Oleh: J.A. Noertjahyo | 18/03/2011

Bengkel Ketok Magic (1)

SEKITAR 30 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1972/1973, saya sudah keluar-masuk bengkel pertama ‘ketok magic’ di Blitar. Pemilik dan pengasuhnya adalah Pak Turut. Bengkel itu kemudian menyebar ke berbagai penjuru dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan nama ‘Teter Magic’. ‘Kenteng Magic’, ‘Kenteng Teter’ atau lainnya. Namun hampir semuanya mencantumkan keterangan ‘dari Blitar’ atau ‘asli Blitar’. Ini memang mendompleng ketenaran bengkel Pak Turut.

Saat itu saya bekerja pada sebuah perusahaan asing. Semua aset perusahaan, termasuk semua kendaraan bermotor, diasuransikan dengan kondisi all risk. Bahkan ada beberapa jenis risiko khusus yang harus ditutup dengan premi ekstra, misalnya risiko huru-hara, gempa bumi, hubungan pendek arus listrik, dan sebagainya. Manajemen perusahaan tidak mengenal hal-hal yang berbau ‘klenik’ atau ‘magic’. Namun khusus soal perbaikan bodi mobil (selain mesin) akhirnya perusahaan juga menggunakan bengkel milik Pak Turut. Ini dilakukan setelah ada kesepakatan dengan perusahaan asuransi IP yang menjadi langganan perusahaan.

Foto ilustrasi: Toyota Corolla

Perusahaan asuransi itu awalnya juga menyatakan tidak bisa membayar klaim untuk perbaikan di bengkel Pak Turut. Masalahnya, bengkel ini tidak pernah memberikan kuitansi biaya perbaikan maupun rincian bagian-bagian yang diperbaiki. Namun petugas asuransi tertarik dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding bengkel biasa. Akhirnya kami berkompromi. Saat sebuah mobil mengalami kecelakaan, kami bersama-sama ke sebuah bengkel yang bonafide di Kota Malang untuk meminta taksasi biaya perbaikan. Hasilnya harus membayar ‘X’ rupiah dengan plus-minusnya 10 persen.

Foto ilustrasi: Suzuki X-OVER

Setelah itu kami bersama petugas asuransi IP ke bengkel Pak Turut. Di sana sudah ada sekitar tiga mobil yang antre, padahal waktu masih menunjukkan pukul 07.15. Dengan sabar kami antre, dan sekitar satu jam kemudian mobil mendapat giliran diperiksa Pak Turut. Ia menanyakan sebab terjadinya kerusakan, kapan, sudah ditangani orang (bengkel) lain atau belum sambil melihat-lihat dan meraba beberapa bagian yang penyok. Sekitar 20 menit kemudian Pak Turut langsung menentukan jumlah biaya perbaikan, dan  disambut petugas asuransi dengan tercengang. Sebab biaya yang diminta hanya sekitar sepertiga dari taksasi bengkel di Malang. Dan lebih mengejutkan lagi bahwa mobil bisa selesai hari itu juga. Padahal bengkel di Malang tersebut minta waktu satu minggu!

Saat itu juga pihak asuransi setuju perbaikan di bengkel Pak Turut. Soal kuitansi dan administrasi lainnya kita sepakati berdasarkan ‘kepercayaan’ karena sama-sama diuntungkan. Pihak asuransi bisa membayar lebih murah dibanding perbaikan di bengkel biasa, sedangkan perusahaan bisa cepat menggunakan lagi mobilnya. Cara ini masih berjalan ketika saya keluar dari perusahaan tersebut, dan entah berapa puluh mobil yang telah diperbaiki Pak Turut. Maklum, perusahaan tempatku bekerja ini memasarkan produknya hampir ke seluruh wilayah Indonesia dengan mengoperasionalkan sekian banyak kendaraan yang asuransinya berpusat di kantor Malang.

Berdasarkan pengalaman di atas kemudian saya menulis bengkel Pak Turut untuk Kompas. Redaktur Daerah saat itu, Rekan Azkarmin Zaini, rupanya heran dan ragu-ragu atas isi tulisan tersebut dan menelepon tentang kebenaran isinya. Setelah saya jelaskan panjang-lebar dan bila perlu dengan bukti-bukti serta kesaksian mereka yang pernah menggunakan jasa bengkel itu, akhirnya tulisan dimuat tanggal 2 Mei 1977. Selengkapnya seperti di bawah ini:

Foto ilustrasi: Suzuki Forsa

Pak Turut, Bengkel Mobilnya Dianggap Ajaib

* Penghasilan buruhnya di atas Rp 100.000 sebulan.

SEPERTI umumnya penduduk desa, dia sangat sederhana dan polos. Namanya pun singkat dan sederhana: Turut. Rumahnya di Desa Bangsri, lebih-kurang 7 kilometer sebelah utara permandian Sumber Udel Blitar, Jawa Timur. Usianya hampir mencapai 70 tahun, namun masih kelihatan kekar dan sehat.

Masyarakat selalu menghubungkan Pak Turut dengan bengkel mobilnya yang dianggap ‘ajaib’. Keajaibannya terletak pada cara memperbaiki mobil, yang berbeda dengan bengkel-bengkel pada umumnya. Para tetangga dan para langganannya selalu menganggap Pak Turut mempergunakan ‘ilmu kebatinan’ dalam memperbaiki mobil. Banyak hal yang tak masuk akal bisa terjadi.

* * *

JIKA para langganan hanya terdiri dari mereka yang percaya pada hal-hal ‘ajaib’ atau terbatas pada mereka yang ‘sealiran’, kiranya Pak Turut tak akan begitu menarik. Soalnya menjadi lain karena langganan Pak Turut boleh dikatakan dari segenap lapisan masyarakat. Mereka datang bukan soal percaya atau tidak percaya, namun dengan perhitungan bahwa mobil yang rusak akan menjadi baik. Dan yang lebih penting, perbaikan itu hanya memakan ongkos yang relatif murah. Rata-rata hanya sekitar 50% dari ongkos yang ditaksir oleh bengkel-bengkel biasa.

Dalam wawancara dengan Kompas, Pak Turut menyatakan mempunyai langganan dari berbagai kota, baik Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Jawa Barat. Bahkan katanya ia pernah memperbaiki mobil milik orang luar negeri.

Pengakuannya ini rupanya bukan omong kososng. Dalam kunjungan beberapa kali ke sana Kompas sempat melihat mobil dengan nomor polisi Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Yogya dan lai-lain. Bahkan di antaranya terdapat mobil milik perusahaan asing yang berstatus PMA (Penanaman Modal Asing). Katanya, perusahaan ini sudah lebih dari sepuluh kali datang memperbaiki mobilnya di situ.

* * *

Foto ilustrasi: Suzuki X-OVER

BENGKEL Pak Turut bukan merupakan bengkel serba lengkap. Ia hanya khusus mengetok bagian-bagian mobil yang rusak, yaitu meratakan kembali bagian yang penyok atau melesak karena kecelakaan, misalnya. Keistimewaannya, bagian yang diketok ini catnya tidak mengelupas dan plat-nya pun tidak mengembang.

Jika bengkel biasa yang melakukannya, cat ini terkelupas akibat kena pukulan palu-palu besi.

Ada keistimewaan lain. Seperti bagian depan VW-Combi, umumnya terdiri dari empat plat rangkap. Jika bagian luar yang melesak, untuk memperbaikinya harus melepas dulu ke-4 plat tersebut, baru dipukuli bagian yang melesak. Tapi Pak Turut tidak pernah melakukan demikian. Dan bagian yang melesak bisa pulih seperti semula. Konon hanya dengan cara ‘simsalabim’ meraba-raba bagian yang rusak. Seorang ahli ketok pun geleng-geleng kepala melihat hasil perbaikan tersebut. Tidak masuk akal tanpa dibongkar dulu, rusaknya dapat diperbaiki!

Keistimewaan lain adalah bahwa tidak seorang pun boleh melihat perbaikan yang dilakukan. Jika mobil telah masuk bengkel berpagar bambu, si pemilik dan orang-orang lain yang bukan pekerja harus menyingkir jauh. Si pemilik akan dipanggil seorang petugas, bila perbaikan mobilnya telah selesai.

Keistimewaan lain lagi, biaya perbaikan selalu diberi embel-embel ‘syarat’. Misalnya Rp 1.002,50 atau Rp 27.007,50. Tidak pernah ada ‘angka bulat’ ratusan atau ribuan. Angka seringgit (dua setengah rupiah) atau tiga ringgit (tujuh setengah rupiah) selalu menjadi ‘ekor’ jumlah biaya yang harus dibayar.

* * *

DALAM pembicaraan dengan Kompas Pak Turut mengaku tidak mempergunakan ‘ilmu apa-apa’ dalam pekerjaannya. Ekor biaya yang aneh itu katanya karena menghitung selalu harus mulai dari angka kecil. Waktu bekerja tak boleh dilihat orang lain, katanya agar tidak terganggu.

Jawaban semacam ini memang masuk akal, namun tetap merupakan suatu ‘keanehan’ bagi orang lain. Rasanya Pak Turut memang belum mau berterus terang, hanya bersikap ‘rendah hati’ sebagaimana layaknya sikap orang-orang kita di pedesaan.

Ilustrasi: Gaya anak bethik

Dia mengaku lahir tahun 1908 dan pada tahun 1932 sudah menjadi tukang memperbaiki jam/lonceng. Dia pernah menjadi tuikang kayu, pandai emas, tani, tukang sepeda dan akhirnya mulai karier memperbaiki mobil sejak tahun 1956.

Semua kepandaian dan ketrampilan yang dimiliki katanya tidak pernah dipelajari dari orang lain. Dia hanya memperhatikan dari barang-barang itu sendiri dan diteliti serta dipelajari sendiri. Kesan Kompas, dia memang mempunyai bakat cepat menangkap sesuatu dan memiliki kemauan keras yang terpancar dari sinar matanya.

Semula Pak Turut hanya bekerja sendirian, tanpa pembantu. Namun belakangan banyak orang yang datang kepadanya dan minta pekerjaan. Kini bengkelnya mempunyai 22 orang karyawan dengan gaji tetap antara Rp 9.000 sampai Rp 24.000/bulan tergantung dari kepandaian masing-masing.

Para karyawan setiap harinya menerima pula bagian dari uang penghasilan yang masuk hari itu. Karyawan yang bergaji Rp 24.000/bulan setiap hari rata-rata menerima bagian antara 2 sampai 5 ribu rupiah, sehingga sebulannya dapat menerima sekitar Rp 100.000. Ditambah dengan gaji tetapnya, maka karyawan ini akan menerima sekitar Rp 124.000/bulan. Suatu penghasilan yang besar, apalagi mengingat di tempat itu kita bisa makan nasi kenyang dengan Rp 100 sekali makan.

* * *

Foto ilustrasi: Papa di Tanjung Kodok

TENTANG jumlah langganan Paqk Turut tidak tahu pasti, namun setiap bulannya pasti lebih dari 30 mobil yang diperbaiki. Penghasilan bersih per bulannya pun tak pernah dihitung atau dicatat. Dengan demikian ia tak tahu persis berapa besarnya penghasilan per bulan.

Yang jelas, Pak Turut dapat memberikan nafkah kepada 4 orang istrinya bersama 8 orang anak, masih ditambah sekitar 20 orang karyawan yang diberinya makan tiga kali sehari secara gratis. Dan semua pengeluaran itu merupakan hasil dari bengkelnya, karena Pak Turut tidak memiliki pekerjaan lain.

Biaya perbaikan mobil memang relatif murah. Selama ini menurut pengakuan Pak Turut, paling tinggi dia baru menarik biaya sebesar Rp 160.000 untuk mobil yang rusak sangat berat. Menurut istilahnya, mobil ini sudah ‘modal-madil’. Seorang langganan yang dijumpai Kompas mengaku ditarik biaya kurang dari Rp 30.000, padahal menurut pengusaha bengkel di Malang, biayanya akan mencapai sekitar Rp 100.000.

Menurut penuturan beberapa tetangga Pak Turut, jiwa sosial Pak Turut memang cukup besar. Tidak jarang ia menolong para tetangga yang kesusahan maupun memberikan bantuan untuk pembangunan desa.

Namun Pak Turut sendiri hanya menyatakan dirinya tak lebih dari orang lain di desanya dan kewajiban manusialah untuk menolong orang lain. Berapa dan berupa apa saja pertolongan yang pernah diberikan untuk desa dan sesamanya, Pak Turut tak mau menyebutkan. Mungkin itulah cermin dari kesederhanaan hidupnya serta keengganan menonjolkan diri telah berbuat baik. (JA Noertjahyo).***


Responses

  1. Wah gitu ya….
    Sekarang gimana kabarnya itu bengkel? Ada penerusnya kah?

    • Tks mas. Bengkel asli diteruskan mantunya, dan banyak bengkel “serupa” di berbagai kota.

  2. alamatnya ketok magignya di blitar apa gan,.,.,,..,.,

    • Mas Wahyu, di Blitar ada sekitar 10 bengkjel ketok magic.

  3. kalo memperbaiki bumper depan bmw 325i kira-kira habis berapa?

    • Mas Pheenha, sulit memperkirakan sebelum bengkel tahu dan memeriksa kerusakannya. Biasanya hanya sekitar 50% dari biaya bengkel biasa.

  4. Kalo di Malang mana ya bengkel “ketok magic” yang benar-benar qualified? Terima kasih.

    • Mas Koko, saya gak berani memberikan info, soalnya ada beberapa dan saya lama tidak mengikuti perkemnangan. Tks, salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: