Oleh: J.A. Noertjahyo | 14/04/2010

Permandian Wendit di Malang: Ikon Wisata yang Tertatih-tatih

File: 20070320not    – “Rubrik Wisata”

Limpahan air yang keluar dari koolam permandian menjadi arena mandi dan bermain murah-meriah.

SAMPAI tahun 1970-an permandian Wendit di Kabupaten Malang merupakan primadona obyek wisata, terutama saat Idul Fitri. Pada puncak acara yang bertepatan dengan Riaya Ketupat, tujuh hari setelah Idul Fitri, manusia berjubel dan tumpah-ruah sampai di jalan-jalan menuju ke lokasi tersebut. Namun dalam perkembangannya ikon wisata ini tertatih-tatih sehingga kurang peminat dan nyaris terpinggirkan.

Permandian Wendit konon sudah dikenal sebelum Kerajaan Singosari muncul dan termashur, berlanjut pada zaman penjajahan Belanda yang mengunggulkannya sebagai tempat pelesiran terindah di kawasan ini. Terutama bagi para hoofd ambtenaar, para pembesar pabrik dan perusahaan perkebunan, serta elite lain kelompok penjajah. Lokasinya yang strategis, di pinggir jalan raya Malang-Tumpang dan hanya sekitar setengah kilometer dari garis batas Kota-Kabupaten Malang, mempermudah pengunjung mencapainya. Baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Banyaknya perkebunan besar di sekitar Malang menjadi pendukung utama kemeriahan Wendit yang dulu bernama “Mendit” itu. Para pengusaha dan karyawan perkebunan sehari-harinya bekerja keras di daerah pedalaman yang sepi dari hiburan, sehingga hari libur Sabtu-Minggu benar-benar dinikmati bersama seluruh keluarga untuk bergembira. Baik mereka dari perkebunan kopi dan kakao di lereng-lereng gunung Kelud-Kawi-Arjuno sampai Bromo-Tengger-Semeru, maupun perkebunan karet yang melebar sampai ke kawasan pantai selatan Jawa Timur. Juga pembesar dan karyawan perkebunan tebu dan pabrik gula yang menghampar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur, terutama di kawasan lembah Kali Brantas.

Banyak penduduk usia lanjut di Desa Mangliawan Kecamatan Pakis (Kabupaten Malang) – lokasi keberadaan Wendit – masih ingat kejayaan obyek itu pada zaman Belanda dulu. Di antaranya adalah Slamet (75), yang menyewakan ban-dalam bagi anak-anak yang belajar berenang dan “mengapung” di kolam permandian. Demikian pula tukang perahu Mulani (74), petani Sabri (76) dan Djaelani (73). “Dulu di sini ada dua hotel mewah, kamar bola dan lapangan tenis. Setelah dansa-dansa biasanya banyak tuan besar dan anak-istrinya berenang di kolam,” ujar Slamet.

“Saat pesta Natal dan Tahun Baru anak-anak di sini sering diberi permen cokelat oleh orang bule,” sahut Mulani.

Menurut Sabri, dua hotel di sisi kanan “bukit kera” hancur akibat bom tentara Jepang. Juga sarana hiburan lainnya. Jepang tidak memperbaiki Wendit karena lebih peduli untuk membangun lapangan terbang Bugis (sekarang Lanud Abdul Rahman Saleh). Setelah Indonesia merdeka, kolam renang memang diperbaiki dengan beberapa pembangunan pendukungnya. “Tetapi tidak megah seperti zaman Belanda dulu,” tutur Sabri yang dibenarkan oleh Slamet maupun Lani.

* * *

Berubahnya status Kota Administratif Batu menjadi Pemerintah Kota (Pemkot) memang mengubah secara drastis peta obyek wisata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Sebab di wilayah Batu itulah keberadaan hampir semua obyek wisata pilihan pelancong. Seperti permandian Selecta atau air panas Songgoriti yang legendaris. Munculnya beberapa obyek wisata baru dengan berbagai daya tariknya semakin menyeret  Wendit yang tertatih-tatih lunglai ke posisi yang kurang diminati.

Daerah pantai selatan, Bromo-Tengger dan lokasi wisata lain yang memiliki keindahan tersendiri, sulit dicapai pengunjung karena infrastruktur yang kurang memadai. Karena itu Pemkab Malang terlihat gamang mempromosikan berbagai obyek wisata  pantai Sendangbiru, Ngliyep, Balekambang, atau cagar alam Pulau Sempu.

Awal tahun 2001 Ibnu Rubianto (Bupati Malang saat itu) terperangah ketika mengetahui Wendit hanya menghasilkan sekitar Rp 5 juta/bulan dari penjualan karcis masuk. Itu pun sebagian besar habis untuk biaya perawatan dan memberi makan kera-kera yang menjadi maskot obyek ini. Untuk meningkatkan fungsi taman wisata dan pemasukan uang, Pemkab menyediakan dana Rp 350 juta, serta merintis jalur wisata Malang-Wendit-Bromo. Tetapi program itu tidak jelas kelanjutannya setelah terjadi pergantian bupati.

Tahun 2006 Pemkab Malang mulai melirik lagi taman wisata Wendit dengan mengucurkan dana sekitar Rp 6,7 milyar untuk pembangunan tahap pertama,  meskipun pada Idul Fitri tahun itu keadaannya masih semrawut. Berbagai bangunan pendukungnya rusak, jalan-jalan penghubung kurang terawat dan kolam renangnya pun masih tetap kusam tak tertata. Acara selama Lebaran dilaksanakan pihak swasta, Pemkab Malang menerima “uang kontrak” Rp 60 juta.

Kebijakan itu mengakibatkan acara terfokus pada kegiatan bisnis. Bagian pinggir jalan masuk penuh kios dagangan, dan hampir semua jalanan dalam komplek silang-sengkang dengan dagangan yang digelar sembarangan. Tak ada kenyamanan bagi para pengunjung di arena sesak-padat karena untuk menapakkan langkah kaki pun kesulitan. Suara hiruk-pikuk mereka yang menawarkan dagangannya semakin membuat suasana jadi gaduh sehingga kenikmatan berwisata nyaris tak terasa.

* * *

KINI Pemkab Malang bertekad menjadikan Wendit sebagai taman wisata air bertaraf internasional. Untuk itu Pemkab mengalokasikan dana dalam APBD tahun 2007 dan 2008 masing-masing Rp 25 milyar. Rencananya, selain kolam renang bertaraf internasional, Wendit juga dilengkapi dengan taman bermain anak-anak, restoran, penginapan, hutan lindung dengan maskot kera, serta tower yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan sekitarnya, bahkan menjangkau sebagian kota Malang.

Tetapi realisasi rencana di atas nampaknya juga masih tertatih-tatih, antara lain pencairan dana yang kurang mulus. Ketua DPRD Kabupaten Malang, Suahadi SE, kepada Harian Surya (5/3-2007) menyatakan bahwa anggaran untuk pemugaran Wendit belum cair sehingga biaya pengerjaannya ditalangi dulu oleh pengembang. Selain itu pembebasan tanah untuk perluasannya pun masih terkatung-katung. Relokasi 48 warga di sebelah selatan kolam permandian juga belum tuntas.

Masalah lain, sumber air di kawasan itu ditengarai sudah sangat menyusut. “Besarnya aliran ke bagian bawah kolam tidak ada separuhnya dibanding 25 tahun yang lalu. Dulu bagian untuk main perahu airnya penuh, tetapi sekarang sangat susut sehingga di kali bawah sana harus dibendung agar perahu bebas hilir-mudik,” ujar Slamet yang dibenarkan beberapa rekannya.

Humas Kabupaten Malang dan Dinas Pariwisata setempat tidak memiliki data tentang debit sumber-sumber air di Wendit. Menurut Slamet, dulu terdapat lebih dari 10 titik sumber. Dinas Pengairan Kabupaten Malang yang berkantor di Kepanjen juga tidak memiliki data debit air saat ini. “Sudah lama tidak pernah mencek debitnya,” ujar seorang karyawan. Ditanbahkan, data lama menyebut 5-6 sumber di Wendit memiliki debit 3.000 liter/detik dan untuk keperluan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang sebesar 1.520 liter/detik. Tidak tercatat berapa titik mata air yang ada, dan berapa debit keseluruhannya.

Berbagai kendala di atas merupakan tantangan untuk mengangkat Wendit menjadi obyek wisata air bertaraf internasional. Masih ditambah lagi dengan ketatnya persaingan dengan obyek wisata lain yang sudah terlebih dulu membenahi diri. Namun masyarakat Malang berharap agar Wendit tidak terus tertatih-tatih sehingga mengubah citranya dari primadona menjadi anak tiri.

Catatan:

Tulisan dan foto dimuat Harian Kompas tgl. 14 April 2007.


Responses

  1. bagus ni jempol 10 dah

    • Tks perhatiannya, sekarang sudah “dibangun” oleh Pemkab Malang, sudash bagus …..

    • Tks perhatiannya. Salam.

  2. juru kunci kota mendit spa pak

    • Terima kasih atas atensinya. Mendit itu nama pemandian yang dikelola oleh Pemkab Malang, tanpa juru kunci.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: