Oleh: J.A. Noertjahyo | 05/04/2010

Setyabudi, Dokter Gigi Penghobi Anggrek

File: Setyabudi

drg Setyabudi

RATUSAN dokter gigi ada di negara kita. Dan terdapat ratusan pula  pehobi, pemulia,  pengagum, dan pengusaha tanaman anggrek yang tersebar di seluruh negeri ini. Namun dokter gigi yang berhobi dan menekuni anggrek salah satunya adalah Setyabudi (59), warga Jalan Srigading Kota Malang. Sudah 33 tahun ia berprofesi sebagai dokter gigi, dan sekitar 15 tahun menekuni tanaman anggrek. Lebih dari 100 anggrek hibrida merupakan hasil silangan yang dilakukannya secara serius dan penuh penghayatan, lima di antaranya sudah berbunga dan menjadi kebanggaannya.

Lelaki kelahiran Blitar 29 Agustus 1950 yang enerjik dan luwes dalam pergaulan itu mengaku bahwa sejak kecilnya memang menyukai tanaman. Istrinya – Emmy Suhemie – sarjana ekonomi lulusan Universitas Katolik Widya Karya Malang juga gemar berbisnis macam-macam tanaman hias, dan daun hias (ornamental). Suami-istri itu ibarat tumbu oleh tutup, saling melengkapi dalam hobi. Karena itu di kebun di samping rumahnya seluas 400 meter persegi juga terdapat petak khusus tanaman hias yang dikelola istrinya. “Hasilnya lebih besar dibanding anggrek saya,” kata Setyabudi yang membatasi jumlah pasiennya sampai 10 orang saja setiap hari praktek. Tujuannya, agar dapat melakukan pelayanan secara baik dan tidak terlalu capek, terutama untuk menjaga kesehatan mata.

Hobi tanaman yang menyatukan suami-istri itu rupanya membuat kehidupan mereka lebih bersemangat dan ceria. Ke mana pun mereka pergi, terutama ke daerah sentra hortikultura dan florikultura, selalu berusaha untuk mencari-cari tanaman hias atau anggrek yang menarik hati mereka. “Ketika pulang, biasanya kendaraan kami penuh tanaman,” tutur Emmy Suhemie sambil tertawa kecil.

Adakah titik kesamaan antara mengobati gigi dan merawat anggrek? ”Ada. Keduanya ada seninya, yaitu harus telaten, sabar, dan teliti. Jika salah menanganinya, baik gigi maupun anggrek, bisa sakit rusakl ,” ujar Setyabudi.

Ditambahkan, antara gigi dan anggrek juga dapat ”saling mengisi”, yaitu sebagai variasi kegiatan agar tidak jenuh menangani salah satunya. Bermacam situasi di tempat praktek yang timbul dari perilaku pasien yang berbeda-beda terkadang mengakibatkan kondisi kejiwaan kurang nyaman dan bisa berakibat negatif, seperti jengkel sampai stres. Dalam kondisi seperti itulah kegiatan yang berkaitan dengan anggrek menjadi hiburan sehingga dapat melupakan semua kejadian yang kurang menyenangkan. Mungkin hanya berkeliling di kebun dan mengamati perkembangan dari tanaman tertentu yang disayangi, atau memandang hibrida hasil penyilangannya yang mulai berbunga.

Setyabudi mengisahkan, sepulang dari tempat prakteknya di RS Panti Nirmala Malang sekitar jam sembilan-sepuluh malam, walaupun sudah capek ia masih menyempatkan diri ke laboratorium mininya (entkas) untuk menggeluti hobinya, misalnya menabur biji (benih) anggrek. Anehnya, begitu perhatiannya tercurah kepada hobi, dirinya yang semula sudah lelah menjadi segar kembali! Sering istrinya menegur jika: ”Sudah jam sebelas, istirahatlah!” Namun ia menjawab ”Ah….., baru jam sebelas,” dengan tersenyum dan meneruskan pekerjaannya.

Selain itu, ia juga sering malam-malam keluar kamar tidur menuju ke kebun anggreknya untuk melihat perkembangan tanamannya. Ternyata sudah  ada perubahan dibanding sore harinya. Misalnya, sorenya sebatang anggrek kuntum bunganya masih kuncup, ternyata malam itu bunga tersebut sudah mekar. Ketika bangun tengah malam, melihat lagi, jangan-jangan ada bunga yang mulai mekar lagi.

Bangun tidur besuk paginya pun langsung ke kebun lagi untuk melihat lebih jelas  perkembangan bunganya. ”Jika tanaman berbunga, setiap saat saya selalu ingin mengetahui perkembangannya,” katanya.

Jika hasil silangannya sudah berbunga, ia minta orang lain untuk melihat dan menilainya. Bahkan untuk penilaian itu ia memberikan kepada teman dekatnya sejak tanaman mulai nampak kuncup bunganya, agar pengamatan yang dilakukan berkesinambungan dari awal sampai semua bunganya mekar. Kemudian mereka mendiskusikan sosok bunga dengan berbagai keindahan dan kekurangannya. ”Ini mengasyikkan, dan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyilangan anggrek,” ujar lelaki suka tersenyum itu.

Hasil silangannya selalu diabadikan (difoto) dan diletakkan di meja ruang prakteknya. Di dalam tas kerjanya pun selalu ada buku tentang anggrek, dan dibaca jika waktunya luang.

Warisan ayah

Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga Surabaya tahun 1976 itu merasa ”salah” berkuliah di FKG. Sebenarnya ia lebih tertarik tentang pertanian, seperti menanam melon, bunga gerbera, stroberi dan lain-lain. Namun karena pengaruh lingkungannya terutama sang ayah, masuk ke FKG. Profesi ayahnya, Notohardjo (alm), memang sebagai dokter gigi. Hobinya pun merawat anggrek. Saat pindah dari Blitar ke Malang tahun 1986, ayahnya juga memboyong anggrek-anggrek kesayangannya. ”Setelah ayah meninggal tahun 1992, semua anggrek itu diwariskan kepada saya. Jadi profesi dan hobi saya sepertinya warisan dari ayah,” ujar Setyabudi didampingi istrinya.

Dengan adanya warisan anggrek tersebut, awalnya Setyabudi memang cukup kerepotan dalam merawatnya, meskipun sebelumnya sering membantu sang ayah dalam menangani hobinya itu. Untuk membiarkan anggrek-anggrek telantar begitu saja, juga tidak tega. Karena itu untuk mengatasi kesulitan dalam merawat anggrek, ia rajin berhubungan dengan tokoh-tokoh peranggrekan di daerah Malang dan sekitarnya. Di antaranya Moling Simardjo di Prigen, Tretes (Pandaan), dan Handojohardjo di Lawang.

Lama-kelamaan Setyabudi semakin jatuh cinta kepada anggrek, witing tresno jalaran soko kulino. Setyabudi merasakan keunikan anggrek, makin lama diperhatikan semakin menarik. Awalnya biasa saja, namun semakin dipandang, diamati bentuk bunganya, sepalnya, petalnya, warna-warninya, dan seterusnya, ternyata memunculkan berbagai keunikan. Daya tarik lainnya, bunganya bertahan lama.

Setyabudi juga masuk menjadi anggota Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Malang serta rajin mengikuti pertemuan-pertemuan rutin. Bahkan juga mengikuti berbagai pelatihan budidaya yang diselenggarakan organisasi, sehingga ia semakin dalam terlibat dalam peranggrekan. ”Saya mendapat banyak pengetahuan dari para senior anggrek maupun dari pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan PAI,” katanya.

Dokter gigi ayah dua anak ini sejak tiga tahun lalu sudah pensiun sebagai karyawn sebuah poliklinik gigi swasta. Putrinya sedang magang kerja di Jepang, dan seorang lagi masih kuliah di Surabaya. Karena itu ia mempunyai waktu luang yang sangat banyak untuk merawat anggreknya.

Keprihatinan

Dalam pergaulan dengan para pembudidaya dan pengusaha anggrek itulah akhirnya Setyabudi mengetahui situasi peranggrekan internasional, terutama tentang kegiatan silang-menyilang. Dalam buku Sander’s List of Orchidhybrids yang diterbitkan The Royal Hurticultural Society London, tercantum ratusan anggrek hibrida hasil penyilangan yang dipatenkan. Dia cukup kaget ketika hanya tercantum nama beberapa penyilang Indonesia. Lebih terkejut lagi bahwa para penyilang dari berbagai negara lain itu menggunakan induk silangannya dari anggrek asli (spesies) Indonesia. Menurut informasi yang diperolehnya, sekitar 5.000 spesies anggrek di muka bumi ini berada di negara kita, dan jatuh ke tangan orang asing dengan berbagai cara termasuk penyelundupan.

“Saya cukup prihatin, dan ingin turut menjadi penyilang untuk memajukan peranggrekan kita,” tuturnya.

Karena itu ia ikut pelatihan kultur jaringan di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diselenggarakan tanggal 19-23 Agustus 2002, untuk memperoleh pengetahuan cara-cara penangkaran dan penyilangan. Juga membeli buku-buku tentang budidaya anggrek, serta laboratorium mini (entkas) untuk menunjang kegiatannya. Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia telah menghasilkan lebih dari 100 macam hibrida (Dendrobium) baru.

Saat ini Setyabudi sedang menginventarisir semua hasil silangannya serta merencanakan nama-nama yang akan diberikan jika sudah berbunga. Jika semuanya sudah beres dan memenuhi syarat untuk didaftarkan ke organisasi anggrek dunia di London, ia akan segera melakukannya agar karyanya merupakan kontribusi terhadap peranggrekan Indonesia.

Catatan:

Tulisan ini dimuat Majalah “Orchids Indonesia” Edisi 11 Tahun ke-2, April-Mei 2010, dengan editing dari Redaksinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: