Oleh: J.A. Noertjahyo | 09/09/2010

Permasalahan Jeruk: Petani Masih Merangkak Sendiri

Permasalahan Jeruk

Petani Masih Merangkak Sendiri

SUNGGUH membanggakan terjadi pemecahan Rekor MURI untuk jumlah pemakan jeruk terbanyak secara bersamaan, mencapai 3.000 orang. Dan semua yang dimakan adalah jeruk produksi dalam negeri. Suasana di komplek Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropik (Balitjestro) Tlekung, Kota Batu (Jawa Timur) pun tampak sangat meriah. Tanggal 5 Agustus 2010 itu diperkirakan jumlah pengunjung mencapai sekitar 5.000 orang, dengan mayoritas anak-anak sekolah yang menjadi ”pasukan” pemakan jeruk.

Pengunjung juga dapat membeli jeruk dengan memilih dan memetik sendiri langsung dari pohonnya, melihat pameran koleksi macam-macam jeruk, membeli jus jeruk segar, menyaksikan kontes jeruk nasional, dan lain-lain. Kemeriahan pengunjung itu membuat tempat parkir pun penuh-sesak dan meluber berjajar di tepi jalan lebih dari satu kilometer. Situasi seperti itu cocok dengan tajuk ”Citrus Spectacular Day” yang bertema ”Kebangkitan Jeruk Nasional Siap ’Menggilas’ Jeruk Impor”.

Namun saat tema pameran dan kontes jeruk nasional itu masuk dalam facebook, sepuluh menit kemudian langsung mendapat tanggapan dari Jakarta. ”Di supermarket jeruk medan lebih mahal dibanding jeruk impor dari China,” tulis seorang facebooker. Disusul komentar lain: ”Kualitas jeruk kita kacau….”. Lainnya lagi menulis: ”Keprok tawangmangu juga asem…..”. Dan masih ada beberapa gerutuan miring lainnya.

Komentar di atas sepertinya menjabarkan makna kata ’Menggilas’ yang oleh panitia sengaja ditulis dalam tanda kutip. Di situ menimbulkan tanda tanya dan tersirat adanya keraguan, kegamangan, atau bahkan ketidakpercayaan diri. Ini pun telah ”disindir” Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan, Dr Ir Sumardjo Gatot Irianto, yang menyatakan dalam sambutannya bahwa di komplek Balitjestro memang terasa adanya Citrus Spectacular Day. Namun ia meragukan penduduk Kota Batu dan Kota Malang yang dekat dengan Balitjestro, mengetahui semaraknya pameran jeruk yang spektakuler itu. Apalagi Surabaya atau Jakarta.

Ternyata ada benarnya. Beberapa pedagang buah di Pasar Batu tidak mengerti ada pameran jeruk spektakuler yang lokasinya hanya sekitar tiga kilometer dari tempatnya berjualan. Demikian juga pedagang yang marak di pinggiran jalan-jalan Kota Malang tidak mengetahui acara di Tlekung tersebut. Juga seorang karyawati di toko buah terkenal kawasan Jl Borobudur Malang. Dan yang lebih memprihatinkan, jeruk impor justru lebih ditonjolkan oleh para penjualnya, ”menggilas” jeruk dalam negeri yang rata-rata memang nampak kurang menarik. Kenyataan ini bertolak belakang dengan tema di atas.

Sebagian pejabat Deptan yang hadir dan beberapa undangan mengakui, tema itu memang terasa bombastis. Bahkan seorang anggota panitia pun menyatakan demikian. Namun kata ”menggilas” sengaja digunakan dalam tanda kutip dengan maksud untuk memancing sekaligus mendorong semua pihak – khususnya para kepala daerah dan petani – agar  menggalakkan maraknya komoditas jeruk. Sayangnya tidak banyak kepala daerah yang hadir dalam acara ini, bahkan sepertinya hanya Walikota Batu Eddy Rumpoko. Sehingga, pancingan yang dilontarkan panitia itu tidak menyentuh sasaran.

Lebih menguntungkan

Beberapa petani jeruk yang ditemui di Tlekung mengungkapkan, komoditas jeruk sebenarnya lebih menguntungkan dibanding padi atau palawijaya. Bahkan di daerah Jajag Kabupaten Banyuwangi, sawah yang digunakan untuk tanaman jeruk spesies siam hasilnya bisa empat kali lipat tanaman padi. ”Padahal iklim tahun ini jelek. Jika iklim baik seperti 4-5 tahun yang lalu, hasilnya bisa tujuh kali tanaman padi atau palawija. Bahkan ada yang mencapai 10 kali lipat,” ujar Sarman (45), saudagar jeruk dari Banyuwangi.

Itu tentang jeruk siam yang serumpun dengan jeruk kalimantan (Sambas) yang hidupnya cocok di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Lebih fantastis lagi keprok yang cocok untuk dataran tinggi (700-1.200 meter/dpl) seperti keprok pulung (Ponorogo), atau keprok tejakula di Bali, atau keprok batu 55 di Batu.

Tanah-tanah marginal di lereng Gunung Wilis yang masuk wilayah Kabupaten Ponorogo, dulunya nyaris tak bernilai dengan tanaman singkong. Namun tanaman jeruk keprok pulung mampu mendongkrak penghasilan petani sampai ratusan kali. Bahkan jika nasib si petani lagi mujur, hasil jeruk nyaris menyentuh seribu kali tanman singkong. Sayangnya lokasi tanaman di lereng-lereng gunung itu sebagian sangat terpencil dan sulit dijangkau, dengan speda motor sekalipun.

Jenis pamelo (jeruk besar) pun tak kalah menariknya. Ini sudah dibuktikan para petani di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, seperti yang dipaparkan Kompas terbitan 9 Juli 2002 dengan judul ”Jeruk Pamelo, Pemoles Wajah Magetan”. Dalam kontes tahun 2010 ini, varietas pamelo gulung milik Mulyono (Magetan) juga berhasil menyabet  kedudukan juara pertama dan juara ketiga. ”Padahal ini buah apitan,” ujarnya. Yang dimaksud buah apitan adalah buah yang keluar setelah musim panen raya. Posisi kedua direbut pamelo pangkep merah dari Sulawesi Selatan.

Pamelo ’madu bageng’ dari Pati (Jawa Tengah) yang pertama kali muncul dalam kontes berhasil merebut kedudukan ke-4 dan ke-5, diwakili Kelompok Tani Mandiri Kabupaten Pati. Pamelo ini juga dapat mengalahkan tanaman tebu atau singkong dalam memberikan penghasilan kepada petani. Menurut Ketua Kelompok Tani Mandiri, Ismartono (52), hasil dari tanaman jeruknya paling tidak dua kali lipat dibanding tanaman tebu pada luasan lahan yang sama. Kelebihan lain, pemasarannya transparan dan lebih mudah, dengan perawatan yang jauh lebih ringan dibanding tanaman tebu.

Merangkak sendiri

Beberapa pengakuan di atas menunjukkan bahwa tanaman jeruk menguntungkan bagi petani. Peluang pasar pun masih terbuka lebar. Masih maraknya jeruk impor di pasaran mengindikasikan masih kekurangan produksi jeruk dalam negeri. Masalah kita adalah tentang kualitas dan harga yang tidak pernah memberi kepastian kepada konsumen. Dan inilah yang menjadi peluang santernya jeruk impor masuk, dipermudah kebijakan pemerintah.

Tentang kualitas tergantung banyak faktor. Namun yang banyak dirasakan petani sampai saat ini adalah masalah sulitnya suplai pupuk, termasuk harga. Saat tanaman yang berbunga memerlukan pupuk ternyata pupuk yang dibutuhkan sulit ditemukan di pasar, sehingga pertumbuhannya tidak memenuhi standar termasuk soal rasa. Jika ada pupuk, harganya cukup mahal sehingga biaya produksi menjadi tinggi.

Ketersediaan dan pasaran pestisida pun sering mengalami fluktuasi sehingga menyulitkan para petani. Secara langsung ini dapat mempengaruhi kuantitas maupun kualitas produksi akibat pemberantasan hama yang tidak dapat dilakukan secara maksimal. Masalah yang dihadapi tahun ini juga menyangkut iklim yang tidak menguntungkan, terutama musim hujan yang berkepanjangan sehingga kualitas buah pun menurun. Akibat lebih jauh, harga jeruk di pasaran mahal karena biaya produksi tinggi, dan tentang rasa  umumnya kurang manis. Malahan beberapa jenis ketambahan rasa asam.

Khusus spesies keprok, dari 10 macam yang sudah dilepas Menteri Pertanian, hanya dua macam yang dinyatakan mengandung rasa asam, yaitu keprok siompu (manis asam) produksi Buton, Sulawesi Tenggara, dan keprok wangkang (asam manis) produksi Kalimantan Barat. Sedangkan keprok tawangmangu rasanya dinyatakan ”manis segar”, namun menurut konsumen di atas dinyatakan ”asem”, berarti kualitasnya sudah berubah (menjadi lebih jelek).

Selain masalah-masalah di atas, infrastruktur dan transportasi juga mempengaruhi kualitas buah maupun harga. Umumnya kedua hal ini terjadi pada spesies keprok yang kebanyakan tumbuh di dataran tinggi, bahkan ada yang di daerah terpencil seperti keprok pulung di Ponorogo dan keprok soE di Desa Bosen Kabupaten Timor Tengah Utara (NTT). Kondisi infrastruktur yang jelek dan jarak yang cukup jauh, dengan transportasi ”seadanya”, dapat memperjelek kualitas buah dan meningkatkan biaya angkut. Pada akhirnya harga jual pun menjadi lebih mahal.

Sampai saat ini para petani merasa dibiarkan merangkak sendiri untuk mengatasi berbagai kendala di atas. Masalah ini tidak mungkin terus-menerus berjalan jika jeruk kita mau ”menggilas” jeruk impor. Kuncinya berada di tangan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat. (J.A NOERTJAHYO, wartawan di Malang).

Catatan:

* Tulisan ini dimuat Harian Kompas tgl 9 September 2010, halaman 20.

About these ads

Responses

  1. tolong infonya faktor2 yang memengaruhi produksi jeruk…. sama teori atau badan pnlitian mna yg mengatakan bhwa bibit sama pupuk berpengaruh sma produksi jeruk manis…mhon blasannya ada proposal penlitian sdg saya olah…tp sy cari bku tntg jeruk g dapat…di web jg tdk ad.mhn bntuannya nangis

    • Lebih tepat Mas Agung cari info di Balitjetro Tlekung (Batu), atau Ditjen Hortikultura Deptan Jakarta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: