Oleh: J.A. Noertjahyo | 31/03/2010

Agrotawon, Obyek Wisata yang Unik

File: 20090625not.

Pintu gerbang Agro-Tawon di Lawang, Malang.

LOKASI obyek wisata itu berada di lembah kecil yang cukup eksotis, semacam ceruk di antara perkampungan, jalan, dan ladang. Begitu memasuki pintu gerbang, pengunjung langsung berada di jalan berbatu yang menurun tajam, menghadap ke lembah yang ditumbuhi beraneka jenis tanaman. Di bagian tengah lembah yang mendatar, terdapat beberapa bangunan kecil dan kotak-kotak lebah yang terlindung di antara pepohonan. Sebagian kotak lebah lainnya diletakkan berderet di pinggir jalan setapak. Di bagian tengah lembah yang lebar-mendatar, para pengunjung mendengarkan penjelasan tentang pola hidup lebah, teknis menternakkan, proses pemanenan madu, dan lain-lain. Pengunjung juga dapat menikmati es madu, jus jambu-madu, serta membeli berbagai produk yang dihasilkan lebah, sampai melakukan apitherapy, pengobatan dengan sengat lebah.

Itulah sepintas gambaran obyek wisata Agro Tawon yang dikelola Peternakan Lebah Rimba Raya di Jl Dr Wahidin 8 Lawang, Kabupaten Malang. Lokasinya sekitar satu kilometer selatan pasar Lawang, di jalur jalan raya Surabaya-Malang. Baru sekitar setengah tahun Agro Tawon ramai dikunjungi peminat, baik warga masyarakat umum maupun murid-murid sekolah, atau rombongan mahasiswa. Sebagian mereka datang dari luar daerah Malang. Mereka bukan hanya kelompok wisatawan yang menikmati liburan, tetapi juga pedagang madu, perorangan yang secara rutin membeli dan mengkonsumsi madu, serta mereka yang secara khusus ingin belajar tentang peternakan lebah.

Menurut Haryono (32), pengelola Agro Tawon, awalnya pembeli madu di tokonya sebagian meragukan keaslian produknya. Maklum, banyak kecurigaan dalam masyarakat tentang beredarnya madu palsu di pasaran. Untuk menghilangkan keraguan, konsumen diberi kesempatan untuk ikut langsung melakukan panen madu di area peternakan. Prosesnya, mulai dari pembukaan tutup koloni (kotak) lebah, mengeluarkan sisir-sisirnya, dan menampung aliran madu yang ”dirontokkan” dengan separator. Madu yang ditampung itu langsung dimasukkan ke dalam botol-botol dan dijual, sehingga pembeli menyaksikan sendiri bahwa madu tersebut benar-benar murni dan baru keluar dari sisiran lebahnya. Ternyata minat para pembeli yang ingin menyaksikan panen madu di kebun belakang tokonya itu semakin banyak. Di antara mereka juga ada yang mengajukan berbagai pertanyaan tentang cara-cara beternak lebah. Karena itu dilakukan kegiatan untuk melayani rombongan pengunjung yang ingin menyaksikan panen madu, sekaligus mempelajari cara-cara beternak lebah.Sesuai dengan siklus bunga berbagai jenis tanaman sebagai pakan lebah, panen madu sebagian besar jatuh pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.

Para pengunjung dan warga masyarakat sekitarnya menyebut tempat panen madu itu dengan Agro Tawon. Entah siapa yang pertama mengucapkan. Dan nama itu akhirnya dijadikan nama resmi oleh pengelolanya. ”Jenis tanaman yang ada sebenarnya belum banyak. Kami lebih fokus pada peternakan lebahnya,” kata Haryono terkait dengan nama Agro Tawon itu. Di atas lahan sekitar tiga hektar itu memang terdapat berbagai jenis tanaman yang tumbuh rimbun dan teratur. Sebagian besar adalah tanaman yang bunganya mengandung banyak madu untuk pakan lebah, seperti kapuk randu, kaliandra, kayu putih, dan berbagai jenis perdu. Namun juga ada puluhan pohon kurma yang termasuk tanaman “asing”, dan tanaman langka seperti jambu-jeruk dan jambu-nenas. Dua jenis terakhir ini adalah benar-benar jambu yang berasa jeruk dan jambu berasa nenas. Masih ditambah lagi dengan tujuh macam jenis lengkeng dataran rendah, sawo manila, jeruk, dan beberapa macam tanaman yang berasal dari luar negeri. Inilah yang dapat dikembangkan menjadi agrowisata.

* * *

PENGUNJUNG Agro Tawon paling tidak mendapat dua keuntungan, yaitu berwisata dan belajar perlebahan secara gratis. Pengelola (sementara?) tidak memungut biaya masuk, juga tidak pasang tarif untuk mereka yang ingin mempelajari tata cara beternak lebah. Keuntungan lain, dapat membeli berbagai produk lebah yang tidak palsu dengan harga wajar. Mereka yang berminat melakukan apitherapy – cara pengobatan berkombinasi akupunktur dan sengat lebah – juga dilakukan tanpa harus membayar. Situasi Agro Tawon pada hari Minggu tanggal 21 Juni 2009 sangat ramai dan semarak. Terdapat serombongan mahasiswa dari Surabaya, beberapa pedagang madu, pengunjung dan pembeli madu yang datang-pergi silih berganti, serta beberapa personel sebuah stasiun televisi swasta yang melakukan peliputan. Berberapa stasiun televisi sudah meliput dan menyiarkan aktivitas Peternakan Lebah Rimba Raya ini, lengkap dengan bergai produknya termasuk ”bothok tawon”.

Gunawan dan pasiennya, pengobatan dengan sengat lebah dan enerji.

Para pengunjung masing-masing sibuk dengan kepentingan dan tugasnya, berseliweran di lembah yang segar dengan sejumlah lebah yang bergentayangan. “Hati-hati terhadap lebah yang kepepet, jika dikasari bisa menyengat,” ujar seorang karyawan Agro Tawon berkali-kali mengingatkan para pengunjung. Memang, jika seekor lebah hinggap pada tubuh kita dan secara kasar kita kibaskan maka si lebah merasa “diserang” dan secara insting akan langsung membalasnya dengan menyengat. Lebah lokal (Apis cerana) lebih sensitif dan galak dibanding lebah impor (Apis mellifera). Sekelompok pengunjung sangat antusias mengikuti berbagai penjelasan tentang perlebahan. Secara serius mereka memperhatikan sisir sarang yang dihuni penuh oleh lebah. Sekilas, lebah-lebah yang terus bergerak merambat itu seperti sama bentuk dan warnanya. Padahal kerumunan dalam satu koloni itu terdiri dari seekor ratu, sejumlah pejantan, dan sejumlah besar lebah pekerja. Untuk koloni yang cukup besar, jumlah lebah pekerja bisa mencapai ribuan ekor, karena jenis inilah yang menjadi tulang-punggung kelangsungan hidup koloninya. Sesuai dengan namanya, lebah pekerja bertugas membangun ”rumah” dan mencari makanan bagi seluruh penghuni koloni, termasuk mengisi gudang-gudang makanan sebanyak mungkin. Dan makanan yang disimpan dalam gudang ini adalah madu, yang diisap dari bunga-bunga tetumbuhan di sekitarnya untuk kemudian dibawa ke dalam sarang dalam koloni. Lebah impor mampu terbang sampai sekitar dua kilometer dari koloninya untuk mengisap madu dari bunga berbagai tanaman. Dan madu yang ditimbun dalam gudang-gudang itulah yang kemudian ”dicuri” manusia untuk diperjual-belikan dan dikonsumsi. Padahal makanan (madu) yang tersimpan dalam gudang tersebut sebenarnya merupakan persediaan pangan yang secara naluriah akan digunakan lebah ketika terjadi paceklik, yaitu saat pepohonan tidak berbunga.

Dalam koloni lebah pun bisa terjadi ”pemberontakan”, misalnya sekelompok lebah pekerja sudah bosan dengan ratunya karena sudah loyo dan tidak produktif sehingga regenerasi lebah pekerja terseok-seok. Mereka lalu berusaha memunculkan ratu baru dengan membuat rumah calon ratu serta memberi makan istimewa – susu ratu atau royal jelly – kepada larva penghuninnya. Setelah larva ini menjadi ratu baru, ratu lamanya yang sudah tua dibunuh secara beramai-ramai.

Mencecap madu langsung dari "tolo" (sarang lebah).

Kelompok pengunjung lain mengikuti rincian isi sisir (rumah) lebah. Dalam kotak-kotak kecil yang dibangun dari malam di atas fondasi sisir yang disiapkan peternak, ada rumah untuk ratu, pejantan, dan tempat untuk ratu bertelur, serta tempat yang disediakan sebagai gudang makananan. Dengan instingnya lebah-lebah pekerja melakukan tugas secara baik, memberi makan kepada ratu, larva-larva yang begitu banyak, serta menyimpan makanan (madu) di gudang yang tersedia. Petugas Agro Tawon juga menunjukkan proses pembuatan fondasi sarang lebah, dari malam yang dipanaskan sampai cair lalu dicetak dengan alat pembentuk fondasi. Fondasi ini sangat bermanfaat bagi lebah untuk ”membangun rumahnya” secara lebih cepat dibanding lebah harus menyusun fondasi sendiri.

Di bangunan kecil yang digunakan untuk menjual berbagai produk lebah sekaligus merupakan tempat untuk apitherapy. Ayah Haryono, Gunawan (58) melakukan tanya jawab dengan pasien tentang keluhan-keluhan akibat penyakit yang dideritanya. Setelah tanya jawab selesai, dengan alat semacam pensil ia menekan bagian-bagian tertentu sesuai dengan titik-titik akupunktur. Pada titik yang dirasakan si pasien paling sakit merupakan titik untuk menancapkan sengat lebah yang telah dipersiapkan. Proses selanjutnya, Gunawan dengan dua jarinya memegang cuping telinga si pasien (pada titik akupunktur) untuk memasukkan enerjinya selama beberapa detik, sebagai kelengkapan sengatan lebah tersebut. Pemasukan enerji ini dirasakan pasien lebih sakit dibanding sengatan lebah sebelumnya. Setelah itu, proses pengobatan pun selesai. Apitherapy dapat menyembuhkan sakit saraf (terjepit), maag, alergi, migran, asam urat, batu ginjal, dan lain-lain.

Seorang pasien menuturkan, betisnya pernah kejang saat berolahraga dan rasa sakitnya nyaris tak tertahankan. Ia pergi ke dokter dan disuruh untuk melakukan fisio-terapi. Ia pun patuh, penyinaran dengan inframerah, pemijatan, dan pelatihan dilakukan sampai sepuluh hari secara berturut-turut. Memang ada perbaikan, tetapi setiap kali melangkah betisnya masih terasa sakit. Atas petunjuk temannya ia melakukan apitherapy ke Peternakan Lebah Rimba Raya. ”Hanya diterapi sekali, sekitar tiga menit. Ternyata rasa sakit di betis itu hilang sama sekali,” katanya disertai pesan untuk merahasiakan identitasnya.

* * *

PRODUK apa saja yang tersedia di peternakan ini? Pertama-tama memang madu, baik yang dihasilkan oleh lebah impor, lokal, maupun klanceng. Di Agro Tawon, selain madu yang diproses dengan separator dan dibotolkan, pengunjung juga dapat membeli madu yang masih tersimpan dalam sarang (comb honey). Harganya sekitar Rp 65.000/kg. Bahkan beberapa pengunjung membeli jenis terakhir ini dan langsung dimakan/disesap di tempat itu juga. “Aduh….., sangat manis…,” ujar seorang gadis setelah mengecap-ecap madu dari sarang yang dipegangnya. Karena kota-kotak dalam sarang itu penuh madu, maka sebagian madu pun jatuh berceceran.

Madu yang dihasilkan lebah impor (Apis mellifera) dapat dibedakan menurut jenis bunga tanaman tempat penggembalaan. Antara lain madu kapuk randu, madu lengkeng, madu kaliandra, atau madu rambutan. Namun juga ada ”madu campur” (mix-flower), baik yang dihasilkan oleh lebah impor, lebah lokal, maupun klanceng. Kedua jenis lebah terakhir ini produksi madunya jauh di bawah lebah impor, sehingga harganya pun sedikit lebih mahal. Sebagai gambaran, harga madu dalam botol 650 cc bervariasi antara Rp 40.000 sampai Rp 65.000.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dalam perlebahan, Peternakan Lebah Rimba Raya dapat memadukan madu dengan produk lebah lainnya untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit dan alergi. Di antaranya adalah “Madu Propolis Infeksi”, yaitu perpaduan antara madu pilihan dengan propolis yang berkualitas tinggi dalam komposisi yang tepat. Produk ini sangat efektif untuk menghambat kuman, virus, jamur dan lain-lain yang sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Juga untuk mengatasi infeksi yang akut maupun kronis secara tuntas, tanpa efek samping.

Pengunjung di komplek Agrotawon.

Propolis adalah getah pupus daun yang dikumpulkan lebah dan diproses dengan air liurnya sehinggah berubah menjadi seperti lem. Propolis sangat efektif untuk merangsang dan memperbaiki sistem imunitas tubuh, serta mengatasi alergi maupun infeksi.

Peternakan lebah ini juga menghasilkan royal jelly (susu ratu), yaitu cairan/susu yang dikeluarkan lebah pekerja yang merupakan pakan bagi ratu lebah agar dapat terus bertelur banyak dan berumur panjang, sampai sekitar enam tahun. Sebagai bandingan, umur lebah pekerja hanya sekitar 40 hari. Royal jelly berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh, perbaikan sel-sel yang rusak/mati, mencegah rambut rontok, lemah syaraf, menyembuhkan berbagai radang termasuk hepatitis, dan lain-lain. Jika royal jelly dipadukan dengan madu, berbagai khasiatnya menjadi ganda.

Masih ada produk yang disebut bee pollen, yaitu serbuk sari bunga jantan yang dibawa lebah dengan kantong kakinya ketika menghisap madu dari bebungaan. Ini berguna untuk meningkatkan fungsi hati dan pencernaan, gangguan lambung, diabetes, insomnia, dan beberapa jenis gangguan/penyakit lain. Ada yang masih asli, namun juga dapat memilih yang sudah diproses dan dibentuk menjadi semacam pil sebesar ujung jari kelingking sehingga mudah dibawa bepergian. Bee pollen yang dicampur dengan madu dengan komposisi tertentu, menjadi semacam selai yang siap disantap.

Dan masih ada beberapa jenis produk lain yang dihasilkan Peternakan Lebah Rimba Raya yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Karena itu mereka yang pernah berkunjung ke sana umumnya mengaku dapat memperoleh manfaat dan hiburan baru.

Peternakan ini memang hanya satu dari sekian banyak peternakan lebah yang ada di negeri ini. Namun rintisan untuk mendirikan Agro Tawon rasanya perlu mendapat dukungan dari banyak pihak, mengingat kegiatan itu berguna bagi kesehatan manusia sekaligus melestarikan lingkungan hidup.

Malang, 25 Juni 2009.


Responses

  1. Bpk. J.A. Noertjahyo yth.,
    Maaf saya tidak berkomentar soal tulisan Bapak karena tulisan Bapak memang sudah sangat bagus. Saya hanya ingin bertanya, Apakah Bapak mantan wartawan Kompas?
    Kalau betul, saya ingin berkomunikasi dengan Bapak via imel.
    Terima kasih.

    I Gede Agung Yudana (Majalah Intisari)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: