Oleh: J.A. Noertjahyo | 12/12/2009

Bekal Pensiun: Siap Mental, Siap Materi, dan Siap Hobi

            BEGITU mulai pensiun seorang teman saya – Mr X – perilakunya berubah total. Boleh dikatakan dia banyak menutup diri, selalu di dalam rumah bahkan di dalam kamar pribadinya – untuk membaca atau mendengarkan musik. Jika bosan, ia ke ruang keluarga, nonton televisi atau hanya termenung, diam seribu bahasa. Dia hanya sedikit berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya, untuk hal-hal yang dirasakan perlu saja. Hubungan dengan tetangga dan teman-taman boleh dikatakan terputus. Padahal sebelum pensiun dia termasuk tipe manusia peramah, suka bergaul dan bercanda. Perubahan cara hidup yang sangat kontras itu membuat kondisi fisiknya merosot drastis, lalu sakit-sakitan dan harus sering  ke dokter. Bahkan kemudian perlu dirawat di rumah sakit, dan  di situlah ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah pensiun sekitar enam bulan.

            Mr X tidak siap mental untuk pensiun, dan tidak mempunyai hobi untuk selalu menyegarkan kehidupan ini. Padahal dari segi materi dia tidak mengalami kesulitan, meskipun bukan kelompok orang yang berlimpah harta. Ternyata materi bukanlah segala-galanya untuk dapat menjalani kehidupan secara tenteram dan bahagia. Cara menghayati dan menjalani hidup dengan siraman hobi yang menyegarkan sering lebih menentukan. Jika ketiga hal itu dapat disatukan, mungkin kita dapat dikategorikan sebagai orang yang menikmati “surga dunia fana”.

            Teman lain – Mr Z – beda kisahnya. Setelah pensiun dia memberi predikat pribadinya sebagai ”pengacara”, singkatan dari ”pengangguran banyak acara”. Dia tidak sekaya Mr X, namun mempunyai banyak sahabat dan gemar melakukan berbagai kegiatan sosial bersama istrinya. Dia tidak menutup diri, malahan membuka pintu selebar-lebarnya untuk menemukan sahabat baru. ”Satu musuh sudah terlalu banyak, seribu sahabat masih terlalu sedikit,” ujarnya dalam satu perbincangan.

            Dalam hidup kesehariannya dia selalu mengatur pola hidupnya sebaik mungkin, tentang makan, istirahat, olahraga, dan lain-lain. Dan yang lebih penting, setiap saat dia mencoba untuk terus mendekatkan diri  kepada Sang Pencipta, sebagai landasan dan petunjuk menjalani hidup.

            Mr Z menghayati dan menjalani hidup dengan meniti naluri kemanusiaannya, bersahabat dengan siapa pun yang dijumpainya, serta mengulurkan tangan kepada pihak-pihak yang memerlukan dirinya. Bagi dia manusia adalah makhluk sosial yang selalu rindu terhadap sesama dalam persahabatan dan cinta kasih.

Persiapan

            Pensiun pasti akan dialami oleh siapa pun yang bekerja sebagai pegawai negeri atau karyawan swasta. Bahkan juga oleh seorang ”bos” yang merasa harus berhenti dari pekerjaannya. Karena itu setiap orang dapat mempersiapkan diri jauh-jauh sebelumnya, sehingga pada saat pensiun tiba tidak perlu bingung, apalagi frustrasi dan kaget. Persiapan yang diperlukan menyangkut sikap mental, masalah materi, dan hobi atau kegiatan lain yang bisa dilakukan dengan santai dan senang.

            Kebanyakan kita risau dengan ”persiapan materi”, karena setelah pensiun penghasilan akan berkurang (bahkan mungkin terhenti), dan kebutuhan bisa menjadi lebih besar. Terutama untuk biaya kesehatan, sebab kondisi fisik sudah menurun dan berbagai macam penyakit dapat menghinggapi kita yang masuk golongan lansia.

            Bagi mereka yang gajinya cukup (bahkan berlebihan), masalah materi bisa dipersiapkan dengan kebiasaan menabung, dimulai saat pertama kali menerima gaji. Dapat diperhitungkan besarnya tabungan yang diperoleh sampai mencapai usia pensiun (jika dikelola secara baik). Tabungan ini dapat diinvestasikan dalam bentuk apa pun yang sesuai dengan kemampuan untuk mengelolanya sehingga memberikan keuntungan. Atau tetap sebagai tabungan yang memberikan hasil dari bunga yang diperoleh. Pola ini rasanya cocok bagi kelompok yang waktu pensiunnya sudah tua (60 tahun atau lebih).

            Bagaimanapun kelompok ini sebaiknya memiliki hobi sebagai penyegar kehidupan sehari-harinya. Tentunya hobi yang positif, dan syukur jika dapat mengarah pada peningkatan  kualitas hidup sekaligus menghasilkan uang.

            Bagi kelompok yang pensiun saat fisiknya masih kuat, selain tabungan juga dapat melatih diri untuk nantinya tetap produktif. Misalnya, memperdalam profesinya sehingga nantinya masih dapat bekerja paruh-waktu, atau tenaga kontrak, bahkan juga bekerja sendiri. Misalnya mereka yang berprofesi sebagai akuntan, ahli hukum, wartawan atau penulis, guru (bahasa, matematika, dll), dan sebagainya. Bahkan juga melatih dan merintis untuk berwiraswasta tentang komoditas yang digemarinya serta menguntungkan.

            Agak sulit memberikan contoh konkret tentang berbagai pilihan di atas, karena semuanya terkait erat dengan profesi, latar belakang, kegemaran, dan kebiasaan lain dari  setiap pribadi. Uraian di atas hanya sekedar penuntun, dan kita masing-masing memilih sesuai dengan kecocokan pribadi kita.

            Dan yang penting adalah secara mental mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan setelah pensiun. Berbagai cara perlu terus dipupuk untuk memantapkan jatidiri dan keyakinan pribadi.

Pengalaman pribadi

            Profesi saya adalah wartawan, pensiun pada usia 60 tahun. Hobi utama tulis-menulis, ditambah berwisata dan mengemudi kendaraan. Sekarang saya berusia 70 tahun lebih dan masih mampu mengemudikan mobil Malang-Solo selama tujuh jam dengan istirahat makan di tengah perjalanan.

            Tahun ketiga menjalani pensiun (2002), saya memberanikan diri untuk mengikuti ”petualangan”  mengendarai mobil sampai off road di wilayah Malang-Surabaya dan sekitarnya, dalam rombongan sekitar 50 mobil.  Bahkan tahun 2003 petualangan yang lebih seram menempuh jarak Malang-Surabaya-Wonosobo-Yogya-Solo-Malang. Di Wonosobo kami bertemu dengan rombongan dari Jakarta, Jabar, dan Jateng sehingga berkumpul sekitar 200 mobil. Perjalanan Wonosobo-Magelang-Yogya-Solo merupakan petualangan yang cukup seru dan mendebarkan, menyerupai pertandingan dalam reli yang sesungguhnya. Suatu pengalaman yang asyik dan sulit dilupakan.

Kegiatan di atas sengaja saya ikuti untuk ”mendeteksi” ketahanan fisik, termasuk fungsi refleks. Petualangan kedua tersebut laporannya dimuat majalah intern Kompas-Gramedia dan Harian Kompas tahun 2003. Hobi yang menghasilkan sedikit uang.

Saya juga tetap melakukan kegiatan tulis-menulis di samping beberapa kegiatan sosial. Karya tulis yang dihasilkan, sebagian merupakan hasil perjalanan kerja atau wisata di Jawa maupun luar Jawa, bahkan sampai ke Papua. Sebagian besar dipublikasikan melalui Harian Kompas, lainnya dalam majalah atau penerbitan intern. Boleh dikatakan bahwa semua karya tersebut merupakan hasil dari ”gabungan hobi” yang saya gemari. Selain memberi kepuasan batin aktivitas itu juga menghasilkan uang meskipun kecil  jumlahnya.  

Tahun 2005 buku saya berjudul ”Dari Ladang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani” diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, dan tahun 2007 Dioma Malang menerbitkan buku ”Tapak Kecil di Kompas, Antara Pena dan Pistol”. Selain itu saya juga sempat ditugasi menjadi editor ”Buku Kenangan Yubileum 75 Th Keuskupan Malang” (2002), serta ”Buku Kenangan Peringatan 1000 Hari Romo Francesco Lugano Pr Menghadap Sang Khalik” (2008). Dan masih sekian lagi kegiatan jurnalistik/penulisan yang saya lakukan selama menjalani masa pensiun.

Penglaman pribadi di atas saya uraikan, semata-mata hanya sebagai contoh bahwa hobi sangat bermanfaat dalam masa pensiun. Terlebih hobi yang menyatu dengan profesi.

Berpasrah

            Dalam berbagai aktivitas tersebut saya selalu mencoba untuk berpasrah kepada Tuhan YME. Dalam arti saya mempunyai rencana dan usaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Saya juga selalu berusaha, apa pun hasil usaha dan karya yang saya buat, selalu saya syukuri, termasuk yang kurang menyenangkan. Terkadang memang sulit, namun saya selalu berusaha. Saya yakin, apa pun yang terjadi adalah yang terbaik menurut rencana Tuhan Yang Mahakasih.

            Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi yang mungkin bermanfaat bagi pembaca KANA, tanpa maksud menggurui atau menonjolkan diri. Dorongan memaparkan pengalaman ini adalah falsafah China kuno: ”Jika rencanamu satu tahun tanamalah padi, jika seratus tahun tanamlah pohon, jika untuk selamanya tanamlah kebaikan.”  Amin.

Catatan:

Tulisan ini dimuat Majalah KANA No.011, November 2009, halaman 10-11


Responses

  1. Memang memerlukan kesiapan mental

    Salam sukses
    http://iklanbaris-gratis.org

    • Terima kasih atas tanggapan yang diberikan.

  2. Wah saya beruntung sempat membaca saat sebelum pensiun. Saya akan coba untuk mempersiapkan sebaik mungkin demi memanfaatkan waktu yang telah Tuhan YME serahkan kepada saya. Memang seharusnya kalau kita taat akan Tuhan YME kita harus tetap produktif sepanjang hidup kita (total harus positif) jangan sampai total kebajikan yang kita telah lakukan saat produktif tidak cukup untuk membayari ongkos sakit sampai penguburan kita nantinya. falsafah China kuno: ”Jika rencanamu satu tahun tanamalah padi, jika seratus tahun tanamlah pohon, jika untuk selamanya tanamlah kebaikan.”

    • Tks, kita bisa sharing untuk kemanfaatan bersama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: