Oleh: J.A. Noertjahyo | 25/02/2011

Gayus-Zakheus, Bencana, dan Lugano

TULISAN ini disusun saat berita tentang Gayus menghebohkan masyarakat luas, terutama kalangan para elite yang gigih memperjuangkan penegakan hukum. Kita sangat  terkejut dan terperangah, bagaimana seorang tahanan mafia pajak ratusan milyar rupiah dapat keluar dari sel dengan mudah berkat kemahirannya membagi-bagi uang kepada beberapa oknum aparat penegak hukum. Lebih hebat lagi, dengan bekal kacamata, jaket  dan wig ia leluasa selama beberapa hari bersantai di Bali bersama keluarganya. Bahkan menonton pertandingan tenis tingkat dunia di lapangan terbuka.

Berbagi keindahan dalam kemiskinan

Uniknya, kasus petualangan seorang tahanan itu terkuak berkat jepretan foto wartawan, bukan kejelian dan kesigapan petugas intelejen. Karena itu jangan disalahkan jika ada pihak yang mempertanyakan sejauh mana kadar profesionalisme dan loyalitas intelejen kita.

Dalam situasi kemelut tahanan mafia pajak di negara kita seperti itu, Injil tentang pemungut cukai, Zakheus (Luk 19:1-10) dibaca dalam Misa Kudus hari Selasa 16 November 2010. Antara Gayus dan Zakheus terdapat persamaan, mereka berkecimpung dalam pengelolaan pajak dan cukai, setali tiga uang. Padahal rentang waktu kehidupan kedua manusia itu lebih dari 2000 tahun. Rupanya masalah cukai maupun pajak yang ”bersaudara kandung” ini merupakan kancah ”permainan uang” sepanjang masa. Wadah yang memberi ruang sangat luas bagi petugas yang tidak jujur untuk ”memainkan” peraturan guna memperoleh rezeki yang tidak menjadi haknya. Berbagai modes operandi terjadi, dari kongkalingkong sampai pemerasan dan korupsi.

Dalam bulan November 2010 Zakheus dan Gayus tampil bersamaan, keduanya seolah ”menyatu” untuk mementaskan drama perpajakan yang merupakan gudang uang. Injil mengisahkan janji Zakheus, ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.

Sedangkan dalam pemberitaan media massa dan proses peradilan tentang mafia pajak, Gayus pun membagi-bagikan hartanya kepada sekian banyak pejabat, penguasa, penegak hukum, dan mereka yang menjadi perantaranya .

Berbagi kisah kemiskinan .....

Titik tajam perbedaan kasus Zakheus dan Gayus adalah, Zakheus akan membagikan hartanya kepada orang miskin sebagai dukungan atas pertobatan terhadap  kesalahan dan dosanya. Ia mengucapkan janjinya langsung di hadapan Sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Sementara Gayus membagikan hartanya kepada para pejabat (orang-orang) yang mempunyai kekuasaan, sebagai usaha untuk menyelamatkan diri dari jeratan hukum. Antara Gayus dengan para pihak yang menerima uang suapnya tentunya juga ada janji ”penyelamatan duniawi”, baik diucapkan ataupun tidak.

Dalam kedua kasus itu mereka sama-sama ”berbagi”. Zakheus ingin kembali ke jalan yang benar sedangkan Gayus justru semakin terjerumus. Itulah perwujudan diri dua manusia dalam berbagi dengan motivasi dan tujuan yang sangat berbeda, bahkan bertolak-belakang. Kearifan yang terjadi pada zaman Zakheus tergusur dan terkubur dalam kehidupan Gayus pada zaman serba modern ini.

Dalam bencana

Naluri manusia untuk berbagai mudah tergugah saat orang lain tertimpa bencana  dan menderita. Kasus paling aktual baru-baru ini adalah banjir bandang Wasior (Papua), gempa dan tsunami Mentawai (Sumatera Barat), serta meletusnya Gunung Merapi (Jawa Tengah). Sekian banyak instansi, organisasi, dan lembaga menghimpun dana masyarakat untuk membantu para korban bencana tersebut. Dan jutaan manusia mengulurkan tangan  sebagai empati terhadap para korban dengan menyumbangkan sejumlah hartanya, baik dalam bentuk uang, makanan, pakaian, atau lainnya.

Di antara para dermawan itu terketuk hatinya dan serta-merta  mengirimkan sumbangan dari sebagian hartanya yang melimpah. Penderma lainnya menyisihkan sebagian miliknya yang pas-pasan untuk hidup keluarganya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang langsung datang ke lokasi bencana dengan membawa dan membagikan bantuannya. Mereka  dengan tulus-ikhlas mengulurkan tangan untuk membantu dan meringankan beban para korban. Dan masih banyak kelompok lain yang berbeda latar belakang kehidupannya turut memberikan perhatian dan bantuan dengan caranya masing-masing.

Ketika hati nurani berdetak ...

Para sukarelawan yang datang ke lokasi peristiwa dengan segala risikonya untuk menolong para korban baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, patut mendapat acungan jempol. Mereka bukan hanya berbagi dalam bentuk materi, namun juga memberikan hati dan dirinya kepada para korban yang ditolongnya. Dan beberapa sukarelawan justru menjadi korban. Kesejatian dirinyalah yang menggerakkan mereka untuk melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan korban, tanpa perintah atau campur tangan dari pihak lain. Inilah kearifan hidup yang terpateri dalam hati nurani setiap insan.

Karena itu sudah selayaknya pemerintah memberi penghargaan kepada para sukarelawan itu, seperti diungkapkan Presiden SBY: ”Negara berutang budi atas pengabdian yang melampaui panggilan tugas dalam penanganan bencana Gunung Merapi. Pada saatnya, negara akan memberikan penghargaam.” (Harian Kompas, 26 November 2010).

Jika kita jujur, bukan hanya sukarelawan bencana Merapi yang patut diberi penghargaan, tetapi juga dalam bencana yang lain. Misalnya bencana Wasior dan Mentawai, serta lain-lainnya.

Kondisi serupa namun tak sama adalah adalah ”bencana” yang menimpa (sebagian) masyarakat kita pada masa berlangsung ”perang kemerdekaan”. Tanpa membedakan status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan dan predikat lain yang melekat pada pribadi masing-masing, warga yang tempat tinggalnya diduduki tentara Belanda harus mengungsi ke daerah yang aman. Mereka masuk ke pedesaan yang agak terisolasi meskipun umumnya mereka tidak mengetahui  kondisi desa yang dimasuki, juga tak mengenal penduduknya. Namun penduduk setempat menerima mereka dengan tangan terbuka dan berbagi apa yang dimiliki untuk dimanfaatkan bersama, baik tempat tinggal, makanan, dan lain-lain.

Tidak sedikit pejabat yang harus memindahkan kantor dan kegiatannya ke rumah penduduk di pedalaman, dan baru kembali setelah perang usai. Ini terjadi di berbagai daerah yang dilanda perang. Setelah perang selesai dan keadaan aman, antara pejabat  dengan penduduk yang menampungnya terjalin persahabatan yang akrab. Persahabatan antar-pribadi, antar-manusia, tanpa terhalangi oleh berbagai ”predikat” yang melekat pada diri masing-masing. Tidak ada yang mempersoalkan perbedaan kulit, ras, agama, golongan, keturunan, dan sebagainya. Jurang pemisah di antara mereka terhapus, juga antara pejabat dengan rakyat (jelata). Paling tidak jurang pemisah itu dipersempit. Hidup terasa begitu indah dan semarak.

Banyak kisah pengungsian dan kegiatan ”berbagi” antara penduduk dengan pengungsi, sekaligus bersama para pejuang (gerilyawan) pada masa perang kemerdekaan tersebut. Mereka tidak saling memperhitungkan harta kepemilikan yang digunakan bersama/ Mereka menyatu sebagai saudara yang saling membutuhkan, saling memberi dan menerima. Kearifan hidup subur merebak ketika bahaya mengancam kehidupan bersama.

Pembagian sembako ......

Jika kita cermati, itulah salah satu perwujudan dari istilah ”gotong royong” yang akrab dalam masyarakat kita (dulu?). Tahun 1950-an misalnya, di desa-desa belum ada persewaan tenda dan alat-alat pesta. Jika seseorang mempunyai ”hajat” (mantu atau lainnya), masyarakat setempat secara spontan akan meminjamkan meja-kursi dan peralatan lain yang dibutuhkan. Para pemuda menjadi pladen (pelayan dalam arti pekerja sukarela) yang dengan sigap mengumpulkan peralatan penduduk ke rumah orang yang punya hajat. Mereka juga siap membantu mengerjakan apa pun yang dibutuhkan, mencari air bersih, memotong hewan, menerima tamu, dan sebagainya. Para ibu pun sejak awal sudah beramai-ramai menghimpun dan menyiapkan berbagai bahan makan yang akan dimasak, sampai memasaknya dan menghidangkannya kepada para tamu.

Namun ”budaya” itu sekarang nyaris lenyap dari kehidupan penduduk (desa), digantikan usaha persewaan peralatan pesta dan usaha katering untuk konsumsi. Kearifan berbagi penduduk sudah tergantikan kegiatan bisnis, gotong-royong berubah menjadi jual-beli, dan warga menjadi semakin individualistis. Akhirnya hal ini berujung menjadi  ”bencana” – seperti di kota-kota – banyak warga yang tidak saling mengenal dengan para tetangga di kiri-kanan dan sekitar rumahnya!

Lugano

Salah seorang yang saya ketahui banyak “berbagi” adalah Romo Francesco Lugano Pr (alm). Beliau pernah mengajari beberapa nelayan Muncar (Banyuwangi) cara menangkap ikan di Laut Selatan (Samudera Indonesia) yang dikenal bergelombang ganas. Untuk itu beliu dan nelayan yang dibimbingnya menyusuri pantai selatan, dari Muncar sampai kawasan Blitar dan Tulungagung. Dia dikenal secara baik oleh para nelayan di berbagai daerah itu, termasuk nelayan di Sendangbiru, Malang selatan. Pastor asal Italia ini kemudian juga merambah wilayah Trenggalek dan Pacitan, sehingga seluruh pantai selatan Jawa Timur dijelajahi secara tuntas. Usaha penangkapan ikan yang kemudian ditekuninya adalah pantai Prigi, Trenggalek. Bahkan di sini dia juga mengajari para nelayan setempat tentang bentuk (desain) dan cara membuat perahu yang efektif untuk menangkap ikan. Untuk itu Romo Lugano juga mendatangkan sukarelawan dari Inggris yang ahli mendesain dan membuat perahu.

Bekerja bagi si miskin ...

Lebih dari itu, Romo Lugano juga mengusahakan berbagai kemudahan bagi nelayan. Di antaranya, bekerjasama dengan militer untuk meledakkan karang di pantai Jolosutro (Kabupatren Blitar) yang dinilai membahayakan kapal yang keluar-masuk ke dan dari lautan lepas. Usahanya memang hanya menghancurkan sebagian puncak karang, dan sampai saat ini batu karang itu dikenal penduduk dengan nama Karang Lugano.

Di darat pun karya Romo Lugono banyak yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya rakyat kecil. Selama 23 tahun di daerah Blitar selatan yang tandus dan sulit air (bersih), bekerjasama dengan Lembaga Karya Dharma (LKD) Keuskupan Surabaya, membuka daerah terpencil dengan membuat atau meningkatkan kondisi puluhan kilometer jalan pedesaan dengan sistem makadam (dipadatkan dan diratakan dengan batu). Dengan cara ini jalan yang semula menjadi kubangan lumpur saat musim hujan, tetap keras dan mudah dilewati.

Di Blitar selatan khususnya daerah Mojorejo dan sekitarnya yang menjadi pusat kegiatan Romo Lugano, sampai saat ini penduduk mengenal ”petai lugano”. Itulah hasil pembagian secara gratis ribuan bibit petai (dan mangga) yang dilakukan Romo Lugano untuk meningkatkan perekonomian penduduk setempat. Dan usaha itu memang sangat menolong penduduk, sehingga nama Lugano diabadikan menjadi nama buah petai. Di Mojorejo juga didirikan gereja dan sekolah Katolik (SMP) untuk memenuhi kebutuhan umat dan masyarakat pada umumnya.

Selain di kalangan nelayan Prigi, Romo Lugano juga menjadi ”idola” buruh-buruh pemetik cengkeh di daerah Trenggalek, khususnya di sepanjang jalan dari pantai Prigi ke jalan raya Tulungagung-Trenggalek. Pemetik cengkeh yang sebagian besar ibu-ibu rumah tangga itu mengidolakan Romo Lugano karena sering ikut numpang mobilnya bersama karung-karung berisi cengkeh petikannya. ”Jika tidak dapat nunut Romo, kami harus nunggu lama untuk naik kendaraan umum, masih harus bayar lagi,” ujar seorang ibu saat kami dalam kendaraan Romo Lugano.

Tapak kaki Romo Lugano di daerah Blitar dapat ditelusuri mulai dari pantai selatan (Jolosutro) sampai lereng Gunung Kawi dan Kelud. Dia dikenal sangat luas di daerah itu, dan pernah juga dihadang musibah berupa pelemparan batu saat melintas di sebuah  jurang (jalan setapak yang diapit tebing tinggi) di Dukuh Cungkup Desa Ngrendeng, Kesamben, Kabupaten Blitar. Namun Tuhan melindunginya, dia selamat berkat keterampilannya mengemudikan speda motor ”kebo” (besar). Tapi seorang guru agama yang  diboncengnya mengalami luka dan sebuah giginya patah. Di daerah ini kemudian berhasil didirikan gereja dan menjadi Stasi Cungkup. Bahkan seorang putra dari desa ini sudah ditahbiskan menjadi seorang imam dan bertugas di wilayah Keuskupan Surabaya.

Jejak kaki itu juga masih terus ”merayap” ke atas di lambung Gunung Kawi, sampai daerah Gogoniti dan sekitarnya. Di sini pun didirikan gereja yang kemudian dikenal sebagai Stasi Gogoniti, dan salah satu tokohnya adalah seorang dalang wayang kulit bernama Petrus Samsu Gunowibowo.

Keakraban Gus Dur dan Lugano

Lugano memang lebih banyak bersahabat dengan orang-orang kecil, terutama para nelayan, petani, dan buruh tani. Namun ia juga banyak dikenal kalangan pejabat daerah sampai pusat dan beberapa menteri. Di kalangan tokoh agama lain pun kiprahnya disambut dengan baik dan penuh simpati. Lugano juga berkawan dekat dengan Gus Dur. Karena itu dalam  buku mengenang 1000 hari wafatnya, Oktober 2008, Bupati Tulungagung Heru Tjahjono antara lain menulis: “Beliau adalah salah satu figur, dari kalangan agama, yang sangat sederhana dan bisa diterima & berada di mana saja. Semoga kelak ada figur Romo F Lugano yang lain …..

Pada saat meninggalnya, ribuan pelayat memberikan penghormatan terakhir baik di Gereja Katolik Tulungagung maupun tempat persemayaman terakhir di Mausoleum Pieta dan Columbarium, komplek Gua Maria Lourdes Puhsarang, Kediri.

Romo Francesco Lugano meninggal secara tak terduga di dalam mobil yang ditumpanginya, dalam perjalanan ke rumah seorang warga Katolik di Dongko, Trenggalek, sehabis mempersembahkan Misa Kudus di rumah warga lainnya. Karena itu Romo Y Sumantri Hardja Pr, penanggung jawab buku kenangan 1000 hari Romo Lugano meninggal dunia, menegaskan bahwa Romo Lugano wafat sebagai imam, bukan sebagai nelayan atau pembuat kapal. Almarhum mempunyai pergaulan sangat luas, mengatasi batas-batas ras, golongan, agama, kelompok, dan gender.Kesibukan nelayan Prigi, Trenggalek

Contoh-contoh berbagi

Semua kisah di atas merupakan contoh-contoh konkret tentang “tindakan berbagi”  yang senyatanya, bukan karangan atau konsep yang baru disusun. Mulai dari Gayus dan Zakheus, warga masyarakat kita dalam bencana, dalam bahaya, maupun dalam situasi damai, sampai kiprah seorang pastor yang malang-melintang dalam lapisan masyarakat terbawah sampai pejabat daerah dan atasannya. Bukan hanya bicara, tetapi juga membimbing,  melaksanakan, dan memberi contoh.

Mereka masing-masing melakukan perbuatannya dengan motivasi, cara, dan tujuan yang berbeda.

Diangkatnya kisah-kisah tersebut dalam tulisan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi  bersama dalam memenuhi seruan “MARI BERBAGI MENUJU PERWUJUDAN DIRI SEJATI” yang dikumandangkan Konsorsium Pengembangan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi (KP3SE)  dalam APP Nasional tahun 2011. Semoga.***

– Catatan: Tulisan ini dimuat dalam buku “Bunga Rampai XXI, Mari Berbagi Menuju Perwujudan Diri Sejati” yang diterbitkan oleh Konsorsium Pengembangan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi” (Januari 2011), Jl. Katedral 5, Jakarta 10710.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: