Oleh: J.A. Noertjahyo | 06/05/2010

Graha Maria Annai Velangkanni di Medan: Inkulturatif dan Penuh Simbol-simbol Religi

Graha Maria Annai Velangkanni di Medan, bangunan inkulturatif.

LUAR biasa! Menakjubkan dan mengagumkan! Mata nyaris tak percaya menyaksikan bangunan besar begitu megah dan artistik menjulang ke angkasa di tengah hunian masyarakat. Gaya arsitekturnya unik. Perpaduan estetika bernuansa religi itu memancarkan keagungan ilahi yang membahagiakan hati setiap manusia. Tidak berlebihan jika peziarah menyatakan: ”Inilah bangunan monumental-ajaib masa kini!”

Itulah Graha Maria Annai Velangkanni – Home of Mary of Good Health – sebuah oase rohani di sudut Kota Medan, Sumatera Utara. Lokasinya di Jl Sakura III No.10, Tanjung Selamat, Medan, sekitar 10 kilometer arah selatan pusat kota. Graha yang diresmikan Gubernur Sumut Drs Rudolf Pardede dan diberkati Uskup Agung Medan Mgr AG Pius Datubara OFMCap tanggal 1 Oktober 2005 ini, arsitekturnya paduan inkulturatif Indo-Mogul dan menyedot banyak peziarah. Baik wisatawan Nusantara maupun yang datang dari Singapura, Malaysia, India, dan lain-lain.

Bagaimana riwayat bangunan itu berdiri? Penggagasnya adalah Pastor James Bharataputra SJ (71), dari hasil doa kontemplasi berdasarkan latihan rohani St Ignatius, pendiri Ordo Serikat Yesus. “Mysterium Incarnationis (rahasia Penjilmaan) Allah dalam Yesus yang telah pastor kontempleasikan dalam doa selama hidup membiara sebagai Yesuit,” tulis pastor kelahiran India itu dalam “Buku Panduan Graha Maria Annai Velangkanni”.

Berdiri di atas tanah seluas 7.500 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 4.000 M2, Graha Maria ini dikerjakan selama empat tahun (September 2001 – September 2005), menelan biaya sekitar Rp 4 milyar. Seluruh dana berasal dari para dermawan, warga Katolik dan para simpatisan. Sekitar 60 persen dana dari dalam negeri, 30 persen dari Singapura, selebihnya dari Malaysia, India, Dubai, dan lain-lain.

Inkulturasi budaya itu sudah terasa di pintu gerbang Graha, sebuah gapura dengan miniatur rumah adat Batak Toba-Karo di atasnya, serta relief berbagai suku bangsa dengan pakaian adatnya. Ini mempunyai makna bahwa semua orang yang datang dan berkehendak baik selalu diterima dengan hati terbuka, hangat, dan ramah. Begitu berdiri di gapura kita berhadapan dengan bangunan ”fantastis” yang menjalin berbagai keunikan dan keindahan. Seribu satu emosi dan fantasi muncul dari naluri kemanusiaan yang paling dalam!

Mudah dirasakan, enak dinikmati, tetapi sulit diformulasikan! Ketika masuk ke dalam komplek Graha Maria ini terasa munculnya getaran tempat suci yang menyadarkan kita betapa kecil dan tidak berartinya manusia di hadapan Sang Pencipta. Dalam ”Buku Panduan” ditulis: ”Memang, penggagas bangunan Graha ini mau menyatakan secara simbolis bahwa di sinilah surga dan bumi bertemu, dan di sinilah Allah ingin bertemu dengan bangsa manusia, makhluk ciptaan-Nya.” Gereja di lantai atas dilengkapi dengan balkon dan tujuh tingkat menara dengan tiga kubah, menyimbolkan langit ketujuh, yaitu surga, tempat Allah Tritunggal Yang Mahakudus bertahta. Sedangkan jalan layang yang dindingnya berukir rangkaian kejadian penciptaan hari demi hari, serta lantai bawah sebagai gedung pertemuan, merupakan lambang bumi yang kita tempati.

Berdoa khususk di depan patung Ibu Maria.

Bangunan pertama yang didirikan di komplek ini adalah Kapel Maria, di sebelah kiri Graha Maria, diberkati tanggal 8 September 2001 dan menjadi tempat berdevosi sekaligus tempat berdoa agar pembangunan Graha Maria mendapat izin. Sekarang digunakan untuk doa harian, serta doa novena diikuti Misa Kudus setiap hari Sabtu sore sepanjang tahun. Di kapel ini muncul mata air ”mujizat” di bawah kaki patung Maria. Menurut pemeriksaan laboratorium PAM Tirtanadi Medan, air ini tidak terkomtaminasi dan layak diminum tanpa dimasak. Bahkan banyak peziarah yang menggunakan airnya sebagai obat untuk menyembuhkan bermacam penyakit. Di depan kapel terdapat monumen bernama Taman Mini ”St Papa Giovani Paolo II” untuk mengenang Yohannes Paulus II (alm) yang amat mencintai Maria, juga untuk mengenang beliau berkunjung ke Medan saat ke Indonesia tahun 1989.

Sentuhan tangan Tuhan Menurut Pastor James Bharataputra, tanah tempat berdirinya Graha Maria di atas awalnya akan digunakan untuk perumahan. Namun keturunan warga India Tamil yang datang ke Sumatera Utara dan bekerja di perkebunan tembakau lebih dari satu setengah abad yang lalu berobsesi lain. Sejak masih di India mereka sudah akrab berdevosi kepada Maria Annai Velangkanni di Chennai, kawasan Teluk Benggala. Di tempat ini Ibu Maria dihormati dan diberi gelar Bunda Penyembuh, sehingga menjadi tempat ziarah yang terkenal bagi orang beriman dari berbagai keyakinan agama. Sri Paus Yohannes XXIII menjuluki tempat ziarah itu ”Lourdes Timur” dan mengangkat statusnya jadi ”Basilika”.

Kerinduan berdevosi itu disampaikan kepada Uskup Agung Medan, Mgr AG Pius Datubara OFMCap, yang memberi restu kepada Pastor James Bhataraputra SJ untuk membangun Graha Maria Annai Velangkanni. Pastor James yang menjadi warga negara Indonesia tahun 1989 dan sudah lebih dari 35 tahun mengabdikan diri di Keuskupan Agung Medan, sangat gembira menerima tugas itu. ”Tuhan merestui terwujudnya impian kami,” kata rohaniwan yang jarang memakai alas kaki itu.

Akhir Oktober 2002 ia pergi ke Paroki Banda Aceh, tempat ia pernah bertugas tahun 1983-1991, untuk menghimpun dana. Hasilnya, terhimpun bantuan dari para dermawan Rp 10 juta.

Pastor James pulang ke rumah keluarga Hindu bernama Devadas di Jl Kediri Medan, tempat ia menyewa sebuah kamarnya. Sekembalinya di Medan tanggal 30 Oktober sore, pastor tidak bisa menyetorkan uangnya ke bank. Padahal esok harinya, 31 Oktober 2002, pagi-pagi harus berangkat ke Jakarta untuk memimpin Misa Penutupan Bulan Rosario. ”Uang itu saya bungkus dengan kertas dan dimasukkan dalam kantong plastik, lalu saya taruh di meja kamar saya di lantai dua,” katanya.

Ketika tanggal 2 November berada di Bandara Sukarno-Hatta untuk pulang ke Medan, Pastor James menerima telepon bahwa kamarnya terbakar habis! Ia sangat terkejut, dan spontan berucap lirih: ”Oh my God! All the donation money is gone to fire!” Dan sepanjang perjalanan pulang itu Pastor James selalu gelisah. Setibanya di Medan pastor langsung menuju ke tempat tinggalnya, dan melihat kamarnya sudah menjadi puing-puing kebakaran. Semua barang termasuk tempat tidur, rak buku dan meja sudah jadi arang.

”Saya yakin, uang sepuluh juta rupiah pun ikut terbakar habis,” katanya. Namun ketika pastor mengais-ngais arang sisa kebakaran, di bagian tempat meja ia menaruh uang, terlihat kertas folio pembungkus duitnya hangus sebagian. Ketika diambil dan dibuka, ternyata uangnya masih utuh! Dua buah Akitab dan sebuah buku Puji Syukur yang terletak dekat bungkusan uang itu juga masih utuh.

Eureka! Puji Tuhan. Itulah kata-kata yang spontan keluar dari mulutku,” kata Pastor James. Ditambahkan, ia yakin itu sebagai mujizat. Bunda Maria menyelamatkan uang untuk pembangunan Grahanya. Uang Rp 10 juta yang selamat dari amukan api itu diyakini peziarah dapat membawa keberuntungan, sehingga banyak yang berminat menukar atau minta.

Akhirnya hanya tersisa dua lembar pecahan seratus ribuan. Dua lembar uang ini dibawa ke Jakarta untuk peraga saat memberikan kesaksian. Aneh bin ajaib, setelah itu rekening Pastor James menerima transfer lebih dari satu milyar rupiah!

Berbagai lambang saat berdiri di gapura kita berhadapan dengan jalan aspal yang berdesain manusia berdosa, sujud menyerahkan diri kepada Sang Pencipta. Jalan-layang menuju ke gereja di lantai dua, seperti tangan Bunda Maria merangkulnya untuk diantar kepada Yesus dalam gendongannya.Lambang ini menjelaskan bahwa setiap orang yang masuk dalam rangkulan Maria akan menikmati keselamatan dan hidup abadi yang dijanjikan Kristus. Di depan aula ada dua pohon pisang sebagai lambang hidup terus-menerus, dan Sumur Yakub. Jalan-layang dengan 40 lampu dan manik-manik rosario yang mengelilingi Graha Maria memiliki arti tersendiri. Relief burung annam merupakan perlambang bahwa Allah mengharapkan umat-Nya jangan menelan semua yang ditawarkan dunia karena banyak kepalsuan dan kebohongan. Begitu memasuki gereja, kita langsung disambut dengan tulisan: “Datanglah pada-Ku kamu yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan bagimu.” Juga jendela-jendela yang dihiasi 20 gambar stainglass sebagai lambang permenungan dalam doa Rosario. Tiang penyangga gereja 12 buah, lambang 12 suku bangsa Israel dan 12 rasul. Pada langit-langit gereja terukir gambar enam Sakramen (Permandian, Krisma, Pengampunan, Perkawinan, Imamat, dan Perminyakan orang sakit). Sedangkan Sakramen Eskaristi yang merupakan sumber, pusat dan puncak semua sakramen, ditempatkan di pusat gereja, yaitu altar. Masih banyak nilai religius yang dilambangkan Graha ini. Namun to see is to believe, lihatlah sendiri untuk percaya!

Keterangan: Tulisan ini disusun akhir November 2009, dimuat Majalah Keluarga KANA No.05 Tahun 5, bulanMei 2010 dengan tiga foto ilustrasi.


Responses

  1. Sakramen Pernikahan Abangku disini..:D

    • Puji Tuhan, kenangan yg indah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: