Oleh: J.A. Noertjahyo | 03/12/2010

Surga Berada di Telapak Kaki Ibu

SAYA merasa bahwa hubungan saya dengan ibu sangat akrab, saling mengasihi dan saling percaya. Saya kira juga demikian hubungan ibu dengan semua saudara-saudariku.

Khusus diri saya – menurut kakek – saya memang digadhang-gadhang (sangat diinginkan) oleh ibu dapat ”dadi wong” (menjadi manusia mandiri) dan dapat jadi teladan bagi adik-adik. Kakek yang arif bijaksana itu sering memberi nasehat saat kami satu dipan untuk tidur, agar aku selalu menghormati dan menurut kepada ibu. ”Swarga iku ana ing dlamakane ibu,” (Surga berada di telapak kaki ibu), katanya. Dan masih banyak petuah.

lain untuk dijadikan ”pegangan hidup”.

Ungkapan ”Surga berada di telapak kaki ibu” sangat populer di kalangan masyarakat (Jawa), setidaknya dalam masyarakat saya lahir dan dibesarkan. Saya merasa sangat beruntung memiliki ibu yang bijaksana, pekerja keras dalam kesederhanaannya, serta penuh kasih sayang kepada putra-putrinya. Karena itu saya selalu berusaha agar tidak sampai mengecewakan ibu, apalagi melukai hatinya.

Ibu pada pesta ulang tahun Helen

Saat saya mampu ”menampung” adik untuk sekolah di Malang, raut wajah ibu nampak sangat gembira dan puas. Kondisi sama terasa saat saya pertama kali mengendarai mobil untuk menjenguk beliau. Hal yang cukup mengherankan, biasanya ibu selalu mabuk jika naik mobil. Tetapi saat saya sudah memiliki mobil sendiri, beliau tenang-tenang saja naik mobil ini asal yang jadi sopir saya! Tidak mabuk meskipun perjalanan cukup jauh. Saya pikir, itu disebabkan ibu sangat percaya kepada saya sehingga tidak ada kebimbangan dan rasa khawatir. Secara psikologis tidak terjadi ‘gangguan batin’ yang mengakibatkan mabuk. Saya tidak tahu apakah tafsiran saya ini benar atau salah.

Ibu terasa mulai ”segan” terhadap saya karena saat menikah semua kebutuhan saya tanggung sendiri, tidak ngrepoti orangtua dan saudara. Hal ini menjadi salah satu alasan ibu untuk ”mewariskan” rumah keluarga kepada saya, selain karena putra-putrinya yang lain sudah dituntun untuk memiliki rumah. Dan hubungan ibu dengan saya sekeluarga terasa terus akrab, terlihat antara lain dalam foto yang menyertai tulisan ini.

Terlalu banyak kisah yang membahagiakan tentang hubungan saya sekeluarga dengan ibu. Tentu saja semua itu merupakan kenangan manis yang tak mungkin dilupakan, apalagi setelah ibu menghadap ke haribaan Tuhan Yang Mahakasih. Setiap keadaan memungkinkan, saya dan istri berusaha untuk menabur bunga ke pusara beliau pada hari ibu meninggal, Senin Wage, (27 Juli 1997). Foto beliau (bersama Bapak Somonadi, Dik Sri Wahyuningsih, dan Bapak RJS Siswosoemarto) kami sertakan dalam kelompok foto-foto umat yang telah meninggal dunia untuk didoakan pada setiap Senin pertama dalam bulan, di Kapel Kosayu Malang.

Kisah di bawah ini memberikan gambaran sekilas tentang hubungan saya dengan ibu, ketika pertama kalinya saya bekerja (di Bali) dan hidup mandiri, ditulis dan dimuat Harian “Suara Indonesia” Denpasar (Bali) Maret 1960 (ejaan disesuaikan):

Noertjahyo J.A.

Sebuah Pengakuan

* Untuk Ibu yang kutinggalkan

Kepergianku tanpa suatu sebab. Hanya menuruti kehendak hati dan gelombang jiwa. Hati dan jiwaku yang masih muda-hijau haus serba-serbi dunia. Ibarat baru seteguk kureguk, baru sesuap kutelan. Itu bagiku belum cukup. Sangat kurang. Dan kekurangan itulah membulatkan tekadku, menguatkan maksudku. Air mata kasih itu tertumpah. Tetapi maksudku tak tersiram padam karenanya. Meskipun Ibu mengekang dengan cumbu-rayuan, keras hatiku tak terlunakkan. Istana cita-cita kudirikan di atas bukit karang. Semua gangguan kuanggap sepi. Sesepi gurun pasir Sahara di Benua Afrika!

”Percayalah nak,” kata Ibuku, ”bahwa hidupmu yang sederhana cukup bahagia. Ibu yakin, bahagia bukan karena harta benda. Bukan! Bahagia tersembunyi dalam ketenteraman hati, kepuasan jiwa!”

”Sebenarnya Ibu, bahwa bahagia tidak disebabkan oleh harta semata-mata, melainkan terutama dalam ketenteraman hati dan kepuasan jiwa. Dan kedua hal ini tak usah memerlukan harta ribuan atau jutaan untuk memperolehnya.”

”Tidakkah kasih sayang Ibu cukup untuk mengisi kedua hal itu?”

”Lebih dari cukup Ibu. Tetapi …., kapan orang merasa bahagia jika tanpa derita? Dapatkah kita mengatakan sesuatu itu baik, jika tak ada yang jelek? Nero tak akan dikatakan kejam, seandainya semua orang seperti dia!”

”Lalu, maksudmu?” tanya Ibu disertai muka kecemasan.

”Kebahagiaanku sekarang ini akan hilang tak berbekas jika tanpa diselingi penderitaan!” jawabku pasti.

”Tetapi Ibu tak ingin membiarkan engkau menderita di rantau. Kepada siapa kau sorongkan bantal, kepada siapa kau sandarkan beban? Air mata berlinang hanya ke bantal kau tumpahkan!”

”Tuhan menyertai anaknda.” jawabku lirih.,

”Tidakkah kau cinta akan dirimu?”

”Kecintaan akan diri itulah mendorong terlaksananya cita-citaku.”

”Kalau begitu, Ibu terpaksa menurutmu. Tetapi ingatlah nak, bahwa kasih-sayangku tetap mengekangmu. Apa dayaku, meski kujerat lepas, kupalang meloncat!”

Kata-kata Ibu yang terakhir itu jelas mendengung di telingaku lagi. Percakapan tujuh bulan yang lalu itu terasa terjadi lagi. Terjadi dalam penderitaan di rantau! Dalam tumpahan air mata di atas bantal. Baru aku merasakan. Hatiku terpaksa mengakui kesalahanku terhadap Ibu. Kasih sayang yang kusia-siakan menelorkan suatu penderitaan. Derita yang ditanggungkan ke atas jiwa muda kala sebatang kara. Ke mana jiwaku berseru? Ke mana?? Hanya patung-silang tempat berberita …!

Hancurkah istana citaku? Tidak! Bahkan makin tegak berdirinya, makin kokoh menancapnya. Napoleon tak putus asa dibuang ke Pulau Elba dan Sint Helena. Begitu pun aku! Biar peluh mengalir bercampur darah, dayung tak kulepas sebelum bahtera kandas!

Dalam derita itu jiwaku mengaku dan berseru. Mengaku akan dosaku kepada Ibu dan berseru menepati janjiku di hadapan Ibu. Ananda tak memperpendek waktu disebabkan penderitaan. Ananda ingin menguji jiwa, agar masa muda yang hampa ini menjadi dewasa padat penuh berisi. Begitulah harapan ananda, cahaya terang kupandang setelah menerobos gelap-gulita!

Biarabebas, 13 Maret 1960.

NB: Penderitaan itu memberi inspirasi untuk memberi identitas “Biarabebas” pada karya tulisku.

Cinta dan hormatku kepada ibu terasa semakin mendalam setelah saya memeluk agama Katolik, yang jelas-jelas memerintahkan kita untuk menghormati orangtua. Antara lain Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus (Bab 6:1-3) menyatakan: “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”

Isi ketiga ayat itu memang sangat mengesan di hatiku, dan selalu kuusahakan untuk menerapkannya. Bukankah iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Lebih dari itu, ayat 1-3 memberi arti tersendiri bagiku, karena dapat dibaca sebagai 1 Maret,  tanggal kelahiranku.

Saya merasa – mungkin ini kurang tepat – St Paulus terinspirasi Perintah Keempat Tuhan yang diterima Nabi Musa : ”Hormatilah ibu-bapamu”.

Kini kurasa ibu-bapaku hidup bahagia di alam baka, dan saluran cintaku adalah doa yang melambung ke haribaan beliau. Terima kasih ibu, terima kasih bapak ……….

 

 

 


Responses

  1. posting menarik.. trima kasih ..

    • Tks, aq bersyukur jika bermanfaat bagi Anda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: