Oleh: J.A. Noertjahyo | 08/04/2011

Swiss (1): Para Pendekar Lebah

Redaksi Kompas memberi izin penulis untuk menghadiri Kongres Ke-34 Apimondia, Organisasi Lebah Internasional, yang diselenggarakan di Lausanne (Swiss) tanggal 15-19 Agustus 1995. Laporannya yang disusun dalam tiga tulisan dimuat Kompas tanggal 25 September 1995. Dari kongres tersebut kita bisa banyak belajar tentang kehidupan masyarakat Swiss yang “maju” dan masalah perlebahan internasional yang memiliki andil besar dalam perekonomian dan kesehatan. Sayang, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 30 persen dari potensi perlebahan yang ada sehingga banyak kekayaan yang terbang melayang. Penanganan masalah lebah di negeri kita sepertinya belum serius meskipun kita sudah memiliki “Pusat Perlebahan” di Parungpanjang (Banten) yang investasinya tidak kecil. Sayang seribu sayang!

Judul laporan pokok penulis “Misteri Lebah, Kebugaran, dan Keperkasaan”, diikuti dua tulisan lain, “Manusia, Madu, dan Racun” serta “Swiss, Perlebahan dan Kesan-kesan”. Setelah diedit seperlunya, laporan tersebut seperti di bawah ini.

* * *

Suasana salah satu stand pameran produk lebah dalam Kongres Apimondia di Swiss

ANDA ingin tetap muda dan tetap perkasa? Ikutilah nasihat Senator Romawi Pollius Romillius. Makanan kesehariannya selalu disertai madu dan menjauhi segala jenis yang mengandung minyak. Sewaktu merayakan ulang tahunnya yang ke-100 ia ditanya oleh Julius Caesar, apa resep awet mudanya sehingga masih segar bugar pada usia satu abad. Dengan singkat Romillius menjawab: “Honey within and oil without.”

Sebagian masyarakat kita memang meyakini kegunaan madu sebagai obat untuk berbagai penyakit. Bahkan ada yang mengartikan madu sebagai “makanan istimewa” untuk menjaga kebugaran tubuh serta mampu menjaga lestarinya kemampuan seksual seseorang. Menurut literatur, tiap 100 gram madu bernilai 294 kalori. Dan nilai kalori satu kilogram madu sama dengan 50 butir telur, atau 5,575 liter susu, atau 1,680 kg daging kambing.

Kasiat madu amat berkaitan dengan kandungan gulanya yang tinggi (fruktosa 41 persen, glukosa 35 persen, dan sukrosa 1,9 persen) dan unsur kandungan lainnya, seperti tepungsari, berbagai enzim pencernaan, vitamin A, B1, B2, antibiotika, dan lain-lain.

Meski sama manisnya, perlakuan tubuh manusia terhadap madu pun berbeda dibandingkan dengan gula (pasir). Madu dapat diproses langsung menjadi glycogen, sedangkan gula harus diproses terlebih dulu oleh enzim usus perut. Dengan demikian tubuh kita bisa lebih cepat merasakan manfaat madu dibanding gula pasir.

Dalam perkembangan lebih lanjut manusia menemukan produk lebah yang lebih hebat dibanding madu, yaitu royal jelly alias “susu ratu”. Dalam beberapa penelitian royal jelly memberikan petunjuk, bisa menggantikan sel-sel tubuh yang mati, memelihara kebugaran tubuh dan karena itu mampu mempertahankan keperkasaan (kaum lelaki). Tidak mengherankan jika secara turun-temurun keluarga Kerajaan Inggris disebut-sebut sebagai konsumen royal jelly yang setia. Bahkan beberapa ahli tentang lebah madu di Eropa kini sedang meneliti kemungkinan royal jelly untuk mengobati penderita penyakit leukemia, kanker, dan AIDS.

Para mahasiswa KKN di peternakan lebah

Royal jelly adalah bahan makanan yang disediakan khusus untuk ratu lebah seumur hidupnya. Tempayak lebah biasa (bukan ratu) hanya diberi makan royal jelly selama tiga hari pada proses awal pertumbuhannya. Diperkirakan karena terus-menerus makan royal jelly itulah maka ratu lebah bisa berumur sampai 5-6 tahun, sedangkan lebah biasa yang hanya mendapat jatah makan royal jelly selama tiga hari hanya tahan hidup sekitar 40 hari. Prof. R Chauvin dari Universitas Sorbone (Perancis) telah merekomendasikan royal jelly untuk pengobatan di tahun 1922. Namun sampai saat ini berbagai unsur yang terkandung dalam royal jelly belum bisa diketahui seluruhnya, sehingga tetap merupakan misteri yang menggelitik para ilmuwan.

Misteri lebah madu dengan segala aspek kehidupannya rupanya masih terus menantang manusia. Karena itu daya pikat dari serangga yang berbulu dan bersayap empat ini luar biasa. Terbukti misalnya dalam Kongres Ke-34 Apimondia – – organisasi masyarakat perlebahan internasional – – di Lausanne (Swiss) tanggal 15-19 Agustus 1995. Meskipun untuk mengikuti seluruh acara kongres itu harus membayar sekitar Rp 600.000/orang, toh sekitar 4.000 peserta dari 64 negara dengan senang hati memenuhinya. Termasuk di dalamnya 10 delegasi dari Indonesia di bawah pimpinan Letkol (Purn) Suryadi dari PAP (Pusat Apiari Pramuka).

Dan pameran tentang perlebahan yang menggelar 96 stand dari berbagai negara (termasuk Indonesia), selama lima hari diserbu lebih dari 30.000 pengunjung dengan karcis masuk sekitar Rp 25.000/orang.

Apimondia memang suatu organisasi yang bisa dikatakan unik. Anggotanya bisa perorangan, organisasi ataupun negara. Baik yang berprofesi sebagai peternak lebah madu, peneliti, ahli, pedagang berbagai produk lebah, pedagang macam-macam perlengkapan/peralatan yang terkait dalam peternakan lebah, sampai mereka yang “hanya” berhobi memelihara lebah.

“Inilah satu-satunya organisasai peternakan tingkat internasional yang tertua, terbesar dan tetap penuh vitalitas,” ujar Dr Harald E, guru besar biologi di Notre Dame, Notre Dame (Indiana), Amerika Serikat. Ia pun dengan senang hati hadir di Lausanne agar bisa memaparkan hasil penelitiannya, sekaligus ingin menyerap hasil-hasil penelitian para ahli lebah lain dari berbagai negara.

Kebanggaan terhadap organisasi Apimondia itu juga diutarakan oleh Kaye Ecroyd, Manajer Pemasaran Beeway Limited di Selandia Baru, maupun oleh Liu Jin Zu (Manajer Beijing Apiculture Company) yang bergerak dalam jual-beli hampir segala macam produk perlebahan. “Lebah memang hewan kecil, tapi organisasinya paling besar,” komentarnya.

Dan kenyataannya, Apimondia yang didirikan tahun 1897 di Belgia itu kini mempunyai anggota yang tersebar di 68 negara serta dapat menyelenggarakan kongresnya setiap dua tahun sekali. Bahkan kongres di Swiss itu telah memutuskan tiga tempat untuk kongresnya ke-35, 36 dan ke-37, yaitu berturut-turut di Belgia (1997), Kanada (1999), dan Afrika Selatan (2001). Suatu contoh pengorganisasian yang cukup mantap, serta disambut hangat oleh para calon tuan rumah kongres.

Deretan kotak lebah yang ditgembalakan

Serius, tapi juga bisa santai. Itulah gambaran menyeluruh tentang situasi kongres Apimondia dengan berbagai kegiatan yang menyertainya. Keseriusan dalam suasana serimonial terasa dalam sidang pembukaan dan penutupan. Sedangkan yang serius bernada ilmiah terjadi dalam berbagai sidang komisi yang terbagi dalam tujuh bidang: (1) biologi lebah, (2) hama dan penyakit lebah, (3) tanaman pakan lebah dan polinisasi, (4) teknologi perlebahan dan peralatan, (5) apitherapi, (6) ekonomi perlebahan, dan (7) perlebahan di negara berkembang.

Dalam sidang-sidang tujuh komisi itu disajikan lebih dari 120 makalah ilmiah hasil penelitian di berbagai bidang, termasuk makalah K Patra dari Indonesia berjudul The Beautiful Bali Home of the Honeybee, the Tree Planting, Method and the Beekeeping Calendar.

Hampir semua sidang berjalan secara demokratis. Peserta yang tidak tertarik terhadap satu makalah bisa dengan bebas keluar ruangan dan masuk ke ruang sidang lainnya. Atau pergi ke ruang pameran, pertunjukan film/slide, bahkan bisa saja ke cafetaria untuk makan dan minum. Maklum saja, meski sudah membayar cukup mahal panitia tidak menyediakan minuman dan makanan bagi para peserta, baik selama acara sidang maupun pada saat istirahat. Itulah antaranya yang membuat Dr Riad Al-Sous dari Universitas Damascus (Suriah) uring-uringan dan menyatakan bahwa pelaksanaan Kongres Ke-33 di Beijing bulan September 1993 jauh lebih baik.

“Di sini harus bayar mahal, tanpa makan dan minum, dan pengaturan kerjanya juga semrawut. Harga-harga di cafetaria juga sangat mahal,” ujarnya. Memang, sekaleng Coca-Cola dijual sekitar Rp 7.000, padahal di Indonesia cukup dibayar dengan Rp 500!

Suasana demokratis juga terasa dalam pembahasan masalah. Jika terjadi salah pengertian antara penyaji makalah dan pembahas misalnya – – biasanya karena kesulitan bahasa – – peserta lain leluasa untuk “menimpali” dengan menerjemahkan pembahasan ke dalam bahasa yang dipahami oleh penceramah. Bahasa resmi kongres adalah Jerman, Perancis, Inggris, Spanyol, dan Italia.

Kegiatan yang tergolong santai, selain pameran adalah wisata-karya dan wisata-kota. Sayangnya pengorganisasian kegiatan ini kurang rapi baik pada saat pembagian voucher yang berlaku sebagai “karcis”, maupun pelaksanaan di lapangan. Selain pembagian kendaraan banyak semrawut, beberapa pimpinan rombongan juga tidak menguasai obyek kunjungan. Bahkan terjadi, seluruh peserta memilih bahasa resmi Inggris tapi pimpinannya justru hanya menguasai bahasa Jerman. Maka wisata-karya yang bertaraf internasional itu pun komunikasi antara pimpinan dengan anggotanya sering harus memakai “bahasa tarzan”. Geli juga …..!

Sebagian besar anggota delegasi Indonesia mendapat obyek wisata-karya ke daerah Pegunungan Alpen yang bersalju abadi. Dan Zermatt yang berbatasan dengan wilayah Jerman itu merupakan daerah wisata di musim panas dengan pemandangan alam yang menakjubkan.

Ada berepa hal yang menarik dalam makalah bidang ekonomi perlebahan (beekeeping economy) yang sidangnya dipimin Dr Hideo Watanabe dari Jepang. Dalam makalah Goes Rouse misalnya, disebutkan kegiatan ekspor-impor perlebahan kini sangat ditunjang oleh semakin canggihnya sarana angkutan dan telekomunikasi internasional, sehingga bisa berkembang secara mencolok. Pemilik “Kona Queen Hawai” di Hawai (AS) itu mengaku bisa mengekspor tiap tahunnya 30.000-40.000 lebah ratu ke berbagai negara. Dan nilai transaksinya bisa sekitar empat juta dollar Amerika per tahun.

Dalam wawancara dengan Kompas, Goes Rouse mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam pemasaran ratu (koloni) lebah, bahkan peluang masih terbuka luas. Satu kesempatan emas jika ada peternak Indonesia yang mampu melaksanakan penangkaran ratu lebah dengan kualitas berstandar internasional.

WR Rumbaal dari Kanada mengutarakan terjadinya kenaikan harga madu di pasaran internasional belakangan ini, dari 1,20 dollar AS menjadi 1,50 dollar Amerika per kilogram. Faktor penyebabnya terutama akibat menurunnya produksi madu di RRC dan kebijakan perdagangan di Amerika.

Namun Ciecy Tan, wanita ayu kelahiran Cina yang sudah menetap selama tujuh tahun di London menyatakan, penurunan produksi madu dan royal jelly di RRC selama dua tahun terakhir tak sampai 10 persen dari produksi 1993. Selaku staf bidang bisnis di Sunry Import & Export Co. Ltd. Ia cenderung menunjuk faktor terus meningkatnya permintaan sebagai akibat kenaikan harga madu itu.

Mengisap madu dari sisiran sarangnya

Ciecy Tan memperkirakan RRC memproduksi sekitar 190.000 ton madu tahun 1994, ditambah lebih-kurang 500 ton royal jelly. Di samping dari Departemen Pertanian dan Asosiasi Perlebahan Cina, data itu katanya juga dicek-ulang dengan data yang dihimpun ayahnya. “Ayah masih menetap di Cina, jadi pimpinan sebuah surat kabar,” katanya.

Tapi Ciecy tak mau menyebut jumlah madu dan royal jelly yang diimpor perusahaan tempat kerjanya dari Cina, dengan alasan “rahasia perusahaan”. Namun diakui perusahaan itu lebih banyak melakukan transaksi royal jelly  ketimbang madu, diimpor dari Cina dan dipasarkan hampir ke seluruh Eropa. Harga pasaran royal jelly di Eropa berkisar Rp 1.000.000/kg.

Bagaimana Indonesia? Produksi royal jelly diperkirakan baru sekitar 1,5 ton/tahun dengan harga jual dari peternak sekitar Rp 200.000/kg dan harga eceran rata-rata Rp 250.000/kg. Di pasaran juga banyak dijual royal jelly impor yang harganya bisa mencapai sekitar Rp 750.000/kg.

Mengapa terjadi perbedaan harga cukup mencolok? Barangkali inilah salah satu misteri dari dunia lebah. Atau karena kekurang-pahaman konsumen, dan boleh jadi juga karena sikap sebagian masyarakat kita yang lebih menghargai produk-produk luar negeri! ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: