Oleh: J.A. Noertjahyo | 10/04/2010

Selokambang, Primadona Lumajang

File: 20061017not

Wisata


Jernihnya air di kolam renang Selokambang, Lumajang.

Kegersangan musim kemarau tak terasa di komplek permandian Selokambang seluas 12 hektar itu. Teriknya sinar matahari bulan Oktober tidak mampu mengalahkan keteduhan yang ditebarkan pepohonan rindang di sekitarnya.


SUASANA tenang dan sejuk itu semakin lengkap oleh riak-riak air jernih alami yang memenuhi kolam induk berukuran sangat luas. Keseluruhan simfoni alam seolah  tidak henti-hentinya memancarkan kedamaian hati bagi para pengunjungnya. Inilah primadona obyek wisata Kabupaten Lumajang (Jawa Timur) yang berlokasi di Desa Purwosono, sekitar tujuh kilometer arah barat Kota Lumajang.

Tidak susah untuk mencapai lokasi ini, karena jalanan beraspal cukup mulus melintasinya. Kendaraan umum pun tersedia, dan mengendarai motor sendiri tak akan menemui hambatan. Menurut catatan Pemkab Lumajang, debit sumber air Selokambang mencapai lebih dari 1.350 meter kubik per detik, dan sebagian dimanfaatkan oleh PDAM setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Lumajang.

Selain kolam renang induk yang mencapai luas sekitar 1.000 meter persegi, di komplek ini juga tersedia kolam renang khusus untuk anak-anak, kolam pemancingan, beraneka-ragam fasilitas bermain anak-anak, serta sarana olahraga. Karena itu lokasi ini banyak dimanfaatkan untuk rekreasi keluarga.

”Pengunjung sangat ramai pada sekitar Idul Fitri, puncaknya Hari Raya Kupatan,” tutur Soeharwoko, Kasubag Pariwisata Kabupaten Lumajang. Ditambahkan, Kupatan jatuh pada hari ketujuh setelah Idul Fitri, dan warga Lumajang banyak yang merasa belum afdol merayakanya jika belum berkunjung ke Selokambang. Selain itu ada kepercayaan bahwa mandi di Selokambang bisa menyembuhkan berbaqgai penyakit.

Dari tahun ke tahun jumlah pengunjung terus meningkat. Tahun 2003 tercatat 196.517 orang dan menghasilkan uang penjualan tiket masuk Rp 306 juta lebih. Tahun berikutnya meningkat menjadi 203.156 orang (Rp 362 juta lebih), dan tahun 2005 sebanyak 206.783 orang dengan pemasukan mkencapai Rp 427,6 juta. ”Sekarang pengelolaannya diserahkan kepada swasta,” kata Suharwoko tanpa bersedia menyebutkan alasannya.

Beberapa tokoh di Lumajang menyayangkan swastanisasi obyek wisata tersebut, karena potensinya cukup besar untuk menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). ”Tetapi harus bisa mengelola secara profesional bisnis,” tutur mantan anggota Legislatif setempat yang tak bersedia disebut identitasnya. Ditambahkan, keberanian pihak swasta mengelolanya tentu sudah diperhitungkan bisa memberikan keuntungan cukup besar.

Legenda

Menurut legenda yang dipercaya masyarakat Lumajang, pada zaman dahulu daerah ini diperintah oleh Adipati Arya Wiraraja sebagai hadiah dari Kerajaan Majapahit karena jasa-jasanya. Sang Adipati mempunyai putra sebagai pewarisnya, dikenal dengan sebutan Empu Nambi. Dalam kekacauan yang terjadi kemudian, Empu Nambi dan keluarganya tewas. Salah seorang bawahannya, Demang, Ploso berhasil melarikan diri dengan meninggalkan begitu saja harta kekayaannya.

Seorang abdi kinasih (pembantu yang disayangi) Demang Ploso menyelamatkan sebagian harta yang ditingggalkan tersebut, berupa aneka ragam perhiasan berharga. Ia membawanya sambil mencari tempat Ki Demang sembunyi. Karena begitu banyak dan beratnya harta yang dibawa, si abdi ini ingin menyembunyikannya di suatu tempat agar lebih mudah dan lincah perjalanannya mencari Ki Demang. Ia menemukan sebuah batu sebesar kerbau di tepi danau, dan ingin menyembunyikan harta tersebut di tempat itu. Namun ternyata tidak mudah melakukannya, karena batu itu begitu berat.

Tempat tersebut dekat padepokan Empu Teposono yang dikenal sakti. Atas permintaan abdi itu Sang Empu kemudian membantu menyingkirkan batu tersebut. Setelah bersemedi sejenak, Empu Teposono dengan menyandang ”keris aji pameleng” dan tongkat ”gemiling” secara mudah menggeser batu tersebut masuk ke danau. Ajaibnya, batu itu tidak tenggelam melainkan terapung-apung di sana. Danau itu oleh masyarakat lalu diberi nama Selokambang (batu terapung), yang kemudian semakin membesar dan batunya hancur dimakan waktu. Selokambang tetap lestari menjadi nama danau itu, sampai saat ini.

Kawasan wisata

Jalan yang melewati Selokambang, sekitar 10 kilometer lagi mencapai wilayah Senduro di kaki Gunung Semeru. Senduro telah diproklamirkan sebagai kawasan agropolitan meskipun pelaksanaannya nampak setengah hati. Hanya beberapa lokasi yang disemarakkan dengan tanaman hias dan hortikultura, itu pun nampak kurang terawat. Jika ditangani secara serius dan berkesinambungan, daerah ini bisa menjadi obyek wisata agro yang menarik. Apalagi daerah ini juga dikenal sebagai sentra tanaman pisang agung yang memunculkan sekian banyak industri keripik pisang.

Senduro masih diperkaya dengan tempat ibadah umat Hindhu, Pura Mandara Giri Semeru Agung yang disebut-sebut sebagai pura terbesar kedua setelah Pura Besakih di Bali. Pada hari raya Hindhu tertentu banyak masyarakat Bali yang datang ke pura ini, bahkan ada yang beberapa hari menginap di rumah-rumah penduduk. Sekitar dua kilometer arah ke G Semeru sebenarnya tersedia penginapan yang cukup besar, namun bagi umat Hindhu merupakan pantangan untuk menginap di tempat yang lebih atas dibanding lokasi pura.

Dari Senduro, melewati Desa Burno kita bisa menuju ke Ranupani, salah satu danau alam yang indah di lereng Semeru. Jalanan ke sana pun cukup baik sehingga kendaraan roda empat tak banyak mengalami kesulitan. Di tempat inilah kita bisa menikmati keindahan alam yang mempesona, serata memandangi puncak Semeru yang saat ini terus-menerus mengepulkan asap hitam-pekat disertai semburan pasir.

”Beberapa kali saya ke sana untuk mengagumi dan menikmati kebesaran Tuhan,” tutur Romo HT Ardi Wardana yang berdomisili di Kota Lumajang.

Obyek lain

Lumajang sebenarnya kaya dengan obyek wisata yang menarik, namun kurang mendapat sentuhan berarti dari Pemkab setempat. Sebutlah kebun tebu dan pabrik gula Djatiroto dengan Saluran Bondoyudo yang fenomenal itu. Di Kecamatan Yosowilangun saat ini juga berkembang pesat para floris yang membudidayakan adenium, baik jenis lokal maupun impor. Tanaman ini bisa bernilai puluhan ribu sampai jutaan rupiah, tergantung jenis dan penampilannya. Sebagai contoh, saat pameran di Kota Blitar awal tahun ini, terdapat adenimun juara dengan harga mencapai Rp 60 juta!

Pedagang buah, khususnya pisang agung dan nangka, yang tersebar sepanjang pinggiran jalan di daerah Klakah juga, bisa dijadikan obyek wisata. Lebih jauh dikaitkan dengan sentra tanaman pisang-nangka dan industri keripik dari kedua jenis buah tersebut, yang cukup banyak tumbuh di kawasan ini. Untuk mewujudkannya memang perlu dilakukan penataan yang memadai, dan membutuhkan kerja keras serta pengabdian dari aparat yang menanganinya.

Kerajinan perak di Lumajang juga cukup banyak dan sebagian menjadi pemasok toko-toko suvenir di Pulau Bali. Mereka tersebar di desa-desa Kecamatan Candipuro, Tempeh, Pasirian, Sumbersuko, dan Pasrujambe. Mereka belum banyak dikenal karena nyaris tidak pernah dibina dan dipromosikan, meskipun kualitas karya mereka kabarnya bisa disejajarkan dengan para perajin di Bali. Mereka bisa diangkat pamornya oleh Pemkab Lumajang dengan membentuk sentra perajin sekaligus sebagai obyek wisata. Untuk itu dibutuhkan kepedulian dan tindakan konggkret demi mengakat nasib rakyat kecil.

Masih bisa disebutkan, beberapa “Kali Lahar” Semeru dapat dipoles dengan berbagai kreasi dan cara untuk dijadikan obyek wisata. Ini akan menambah indahnya pemandangan sepanjang jalan Lumajang-Malang yang penuh dengan tanjakan dan tikungan, namun diselingi sekian banyak pemandangan alam yang memukau. Nafas wisatawan akan terhembus lepas setelah tiba dan beristirahat di Piket Nol, tempat tertinggi dan perbatasan antara kedua kabupaten. Di sini mata kita bisa memandang lepas ke arah laut selatan, atau menikmati kerimbunan semak dan tanaman perkebunan daerah tersebut.

Menempuh jalur selatan Lumajang-Malang memang mengasikkan, meskipun harus ekstra hati-hati. Di balik tikungan tajam dan jurang dalam itu setiap saat bahaya mengancam para pengendara yang melintas.

Catatan:

Tulisan ini dimuat Harian Kompas 17 November 2006, halaman 52.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: