Oleh: J.A. Noertjahyo | 13/04/2011

Swiss (2): Manusia, Madu, dan Racun

Di bawah ini tulisan kedua dari laporan Kongres Apimondia di Swiss:

Taman di depan Gedung Pertemuan Palais de Beaulieu, Lausanne

KOMPLEK Gedung Pertemuan Palais de Beaulieu di Lausanne memang cukup memadai untuk menampung semua kegiatan kongres Apimondia dan kegiatan lain yang menyertainya. Baik untuk sidang-sidang, pemutaran film/slide/video, sekretariat dan administrasi, maupun pameran dan transaksi bisnis.

Begitu melimpahnya peminat untuk pameran, sampai-sampai sebagian halaman komplek kegiatan kongres juga disita untuk pameran dan cafetaria. Padahal setiap pemanfaatan ruangan harus dibayar dengan sewa yang relatif cukup mahal.

Apa yang bisa kita peroleh dalam pameran? Hampir semua produk dan peralatan yang terkait dengan peternakan lebah, termasuk cendera mata dan hasil-hasil penelitian tentang lebah, baik dalam bentuk poster, brosur maupun buku-buku. Dan setiap negara pasti ingin mempromosikan kegiatan perlebahan masing-masing, menjual berbagai produk yang dihasilkannya, dan sekaligus mencoba untuk mengetahui kegiatan dari negara-negara lain.

Ilustrasi: Pengobatan dengan racun (sengat) lebah

Dalam produk lebah banyak stand yang memamerkan madu, royal jelly, malam, pollen, propolis dan racun lebah. Juga produk olahan dari macam-macam produk langsung itu, misalnya macam-macam selai dan manisan dari madu, patung dan mainan dari malam, obat-obatan serta kosmetika. Bahkan juga minuman keras yang sudah dicampur dengan madu sehingga memiliki aroma dan rasa yang khas.

Untuk souvenir dengan ciri khas lebah, pengunjung bisa menemukan pin, jepitan dasi, stiker, macam-macam perangko dari berbagai negara, kaos dan payung, sampai kalender dan peralatan meja makan. Bagi para peternak, “seragam” klomplit dan berbagai peralatan lain yang dibutuhkan termasuk model mutakhir bisa dibeli atau dipesan di beberapa stand. Barangkali di pameran semacam itulah yang bisa memenuhi keinginan mereka yang selalu bergulat dengan lebah, apa pun kegiatan yang dipilih.

Bagi mereka yang awam dalam perlebahan, selain melihat pameran juga banyak yang tertarik menyimak hasil-hasil penelitian khususnya yang berkaitan dengan soal ekonomi dan pengobatan.

Peneliti A Pidek dari Polandia misalnya, mempresentasikan tentang pengaruh ekonomi pasar bebas terhadap industri perlebahan di negerinya. Topik ini sangat aktual, dan diminati banyak pengunjung. Disebutkan antara lain, pasar bebas mengakibatkan penurunan jumlah koloni lebah maupun peternaknya, karena kondisi ekonomi negerinya (1989-1993) kurang menggembirakan. Jumlah koloni selama 3-4 tahun turun sekitar 50 persennya, dan peternak turun dari 140 orang menjadi 114 orang.

Sedangkan M Accorti dan Livia Persano Oddo dari Italia menunjukkan pentingnya perlebahan dalam kehidupan sosial-ekonomi manusia. Selain memberikan produk-produk langsung, lebah juga sangat mendukung program pembangunan yang berwawasan lingkungan, menyediakan makanan bagi satwa-satwa liar dengan kegiatannya sebagai serangga penyerbuk. Bahkan yang terakhir ini amat menguntungkan para petani khususnya yang menanam buah-buahan. Nilai peningkatan produksi pertanian di Italia diperkirakan mencapai sekitar 2.000 lire per tahun akibat peran “serangga penyerbuk” itu.

V Salinka dari Lituania menyebutkan, sejak 1960 di negerinya telah dikenal pengobatan dengan apitherapi. Produk lebah digunakan untuk pasien menjelang operasi maupun sesudahnya, khususnya untuk memperkuat daya tahan tubuh. Selain itu juga digunakan untuk melancarkan metabolisme tubuh bagi para manula, mencegah terjadinya pengidapan penyakit kronis, mengobati penyakit yang berkaitan dengan kandungan, dan lain-lain.

Salep propolis bisa digunakan untuk pengganti antibiotika bagi pasien pengidap kanker, menyembuhkan efek samping prosedur kuratif, dan untuk obat reumatik. Sedangkan venon (racun lebah) digunakan untuk pengobatan prostatitis kronis, wasir, rehabilitasi pasien berpenyakit jantung, kulit, tukak lambung, luka bakar, dan sebagainya. “Para peneliti, ahli apitherapi dan ahli farmasi kami siap melakukan kerja sama secara internasional untuk mengembangkan produksi obat-obatan dari produk lebah,” ujar Salinka.

Dari Mesir, AFM Ali MA El-Banby, dan Adlia AW Mohamed melaporkan madu murni yang digunakan selama seminggu untuk obat anti-hipertensi bagi wanita hamil ternyata sangat mujarap. Dan bagi kelompok ini yang mengalami sedikit protein-nuria (berprotein tinggi dalam air seni) juga menunjukkan terjadinya perbaikan.

Lain peneliti, Sv Handjiev dan N Nikolova dari Bulgaria menyatakan, propolis dan royal jelly baik untuk melakukan pencegahan terhadap “penyumbatan arteri”. Kepada pasien penderita kegemukan (obesitas) mereka memberikan propolis, kombinasi propolis dengan ekstrak walnut, serta kombinasi royal jelly – yoghur – pectins. Hasilnya, berat badan turut rata-rata 11,6 kg (16,2 persen) setelah berlangsung sebulan. Kolestrol turun sampai 19 persen, dan LDL turun sekitar 12,3 persen.

Dan masih banyak laporan penelitian tentang berbagai produk lebah yang menunjukkan hasil positif untuk pengobatan.

Ilustrasi: Mengajar dan belajar tentang lebah

“Sudah banyak laporan mengenai madu, pollen, royal jelly, maupun propolis yang membawa efek menguntungkan bagi kesehatan. Sayangnya kenyataan itu sulit diterima organisasi kesehatan dan perguruan tinggi kedokteran di Jerman dengan alasan kurangnya bukti ilmiah,” ujar JH Dustmann dari Jerman yang membawakan makalah berjudul Bee Products for Human Health – The Problem of Apitherapy.

Apa manfaat yang bisa kita petik? Dari segi pembangunan ternyata lebah sangat mendukung dalam konsep “pembangunan berwawasan lingkungan”, sekaligus bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para petani (kecil) yang bersedia memelihara lebah. Mengingat potensi madu di negeri kita cukup besar, kegiatan perlebahan jelas masih terbuka lebar.

Menurut Ir Agus Sulistianto MSc dari Ditjen RRL Departemen Kehutanan, saat ini diperkirakan baru sekitar 30 persen potensi madu yang termanfaatkan. Dengan perkiraan produksi di tahun 1994 sekitar 1.301 ton, berarti hampir 3.000 ton potensi madu tiap tahunnya menguap begitu saja. Dengan harga paling rendah Rp 3.000/kg madu, berarti rezeki yang “hilang” itu nilainya lebih dari Rp 9 milyar.

Dari segi kesehatan dan pengobatan rasanya juga sangat relevan untuk dipelajari dan dikembangkan. Apalagi dikaitkan dengan jumlah penduduk kita yang begitu besar dan tersebar di wilayah yang begitu luas. Inilah tantangan kita, peluang emas yang perlu dimanfaatkan di saat negeri ini memiliki jutaan tenaga penganggur. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: