Oleh: J.A. Noertjahyo | 27/02/2011

Dokter Saleh Aldjufri: Burung Sejenis Hinggap di Satu Dahan

(Tulisan ini untuk mengenang mereka yang membantu tugas-tugas wartawan)

DOKTER Saleh Aldjufri (alm) memiliki kepribadian yang cukup unik. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu tidak berpraktek sebagai dokter, tetapi lebih banyak menggeluti bisnis dan aktif dalam oragnisasi Pepehani (Persatuan Peternak dan Pedagang Hewan Indonesia). Bahkan beberapa tulisannya tentang peternakan dimuat dalam media massa, termasuk Harian Kompas.

Saat bertemu kami sering terlibat dalam diskusi kecil tentang tulisan dalam media massa. Topiknya  macam-macam, bisa masalah politik dan pemerintahan, perhubungan (laut), sampai masalah peternakan dan impor sapi. Ia mempunyai perhatian besar tentang sosial politik, peternakan dengan segala rentetannya. Termasuk pengelolaan peternakan di Nusa Tenggara Timur. Maklum, nama “Aldjufri” sejak zaman Belanda sudah digunakan untuk trade mark kuda yang  diternakkan di daerah itu. Ia juga mengetahui secara luas seluk-beluk perhubungan laut sampai tata cara ekspor-impor dan berbagai trik di pelabuhan. Maklum, salah satu kegiatan bisnisnya adalah perusahaan EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut) yang antara lain menangani angkutan  ternak antarpulau maupun impor.

Rumah dr Saleh di Jl Jakarta Surabaya, tidak jauh dari Pelabuhan Kalimas yang menjadi pangkalan perahu-perahu Pelra (Pelayaran Rakyat).

* * *

dr Saleh Aldjufri

Perkenalan saya dengan dr Saleh melalui proses yang cukup aneh. Saat itu saya menulis berita kecil tentang semrawutnya pengurusan dokumen ekspor-impor di Tanjungperak. Atas berita tersebut dr Saleh atas nama EMKL ‘DT’ mengundang saya untuk menerima berbagai masukan serta ‘meluruskan’ pemberitaan yang menyangkut EMKL. Ternyata saya dipertemukan dengan tujuh orang, terdiri dari pimpinan EMKL dan pengurus INSA (Indonesia National Shipowners Association). Hampir semua mereka memberikan keterangan sesuai peran dan kepentingan masing-masing.

Awalnya pertemuan berjalan baik dan lancar. Namun ketika saya menanyakan benar-tidaknya ada ‘permainan’ EMKL tertentu dengan pihak pelabuhan, seorang pemilik EMKL langsung naik pitam. Saya dilarang untuk mengorek dan memberitakan ‘permainan’ tersebut. Bahkan saya ‘diancam’ akan menerima akibat buruk jika masalah tersebut dimuat dalam Kompas. Maklum, pimpinan EMKL tersebut ternyata seorang anggota ABRI berpangkat perwira menengah.

Pertemuan menjadi agak kacau. Di antara mereka sendiri timbul beda pendapat dan perdebatan. Melihat situasinya kurang menguntungkan, secara baik-baik saya minta izin meninggalkan pertemuan. Saya bersedia bertemu kembali setelah masalah intern mereka bisa diselesaikan. Saya langsung keluar ruangan sementara di antara mereka masih terjadi perdebatan yang cukup seru.

* * *

Di luar dugaan, sore itu dr Saleh ke Kantor Kompas di belakang TB Gramedia, Basuki Rachmat 95 Surabaya. Begitu saya persilakan duduk ia langsung minta maaf atas kejadian di kantornya siang itu. Dia juga menjelaskan jalannya pertemuan setelah saya meninggalkannya. Memang terjadi perbedaan tajam tentang cara-cara ‘menghadapi’ wartawan menyangkut masalah ‘permainan’ di pelabuhan. “Tapi saya tetap akan membantu dan mendukung you. Kita adalah burung sejenis yang hinggap pada satu dahan,” katanya.

Itulah pertama kali saya mendengar ucapannya tentang ‘burung sejenis’. Dan selanjutnya kata-kata itu sering ia ucapkan pada setiap kesempatan. Ternyata kemudian bahwa dr Saleh memang menjadi informan dan sumber berita yang potensial. Bukan hanya masalah-masalah  pelabuhan, tetapi juga tentang peternakan dan kehidupan masyarakat lapisan bawah. Tentu saja informasinya selalu saya sikapi dengan hati-hati, antara lain melakukan cek dan recek dengan sumber-sumber lain dan sejauh memungkin melihat kenyataan di lapangan.

Ilustrasi: Sapi-sapi tenang di kandang

Ketika ramai diberitakan tentang mafia perdagangan sapi di Madura yang banyak merugikan para peternak dan pedagang kecil, dr Saleh menghadirkan seorang pedagang dari Madura ke Kantor Kompas di Surabaya. Seluk-beluk mafia di Madura tersebut dipaparkan secara detail, termasuk terjadinya ‘pungli’ oleh kelompok mafia terhadap setiap ekor sapi yang akan keluar dari Pulau Garam itu. Setelah dilengkapi pengecekan  lapangan terutama pintu penyeberangan Ujung-Kamal, beritanya dimuat  Kompas dan menimbulkan gejolak di pasaran ternak Madura. Menurut pemantauan Pepehani yang diterima dr Saleh, situasi saling curiga terjadi dalam perdagangan sapi. Bahkan juga ancaman dan intrik-intrik dilancarkan kepada mereka yang tidak mau membayar ‘pungli’.

Foto ilustrasi: Sapi perah

Sekitar dua minggu setelah berita dimuat, dr Saleh datang ke Kantor Kompas dengan wajah sembab dan gelisah. Ia juga disertai sopir dan dua orang ‘pengiring’ yang belum saya kenal. Begitu bertemu ia langsung memeluk saya dan menitikkan air mata. “Mereka telah meninggal,” ucapnya lirih.

Setelah emosinya mereda dan bisa menguasai dirinya, dr Saleh menceritakan bahwa pagi itu menerima telepon dari Pengurus Pepehani di Madura yang menjelaskan ditemukannya dua mayat di tengah sawah daerah Sampang. Ternyata kedua mayat itu adalah anggota Pengurus Pepehani dan anaknya, yang tiga minggu sebelumnya membeberkan masalah mafia kepada kami. Saya pun sangat terkejut dan diselimuti berbagai perasaan yang tidak menentu. Rasa takut sesekali menyelinap tanpa alasan. Bahkan dr Saleh selama sekitar dua bulan selalu disertai ‘pengawal’ dan rumahnya pun selalu dijaga oleh orang-orang upahannya. Sebab ‘kekuasaan’ mafia tersebut memang cukup tangguh dan tak segan-segan melakukan kekerasan. Bahkan ada berita yang tersiar luas bahwa kelompok ini telah berani ‘menghilangkan’ seorang pengurus koperasi yang berstatus anggota ABRI.

Mafia perdagangan sapi Madura itu akhirnya ditangani yang berwajib dengan ‘mengamankan’ beberapa orang yang diperkirakan menjadi dalang maupun pelakunya.

* * *

Pengalaman unik bersama dr Saleh juga terjadi pada bulan Puasa tahun 1981. Saat itu ia ke kantor kami dan menyatakan hanya untuk main-main. Saya minta maaf tidak bisa lama-lama menemuinya karena akan segera pergi ke daerah Tandes untuk meliput masalah ladang garam. Ia tidak jadi duduk dan  langsung berkata: “Saya ikut. Pakai mobil saya saja.”

Penjelasan saya bahwa untuk peliputan itu memerlukan waktu 2-3 jam tidak menyurutkan niatnya. Bahkan ia juga sanggup mengikuti saya menyusuri tanggul-tanggul tambak garam meskipun saat itu ia sedang berpuasa.  Sekitar pukul 14.00 kami berangkat ke arah Tandes. Sampai di jalan jurusan Gresik yang dikitari hamparan ladang garam kami berhenti dan turun dari kendaraan. Dr Saleh minta kepada sopirnya segera kembali ke rumah untuk mengantarkan istrinya yang sore itu akan menghadiri satu pertemuan. Kami pun mulai menyusuri tanggul-tanggul kecil untuk menemui para pemantong (buruh tambak garam) yang sedang bekerja. Juga mereka yang sedang beristirahat dalam gubuk-gubuk ukuran kecil dan sederhana. Malahan ada yang sudah reyot.

dr Saleh Aldjufri

Dr Saleh rupanya memang termasuk orang yang sensitif dan cepat tanggap terhadap situasi yang diahadapi. Saat ada pemantong menyatakan kegelisahannya karena garamnya hancur dilanda hujan, ia langsung nyerocos mengambil-alih kelanjutan wawancara. Hal itu ia lakukan beberapa kali terhadap pemantong-pemantong yang kami temui. Terkadang wajahnya menyiratkan kepedihan mendengar ceritera pilu  pemantong yang kebingungan untuk mencari uang dalam menghadapi Idul Fitri. Setidaknya lima kali saya melihat dr Saleh merogoh kantongnya dan memberikan sekadar uang kepada pemantong yang bernasib sial.

Sekitar pukul 17.00 kami meninggalkan ladang garam. Sambil menunggu taksi untuk mengantar kami pulang, dr Saleh menyatakan sangat bersyukur bisa bertemu dengan para pemantong yang nasibnya menyedihkan itu. “Saya makin bisa menghayati makna puasa,” ujarnya. Dan hasil peliputan itu dimuat Kompas 29 Juli 1981 dengan judul “Mereka yang Merenungi Nasib Menjelang Lebaran”.

Dua alinea awal tulisan itu berbunyi sebagai berikut: “Kesibukan mulai ‘meledak’ di Kota Surabaya. Manusia berjubel di berbagai pusat perbelanjaan, menghitung uang dan memborong bermacam-macam barang untuk Lebaran. Senyum dan tawa mewarnai ratusan ribu wajah yang berkesempatan menikmati kebahagiaan hidup. Tapi di pinggiran kota itu, ribuan wajah masih bermuka sendu. Nasib malang merajam ladang-ladang garam yang terus diguyur hujan. Tak ada sejumput garam yang bisa dipanen, dan para ‘pemantong’ yang telah membanting tulang hampir dua bulan hanya bisa menggigit jari. Hutang telah menumpuk. Biaya hidup sehari-hari pun susah. Bagi mereka, kebahagiaan pesta Idul Fitri hanya fatamorgana, sesekali menjilma untuk kemudian menguap lagi bersama air laut yang tak meninggalkan garam. Dan mereka hanya meratapi nasib menjelang Hari Lebaran.

Setelah membaca tulisan tersebut dr Saleh menyatakan tak kuasa membendung air matanya. Hati nuraninya tersentuh untuk bisa berbuat lebih banyak dalam menolong mereka yang terlilit kepedihan. Maka ia pun menghubungi beberapa pengusaha kenalannya untuk menghimpun  bantuan. Ada beras, pakaian dan kebutuhan lain untuk merayakan Idul Fitri. Jumlahnya memang tak memuaskan bagi sekitar 8.000 pemantong di kawasan Tandes. Namun tetesan kasih sayang itu bisa sedikit membangkitkan semangat mereka yang nyaris tenggelam di ladang garam.

Suatu saat saya diajak dr Saleh melihat panen bandeng di Gresik. Kami masuk ke daerah pertambakan dan menyaksikan para petani ikan sibuk menjaring bandeng-bandeng yang mereka ternakkan. Luar biasa, suatu pemandangan yang cukup mengasyikkan. Tidak terasa kami satu jam lebih menyaksikan kegiatan para petani tambak tersebut. Dr Saleh juga membeli beberapa ekor bandeng yang berhasil dikumpulkan anak-anak dari ceceran panen di sana-sini. “Kasihan ……,” jawabnya ketika saya tanya untuk apa membeli sekian banyak bandeng itu. Dengan alasan yang sama ia juga membeli rujak yang dijajakan seorang pedagang wanita tua di pinggiran tambak itu. Dan ia memakannya dengan lahap, sampai-sampai saya hampir tak percaya menyaksikan perbuatan dokter yang nampaknya tak peduli pada kaidah higienis. Dengan agak ragu-ragu saya terpaksa mengikuti jejaknya untuk makan rujak yang kebersihannya meragukan itu!

Masih banyak kisah tentang dr Saleh, ‘burung sejenis’ yang secara ikhlas mendukung tugas-tugas wartawan (Kompas) di Surabaya. Ia mencintai hidup dan kehidupan orang lain, rela berbagi dalam suka dan duka. Kami tidak pernah mempersoalkan status dan tugas profesi masing-masing. Bisa saja berita-berita Kompas bermanfaat bagi kegiatannya di bidang lain. Namun kegiatan dr Saleh juga banyak yang berguna dalam pemberitaan Kompas tanpa menggoyahkan kemandirian masing-masing. Dan gabungan kegiatan tersebut ternyata juga tidak sedikit yang bermanfaat bagi orang lain, terutama mereka yang mengalami penderitaan. Kami coba  untuk membangkitkan harapan pada saat mereka yang terhimpit kemiskinan dilanda kecemasan.

* * *

Adakah ‘burung sejenis’ lain yang mendukung tugas saya sebagai  wartawan? Banyak. Sebut saja Gubernur Jawa Timur Soenandar Prijosoedarmo yang menjadi partner baik sekaligus sumber berita potensial bagi para wartawan. Demikian juga Soeprapto saat menjabat sebagai Bupati Nganjuk dan Pembantu Gubernur di Malang, kemudian sebagai Gubernur Bengkulu, serta H Hudan Dardiri saat menjabat Bupati Jombang. Dari kalangan militer, Letkol (CPM) Drs Moehadji Widjaja yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Malang dan kemudian menjadi Walikota Surabaya, merupakan kawan baik wartawan. Saya pun bersahabat dengan Kol (CPM) RF Moedjiono, Oditur Militer RGP Soerojo SH dan Mayor Mendrofa SH yang banyak mendukung tugas-tugas wartawan dan siap membantu bila menghadapi kesulitan terkait dengan tugas profesi. Dalam bidang perkebunan dan pertanian, ada John Vermeer yang sangat berobsesi untuk kebangkitan industri gula,  Dharyono Kertosastro dan Ir Mudrig Yahmadi yang kesehariannya menggeluti komoditas kopi dan tanaman keras lainnya.

Khusus dalam industri gula dan yang terkait dengan tataniaganya, cukup banyak birokrat/profesional dan pedagang yang memberikan bahan-bahan pemberitaan. Terutama John Vermeer, R Soemitro Hadimidjojo (Dirut PNP XX/Gula saat itu), beberapa rekan Apegti (Asosiasi Pedagang Gula dan Tepung Terigu Indonesia), karyawan Dolog (Depot Logistik) Jawa Timur, dan beberapa tokoh petani maupun koperasi.

Kemudian F Soeharto (Semarang) dan JP Soegiarto Prajogo (Malang), keduanya pernah menjabat Ketua Umum GAPPRI (Gabungan Pengusaha Pabrik Rokok Indonesia),  sangat membantu dalam mengkritisi industri rokok maupun nasib petani tembakau dan cengkeh. Demikian pula F Waluyonegoro SH yang saat itu menjabat Sekjen Gaperoma (Gabungan Perusahaan Rokok Malang). Lalu Soekardi Djacaria yang memiliki obsesi tinggi dalam membangkitkan kejayaan ‘java kapok’ (kapuk randu), banyak memberikan bahan dan wawasan tentang komoditas tersebut, serta bersikap partsipatif namun sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah. Sedangkan Soedjono Hamidjojo saat menjabat Kanwil Perhubungan Jawa Timur, dengan etikad baik ‘menyelundupkan’ saya dalam rapat dinas yang mendengarkan berbagai laporan dari instansi-instansi yang dibawahinya. Hal serupa juga dilakukan F Soeharto dalam rapat GAPPRI di Semarang saat terjadi heboh tentang iklan rokok dan kekisruhan dalam keanggotaan organisasi itu.

Warga Malang senior, dokter gigi Oei Boen Thong, pencinta lingkungan hidup dan dan ketertiban bermasyarakat, banyak memberikan bahan tentang Kota Malang ‘tempo doeloe’. Kota ini pada zaman Belanda memiliki banyak taman yang tersebar di berbagai penjuru kota, dipenuhi berbagai jenis pepohonan indah dan aneka bunga sehingga memperoleh julukan sebagai ‘Surganya Jawa Timur’. Beliau merupakan dua sejoli dengan pemilik Studio Malang, Ong Kian Bie, yang secara rajin dan rapi mengoleksi begitu banyak foto-foto kuno tentang Kota Malang dan sekitarnya. Semuanya merupakan kelengkapan kisah yang sering dituturkan mantan Walikota Malang, Koesno Soeroatmodjo. Sedangkan Tan Hong Bok alias Jauhari Pranaya, selain keluarganya merupakan pencinta tari-tarian Nusantara juga banyak memberikan pengetahuan tentang pabrik rokok (kretek) dan berbagai kegiatan sosial.

Masih banyak lagi ‘burung sejenis’ yang sama-sama hinggap pada satu dahan dengan saya, namun karena berbagai alasan tak mungkin saya sebutkan semuanya.  Saya sangat berterima kasih kepada semua beliau itu, orang-orang yang berani menegakkan kebenaran ketika terjadi kesesatan. Saya yakin amal kebajikan beliau mendapat imbalan yang layak dari Tuhan Yang Maha Kasih, baik di dunia maupun di akhirat.

Catatan: Tulisan ini merupakan bagian dari konsep buku ”Tapak Kecil di Kompas, Antara Pena dan Pistol” (Penerbit Dioma, 2007) yang ”terkena sensor”.


Responses

  1. Oh pak alm dr saleh aljufri itu kakek saya

    • Sdr Muhamad, dr Saleh Aldjufri teman baik saya saat di Surabaya. Beliau saat itu tinggal di Jl Jakarta 2 (?), aktif di Pepehani Jatim dan berbagai kegiatan bisnis. Saya sebagai wartawan Hr Kompas, beliau banyak memberikan “masukan” kepada saya. Tahun 1983 saya pindah ke Jakarta namun kami tetap bersahabat. Terima kasih perhatiannya, dan kini kita berkenalan. Salam dari sahabat kakekmu.

    • Email yahoo saya hanya untuk Blog, email lain: janoert@gmail.com. Tks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: