Oleh: J.A. Noertjahyo | 03/01/2010

Kutipan Isi Buku

Dalam menyambut tahun baru 2010 di tengah hiruk-pikuk kepemimpinan negeri ini, marilah kita cermati sepenggal tulisan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang seperti di bawah ini, mungkin bermanfaat bagi kita bersama. Hormat dan salam hangat, J.A Noertjahyo.

Muhadjir Effendy: Sang Pemuka

            Ada banyak hal yang sepintas sama, tapi sebenarnya maknanya berbeda. Misalnya ungkapan berhikmah seperti: “Jadilah pemuka. Jangan jadi orang pencari muka.” Meski sama-sama memakai kata dasar “muka”, tapi keduanya memiliki makna yang sama sekali berlawanan.

…………………………………

            Salah pilih bisa-bisa  bukan pemuka yang didapat, tapi malah pencari muka. Memang antara pemuka dan pencari muka, secara sepintas sering sulit dibedakan. Diperlukan cita rasa kepribadian dan olah rasa yang prima. Meleset sedikit, kesan semu yang didapat. Dalam berbagai penampilan, mungkin keduanya sama. Nyaris tak berbeda. Mentokoh. Pandai melakukan lobi-lobi. Pintar mengambil hati. Bahkan, bisa jadi pencari muka jauh lebih lihai. Itu yang mengemuka pada pandangan kasat mata.

            Yang membedakan, motivasi dan niat di balik segala penampilan itu. Repotnya, tak semua orang mampu membaca kata hati seseorang. Diperlukan kearifan dan pandangan mata hati yang cemerlang. Bagi pemuka, perilaku menonjol yang ditampilkan adalah cerminan dari potensi. Cara mengemas perilaku itu pun tidak dibuat-buat. Apa adanya. Bukan kosmetik. Lain dengan pencari muka. Segala tingkahnya dilandasi pretensi. Kepentingan. Entah demi mengejar materi, posisi atau komisi. Bahkan kalau perlu, rela mengorbankan harga diri.

            Bagi pemuka, pengakuan atas dirinya serta penghargaan yang diperolehnya karena perilakunya yang menonjol merupakan konsekuensi. Muncul secara tiba-tiba. Spontan. Jauh dari rekayasa. Bukan merupakan tujuan. Kalaupun pengakuan itu tidak diperoleh, tidak serta merta mengubah perilakunya.

            Tapi bagi pencari muka, bila kepentingannya tidak terakomodasi, perilakunya langsung berubah. Dari setia jadi khianat. Semula rajin, langsung malas. Perilaku menonjol yang ditampilkan lebih banyak merupakan artifisial. Terkesan dipaksakan. Yang membahayakan, pencari muka bisa tega ”menjual” pertemanan. Memuji orang yang diharapkan memberi pengakuan, merendahkan teman seiring. Ia bisa ”berada” di mana-mana karena menampilkan seribu wajah.

            Bahasa sekarang, ia disebut provokator. Mengipasi emosi massa. Mengompori agar bergolak. Menstimulan terjadinya kerusuhan di mana-mana. Lempar batu sembunyi tangan. Lantas memetik keuntungan dari kekacauan suasana. Karena itu Nabi berpesan agar kita menghindari sifat pencari muka dan bermuka dua. Ia adalah perbuatan berbahaya dan tercela.

(Muhajir Effendy: ”Pedagogi Kemanusiaan, Sebuah Refleksi Multidimensional”, halaman 35-37, Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: