Oleh: J.A. Noertjahyo | 05/03/2011

Ketika Sang Pacar Hamil …

Ada yang bilang, jarak antara cinta dan benci hanya selembar rambut. Barangkali kasus pembakaran pacar yang terjadi di Kota Malang merupakan salah satu buktinya. Rasanya susah dimengerti bahwa setelah sekian lama berkasih-kasihan, sekian lama saling menikmati indahnya cinta, tiba-tiba situasi berbalik menjadi benci. Mungkin benar bibit kebencian itu muncul dari sikap ibu si lelaki yang tidak menyetujui hubungan mereka. Tapi kemungkinan yang tidak terungkap, benci juga bisa muncul dari penyesalan. Menyesal karena sebagai putra “bos” kok mencintai karyawan toko orangtuanya. Apalagi hubungan yang sampai melampaui batas itu ternyata mengakibatkan kehamilan sang pacar. Ataukah cinta si lelaki hanya melekat di bibir untuk memikat si dara agar bisa “dinikmati”? Bisa jadi. Dan setelah keinginannya kesampaian dan menimbulkan “aib”, si lelaki langsung melarikan diri dari tanggung jawabnya. Yang ada sebenarnya bukan cinta, tetapi nafsu.

Ilustrasi: Lawakan "Pacar Hamil"

Berbagai dugaan itu merupakan spekulasi beberapa pengunjung sidang di Pengadilan Negeri Malang yang mengadili perkara “membakar pacar yang hamil”. Selain menilai si lelaki yang “keterlaluan”, persidangan itu memunculkan beberapa kejanggalan sehingga banyak pengunjung yang tidak puas. Pengacara terdakwa sendiri berpendapat kasus ini masih tetap merupakan misteri dan belum tuntas terungkap.

Sidang pertama pengadilan tentang pacar yang hamil dan dibakar itu diberitakan Kompas tanggal 15 November 1971. Judulnya: “Dituduh Membakar Pacarnya yang Sedang Hamil 6 Bulan”. Isi beritanya sebagai berikut (nama dan tempat dipersingkat):

T (22 tahun) pemuda dari Kl  tanggal 13 Nopember yang lalu diajukan ke muka sidang Pengadilan Negeri Malang karena dituduh dengan sengaja membakar pacarnya yang sedang hamil 6 bulan. Menurut Jaksa Penuntut Umum Santoso, terdakwa pada tanggal 21 Maret 1960 sekitar jam 02.30 lewat tengah malam di rumah saksi utama di  Malang dengan sengaja dan telah direncanakan lebih dulu menyiramkan bensin ke tubuh pacarnya (saksi) dan kemudian membakarnya.

Akibat perbuatan terdakwa itu sebagian tubuh saksi mendapat luka-luka bakar yang mengakibatkan cacat seumur hidup.

Mendengar dakwaan tersebut terdakwa dengan keras menyangkalnya. Waktu itu atas panggilan orangtua pacarnya, T ke Malang untuk merundingkan perkawinan mereka sebab si pacar telah hamil 6 bulan.

Atas permintaan keluarga pihak wanita, T menginap di rumah dan tidur sekamar dengan pacarnya. Berhubung lelahnya T segera tertidur, kemudian terbangun karena pacarnya berteriak-teriak dan dilihatnya ada api menyala di tubuhnya.

T mengambil (selimut) untuk berusaha memadamkan api tersebut, dan pada saat itu telah masuk pula orang-orang lain yang membawa ember untuk memadamkan api. Setelah api padam T membawa pacarnya ke rumah sakit untuk berobat dan kurang-lebih mendampinginya selama dua setengah bulan sampai penderita sembuh. Pada waktu itu perkawinan mereka dilangsungkan dan tak lama kemudian bayinya lahir.

Menurut terdakwa, setelah kejadian itu ia pulang ke Kl dan tak pernah mengunjungi anak-isterinya, sampai akhirnya ia diperiksa polisi berhubung perkara di atas.

Atas pertanyaan, terdakwa tidak mengetahui dari mana datangnya api yang membakar tubuh tunangannya. Sewaktu akan tidur ia hanya mencium bau obat nyamuk, tapi tak tahu di mana tempatnya. Kemudian ia mendengar pacarnya menerangkan kepada dokter kalau asal-mula kebakaran itu dari kasur yang terbakar, tapi T yang bermaksud mengambil air untuk memadamkannya keliru mengambil bensin.

Terdakwa didampingi pengacaranya Buddi Tedjamulia SH, sedang hakim majelis diketuai oleh Pieter Purba SH dengan anggotanya A. Bantah SH dan Fadeli BA. Untuk mendengarkan keterangan para saksi sidang ditunda sampai tanggal 2 Desember 1971.

Ilustrasi: Pagi yang romantis

Berita sidang berikutnya berturut-rurut dimuat Kompas 7 Desember 1971, dengan judul: Perkara Pacar yang Dibakar: “Dia Membakar Saya Untuk Membela Ibunya”, tanggal 31 Januari 1972, dengan judul: “Perkara Pacar Yang Dibakar: Pintu Kamar Calon Mertua Diikat Dari Luar”, tanggal 7 Februari 1972  dengan berjudul: Perkara Pacar yang Dibakar: Ibu Korban Protes Keras Pada Majelis Hakim.

Perkara ini ternyata tetap mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat. Baik mereka yang mengikuti pada sidang pengadilan maupun yang cukup puas dengan membaca berita di koran. Berita sidang lanjutannya dimuat Kompas tanggal 3 Agustus 1972 dengan memaparkan tuntutan Jaksa. Judulnya: Dituntut 3 Tahun Karena Membakar Pacar.

Sidang yang menjatuhkan vonis perkara ini dilaksanakan tanggal 21 Desember 1972, beritanya dimuat Harian Kompas tanggal 26 Desember 1972 dengan judul: Dihukum 2 Tahun, Karena Membakar Pacar Yang Hamil.

Banyak pengunjung sidang, tertama beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum menilai bahwa persidangan perkara di atas tidak tuntas, tidak berusaha menggali berbagai hal yang masih gelap atau misterius, dan kurang serius menggali berbagai hal dalam mencari kebenaran materiil. Bahkan beberapa orang merasa heran terhadap tuntutan jaksa yang begitu rendah, hanya 3 tahun penjara untuk perbuatan yang mereka nilai “sadis”. Lebih heran lagi majelis hakim justru menjatuhkan vonis yang lebih rendah dibanding tuntutan jaksa, 2 tahun penjara.

Catatan: Kasus ini mungkin bermanfaat bagi mereka yang sedang berpacaran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: