Oleh: J.A. Noertjahyo | 12/04/2010

Perayaan Paskah di Larantuka, Flores: Indahnya Liturgi Berdampingan Tradisi

File: 20080401not                         Rubrik “Wisata Spiritual”

BERATNYA perjalanan jauh ke Larantuka serasa tertebus dengan keunikan dan indahnya berbagai acara Paskah di ujung timur Pulau Flores itu. Liturgi yang padat dan khusuk berdampingan dengan tradisi devosi yang sudah berjalan sekitar 500 tahun. Banyak hal saling bersinggungan antara budaya Portugis, tradisi lokal, dan iman Katolik. Ketiganya membaur dalam kesatuan utuh, mendarah-daging dalam kehidupan masyarakat setempat. Ritual yang diwariskan secara turun-temurun itu memunculkan banyak keunikan yang tidak ditemukan di daerah lain. Semuanya mengandung nilai wisata rohani yang memikat meskipun terkadang sulit dihayati para peziarah dari luar daerah.

Orang Larantuka senang menyebut dirinya sebagai orang Nagi. Perayaan iman tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus disebut Hari Bae. Dan nama khas untuk Pekan Suci adalah Semana Santa yang berdimensi liturgis, para-liturgis, dan sosial. Ketiganya saling melengkapi sepanjang kisah sengsara Yesus Kristus sampai hari kebangkitan-Nya yang mulia.

Parade kapal di Selat Flores menuju "medan laga".

Sejak Rabu Abu sampai hari Minggu Paskah, acara ritual masyarakat di sana  begitu padat dan kental dengan peningkatan nilai rohani. Liturgi gereja menetapkan hari Rabu Abu sebagai awal masa puasa sekaligus awal pelaksanaan Mengaji Semana (Pekan Doa) yang dilaksanakan selama 40 hari. Kegiatan ini melibatkan seluruh umat di berbagai tempat ibadah (kapel) yang tersebar di wilayah tersebut.

Kegiatan yang sangat padat terjadi selama Pekan Suci (Semana Santa). Tahun 2008 ini berawal pada hari Sabtu-Minggu 15-16 Maret, dikenal sebagai Minggu Palma. Pelaksanaan ibadah Misa Kudus disertai prosesi keliling sekitar gereja dengan melambai-lambaikan daun palma untuk mengenang dan memperingati Yesus masuk ke Kota Yerusalem. Hari Senin-Selasa berikutnya, masyarakat sibuk mempersiapkan upacara tradisi devosi, di antaranya  melakukan pembersihan dan penataan Kapel Tuan Ana dan Kapel Tuan Ma.

Dalam Kapel Tuan Ana (Tuan Anak Allah), menurut buku Semana Santa terbitan Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka, tersimpan peti jenazah berisi corpus (tubuh/jenazah) Kristus yang dilengkapi semua Ornamento Kedukaan yang menggambarkan penderitaan-Nya.

Sedangkan Kapel Tuan Ma (Tuan Mama – Ibu) dipandang sakral oleh masyarakat setempat. Dua patung yang sangat dihormati adalah Mater Dolorosa (Bunda Kedukaan) – yang disebut Tuan Ma oleh orang Larantuka – dan patung Maria Reinha Rosari. ”Bila memandang Tuan Ma dengan tak jemu-jemunya, kita akan menemukan bahwa patung Tuan Ma bergaya seni Arabia. Patung ini indah, cantik, manis dan mempesona. Bola matanya penuh kekuatan gaib, menyorot secara tajam, menembus segala-galanya. Dan bibirnya tersenyum lembut keibuan. Keheningan malam dengan busana perkabungan, dengan mahkotanya, patung Tuan Ma bagaikan bidadari khayangan, anggun dan angker,” bunyi kalimat dalam buku Semana Santa.

Sementara patung Maria Reinha Rosari, juga disebut Maria Alleluya atau Maria Corolla, sangat dihormati dan mendapat devosi pada kelahiran Bunda Maria (tanggal 8 September), selama novena bulan Oktober, serta devosi kegembiraan dan kemuliaan bangkitnya Kristus pada petang Minggu Paskah.

Kedua kapel tersebut bagi warga di sana dan para peziarah merupakan tempat  pelaksanaan devosi favorit untuk menghormati Tuan Na dan Tuan Ma yang berlangsung beberapa hari, baik siang maupun malam. Meskipun harus mengikuti antrean panjang dalam suasana tenang dan khusuk, para peziarah tetap bersemangat. Kegiatan semacam itu memancarkan suasana Kota Larantuka yang tidak pernah tidur.

Pada hari Jumat Agung, sekitar pukul 14.00, Tuan Ma diarak Confreria (Serikat Kaum Beriman Kristiani) dan umat dari kapelnya di Pante Kebis untuk menjemput Tuan Ana di Kapel Lohayong, selanjutnya menuju ke Gereja Katedral. Prosesi ini melibatkan ribuan umat dengan urutan kelompok dan tatacara yang  sudah disusun rapi. Setelah sampai di gereja, Tuan Ana dan Tuan Ma disemayamkan pada tempat masing-masing. Dalam gereja kemudian dilakukan upacara kebaktian wafat Yesus dan lamentasi (renungan), dilanjutkan dengan perarakan keliling Kota Larantuka yang menyinggahi delapan tempat perhentian yang disebut Armida.

Prosesi yang diikuti sekitar 40.000 orang itu berjalan tertib dan khusuk dengan mendaraskan doa-doa dan alunan lagu-lagu pujian, di tengah lautan nyala lilin yang dibawa para peserta. Dari kejauhan nyala lilin peserta prosesi nampak seperti garis yang memanjang dan semakin mengecil tanpa ujung.

Di setiap Armida dilakukan ibadat yang keseluruhannya menggambarkan karya penyelamatan Allah. Peserta menempuh jarak sekitar delapan kilometer, berawal dan berakhir di Gereja Katedral. Prosesi Jumat Agung yang merupakan devosi tradisional berabad-abad dengan pengaruh Potugis zaman pertengahan ini berjalan sampai pagi.

* * *

PERARAKAN dipimpin kelompok yang dinamai “Prosesi Kecil”, bertindak sebagai pemandu seluruh peserta. Perjalanan dimulai ketika terdengar lagu ratapan Veronika, Ovos Omnes, yang dibawakan oleh para gadis yang benar-benar virgin bersama paduan suara comfreria di podium imam, dan bunyian Mataraka (kayu yang mengeluarkan bunyi dengan ritme khusus ketika diayun).

Unsur penting dalam kelompok Prosesi Kecil adalah Genda Do (Gendang Perkabungan), Panji-panji, dan Ornamen-ornamen, semuanya berwarna hitam. Genda Do dan Mataraka dibunyikan secara bergantian, sebagai iringan prosesi sekaligus tanda untuk mengajak warga Larantuka bergabung dalam prosesi. Bagi para lansia tua-renta, mereka yang sakit, dan warga yang berhalangan untuk bergabung, setelah mendengar suara Genda Do dan Mataraka tersebut langsung mendaraskan doa-doa dan mohon restu kepada “Raja” yang sedang berkeliling Kota Larantuka.

Selain Genda Do dan Mataraka, kelompok Prosesi Kecil membawa 17 macam barang dan peralatan yang menggambarkan manfaat kesengsaraan Yesus bagi umat manusia.

Masih ada lagi acara liturgi dan devosi yang dilaksanakan dalam Pekan Semana Santa, baik yang terpusat di Gereja Katedral maupun di berbagai kapel yang letaknya terpencar. Misalnya devosi yang berlangsung di Wure, Pulau Adonara, dengan kapel tempat patung Yesus dan Ayam Jago. Untuk mencapai tempat ini peziarah harus naik kapal dari dermaga Larantuka kurang-lebih selama 20 menit. Untuk masuk ke dalam kapel harus antre di halaman muka pintu 10-30 menit, tergantung banyak-sedikitnya peziarah. Semua bawaan pengunjung tidak diizinkan dibawa ke dalam kapel, harus dititipkan kepada petugas panitia di luar gedung. Alas kaki pun harus dilepas di depan pintu, dan antrean di dalam gedung dilaksanakan dengan jalan berlutut. Antrean di sini juga cukup panjang, mengakibatkan giliran berdevosi baru diperoleh setelah antre sekitar 15 menit. Karena itu tidak sedikit peziarah yang merasa lututnya kesakitan untuk berjalan di atas keramik tanpa alas itu.

Seorang pemuda bernama Dion yang mengantar rombongan kami menuturkan legenda tentang patung di kapel tersebut. Katanya, dulu ada seorang petani yang sangat miskin ingin menjual satu-satunya ayam jago yang dimilikinya untuk membeli bahan makan bagi keluarganya. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang lelaki yang menawar ayamnya, dan kesepakatan harga pun terjadi. Lelaki itu masuk ke rumah, katanya untuk mengambil uang, sambil menenteng ayam jago yang dibelinya. Sementara si petani menunggu di luar.

Lama ditunggu-tunggu si pembeli tidak kunjung keluar, namun si petani tetap sabar. Akhirnya sore pun tiba dan hari mulai gelap. Seorang penduduk setempat bertanya kepada si petani, kok lama berdiri di situ sampai hari menjelang malam. Si petani pun menjelaskan masalahnya. ”Lho, ini rumah kosong, tidak ada penghuninya,” kata penduduk itu. Keduanya penasaran, lalu sama-sama masuk ke dalam rumah. Mereka menemukan samar-samar seseorang berdiri dengan ayam jago di sampingnya. Setelah didekati ternyata itu adalah patung si pembeli jago dan ayam jago milik si petani. Entah bagaimana prosesnya orang yang mirip Kristus dan jago itu berubah menjadi patung.

Dengan masgul dan putus asa si petani pulang dengan tangan hampa. Setiba di rumah ia terkejut, karena istrinya berceritera baru saja menerima kiriman macam-macam bahan makan dari orang yang tak dikenal, dan katanya itu sudah dibeli oleh suaminya. Petani itu tertegun, lalu bersyukur atas peristiwa yang dialaminya. Sejak itu kehidupan si petani tak kekurangan lagi. Sedangkan rumah kosong tersebut menjadi bangunan kapel yang dihuni patung Yesus dan Ayam Jago.

Apakah benar demikian? Entahlah. Yang jelas, sampai saat ini kapel di Wure itu tetap menjadi salah satu tempat devosi bagi masyarakat setempat dan para peziarah yang singgah ke sana.

* * *

DEVOSI yang banyak digemari masyarakat dan peziarah adalah  menghantar Tuan Meninu (Patung Suci Kanak Yesus), pelindung Kota Rowido melalui laut, dikenal sebagai Prosesi Bahari. Rute yang ditempuh, dari Kapel Tuan Meninu Sarotari menuju ke Pante Kuce di Pohon Sirih. Dalam prosesi Jumat Agung, patung Tuan Meninu diberi tempat penghormatan di Armida kedua, yang melukiskan Allah memenuhi janji-Nya kepada umat manusia.

Dalam prosesi laut, puluhan kapal dari dermaga Larantuka menjemput jukung (perahu) yang ditumpangi Kanak Yesus tersebut. Dalam perahu yang dijalankan dengan dayung galah hanya boleh ditumpangi tiga orang, yaitu dua pendayung dan Bapak Suku pemilik patung. Dari kapel menuju ke perahu, patung dimasukkan ke tempat khusus dan cara membawa ke perahu harus dijunjung di atas kepala Ketua Suku pemiliknya, dibantu suku-suku pendamping.

Perarakan di Selat Gonsalus ini terasa sangat atraktif namun tetap khusuk, sekitar 70 kapal dan perahu dengan penumpang melimpah saling beriringan. Terkadang ada  perahu kecil berseliweran di antara kapal-kapal bermotor dan dikejar-kejar petugas untuk masuk ke dalam perarakan secara tertib. Baik kapal maupun perahu semuanya harus berjalan di belakang perahu kecil yang mengangkut Tuan Meninu dengan jarak tertentu agar gelombang tidak mengombang-ambingkan perahu kecil itu.

Perahu Tuan Meninu yang menyusur pinggir pantai tersebut dielu-elukan secara hangat oleh penduduk setempat, disertai doa khusuk dan lagu-lagu pujian. Sebaliknya warga Kota Rowido yang pelindungnya ”dipinjam” untuk disertakan dalam Prosesi Jumat Agung, terus meratap sampai Tuan Meninu dikembalikan keesokan harinya.

Hari Sabtu pagi setelah upacara Jumat Agung, Confreria dan umat mengarak Tuan Na dengan semua ornamentonya, juga Tuan Ma, ke kapel masing-masing. Prosesi Bahari juga dilakukan untuk mengembalikan Tuan Meninu ke Kota Rewido. Kegiatan ini dilakukan dengan sukacita, untuk menyongsong Misa Meriah Malam Paskah yang dilangsungkan di Gereja Katedral pada pukul 18.00 waktu setempat. Suatu peziarahan batin yang panjang dan melelahkan untuk mencapai kedamaian hidup lahir dan batin, diawali pada Hari Paskah. (Malang, 1 April 2008)


Responses

  1. Thank for your attention.

  2. […] Sumber 1 Sumber 2 […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: