Oleh: J.A. Noertjahyo | 20/04/2010

Kota Batu Terguncang Kapri

RATUSAN petani di daerah Kota Batu, Jawa Timur, telah banyak mendapat keuntungan dari tanaman kapri. Kacang kara berwarna hijau ini merupakan jenis sayuran yang banyak digunakan untuk masakan china. Karena itu produk kapri banyak diekpor dengan tujuan Taiwan, RRC, Korea, Vietnam, Singapura dan lain-lain. Bahkan sebagian juga ke Eropa.

            Budianto (36), seorang penanam kapri di Dusun Sumberbrantas menyatakan, tanaman kapri memang jauh lebih menguntungkan dibanding tanaman hortikultura lain. Misalnya kobis, wortel, kentang atau pun apel. Kapri sudah mulai menghasilkan pada usia 60 hari dan terus bisa dipanen sampai usia 120 hari. Produksi rata-rata selama satu musim tanam bisa mencapai 10 ton/hektar dengan harga paling murah Rp 5.000/kg. “Jadi untuk empat bulan bisa menghasilkan sekitar Rp 50 juta,” katanya.

            Padahal untuk biaya produksi, termasuk harga sewa tanah, paling tinggi hanya Rp 25 juta per hektar. “Dengan keuntungan Rp 25 juta untuk waktu empat bulan, tanaman ini memang sangat menguntungkan,” tambah Budianto.

            Keterangan lelaki ayah dua anak itu dibenarkan oleh Mochamad Toha (42), sarjana pertanian yang menjabat Ketua Forum Tani Kota Batu. “Karena itu banyak petani yang tergiur tanaman ini,” katanya. Namun kesulitannya adalah memenuhi tenaga kerja untuk memetik, rata-rata 25 orang per hektar. Kapri cocok untuk tanah pada ketinggian 1.000 meter atau lebih di atas permukaan laut. Dan lokasi setinggi ini umumnya jarang digunakan sebagai perkampungan, sehingga tenaga kerja sulit ditemukan dan harus mendatangkan dari tempat yang cukup jauh.

            Namun sebagian petani kapri di Batu kini harus menerima nasib buruk mereka. Seorang investor tanaman ini yang dikenal bernama SH disebut-sebut sudah bangkrut. Ia dikatakan sudah melarikan diri dan masih memiliki utang cukup banyak kepada para petani. Menurut beberapa petani, SH tiba-tiba saja “menghilang” sehingga produk petani tidak tertampung. Bahkan banyak petani yang sudah menyetorkan kaprinya dan belum dibayar. Kota Batu pun terguncang kapri. Petani yang merasa dirugikan langsung mengambil inventaris milik SH. Seperti kendaraan dan peralatan kantor. Bahkan inventaris berupa gudang pendingin nyaris dibongkar dan dibagi-bagi oleh para petani.

Untungnya Forum Tani setempat sigap mengamankannya, dan atas jaminan Pemkot Batu gudang pendingin tersebut dioperasikan kembali untuk kepentingan para petani setempat. Pengelolaannya diserahkan kepada Sentra Pengembangan Agribisnis (SPA) sejak 6 Juni 2005 dengan restu dari para pejabat di Kota atu. Yaitu Walikota, Ketua DPRD, Kapolres, dan Komandan Kodim setempat.

Mulai minggu kedua bulan Juni 2005 SPA mengoperasikan gudang pendingin berkapasitas 140 meter kubik itu untuk menampung produk hortikultura para petani setempat. Sebagian langsung dijual oleh para petani sendiri, dan sebagian lainnya ditangani SPA. Baik yang dijual kepada para pedagang maupun kepada beberapa pasar swalayan di Malang dan Surabaya. “Bahkan Panitia Muktamar Muhammadiyah juga bersedia menerima sayur-mayur kami,” ujar seorang petani yang tergabung dalam SPA.

* * *

            KAPRI bukan hanya menguntungkan para petani, tetapi juga menjadi “musibah” bagi puluhan petani. Malahan menurut Mochamad Toha, petani yang dirugikan bisa lebih dari 100 orang dengan jumlah kerugian sekitar Rp 200 juta. Sedangkan gudang pendingin yang berada di Punten itu harganya diperkirakan hanya sekitar Rp 100 juta.

            Namun mantan karyawan SH yang tak mau disebut namanya menyatakan, gudang pendingin tersebut diimpor dari Taiwan dengan harga sekitar Rp 400 juta. Saat perusahaan tersebut mulai goncang dan berencana menjual asetnya, penawaran dari peminat terlalu rendah. “Tidak sampai 10 persen dari nilai pembeliannya,” tutur mantan karyawan SH tersebut.

            Beberapa petani yang menjadi korban SH menyatakan, bisnis kapri itu dikelola oleh SH dengan wadah sebuah yayasan yang menangani tenaga kerja Indonesia (TKI) dengan pusat kegiatannya di Jakarta. Para petani menyebutkan, kegiatan itu awalnya masuk melalui lembaga penelitian di Tlekung. Namun satu-satunya lembaga peneltian di Tlekung, Lolit Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik, menampik keras tudingan para petani tersebut.

            “Kami tidak tahu menahu kegiatan mereka, apalagi terlibat,” tegas Ir Arry Supriyanto MS, Kelapa Lolit tersebut. Ditambahkan, dugaan petani di atas mungkin dikaitkan dengan adanya seorang karyawan Kebun Percobaan Lolit yang pernah bekerja dalam usaha itu setelah jam kantor selesai.

            Hadi Mulyanto, karyawan Kebun Percobaan Lolit di Punten, mengaku pernah dimintai bantuan untuk mengkordinasikan para petani dalam usaha tanaman kapri tersebut. Statusnya bukan sebagai karyawan, tetapi semacam konsultan yang diberi fee oleh SH. “Tapi saya sudah berhenti sejak Oktober 2002. Dan fee yang dijanjikan juga banyak yang belum dibayar,” katanya.

* * *

            KEGIATAN bisnis kapri yang dilakukan SH memang “baru” satu-satunya yang mengalami kebangkrutan. Menurut para petani, di daerah itu setidaknya ada tiga-empat perusahaan yang melakukan bisnis serupa. Kebanyakan beroperasi melalui karyawannya yang melakukan kerja sama dengan kelompok tani setempat. Bahkan sering berhubungan langsung dengan perorangan petani. Karena itu setelah terjadi “kasus” seperti di atas, aparat pemerintah setempat sulit untuk mencari penyelesaian dengan penanggung jawabnya.

            “Petani kita sering terlalu percaya dan jujur,” komentar Ir Teguh Supriyanto (50), anggota Forum Kerjasama Agribisnis (FKA) yang juga menjabat Sekjen Asosiasi Wisata Agro Indonesia (AWAI). Dia menyayangkan kurang tertibnya penanganan investasi oleh pemerintah (daerah) sehingga tidak memiliki data yang lengkap. Akibatnya, jika ada investor yang nakal, korbannya adalah petani.

            Di lain pihak Teguh melihat pelayanan birokrat terhadap investor sering terlalu bertele-tele dan jelimet, sehingga tak sedikit investor yang enggan berurusan. Untuk investor yang nekad, lalu mencari “jalan pintas” seperti yang terjadi di atas.

            Lambannya kerja pemerintah juga dirasakan para petani. Misalnya dalam kasus kapri di atas, bibit masih selalu diimpor, khususnya dari Taiwan. “Mengapa Dinas Pertanian atau lembaga lain yang terkait tidak bisa memproduksi bibit sendiri?” ujar seorang petani di Junggo. Ditambahkan, petani membeli bibit impor sekitar Rp 70.000/kg. Seorang petani yang mencoba membuat bibit sendiri bisa menjual dengan Rp 20.000/kg. Namun petani tidak senang menghasilkan bibit, selain keuntungannya lebih kecil juga terikat kontrak dengan investor.

Pelayanan saprodi seperti pupuk dan obat-obatan juga ditangani oleh investor, bukan pemerintah. “Memang terjadi kontrak antara petani dan investor. Meskipun harga yang ditentukan investor sedikit lebih rendah dibanding pasaran, namun produksi petani dijamin untuk dibeli,” ujar Ir Mochamad Toha.

Budianto misalnya, mengaku bahwa dalam kontrak ditentukan harga Rp 5.250/kg kapri manis. Padahal dalam pertengahan Juni 2005 harga kapri di pasaran sekitar Rp 7.000/kg. Tetapi ia merasa tetap lebih baik kontrak, karena pasar dan harganya tetap terjamin meskipun di pasaran anjlok sampai Rp 3.000/kg. Penututan itu dibenarkan oleh beberapa petani, baik di daerah Junggo maupun Sumberbrantas    

             Sepanjang pengamatan, agribisnis di Batu sudah banyak yang “dikuasai” oleh para pengusaha dari luar. Dan mereka memiliki matarantai yang cukup kuat, sehingga hanya kelembagaan petani yang tangguh dengan dukungan pemerintah sajalah yang bisa memutus matarantai tersebut. Jika tidak, nasib petani mungkin akan terus merayap di bawah.

Foto:

KEBUN KAPRI – Tanaman kapri yang subur di kebun Dusun Sumberbrantas, tidak jauh dari mata air Kali Brantas di lereng Gunung Arjuno.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: