Oleh: J.A. Noertjahyo | 25/02/2011

Sukses dengan Batik “Motif Sambung”

Ternyata suksesnya bisnis dapat dimulai dari desa kecil. Ini dibuktikan Antik Subagyo (45), warga Dusun Wonorejo Desa Druju, Kecamnatan Sumbermanjing Wetan, Malang selatan. Kekhususan batik yang ditekuni adalah  “motif sambung”. Sambungan  terjadi karena pakaian yang akan diproduksi terlebih dulu dijahit sesuai ukuran yang diinginkan, baru kemudian dibatik. “Dengan demikian tidak ada motif yang terputus. Jika dari lembaran kain yang sudah dibatik kemudian dijahit, pasti ada bagian motif yang terpotong,” ujar wanita lincah, ibu dari tiga anak itu.

Antik Subagyo dan produksi batiknya

Kekhususan lain batik produksinya, Antik mencipta motif sendiri, tidak mengikuti motif-motif batik (tradisional) yang sudah ada. Motif ciptaannya selalu memadukan bagian-bagian tumbuhan di alam sekitarnya dengan hewan atau makhluk lain. Seperti berbagai macam bunga, pohon, bentuk-bentuk daun, kupu-kupu, dan sebagainya. Motif-motif hasil kreasinya selama menekuni batik itu sudah lebih dari 500 macam. “Di balik motif ini ada keinginan untuk turut melestarikan alam,” kata Antik, kelahiran Solo yang lulusan STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Suarabaya tahun 1990. Saat kuliah itulah ia berkenalan dengan Edi Subagyo (46), pemuda Druju yang kemudian menjadi suaminya.

Dalam menciptakan motif baru, Antik banyak bekerja sama dengan suaminya. Ia mengakui bahwa mereka tidak selalu sependapat, sering berdebat dalam memadukan bagian motif tertentu, otot-ototan seperti orang bertengkar. Namun berkat perdebatan itu mereka bisa menghasilkan kreasi motif yang disenangi konsumen. Suaminya, Edi Subagyo memang lebih banyak menekuni usaha pertaniannya di atas tanah lebih dari 20 hektar. Terutama mengusahakan tanaman tebu dan pohon sengon. Karena itu ia mempunyai pengetahuan cukup luas tentang macam-macam tanaman.

Meskipun asli Solo, Antik mengaku bukan keturunan keluarga pembatik. Dia juga tidak pernah belajar membatik pada masa kecilnya. Namun ibunya memang pedagang batik yang sering mondar-mandir Solo-Jakarta dan beberapa kota lain. Idenya menekuni batik muncul setelah ia menikah dan tinggal di desa suaminya. ”Setelah selesai dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga saya menganggur. Maka saya coba menggambar dengan memadukan bagian-bagian tumbuhan dengan hewan di alam sekitar, kemudian menjadi sebuah motif, ”ujarnya.

Dari hasil corat-coretnya itu ia tergerak menjadikannya motif batik. Tahun 1991 ia menyerahkan motif-motif yang dibuatnya ke pembatik di Tulungagung atau Madura, untuk dituangkan dalam kain polos (blacu), kain untuk dibatik. Ternyata hasilnya memuaskan hatinya, dan digemari peminat yang ingin membeli. Pelan tapi pasti usahnya berjalan, kemudian mendatangkan pembatik dari Solo untuk melakukan proses pembatikan di rumahnya sendiri.

”Modal awalnya hanya tiga ratus ribu rupiah,” kata Antik di butik ”Andi’s” miliknya, yang berlokasi di samping rumahnya. Selain butik dan rumah, di atas tanah sekitar satu hektar itu terdapat bangunan asrama bagi karyawan, serta tempat karyawan melakukan proses produksi batik dari awal sampai siap dilempar ke pasar.

Jika awalnya hanya menampung enam karyawan, Antik sekarang memiliki sekitar 100 karyawan. Mereka terdiri dari para penggambar, pembatik, pewarna, pencelup, pembikin/pemasang payet, dan lain-lain. Dari 100 karyawan, 40 di antaranya di asrama Druju. ”Lainnya di Pekalongan, cabang yang baru kami buka tiga bulan lalu,” ujarnya.

Susah mencari karyawan

Dibukanya cabang di Pekalongan, kata Antik, karena susah mencari tenaga untuk ”diboyong” ke Malang. Masyarat kita umumnya masih senang berkumpul keluarga, paling tidak tempat tinggalnya tidak berjauhan. Tenaga dari Solo yang didatangkan adalah gadis-gadis lajang berusia di bawah 25 tahun. Mereka yang tinggal di asrama tidak dipungut bayaran, malahan mendapat makan tiga kali per hari.

Para karyawan bekerja jam 07.00-16.00 dengan istirahat makan siang. Upah harian mereka berkisar Rp 18.00 – Rp 50.000/hari, tergantuntg kemahiran dan lamanya masa kerja. Di luar jam kerja di atas mereka menerima uang lembur. ”Paling kecil karyawan bisa menerima upah Rp 1,5 juta per bulan,” tutur Antik di tengah-tengah melayani pelanggan.

Sulitnya mencari tenaga untuk ”diboyong” juga tidak bisa diatasi dengan merekrut tenaga-tenaga lokal. ”Batik memerlukan ketrampilan tertentu, dan warga di sini umumnya belum menguasainya. Bahkan juga banyak yang tidak berminat untuk mempelajarinya,” ujar Antik.

Tenaga kerja di Pekalongan cukup banyak, karena di daerah ini masyarakatnya sudah lama mengenal dan mengusahakan batik. Antik juga tidak perlu menyediakan asrama, karena mereka tinggal di sekitar tempat usahanya. Malahan beberapa di antara karyawannya adalah ibu-ibu rumah tangga.

Dua pelanggan memantas diri dengan batik Antik

”Umumnya mereka sudah terampil, tinggal mengarahkan sesuai motif-motif yang semula belum mereka kenal. Itu tidak sulit,” kata Antik. Ditambahkan, jika permintaan produksinya terus meningkat, justru cabang Pekalongan kemungkin lebih berkembang dibanding Druju.

Mungkinkah seluruhnya pindah ke Pekalongan? ”Tidak. Saya ingin mengangkat Desa Druju lewat batik, biar dikenal secara luas. Dulu desa ini nyaris tak diketahui orang Jakarta misalnya, tapi sekarang sudah dikenal luas bahkan di luar negeri,” tegas Antik yang menyiratkan pancaran idealisme.

Lama dan mahal

Proses produksi batik Antik – terutama pesanan khusus – bisa makan waktu sampai tiga tahun. Namun jika motifnya mudah dan tidak banyak warna, dapat diselesaikan dalam tiga minggu. Sampai saat ini sebagian konsumennya adalah ibu-ibu pejabat dengan jenis produksi ”sarung-selendang”, diserasikan dengan kemeja suaminya. Mereka dari berbagai kota di Jawa maupun luar Jawa, dan mengetahui batik produksi Antik dari pameran, atau gethok tular dari mulut ke mulut. Selain Jakarta dan beberapa kota besar Indonesia, ia juga pernah berpameran di Singapura, Malaysia, dll.

Harga batik sarung-selendang berkisar Rp 2,5 juta sampai Rp 8 juta, tergantung jenis bahan dan kesulitan kerja membatiknya. Penggemarnya senang karena motifnya unik dan menyambung terusan, serta kecil kemungkinan batik yang dipakainya sama motif dan warna dengan yang dipakai orang lain.

Dari usahanya itu Antik Subagyo berhasil membuka butik di Druju dan Jakarta, memiliki dua rumah dan tanah lebih dari 20 hektar.

* Catatan: Tulisan ini dimuat Harian Kompas tanggal 13 Desember 2010, halaman 42.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: