Oleh: J.A. Noertjahyo | 31/03/2010

Keprok Batu 55 Menantang Jeruk Impor

ANGIN segar meniup usahatani hortikultura, khususnya komoditas jeruk. “Kontes Keprok Nasional” yang digelar “Technoexpo Hortikultura 2005” mengangkat tiga macam keprok Jawa Timur merebut predikat Juara I (Batu 55), Juara II (Mandarin Comune), dan Juara Harapan II (Pulung) dari Kabupaten Ponorogo. Keprok SoE (Nusa Tenggara Timur) yang pernah menduduki juara pertama, kali ini berada di peringkat ketiga. Juara Harapan I direbut keprok Siompu dari Sulawesi Tenggara. Kontes ini diikuti 22 peserta berasal dari 15 provinsi.

Buah jeruk yang ranum

Semua varietas keprok peserta kontes memiliki potensi yang bagus dan banyak penggemarnya. Seperti keprok Tejakula (Bali) yang memiliki aroma dan rasa khas, Siem Madu (Tanah Karo, Sumatera Barat) yang rasanya sangat manis, keprok Garut (Jabar) yang terkenal manis, atau keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah. Dan masih banyak keprok lainnya, mendampingi keprok Siem yang sudah menyebar di berbagai daerah. Namun potensi yang begitu besar dan bagus itu belum tergali secara baik karena berbagai kendala.

Kenyataan lain yang menguntungkan, khususnya bagi petani-pengusaha Jawa Timur, Gubernur Imam Utomo melakukan gebrakan baru. Dalam temu wicara antara Menteri Pertanian dengan para petani di Batu 30 Juli 2005 ia menyatakan, Pemprov Jatim menyediakan kredit lunak bagi para petani, dengan bunga 6 (enam) persen per tahun. Dana yang tersedia 25-30 milyar rupiah, khusus untuk usahatani komoditas ekspor.

Masalahnya, jumlah produksi berbagai macam jeruk unggulan tersebut belum mampu memenuhi permintaan pasar, dan penyebarannya pun masih terbatas. “Belum ada standarisasi kualitas, dan penampilannya terkadang juga kurang menarik,” tegas Dr  Suyamto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Departemen Pertanian.

Namun keprok Batu 55 dan Mandarin Comune, produksi kebun milik Sutjipto Gunawan (52) yang berlokasi di Desa Giripurna Kota Batu, mampu tampil dengan sosok meyakinkan. Baik penampilan luar (bentuk dan warna), rasa, maupun residu pestisida kedua varietas keprok ini bisa bersaing dengan keprok impor. Dalam deskripsi yang disusun Loka Penelitian (Lolit) Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik, disebutkan antara lain bahwa bentuk buah Batu 55 bulat pendek, ukuran 5,8×6,5 cm, permukaan halus, basal berleher pendek dan berlekuk, puncak berlekuk, tebal kulit buah 2,1 mm, daging buah lunak, warna oranye, jumlah juring 11, rasa manis, jumlah biji 15-20 per buah.

Tingkat harganya pun bisa bersaing dengan jeruk impor. Satu tas kecil yang berisi sekitar 4,5 kilogram dengan trade mark ‘Diplomat’, pada bursa buah di Lolit Tlekung  dijual dengan harga Rp 50.000. Harga yang dilepas di pasaran dan konsumen langganannya berkisar Rp 12.500 – Rp 14.000 per kilogram. Ini lebih rendah dibanding harga jeruk impor. Di beberapa toko buah dan pasar swalayan Kota Malang, pada akhir Juli 2005 harga jeruk impor paling murah Rp 16.000/kg.

Sayangnya, produksi varietas Batu 55 dan Mandarin Comune masih sangat terbatas, sehingga baru bisa “menantang” jeruk impor. Untuk maju “bertanding” dalam pasaran masih memerlukan waktu dan kerja keras dalam mengembangkan budidayanya Bahkan populasi Mandarin Comune, saat ini hanya 10 batang di kebun pemiliknya. Rasanya memang Batu 55 yang perlu digenjot untuk menandingi kiprah jeruk luar negeri.

Itulah tantangan kita, pasar masih sangat luas, baik dalam maupun luar negeri. Namun tingkat produksi masih sangat rendah. Padahal berbagai penelitian tentang budidaya jeruk sudah dimasyarakatkan dan macam-macam bibit unggul juga tersedia. Praktek lapangan yang menunjukkan hasil baik juga terbukti pada kebun Sutjipto Gunawan. Karena itu untuk bisa memenuhi permintaan pasar, diperlukan pengusaha yang mau menanamkan modalnya di bidang hortikultura.

Macam-macam varietas jeruk Indonesia

* * *

DALAM makalahnya pada “Seminar Nasional Jeruk Tropika Indonesia 2005”, peneliti Arry Supriyanto dan Chaireni Martasari menyatakan bahwa tingkat konsumsi buah jeruk di Indonesia tahun 2003 baru 2,9 kg/kapita. Dengan penduduk sekitar 220 juta maka dibutuhkan sebanyak 638.000.000 ton jeruk, jauh lebih besar dibanding produksi dalam negeri sebanyak 1.441.680 ton.

Data Ditjen Hortikultura Deptan menunjukkan, dengan tingkat konsumsi 2,9 kg/kapita/tahun tersebut Indonesia merupakan negara yang paling randah tingkat konsumsi jeruknya dibanding negara-negara berkembang lain yang sudah mencapai 6,9 kg/kapita/tahun. Sedangkan tingkat konsumsi jeruk di negara-negara maju berkisar 32,6 kg/kapita/tahun. Terlihat bahwa Indonesia bukan hanya jauh ketinggalan dalam usaha budidaya, tetapi juga tingkat konsumsi per kapitanya.

Tabel: Konsidi Jeruk di Indonesia:

Tahun                           ‘    1999      ‘     2000        ‘     2001       ‘     2002        ‘       2003    ‘

Luas Panen (ha)            ‘     25.210  ‘      37.120    ’      35.367   ‘       47.824   ‘       56.290  ‘

Produksi (ton)              ‘   449.531  ‘    644.052    ‘    691.433   ‘     968.132   ‘  1.441.680  ‘

Ekspor (ton)                 ‘          901  ‘        1.079    ‘        1.919   ‘         1.097   ‘            954  ‘

Impor (ton)                   ‘     34.879  ‘      34.879    ‘      75.622   ‘       76.650   ‘       57.480  ‘

Produktivitas (ton/ha)    ‘     17,83    ‘      17,35      ‘      19,55     ‘       20,24     ‘        22,13   ‘

Konsumsi (kg/kpt/th)    ‘       1,2      ‘        1,3        ‘        1,8       ‘         1,98     ‘          2,9     ‘

Sumber: Ditjen Bina Produksi Hortikultura Deptan, 2005.

Rendahnya tingkat konsumsi per kapita terkait erat dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Juga kesadaran tentang manfaat buah bagi kesehatan. Sedangkan tentang kualitas dan kuantitas produksi erat hubungannya dengan sistem budidaya jeruk yang sebagian besar merupakan tanaman rakyat. Terlebih mereka terdiri dari para petani kecil yang memiliki banyak keterbatasan. Terutama modal, pengetahuan, dan ketrampilannya.

Sebut saja misalnya para petani jeruk di Kabupaten Ponorogo, Banyuwangi, Jember, Malang, maupun Batu (semuanya di Jawa Timur). Petani yang memiliki tanaman di atas 1.000 pohon bisa dihitung dengan jari tangan. Mereka umumnya juga belum tahu persis cara merawat tanaman, memupuk dan memanen. Khusus pemupukan, selain pengetahuan juga sering terkendala tentang biaya. Sedangkan pemasaran banyak dikuasai para pedagang. Penjualan buah banyak dilakukan secara borongan (bahkan ijon) di kebun petani, sehingga kebijakan panen dan pemasaran praktis berada di tangan pedagang. Padahal mereka ini sebagian besar berorientasi pada keuntungan, meskipun terkadang harus mengorbankan kualitas.

Tidak berlebihan jika dalam seminar (salah satu acara technoexpo) sebagian besar peserta memberikan acungan jempol kepada Bupati Sambas, Burhanudin, yang secara serius membina budidaya jeruk di daerahnya. Bahkan dia lah satu-satunya Kepala Daerah Tingkat II yang membawakan makalah dan mengikuti seminar secara serius. Banyak peserta yang mengaku bahwa Bupati/Walikota mereka tidak mempunyai perhatian terhadap tanaman ini. Bahkan fasilitas dan infrastruktur ke sentra-sentra tanaman pun banyak yang tidak diperhatikan. “Kami malah terbebani pajak dan pungutan,” ujar seorang peserta.

Kue-kue berbahan campur buah jeruk

Bupati Burhanudin membawakan makalah berjudul “Cerita Sukses Rehabilitasi Jeruk Siam Pontianak di Kabupaten Sambas”, produk unggulan daerah yang mempunyai andil besar dalam meningkatkan taraf hidup petani setempat. Disebutkan, rehabilitasi tanaman tahun 1999-2005 ditargetkan mencapai 10.000 hektar. Untuk merealisasikan target itu, pemerintah melalui APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten memberikan subsidi untuk 7.050 hektar. Selain tanaman petani, di Kabupaten Sambas ada dua perusahaan yang melakukan investasi untuk jeruk. Yaitu PT Mitra Jeruk seluas 600 hektar (400 ha plasma dan 200 ha inti), serta PT Sambas Mitra Agro (50 ha plasma dan 50 ha inti). Sampai dengan Mei 2005 luas seluruh tanaman jeruk di Sambas tercatat 9.235 hektar.

Dalam dialog dengan peserta seminar Bupati Burhanudi menyatakan, dirinya tidak mau hanya percaya pada laporan stafnya. Ia sering melakukan pengecekan ke lapangan dengan menanggalkan semua atribut jabatan. “Sering petani yang saya temui tidak tahu bahwa saya bupati,” tuturnya disambut tepuk tangan peserta seminar.

Kerja Keras Secara Profesional

ANTARA Burhanudin di Sambas dan Sutjipto di Malang tidak ada kesamaan jabatan. Burhanudin bupati, Sutjipto pengusaha. Namun keduanya serius menggeluti tanaman jeruk, bekerja keras secara profesional. Dan mereka puas terhadap hasil jerih payahnya. Rasanya masih ada pejabat maupun pengusaha lain yang setara dengan mereka. Setidaknya ada harapan munculnya pribadi-pribadi baru yang mengikuti jejak mereka.

Dalam bincang-bincang dengan Sutjipto di kebunnya terasa betapa besarnya perhatian Sutjipto terhadap tanamannya. Ia ingat di mana tanaman Batu 55 yang baik, di mana keprok Siem, letak keprok Pulung, Jaffa, dan sebagainya. Bahkan ia ingat hampir semua usia tanaman, jenis pupuk yang dibutuhkan, serta penjarangan buah yang belum maksimal pada sebuah pohon. Padahal luas kebun yang kami kunjungi sekitar 10 hektar.

“Tanaman tidak ubahnya seperti manusia. Yang penting pohonnya harus kuat agar tidak mudah terserang hama dan penyakit,” tuturnya mantap. Para karyawannya juga diajari untuk sesering mungkin memeriksa dan merawat semua tanaman yang ada, sehingga terjalin “hubungan” antara pemilik/pekerja dengan semua tanaman. Katanya, tanaman juga membutuhkan “pergaulan dan kasih sayang”.

Tata tanam, pengolahan tanah, dan sistem pemupukan dilakukan secara hati-hati dan profesional. Hampir semua tanah dekat pokok pohon jeruk ditutupi jerami, untuk menjaga kelembabannya. Jika jerami itu akhirnya hancur, fungsinya berubah menjadi pupuk organik. Saat membuang kulit jeruk yang dicicipi Sutjipto juga tidak melakukan secara sembarangan. Ia memasukkan kulit tersebut di bawah tumpukan jerami dengan rapi. Ia pun akan menegur karyawannya yang bekerja sembarangan, apalagi sampai ceroboh dan menyalahi aturan.

Dengan sistem kerja yang baik dan direncanakan secara matang, kebun Sutjipto memang terlihat sangat bagus dan menyenangkan. Hal itu tampak dalam foto yang menyertai tulisan ini.

* * *

UNTUK bisa bersaing dengan jeruk-jeruk luar negeri mungkin terlalu lama jika kita hanya mengandalkan pada budidaya oleh para petani. Sistem perkebunan swasta yang dikombinasikan dengan sistem plasma-inti rasanya lebih menjanjikan. Namun ini juga masih perlu ditunjang berbagai kemudahan oleh pemerintah.

Kontes jeruk nasional di Batu

Selain dukungan fasilitas dan dana dari pemerintah, para petani mengeluhkan tidak berfungsinya tenaga penyuluh lapangan. “Banyak tenaga penyuluh sudah menjadi pegawai pasar,” tutur seorang petani dalam tatap muka dengan Menteri Pertanian, 30 Juli 2005. Pernyataan itu disambut secara gemuruh oleh sebagian besar petani yang hadir. Karena itu petani mengusulkan agar status tenaga penyuluh berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Atas pernyataan dan usulan ini, Menteri Pertanian menyatakan bahwa usulannya kepada Menteri Aparatur Negara telah disetujui untuk mengangkat 44.000 tenaga penyuluh.

Dalam temu wicara antara petani dengan Menteri Pertanian, temu bisnis antara beberapa pejabat teras Deptan dengan pengusaha, maupun dalam seminar jeruk tropika, semuanya berjalan lancar. Banyak masalah bisa dipecahkan, setidaknya “ditampung” dan akan dicarikan pemecahannya. Kegiatan semacam itu memang perlu. Namun lebih perlu lagi greget nyata seperti yang dilakukan Bupati Burhanudin dan pengusaha Sutjipto. Sekitar lima tahun lagi kita akan mengetahui apakah semua yang dibicarakan dalam “Technoexpo Hortikultura 2005” bisa menjadi kenyataan. ***


Responses

  1. Kebangkitan hortikultura Indonesia ! Masa anak ayam mati di lumbung .

  2. Tulisan yang bagus pak, lengkap.

    “Sekitar lima tahun lagi kita akan mengetahui apakah semua yang dibicarakan dalam “Technoexpo Hortikultura 2005” bisa menjadi kenyataan”

    evaluasinya bagaimana pak? ^_^

    zainuri hanif
    Balitjestro


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: