Oleh: J.A. Noertjahyo | 11/03/2011

Si Miskin “Dipermainkan” Keadilan

Mohon maaf, ada kerusakan/eror komputer sehingga tulisan “Si Miskin ….dst” (ini dan sebelumnya) tidak lengkap, dan terganggu isinya. Wass. not.

 

Prolog: Kasus di bawah ini terjadi sekitar 30 tahun yang lalu, namun sampai sekarang masih sering terjadi hukum dipelintir dan dikalahkan oleh kekuasaan dan atau kekayaan. Si kecil yang lemah dan miskin tidak berdaya dalam negeri yang berazas “negara hukum”.

* * *

TULISAN di bawah ini menggambarkan ketidak-berdayaan orang kecil dalam menghadapi kekuasaan dan kekayaan. Mereka ibarat debu di mata kekuasaan dan nyaris seperti sampah berhadapan dengan orang-orang kaya. Hukum juga tidak berpihak kepada mereka karena banyak di antara aparat penegaknya merupakan bagian dari kekuasaan, dan sering menutup mata terhadap nasib si lemah dan miskin. Gencarnya publikasi yang mirip propaganda (saat itu) tentang pelaksanaan peradilan yang “cepat dan murah”  lebih banyak hanya sebagai slogan kosong yang justru ‘menindas’ orang-orang kecil. Tragisnya lagi, para pihak yang sebenarnya bisa meringankan beban orang-orang kecil justru seperti mempermainkannya dengan menjadi minimalis dalam sentuhan kemanusiaan. Masalah bisnis dan sosial terkadang memang bersimpang jalan, bahkan ada yang berbenturan secara telak. Lalu siapa yang salah?

Tulisan “Kasus Tabrak Roboh” di bawah ini dimuat Harian Kompas tanggal 1 November 1982, menggambarkan nasib buruk yang dialami oleh orang-orang kecil yang miskin dan lemah tanpa ada uluran tangan memadai dari para pihak yang sebenarnya bisa banyak berbuat.

Rangkaian Kasus “Tabrak-roboh” di Nganjuk:

Adakah Keadilan bagi Si Kecil di Pnggir Jalan?

BANGUNAN kecil di pinggir jalan raya itu merupakan tempat berteduh bagi Armuji sekeluarga. Sekaligus merupakan sumber kehidupan mereka, meskipun kegiatan reparasi dan penitipan speda itu tiap harinya cuma menghasilkan 500-1000 perak. Dengan pendapatan ini Armuji harus menghidupi enam manusia: seorang istri, empat anak dan dirinya, sekalipun Desa Baron yang terletak di pertengahan Nganjuk – Kertosono tidak menuntut biaya hidup setinggi kota-kota besar.

Satu-satunya sumber kehidupan Armuji yang rapuh itu pun kini telah musnah. Bus ‘Pemudi Express’ milik pengusaha di Malang menyeruduknya tanpa kompromi pada suatu hari Sabtu penghujung akhir tahun 1981. Sejak Sabtu kelabu itu, Armuji kehilangan satu-satunya tempat berteduh yang sekaligus sumber penghasilannya. Ia sekeluarga terpaksa numpang hidup di rumah Kasdiyo, seorang famili yang kehidupannya juga sarat dengan kemelaratan. Naluri kemanusiaan telah menyatukan mereka dalam satu lembah penderitaan.

Beban semakin berat. Otot-otot yang membentang di sekujur tubuh Armuji tak mampu lagi memikulnya. Terpaksalah ketiga anaknya ‘dititipkan’ pada nenek di Desa Malangsari, kurang lebih 10 kilometer selatan Baron. Sekolah ketiga anak yang masih duduk di kelas 6, 4 dan 2 SD itu pun terpaksa dipindahkan pula, mendekati tempat tinggalnya yang baru. Dan Armuji bersama istrinya, Sarti, setiap kali juga harus mondar-mandir untuk bertemu dengan ketiga anaknya yang hidup terpisah. “Ngrekaos sanget, ning dos pundi malih?”, (Sungguh menderita, tapi bagaimana lagi?) keluh Sarti sambil membelai anak terkecilnya yang tertidur di gendongan.

* * *

KORBAN tabrak-roboh ini bukan hanya Armuji. Terungkap dalam sidang pengadilan, dua rumah roboh dengan isi hancur berantakan, dan sebuah rumah lainnya miring. Kebinalan ‘Pemudi’ bertubuh besi itu juga mengakibatkan dua orang menderita luka parah, speda motor dan dua speda genjot yang sedang diparkir rusak, dan lain-lainnya.

Ny Edi termasuk korban yang memilukan. Kematian suaminya secara mendadak tahun sebelumnya masih membekas pedih. Tiba-tiba saja Sabtu naas itu warungnya tergusur roboh dan anaknya Syaiful, menderita luka parah. Meskipun luka-luka Syaiful sembuh setelah sekian lama menggeletak di rumah sakit, namun ia harus menderita cacat seumur hidup.

“Sial menimpa keluarga kami secara bertubi-tubi,” kata Hasyim, anak tertua Ny Edi. Keluarga ini pun sedang dilanda keresahan karena rumah kontrakan yang dihuninya hampir habis waktunya. Padahal warung yang dulunya menghasilkan uang itu kini tinggal puing-puing penyebar kepedihan.

Derita Armuji dan Ny Edi masih dipertajam dengan berlarut-larutnya proses peradilan kasus ini. Sampai 6 Oktober lalu telah 17 kali (!!) sidang dilakukan. Namun keputusan belum juga jatuh. Apa pun sebab keberlarutan itu, akibatnya semakin menindih korban yang hidupnya semakin merana. Berupa beban mental dan repot mondar-mandir untuk memenuhi panggilan sidang, ditambah biaya transpor Baron-Nganjuk dan minum sekedarnya tiap kali sidang yang jumlahnya sekitar Rp 1.000/orang.

Lajeng yotro saking pundi?” (Dari mana uang itu diperoleh?), ucap Sarti lirih.

* * *

NASIB buruk dan penderitaan korban telah diketahui banyak pihak, termasuk salah satu fraksi di DPRD Nganjuk yang pernah mengangkatnya ke forum sidang paripurna. Cukup menarik untuk diperbincangkan dan didengar. Tetapi adakah uluran tangan secara nyata dan usaha penyelesaiannya secara serius?

Pengusaha bus “Pemudi Express” telah menawarkan bantuan untuk memperbaiki rumah Armuji dan Ny Edi sebesar Rp 500.000. Jumlah ini ditentukan sesuai dengan nilai kerugian yang ditaksir oleh dua karyawan perusahaan tersebut. Tetapi kedua korban menolaknya, dengan alasan jumlah kerugian yang diderita jauh lebih besar. Menurut perhitungan yang disahkan Pamong Desa setempat, kerugian kedua korban mencapai sekitar Rp 3,2 juta.

“Sekarang persoalannya kami serahkan kepada Organda,” kata Achyad Suwandi, karyawan “Pemudi Express” yang diserahi majikannya untuk urusan ganti rugi tersebut. Ditambahkan, pihaknya jadi segan berurusan karena ada “pihak lain yang turut campur”.

“Kami hanya menerima laporan, tidak diberi mandat. Berkas masalahnya pun tidak lengkap,” kilah Abubakar, Sekretaris Organda Jatim tentang penyelesaian ganti rugi tersebut. Seandainya Organda diberi mandat, katanya, tentu segera mengambil langkah pendekatan dengan para korban untuk menyelesaikannya.

Maka terkatung-katunglah soal ganti rugi ini dan kedua pihak tidak pernah saling mendekati. Usaha Ketua DPRD Nganjuk (yang kebetulan masih ada hubungan famili dengan korban), Paiman Hadinoto, rupanya sudah dicurigai pihak lain berdasarkan praduga yang tidak jelas. Persoalan menjadi mandek, sementara korban terus menderita.

* * *

ADAKAH keadilan bagi si Kecil dalam kasus ini? Kita memang hidup dalam dunia modern yang dihiasi dengan semaraknya pengagungan hak-hak azasi manusia. Dan menurut konsensus, Republik kita ini adalah Negara Hukum. Tapi formulasi ilmiah yang “dakik-dakik” itu pelaksanannya belum menyentuh rasa keadilan yang mendekam dalam sanubari Armuji.

Baginya lebih nyaman mendengarkan kisah-kisah peradilan yang ditangani Nabi Sulaeman. Sebab semua keputusan yang diambil terasa lebih srek dengan suara hati nurani setiap orang, tanpa membedakan pangkat, derajat maupun kekayaan.

Dunia kita memang bukan dunia Nabi Sulaeman. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tak ada lagi tolok ukurnya, termasuk setumpuk undang-undang yang diciptakan kaum cerdik pandai. Tapi apakah arti semua kemajuan itu bila nilai hakiki kodrat manusia justru digerogoti?

Teknologi boleh berkembang, ilmu pengetahuan boleh melejit, namun rasa keadilan yang bersifat universal takkan bergeming dari fondasinya. Masalahnya, mampukah hukum dan para penegaknya menggapai keadilan itu? (J.A. Noertjahyo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: