Oleh: J.A. Noertjahyo | 13/07/2010

Ziarah, Sarana Meningkatkan Kualitas Hidup

Di bawah lindungan Bunda Maria.

ROMBONGAN kami mendaki Gunung Sinai pada malam hari. Pemandu sudah menyiapkan unta bagi semua peserta. Dalam kegelapan yang pekat, unta-unta berjalan tertatih-tatih. Terkadang kami terperosot ke belakang diatas punggung unta, karena jalanan menanjak tajam. Sekali-sekali juga tersuruk ke depan akibat jalanan menurun.

Setelah beberapa saat unta berjalan, pantat kami mulai terasa sakit bergesekan dengan punggung binatang yang keras dan sempit-menjepit. Maklum, seumur hidup baru pertama kali merasakan naik unta, hewan yang akrab dengan padang pasir.

Setelah sampai di bagian puncak gunung yang kami tuju, hampir seluruh badan terasa sakit, terutama pantat, kaki, dan tangan. Sebagian kami menarik nafas panjang, seperti baru menyelesaikan pekerjaan yang berat.

Setelah beristirahat sejenak, rombongan mengikuti Misa Kudus di kawasan Nabi Musa ”menerima” 10 Perintah Allah itu. Sulit digambarkan bagaimana perasaan kami saat itu, lelah dan tak tahu situasi sekeliling. Tapi juga lega dan terselinapi rasa puas. Tak lama kemudian, fajar mulai merekah. Dan sadarlah kami bahwa berada di lereng gunung yang penuh bebatuan tajam dengan pepohonan kerdil di antaranya. Kami pun merasa  ngeri ketika kembali menuruni bukit, karena jalan yang kami lewati semalam ternyata merupakan jalan setapak yang diapit jurang dengan bebatuan tajam-tajam. Seandainya……., ya seandainya semalam si unta salah langkah…….. Entahlah ……..!

Lain rasanya ketika kami memasuki taman Getsemani, tempat Yesus ditangkap dan dikhianati. Rasa ngeri dan mencekam terasa menelusuri sekujur tubuh kami. Aroma pengkhianatan mengintip di balik ketegaran Juru Selamat dunia. Adegan-adegan tragis terbayang tak terhindarkan, dan bulu kuduk berdiri tanpa kompromi…… Inilah taman yang menjadi saksi bisu-abadi sepenggal jalan kehidupan Yesus Kristus.

Kondisi yang lebih tajam-mencekam muncul saat rombongan mengikuti “parade” penyaliban, menyusuri jalanan sempit-menanjak sambil “memikul salib” menuju Bukit Golgota. Situasi jalanan dan sekelilingnya memang ramai, namun mereka adalah para peziarah dan masyarakat setempat yang jadi penonton. Sebagian kami jadi kikuk, bukan kesakitan dan malu seperti Yesus saat melaksanakan ”hukuman” dulu. Namun kami bisa membayangkan dan merasakan, tidak akan sanggup untuk melewati Dolorosa ini seperti yang dialami Yesus. Dan inilah sepenggal drama penebusan dosa-dosa anak manusia, seram-mengerikan menukik masuk ke hulu hati …!

Apa hikmah yang dipetik para peziarah? Kami turut menghayati penderitaan berat dalam balada penyaliban Kristus. Kami pun melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah benar, bukan fantasi, imajinasi, atau rekayasa. Karena itu kami semakin mantap mempercayai isi Kitab Suci, dan menyembulkan tekad untuk lebih banyak membaca dan menghayatinya. Ini merupakan   peningkatan kualitas iman para peziarah.

Keajaiban Lourdes

Media massa telah banyak memberitakan terjadinya berbagai mukjizat dan keajaiban yang terjadi di Lourdes, terutama tersembuhkannya peziarah dari penyakit yang secara medis mustahil disembuhkan. Bahkan berita dari mulut ke mulut berdasarkan pengalaman dan kesaksian, terus bermuncul dari waktu ke waktu dengan berbagai macam varian. Karena itu tidak mengherankan jika Lourdes merupakan salah satu obyek ziarah yang menjadi impian banyak orang di muka bumi ini.

Rombongan kami sangat takjub saat menyaksikan komplek peribadatan yang begitu luas dan megah, lengkap, indah mempesona. Sebagian kami hanya berdiri tegak terpaku, mata menyapu ke seluruh penjuru dengan mulut ternganga. Lingkungan alam yang sangat indah itu seperti disulam dengan bangunan-bangunan megah-ramah, sebagian  menjulang tinggi menusuk langit dengan latar belakang gunung yang merunduk-hijau. Dunia kekurangan kata untuk dapat melukiskannya keindahannya secara tuntas……!

Dan acara yang paling khusuk-membisu adalah prosesi lilin yang dimulai pukul 16.30 waktu setempat. Pertama kalinya prosesi semacam ini dilakukan pada 17 Agustus 1887. Ribuan peziarah tertib dan hening mengikuti upacara ini, termasuk ratusan orang yang harus memakai macam-macam alat-bantu mobilitas. Mulai dari tongkat biasa sampai ”mobil-mini” yang digerakkan dengan baterai, berisi penderita yang tubuhnya ”dihiasi” sekian banyak kabel-kesehatan untuk menopang hidupnya. Sungguh menyayat hati!

Para peziarah juga dapat menyaksikan berbagai alat-bantu kesehatan/mobilitas yang digantung pada sebuah lereng di komplek itu. Ada macam-macam tongkat, kruk, kereta kecil atau mobil-mobilan, dan alat bantu jalan/mobilitas lain bagi mereka yang organ tubuhnya tak berfungsi lagi. Alat-alat yang ”dipamerkan” itu adalah milik penderita yang sembuh secara ’ajaib’ melalui doa-doa dan persembahan di Lourdes ini.

Menyaksikan para peziarah yang sakit – yang umumnya sudah divonis ”tak dapat sembuh” oleh dokter – kami yang sehat-walafiat langsung dalam-dalam menundukkan kepala dan mengucapkan syukur tak terbatas kepada Sang Pencipta! Di sini jiwa kita disentak dan bergetar, begitu banyak keajaiban dan mukjizat terjadi. Apa yang  bagi manusia tidak mungkin, bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin. (Mrk 10:27)

Gua Maria

Penulis yakin bahwa jamahan tangan Tuhan bisa terjadi di mana pun juga dan dalam situasi apa pun juga. Ketika melakukan ziarah ke berbagai Gua Maria (GM) di negeri kita, berkali-kali rasa takjub muncul dan merasakan sentuhan ajaib tangan Tuhan. Marilah kita simak lokasi GM Kaliori di daerah Purwokerto (Jateng), GM Ciganjur (Kuningan/Jabar), GM Tritis (Wonosari/Jateng), GM Ratu Kenya (Wonogiri/Jateng), GM Waluyo Jatiningsih (Ponorogo/Jatim), GR Rosa Mestika (Salatiga/Jateng), GM Sendangsono (Magelang/Jateng), GM Sriningsih (Klaten/Jateng), atau GM Jatiningrum (Curahjati-Banyuwangi) dan GM Puhsarang (Kediri) di daerah Jawa Timur. Juga sekian GM lain yang tersebar di Tanah Air.

Bukankah hampir semua GM berada di lokasi yang ”terpencil” dan di tengah masyarakat pluralis? Ini tidak berbeda jauh dengan lokasi pertapaan Romo-romo di Rowoseneng dan para Suster di Gedono. Menurut nalar kita sebagai manusia, mustahil peziarahan Katolik berlokasi di tempat-tempat seperti itu. Bagaimana cara  merintisnya dan siapa yang melakukannya? Sulit dibayangkan akal sehat. Tetapi siapa pun perintisnya, hati nurani kita membisikkan bahwa mereka dijamah, dituntun, dan dikuatkan oleh Roh Kudus!

Lain kisahnya saat rombongan kami ziarah ke Larantuka (Flores, Nusa Tenggara Timur) dalam rangkaian upacara Paskah (Semana Santa). Salah satu keajaiban di sana  adalah jenazah Mgr Gabriel Manek SVD yang masih utuh meskipun beliau meninggal dunia sudah hampir 20 tahun lamanya. Hal yang sangat mengherankan, Mgr Manek wafat di Amerika Serikat, makamnya digenagi air dan saat diangkat peti jenazahnya pun kemasukan air. Ini terlihat jelas dalam film/VCD yang dibuat saat pembongkaran makam dilakukan.

Jenazah Mgr Gabriel Manek SVD saat ini disemayamkan dan dapat kita saksikan dalam bangunan khusus di komplek Susteran PRR (Putri Reinha Rosari) di Larantuka, berdampingan dengan museum yang menyimpan berbagai barang peninggalan almarhum.

Pertanyaan yang muncul, mungkinkan jenazah yang sudah dikubur belasan tahun masih utuh? Jawabannya: ”Sangat mungkin karena dijamah kuasa Tuhan. Sebab bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang tidak mungkin!”

Ziarah…., Zianja…, Zianjata…!

Kisah-kisah di atas adalah ziarah sebagai sarana meningkatan kualitas hidup rohani. Dan bagi mereka yang melakukan ziarah ke Tanah Suci serta obyek terkait, mungkin  berkesempatan melakukan ”perkawinan ulang” di Gereja Kana di mana Yesus untuk pertama kali menyatakan dirinya dengan mengubah air menjadi anggur. Atau menikmati ’ikan petrus’ di tepi danau Galilea, menyaksikan semak terbakar yang tidak hangus, dan  obyek lain lagi.

Bagi peziarah dalam rombongan, pasti mendapat sahabat baru dalam rombongan tersebut. Bahkan mungkin saja di obyek-obyek yang dikunjungi, atau  sepanjang perjalanan, menemukan sahabat dari rombongan lain, atau warga masyarakat setempat. Kita berinteraksi dengan orang lain yang mungkin beda kebangsaan, budaya, serta latar belakang lain. Namun satu kaidah menyatukan kita, yaitu cinta-kasih Kristus.

Istilah ziarah sering dipelesetkan dengan ”zianja”, gabungan ziarah dan belanja. Belanja memang tidak mungkin dilepaskan dengan ziarah, terutama yang dilakukan dalam waktu beberapa hari. Paling tidak kita belanja makanan dan souvenir, baik berupa benda-benda rohani maupun produk khas yang menjadi identitas daerah/tempat yang kita kunjungi. Bahkan bisa juga produk branded suatu negara dengan harga yang aduhai!

Istilah zianja pun kemudian berkembang menjadi “zianjata”, ziarah-belanja-pariwisata. Pariwisata juga sulit dipisahkan dari kegiatan ziarah. Di berbagai tempat kita menjumpai hal-hal baru yang belum pernah kita lihat. Misalnya, piramida di Mesir, ‘tembok ratapan’, mandi mengambang di Laut Mati, dan sebagainya. Ziarah di dalam negeri pun akan kita temui berbagai tempat, barang, atau makanan baru yang sebelumnya tidak kita ketahui, sehingga pengetahuan dan pengalaman kita terus bertambah. Dan jangan dilupakan, mobilitas kita selama dalam perjalanan – terutama saat jalan kaki – merupakan kegiatan berolahraga.

Sebagai kesimpulan, ”zianjata” merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup, baik rohani (iman) maupun jasmani.

Catatan: Tulisan ini dimuat Majalah Keluarga KANA No.07/Juli 2010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: