Oleh: J.A. Noertjahyo | 01/04/2011

Blitar, Presiden, dan Mbah Pradah

BLITAR tidak bisa dipisahkan dengan Presiden RI pertama, Bung Karno. Baik terkait dengan ‘istana’ keluarga di Jalan Sultan Agung maupun makam Proklamator karismatik itu. Kota ini juga mempunyai hubungan  dengan Presiden ke-6 negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono, karena rumah ibu kandungnya di kota ini. Demikian juga Wakil Presiden Budiono sebagi “orang Blitar”, lengkap dengan warung soto langganannya di sebelah barat permandian “Sumber Udel” (sekitar satu kilometer barat-daya makam Bung Karno).

Makam Bung Karno

Dalam mata pelajaran sejarah, Blitar juga selalu dikaitkan dengan Candi Penataran. Sedangkan dalam mata pelajaran ilmu bumi, Blitar tidak terlepas dari Kelud, gunung berapi yang cukup “ganas”. Kegiatan vulkaniknya masuk dalam legenda Lembusuro dari Blambangan yang bermimpi bisa mempersunting putri Prabu Brawijaya.

Bahkan setelah Perang Kemerdekaan ditandai munculnya nama Shodancho Supriyadi, seorang pejuang yang gugur dan namanya cukup melegenda dalam masyarakat. Nama itu pun diabadikan untuk nama jalan di berbagai kota. Penulis pernah melakukan wawancara dengan orangtua Supriyadi, mantan Bupati Blitar bernama Darmadi, dan istrinya. Saat itu sedang marak dibicarakan adanya sepasukan “militer” berseragam ala tentara Jepang  berkemah di lereng Gunung Kawi. Beredar berita secara luas dari mulut ke mulut bahwa beberapa penduduk di lokasi kemah tersebut mengenali wajah komandannya sebagai Supriyadi. Lalu ada berita dari daerah Madiun yang menyatakan bahwa beberapa orang melihat Supriyadi naik kuda melintas di Dandangan, antara Madiun-Ponorogo. Rupanya berita tersebut beredar juga di Jakarta, sehingga saya mendapat tugas dari Redaksi Kompas untuk wawancara dengan orangtua Supriyadi. (Sayang, saya tidak berhasil menemukan kliping tulisan hasil wawancara ini).

Dalam wawancara tersebut Pak Darmadi tidak berani memastikan bahwa Supriyadi sudah gugur. Tetapi juga tidak tahu persis apakah ia masih hidup. Sedangkan sang ibu, Ny Darmadi, meyakini anaknya masih hidup namun tidak bisa berkomunikasi dengan kita yang masih hidup. Kenapa?

“Gampang diceritakan, tetapi susah bisa dipercaya setiap orang,” kata Pak Darmadi. Dengan sangat hati-hati ia mengisahkan adanya seorang “guru” terkenal di daerah Blitar, bernama Mbah Bendo. Banyak murid dari berbagai daerah yang mesu salira, dengan tujuan utama untuk mengetahui sangkan paraning dumadi. Pak Darmadi dan putranya, Supriyadi, termasuk menjadi “murid” Mbah Bendo.

“Salah satu ilmu yang diberikan adalah mengisolasi diri dengan dunia luar. Sekaligus juga terisolasi dari dunia luar,” ujarnya. Cara itu lalu banyak disebut sebagai “menghilang”. Berarti putus hubungan dengan dan dari dunia kehidupan. Untuk bisa menyambung kembali komunikasi timbal-balik itu, ada doa (mantera) yang harus diucapkan.

“Ibunya yakin, Supriyadi lupa mengucapkan mantera itu,” ujar Darmadi dengan nada serius. Tetapi kebimbangan nampak di wajahnya yang sudah mengeriput. Ditambahkan, jika perkiraan istrinya tersebut benar, ia tidak tahu bagaimana kehidupan Supriyadi selanjutnya. Tidak ada orang lain yang bisa mengembalikan komunikasinya dengan dunia ini. Ia tidak bisa menghubungi, tetapi juga tak mungkin dihubungi.

Saya sendiri tidak berani menerka mana yang benar dan mana yang salah. Dan itulah salah satu kisah unik dari Blitar, selain beberapa kisah lainnya.

Blitar bagian selatan memiliki beberapa keunikan. Sebagai daerah pegunungan gamping, di sana ditemukan beberapa gua dan kali di bawah tanah dengan stalagtit dan stalagmitnya. Yang banyak dikenal masyarakat adalah gua Embul Tuk di Kecamatan Bakung, tidak jauh dari Monumen Trisula. Pada zaman Jepang, pantai Jalasutra dikenal sebagai “kuburan massal” para romusha yang konon diperintahkan untuk membangun pelabuhan di daerah itu. Ribuan orang menjadi korban keganasan laut selatan, disapu gelombang-gelombang besar pada saat mereka sedang bekerja. Sebagian lainnya mati kelaparan karena memang tidak diberi makan. Lainnya lagi menjadi mangsa gigitan nyamuk malaria yang sarangnya banyak terdapat di wilayah tersebut.

Kawasan Pantai Jolosutro/Jalasutra

“Kasus Jalasutra” dianggap masyarakat setempat sebagai kejadian yang mengerikan dan menakutkan. Beberapa penduduk di daerah Binangun dan Kesamben (Kabupaten Blitar) yang kini (2005) berusia sekitar 70-an tahun masih ingat ceritera yang sangat mengerikan itu. “Saya mendengar orang-orang dewasa banyak yang meninggalkan desanya, takut diberangkatkan ke Jalasutra. Penderitaan di pantai selatan itu diceritakan beberapa orang romusha yang berhasil selamat,“ ujar seorang pensiunan guru sekolah dasar yang tinggal di daerah Kesamben. Ditambahkan, penduduk desa tempat orangtuanya tinggal yang diberangkatkan ke Jalasutra, lebih separuhnya tidak kembali.

Jika kasus Jalasutra menciptakan trauma masyarakat, beberapa ritual di pantai “Segara Kidul” itu bisa menjadi hiburan bagi penduduk setempat. Di antaranya upacara “Larung Sesaji” yang dilakukan di pantai Tambakrejo pada setiap tanggal 1 Muharam, namun lebih diakrabi sebagai “Satu Suro” oleh masyarakat setempat. Penduduk mewujudkan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melarung (menghanyutkan ke lautan) berbagai macam hasil bumi (pertanian) dan ternak yang disembelih. Jika dulu upacara ritual itu hanya dilakukan oleh masyarakat dengan pimpinan para sesepuhnya, beberapa tahun terakhir Bupati Blitar menjadi pimpinan upacara.

Legenda yang masih hidup dalam masyarakat, Tambakrejo dulunya merupakan hutan belantara yang dikenal wingit dan angker. Perintis yang menjadikan daerah itu sebagai hunian adalah seorang prajurit dalam Perang Diponegoro, bernama Ki Atmo Widjojo. Setelah Pangeran Dioponegoro ditahan tentara Belanda, ia lari ke arah timur dan tiba di hutan belantara pinggir pantai. Ia harus menghadapi berbagai tantangan alam yang ganas dan binatang buas, termasuk “roh-roh halus” penghuni hutan tersebut. Namun berkat kesaktian yang dimilikinya Ki Atmo Widjojo berhasil mengatasi semua gangguan dan rintangan, sehingga akhirnya bersama beberapa penduduk di dekat hutan tersebut berhasil membuka hutan dan menjadikannya desa baru. Untuk menghormati jasa Ki Atmo Widjojo itulah penduduk melakukan Larung Sesaji.

Di Lodoyo, sekitar 10 kilometer selatan Kota Blitar, masyarakat memiliki  mitos tentang Mbah Pradah. Yaitu sebuah pusaka berupa “gong” yang diyakini berasal dari Mataram. Konon gong itu dibawa oleh Pangeran Prabu, salah seorang putra Raja Mataram dari garwa selir. Ia terusir ke arah timur kerajaan karena diketahui berambisi menduduki tahta kerajaan yang menjadi hak putra mahkota, Paku Buwono I. Pada awalnya, saat gong tersebut dipukul langsung muncul seekor harimau besar di lokasi tersebut. Binatang buas ini tidak mengganggu manusia, malahan menjaga keamanan di situ. Sampai sekarang pada setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Maulud, pusaka tersebut “disucikan” dengan cara dimandikan/dibersihkan lalu diadakan selamatan dengan sesaji sesuai adat setempat.

Dalam kehidupan nyata yang terkait dengan kegiatan militer, tahun 1980 sebuah pesawat-terbang latih T-33/Bird jatuh di Kota Blitar. Tepatnya terjadi tanggal 20 Juni 1980 sekitar pukul 09.14 WIB. Lokasi jatuhnya di Jalan Wijayakusuma, Kepanjen Kidul. Musibah ini menewaskan 9 penduduk setempat dan dua pilot pesawatnya, Kapten (Pnb) Herry Mulyono dan Lettu (Pnb) Hartono. Semua kerugian penduduk diganti oleh TNI-AU. Peristiwa ini antara lain diberitakan Kompas tanggal 21, 22, dan 23 Juni 1980.

Selanjutnya, selain dikenal sebagai lokasi makam Bung Karno, “Blitar”  juga terpampang dalam sekian banyak “papan nama” yang bermunculan hampir di seluruh pelosok Pulau Jawa. Bahkan ada juga beberapa di Sumatera, dan mungkin juga pulau lain. Papan itu menjadi identitas bengkel “ketok magic” atau “teter magic” yang asal-usulnya memang dari kota ini.

Catatan:

Tulisan ini merupakan bagian dari konsep buku ”Tapak Kecil di Kompas” yang terpental, bahan dihimpun dari sumber-sumber tertulis dan saksi hidup. (Penulis)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: