahun (1952-1988). Para Suster Misericordia yang melaksanakan tugas pengabdiannya di RS-THIS/ RS-PN dan sangat besar jasanya, antara lain Sr Gregoria, Sr Catherine, Sr Alberta, Sr Alexia, Sr Theresia, Sr Germana, Sr Imelda, Sr Mathilda, Sr Bernadette; dan masih banyak lagi. Sedangkan rohaniwan yang sulit dipisahkan dengan RS-THIS/RS-PN adalah Pastor Joseph Wang CDD (alm).

            Dalam alam “Demokrasi Terpimpin” RS-THIS juga mengalami berbagai cobaan dan tantangan, baik yang bersifat politik-ideologis maupun keuangan dan ekonomi. Namun berkat kegigihan para pengurusnya yang berpegang teguh pada prinsip pengabdian di bidang kesehatan, semuanya dapat diatasi dengan baik. Dan untuk memantapkan eksistensinya, sejak tahun 1961 nama “Tiong Hwa Ie Sia” diganti dengan “Panti Nirmala”, meskipun tetap berinduk pada Perkumpulan THIS.

            Pada perjalanan selanjutnya, induk rumah sakit yang berstatus “perkumpulan” dinilai tidak memadai lagi. Karena itu pengurusnya di tahun 1980 memutuskan untuk meningkatkan status “Perkumpulan” menjadi “Yayasan”.

Untuk mewujudkan keputusan rapat pengurus tersebut, ditunjuklah Drg Oei Boen Thong (Ketua), Go In Kiem (Sekretaris), dan J.A. Noertjahyo SH (Wakil Sekretaris) sebagai wakil pengurus menghadap notaris. Dan terbentuklah Yayasan Rumah Sakit Panti Nirmala Malang dengan Akta Notaris Nyonya Soenardi Adisasmito Nomor 37 tanggal 28 April 1980, sebagai nama baru dari THIS Malang.

 Catatan: Secara lebih rinci, proses perubahan ”Perkumpulan” menjadi ”Yayasan” terdapat dalam ”In Memoriam, Dokter Gigi Oei Boen Thong, Pendiri Yayasan RS Panti Nirmala Malang”; tulisan di  bawah artikel ”Sejarah” ini/Pen-not).

    

Dalam melakukan pengelolaan rumah sakit, seizin Keuskupan Malang, Perkumpulan THIS/Yayasan RSPN melakukan kerja sama dengan Perkumpulan/ Kongregasi Biarawati. Sampai dengan tahun 1988 kerja sama tersebut dilakukan dengan Suster Kongregasi Misericordia (Pemilik/pengelola RKZ/RS Panti Waluyo Malang), dilanjutkan kerja sama dengan Kongregasi Suster Pasionis, sampai sekarang. Sedangkan kepemilikan semua aset rumah sakit tetap di tangan Yayasan RSPN.

            Masih banyak perorangan, kelompok dan badan/lembaga yang berjasa besar serta punya andil sangat berarti dalam perjalanan hidup RS-THIS/RS-PN ini, baik yang masih aktif maupun yang telah mengundurkan diri. Dan tidak sedikit pengusaha di lingkungan pabrik rokok (kretek) yang telah memberikan darma baktinya, antara lain Sdr. Tan Hong Bok (PR Toegoe Mas), Sdr. Tan Sie Thong (PR Grendel), Sdr. Jap Wie Tjhing (PT Cengkeh), Sdr. Ong Kian Pa (PR Oepet/Ongkowijoyo), Sdr. Samsi (PR Bentoel), Sdr. Kwee Hok Tjhiang (Bentoel), dan Sdr. JP Soegiharto Prajogo (Ketua GAPPRI), serta masih banyak lagi. (Periksa Susunan Pengurus berdasarkan Keputusan Rapat 26 Januari 1969, halaman 4-5 “In Memoriam Dokter Gigi Oei Boen Thong, Pendiri Yayasan RS Panti Nirmala Malang/Pen-not)

Sayangnya – seperti umumnya perkumpulan/organisasi lain – Perkumpulan THIS/Yayasan RSPN tidak memiliki tradisi untuk mendata secara sistematis para aktivis dan pengurusnya serta mereka yang telah berjasa terhadap lembaganya.

            Meskipun demikian, semangat pengabdian mereka tetap terpelihara dan berkesinambungan. Sebagai contoh, Ny Herlina Budiman adalah salah seorang dokter gigi yang sepenuhnya mengabdikan diri lewat Poliklinik Gigi RSPN sekitar 24 tahun lamanya tanpa menerima gaji atau imbalan jasa.

            Lebih dari itu, para Pengurus Perkumpulan THIS/Yayasan RSPN sejak dulu terdiri dari mereka yang mengabdi tanpa pamrih materi, bekerja tanpa imbalan jasa. Bahkan para pemimpin dan karyawan RS-THIS/RS-PN adalah manusia-manusia pengabdi kepada sesama, pekerja yang rela menerima imbalan jasa dalam jumlah kecil. Dan memang, rumah sakit tidak cocok untuk tempat kerja bagi tipe manusia yang mendambakan kekayaan duniawi…..!

            Dan itu semua disadari sepenuhnya oleh insan pengabdi rumah sakit, yang selalu terngiang pada motto abadi …: ”Mengabdi dan terus mengabdi kepada sesama manusia!”

Menapak maju

            Penelusuran sejarah RS-PN sekaligus juga memasuki wilayah praktis, yaitu pengelolaan dan pola manajemennya. Dari sekian data yang ditemukan, terbentang benang-merah kehidupan yang cukup memprihatinkan, yaitu BOR (Bed Occupancy Rate) atau “tingkat hunian tempat tidur” dari tahun ke tahun rata-rata hanya sekitar 50 persen, bahkan ada yang di bawah itu. Dengan kenyataan ini RS-PN hanya bisa hidup asal hidup, sulit berkembang dan memperbaiki diri. Karena itu sejak awal tahun 1993 Yayasan mulai berusaha dan mencari cara bagaimana RS-PN bisa mengembangkan diri.

            Pameo yang muncul dari pimpinan RS-PN saat itu, BOR rendah karena sering macetnya jalanan sekitar RS, khususnya persilangan rel kereta api dengan Jalan Mergosono-Kebalen Wetan-Kotalama-Sartono. Secara umum lokasi RS-PN juga kurang strategis dan belum mempunyai keunggulan khusus dibanding RS lain di Malang. Semua hal itu mengakibatkan para dokter enggan mengirimkan pasiennya ke RS-PN, meskipun kamar operasi RS-PN bisa bersaing dengan RS lain. Salah satu jalan keluar yang diusulkan ialah membuat akses RS-PN ke Jl Mergosono (Kol. Sugiono) untuk mempermudah trasportasi.

            Yayasan sangat berhati-hati dalam menentukan sikap. Karena itu Ketua Yayasan (J.A Noertjahyo) disepakati oleh Rapat Pengurus untuk melakukan konsultasi dengan berbagai pihak yang bisa memberikan solusi terbaik. Pada awal tahun 1993 dilakukan berbagai pembicaraan dengan Perdhaki dan beberapa pihak yang dipandang perlu. Hasilnya, pada tahap pertama diperlukan penelitian secara khusus terhadap RS-PN. Dan tanggal 23 September 1994 terjadi kesepakatan antara TREND Consultans dengan Perdhaki (Pusat Jakarta) untuk melaksanakan kerja sama konsultan manajemen pada RS-PN. Penelitian pendahuluan dilakukan tanggal 27 Oktober 1994 dan 10-11 November 1994. Laporannya dituangkan dalam buku ”Laporan Penelitian Pendahuluan” TREND Consultans tertanggal 2 Desember 1994.

            Laporan itu menguraikan berbagai kelemahan RS-PN dan cara-cara mengatasinya. Pengurus Yayasan pun segera melakukan pembenahan intern dan menghubungi beberapa lembaga, khususnya yang bergerak di bidang kesehatan, baik di Jawa maupun di luar Jawa, antara lain dengan kelompok Charitas (atas saran Perdhaki), Gereja Kristus Tuhan (GKT) dan para tokoh alumni eks- Ma Chung yang tergabung dalam Yayasan Mulia Citra dan organisasi sosial lainnya. Dalam jabatan Direksi RS-PN juga dilaksanakan peremajaan dan penyegaran pada 1 Juli 1995. Direktur yang semula dijabat Dr Wahjoenarso Sp.A diserahkan kepada Dr I Wayan Tharsana Sp.An, dan Wakil Direktur dari Dr J Kohar kepada Dr Eko Sugiarto MSc. Serah terima jabatan itu dilakukan setelah Direktur dan Wakil Direktur (lama) menyatakan untuk mengundurkan diri dari jabatan masing-masing.

            Setelah melakukan berbagai upaya yang memakan waktu, akhirnya para simpatisan RS-PN yang tergabung dalam alumni eks- Ma Chung merasa terpanggil untuk turut melakukan pembenahan RS-PN, bahkan mengembangkannya. Faktor pendorong utama yang mengetuk hati mereka adalah peranan Sekolah Ma Chung di RS-PN pada masa lalu yang antara lain berhasil menghimpun dana untuk membangun OK (Operatie Kamer, Kamar Operasi) yang memenuhi standar internasional.

Sebagai tindak lanjutnya telah diambil beberapa langkah yaitu:

(1) Beberapa personel alumni Ma Chung masuk jajaran Pengurus Yayasan (Sdr  Rianto Nurhadi, Sdr. Soehatmo, Sdr. Koentjoro Loekito, dan Sdr. Teguh Kinarto) berdasarkan keputusan Rapat Pengurus Yayasan tanggal 2 Juli 1996.

(2) Dilakukan pembelian rumah/tanah di Jl Mergosono (Kol. Sugiono) No.19-21 dan diadakan Arisan Gotong Royong yang diketuai Sdr. Rianto Nurhadi untuk  mencari dana.

(3) Dibentuk Panitia Pembangunan yang diketuai Sdr. Bambang Gunawan untuk perluasan rumah sakit. Laporan tentang Arisan Gotong Royong dan  pembangunan RS-PN disajikan masing-masing pada halaman lain buku ini.

            Sejalan dengan pembenahan dan pembangunan fisik (gedung juga dilakukan pembenahan manajemen RS-PN secara menyeluruh. Karena itu Yayasan mendukung sepenuhnya prakarsa jajaran Direksi RS-PN untuk melakukan akreditasi rumah sakit. Hasilnya, RS-PN merupakan rumah sakit swasta yang pertama di Kota Malang dan Kabupaten Malang yang telah terakreditasi penuh.

            Pengurus Yayasan RS-PN beserta Direksi dan seluruh Staf dan Karyawan bekerja keras untuk meletakkan fondasi yang kokoh agar RS-PN dapat terus melangkah secara mulus dan meyakinkan dalam mewujudkan visi dan misi para pendirinya.

 Malang, 1 Oktober 1999

Penghimpun & Penyusun Sejarah

J.A. Noertjahyo

Ketua Yayasan Rumah Sakit Panti Nirmala Malang

                                                                    – – – o – – –

 Pengantar:

Naskah di bawah ini, sebagian merupakan kelengkapan dari  ”Sejarah Rumah Sakit Panti Nirmala” Malang. (Pen-not).

In Memoriam

Dokter Gigi Oei Boen Thong

Pendiri Yayasan RS Panti Nirmala Malang

– – – o – – –

Setelah 100 Hari Berlalu

      SANG waktu terus bergulir menjelajahi relung-relung kehidupan anak manusia. Tanpa terasa pada 18 April 2004 kita sudah 100 hari berpisah untuk selamanya dengan Dokter Gigi Oei Boen Thong. Beliau dipanggil menghadap Bapa di Surga tanggal 10 Januari 2004. Jasad almarhum kembali menjadi partikel abu dan debu, disimpan rapi dalam guci di Columbarium Gua Maria Lourdes Puhsarang, Kediri (Jawa Timur). Dan kami yakin bahwa arwah Oom Boen Thong sudah menikmati kebahagiaan abadi di surga, menyatu dalam kehidupan Bapa Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Namun seribu satu kenangan terus bermunculan tentang pribadi Oom Boen Thong. Selama 7 hari jenazah disemayamkan di rumah duka, tak putus-putusnya famili dan sahabatnya memberikan penghormatan terakhir diiringi doa-doa yang khusuk.

      Upacara penutupan peti jenazah yang dipimpin Rm Felix Suyatno Pr dan ibadat doa arwah di bawah pimpinan Mgr FX Hadisumarto O.Carm, berjalan sangat khidmat dan mengharukan. Sekaligus juga mengesankan betapa serius upaya Oom Boen Thong mendekatkan diri kepada Sang Khalik sebelum ajal menjemputnya. Demikian pula upacara pemberangkatan jenazah menuju krematorium serta upacara sebelum jenazah dikremasi yang dipimpin oleh Rm YC Eko Atmono Pr. Sungguh suatu perpisahan yang sangat mengharukan. Namun juga penuh syukur karena kita meyakini bahwa Oom Boen Thong sudah sangat siap untuk menghadap Sang Pencipta.

      Oom Boen Thong dikenal sebagai dokter gigi profesional. Tambalan gigi saya yang dilakukan 30 tahun lalu masih tetap kokoh. Beliau tekun beribadah, peduli kepada orang lain, dan pencinta kehidupan yang serba indah. Impiannya adalah dunia yang serba tertib, damai, dan sejahtera. Sekian banyak generasi muda dicarikan jalan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sekian banyak orang menjadi sahabat dekatnya dan mengikutinya sebagai teladan. Dan sekian banyak pula orang yang dibimbingnya mengarungi kehidupan secara benar. Masih banyak lagi perbuatan mulia almarhum yang tetap akan dikenang oleh para sahabat dan kerabatnya.

      Sekitar 40 tahun saya bersahabat dengan beliau. Tahun 1963 kami sama-sama menjabat anggota pengurus Aksi Sosial Katolik Malang yang diketuai Kol (CPM) RF Moedjiono. Selain menangani berbagai masalah sosial, organisasi ini adalah pemrakarsa berdirinya Yayasan Adisucipto yang mengelola Universitas Katolik ”Atma Jaya” Malang (sekarang mengelola Universitas Widya Karya). Meskipun secara formal tidak turut mengurusi universitas itu, namun Oom Boen Thong banyak memberikan masukan berharga demi kemajuannya. Terutama melalui kedekatannya dengan Prof Dr G Harjoko O.Carm (alm) yang saat itu menjabat Rektor.

      Beliau juga pernah menjabat Ketua PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) Malang dan ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) Malang. Dalam kedua organisasi itu berhimpun para cendekiawan dan ilmuwan sehingga banyak kesempatan kami gunakan untuk bertemu, berdiskusi dan bertukar pikiran.

      Persahabatan kami berlanjut dalam bidang seni dan budaya. Masih segar dalam ingatan, untuk merayakan Hari Natal 1963 para seniman mementaskan drama berjudul “Lonceng Natal” untuk umat Katolik Malang. Tempat pentas di aula Susteran Cor Yesu, Celaket 55 Malang, selama dua malam berturut-turut. Sambutan sangat antusias dan meriah. Suami-istri Oei Boen Thong bertindak sebagai supervisor sutradara. Yang berperan besar dalam perayaan ini adalah keluarga Tan Hong Bok dan Mayor F Soetrisno.

      Drama lain yang kami pentaskan adalah ”Cakar Kera” (terjemahan The Monkey’s Paw) yang melibatkan masyarakat Tionghoa di Malang. Antara lain keluarga Mr Han Kian Tjing, Prof Dr Liem Twan Djie, dan Sie Twan Tjing (Samsi, PR Bentoel). Pementasan dilakukan di gedung bioskop Rex Malang (Ria, sekarahng menjadi gedung Bank Lippo). Suami-istri Oei Boen Thong sangat menikmati substansi cerita kedua drama tersebut. Intinya menegaskan bahwa iman kepada Tuhan YME merupakan benteng terkuat kehidupan manusia. Iman selalu mampu mengalahkan gemerlapnya duniawi, ambisi dan nafsu. Iman mampu menghancurkan semua kekuatan yang menentang-Nya, termasuk tahayul dan jimat-jimat atau ”ilmu hitam”. Kebenaran selalu menang atas segala kemunafikan, keserakahan, kecurangan, dan lain-lain sifat buruk yang selalu menggoda anak-anak manusia di dunia fana. Pemaknaan seperti itu saya rasakan sebagai pandangan dan landasan hidup Oom Boen Thong dan Nyonya (Tante Nieke), meskipun terkadang harus menghadapi risiko pahit. Misalnya, pada masa ”kritis” tahun 1968-an Oom Boen Thong pernah dipanggil ”penguasa” karena kritik pedasnya  terhadap perbuatan serakah dan kesewenang-wenangan pejabat. Tante Nieke sempat ”panik”, sebab beberapa orang yang pernah mengalami perlakuan serupa kemudian ”hilang” tak tentu rimbanya. Namun Oom Boen Thong tetap memenuhi panggilan, teguh pada imannya dan tegar pada prinsipnya. Menurut beliau, pada awalnya pertemuan memang menegangkan. Tetapi akhirnya Oom Boen Thong keluar sebagai ”pemenang” berkat kendali imannya yang penuh cinta-kasih dalam memecahkan persoalan hidup bersama. Akhirnya pejabat tersebut tidak lagi memusuhi tapi justru menjadi temannya.

      Persahabatan saya dengan Oom Boen Thong berlanjut dalam Rotary Club. Banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu berhimpun di sini, sehingga kesempatan untuk menimba berbagai ilmu terbuka lebar. Kami juga sama-sama berkecimpung dalam olahraga tenis. Kemudian dalam Yayasan RS Panti Nirmala Malang lebih dari 30 tahun. Meskipun Akta Notaris Yayasan baru dibuat tahun 1980, Yayasan ini secara intern sudah terbentuk jauh sebelumnya. Yaitu pada periode kepengurusan 1964-1967 dan periode berikutnya yang diketuai Tan Hong Bok dengan Oei Boen Thong sebagai wakilnya. Kemudian Oom Boen Thong ditetapkan sebagai Ketua dalam Rapat Yayasan tanggal 26 Januari 1969 untuk menggantikan Tan Hong Bok (PR Toegoe Mas) yang pindah ke Bandung.

      Dalam kepengurusan ini, sebagai Sekretaris I saya banyak mendapat bimbingan dari semua Pengurus Harian. Yaitu Oei Boen Thong (Ketua), Jap Wie Tjhing (Wakil Ketua), Go In Kiem (Sekretaris, nama barunya Gondo), Ong Kian Pa (Bendahara, nama barunya Pamudji Onggokusumo), dan Kwee Hok Tjhiang (Bendahara I). Para beliau itu semuanya telah dipanggil menghadap Sang Pencipta.

      Pelajaran sangat berharga juga saya terima dari para Penasehat, para Anggota Kehormatan, maupun para Anggota Pengurus lainnya.

            Tulisan singkat ini juga saya persembahkan kepada semua beliau sebagai ”Kenangan Manis” yang sulit dilupakan, karena jasa-jasa besar para beliau kepada Rumah Sakit Panti Nirmala Malang dengan pengabdian penuh dedikasi tanpa pamrih.

            Sekian banyak suka-duka kami alami untuk mewujudkan berdirinya Yayasan RS Panti Nirmala Malang. Dan masa-masa kritis kepengurusan serta keuangan itu berada di bawah pimpinan Oei Boen Thong, sejak tanggal 26 Januari 1969 sampai tersusunnya pengurus yang diakta-notariskan tanggal 28 April 1980. Proses yang cukup panjang dan melelahkan, lebih dari 10 tahun. Memang tidak mudah mengakomodasikan begitu banyak sikap dan pendapat. Namun berkat kebesaran jiwa, kearifan, dan kecintaan semua pihak terhadap rumah sakit maka semuanya dapat diselesaikan dengan baik. Tidak ada yang merasa kalah atau menang, karena kemenangan diletakkan di atas cita-cita mulia dalam pengabdian kepada sesama insan ciptaan Tuhan.

            Untuk mengenang jasa-jasa semua beliau, saya sajikan kedua Susunan Pengurus yang ”dibidani” oleh Drg Oei Boen Thong, sbb:

1. Keputusan Rapat 26 Januari 1969, Pengurus Yayasan sbb:

A. Penasehat: Dr Soerodjo (Jl Sukun 39 Malang), Mr Han Kian Tjing (Jl Wilis 11-A Malang), Prof Dr Liem Twan Djie (Jl Retawu 20 Malang).

B. Anggota Kehormatan: Go In Kiem/Gondo (Jl Klenteng 40 Malang), Kwee Hok Hay (Jl Sawahan 11-A Malang), Ong Kie Hiang (Surabaya), dan Han Kang Hoen (Jl Ijen 35 Malang).

C. Pengurus Harian: Ketua: Drg Oei Boen Thong (Jl Sumbing 6 Mlg), Wk Ketua: Jap Wie Tjhing (Jl Tampomas 14 Mlg), Sekretaris: Go In Kiem/Gondo (Jl Klenteng 40 Mlg), Sekretaris I: J.A. Noertjahyo (Jl Dorowati 11 Mlg), Bendahara: Ong Kian Pa/Pamudji Onggokusumo (Jl Ijen 15 Mlg), Bendahara I: Kwee Hok Tjhiang (Jl Sawahan 11-A Malang).

D. Anggota Pengurus: Tan Sien Giok (Jl Bromo 7-A Mlg), Ang Tjhoen Swie (Jl Tenes 18 Mlg), Han Kang Hoen (Jl Ijen 35 Mlg), Pastur Wang (Jl Dr Sutomo 35 Mlg), Tjoa Tjie Liang/Mien Sriwulan (Jl Klenteng 40 Mlg), Drg Ny Oei Boen Thong (Jl Sumbing 6 Mlg), Moelani (Jl Jeruk 22 Mlg), Dr Basah Karnen (Jl Welirang 41 Mlg), Lie Tjien Giok (Jl Retawu 2 Mlg), R. Soemantri (Jl Ijen 37 Mlg), Dr G Djauhar (Jl Ijen 74-C Mlg), Sie Twan Tjing/Samsi (Jl Sumbing 37 Mlg), H. Soedjati (Jl Tretes 2 Malang), Siau Han Liong (Jl Glintung 4 Mlg), Liem Tiang Hok (Jl Dempo 4 Mlg), dan Tan Sie Thong (Jl Gajahmada 14 Mlg).

E. Pimpinan Rumah Sakit: Direktris: Suster M Imelda Eliazar, Administratur: Suster M Bernadette.

 Catatan: Yang masih sering berkomunikasi dengan saya adalah Ny Tjoa Tjie Liang (Tante Mien Sriwulan), Tante Nieke (Ny Oei Boen Thong), R Soemantri (Jakarta), Tan Hong Bok (Jakarta); dan (mantan) Pimpinan Rumah Sakit: Sr Germana, Sr Imelda, Sr Mathilda, dan Sr Bernadette. (Pen-not).

 II. Akta Notaris Ny Soenardi Adisasmito (Jl Simpang Ijen Mlg), Nomor 37 tanggal 28 April 1980:

1. Pendiri Yayasan RS Panti Nirmala Malang: 1. Drg Oei Boen Thong, 2. Gondo (nama lama Go In Kiem), 3. Noertjahyo SH.

2. Susunan Pengurus Yayasan RS Panti Nirmala Malang: Ketua: Drg Oei Boen Thong, Wk Ketua: Noertjahyo SH, Penulis I: Drs J Soegiarto Prajogo, Penulis II: Djohan Tjahjana, Bendahara: Yanto Widjaja (Jap Wie Tjhing), Para Pembantu: Eko Handoko Widjaja SH, Dr Karno Supoyo, Gondo (Go In Kiem), Samsi (Sie Twan Tjing), Komisaris: Ong Kian Pa (Pamudji Onggokusumo).

             Itulah kedua susunan Pengurus yayasan yang digodok di bawah kepemimpinan Drg Oei Boen Thong, yang selalu menegaskan bahwa karyawan rumah sakit adalah aset, bukan alat kerja. Karena itu selalu dipikirkan cara untuk menyejahterakan karyawan, antara lain dengan dibentuknya “Kas Kesejahteraan Karyawan”.

            Menyatunya pribadi Oei Boen Thong dengan RS Panti Nirmala rasanya memang tidak perlu diragukan. Saat sakit beliau selalu berobat dan opname di RS-PN. Bahkan beliau ingin setelah meninggal dunia jenazahnya juga “dirawat” para Suster RS-PN. Dan Tuhan mengabulkan melalui tangan-tangan kasih Sr Sukarti, Sr Antina, dan Mbak Bonanti.

            Yang tidak luput dari perhatian Oom Boen Thong adalah kualitas pelayanan serta perkembangannya. Ia selalu memberikan masukan untuk perbaikan, kepada Pengurus Yayasan maupun Direksi RS-PN, juga kepada Panitia Pembangunan gedung baru di Jl Sugiono. Beliau merasakan betapa besarnya dedikasi dan jasa Panitia Pembangunan di bawah pimpinan Bambang Gunawan (Lie Tjien Poen).

            Penilaian itu disampaikan kepada beberapa orang, baik saat dirawat di RS-PN maupun di luar. Dan banyak yang sependapat dengan beliau termasuk para dermawan dan karyawan RS-PN. Karena itu beliau menginginkan Bambang Gunawan bisa terus mengabdikan dirinya kepada RS-PN dalam kepengurusan Yayasan. Sayang, sebelum maksudnya kesampaian Tuhan telah memanggil Oei Boen Thong. Saya tidak tahu bagaimana harus menyikapi keinginan almarhum yang tulus-ikhlas itu ……..! Mungkin hanya suara hati nurani yang jernih bisa memberikan jawabannya!

            Oom Boen Thong ……….., selamat menikmati kebahagiaan abadi! Jasamu tetap kami kenang meskipun itu bukan tujuan hidupmu. Saya tetap ingat nasihatmu yang disitir dari ajaran Lao-Tze: “Bekerjalah tanpa pamrih, jadilah pemimpin tanpa menguasai.”

 

Malang, 18 April 2004

J.A. Noertjahyo

(seorang sahabat)

Catatan:

Hal-hal  yang berkaitan dengan Yayasan RS Panti Nirmala Malang merupakan kelengkapan dari sejarah yang saya susun (baik dalam buku “64 Tahun RS Panti Nirmala Malang maupun buku “70 Tahun Rumah Sakit Panti Nirmala Malang”, serta “Laporan Kegiatan Dewan Pengurus Yayasan Rumah Sakit Panti Nirmala Malang Tahun 1994-1999/2000”. Semuanya tetap terbuka untuk dikoreksi dan/atau disempurnakan oleh pihak mana pun sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

                                                                  – – – o – – –

Catatan Tambahan:

Wartawan Jawa Pos Radar Malang – Mardi Sampurno – menulis sebagian sosok RS-PN dengan judul “Semangat untuk Pribumi, Pernah Dijuluki Sokeh”, dimuat Jawa Pos Radar Malang tanggal 24 Juli 2009, halaman 29 dan bersambung ke halaman 43. Tulisan ini sudah “beredar” di internet. (Pen-not)

                                                                   S e l e s a i


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: