Oleh: J.A. Noertjahyo | 20/04/2011

Swiss (3): Swiss, Kesan-kesan dan Perlebahan

Swiss tidak termasuk negara yang mencolok dalam produksi madu maupun royal jelly, tapi termasuk negara kedua yang tingkat konsumsi per kapitanya tinggi. Menurut informasi, rata-rata konsumsi madu tiap penduduk Swiss mencapai 1.400 gram/tahun, hanya sedikit kalah dengan Selandia Baru yang mencapai tingkat konsumsi tertinggi di dunia, 1.600 gram/orang/tahun. Namun dibandingkan tingkat konsumsi di negara kita yang baru sekitar 10 gram/orang/tahun, Swiss memang telah melaju jauh di depan.

Penulis di kaki Pegunungan Alpen, obyek wisata dan lokasi peternakan lebah di Swiss

Dalam sejarah perlebahan, Swiss sudah memulainya tahun 1861 meski saat itu penduduk hanya beternak dengan kotak tradisional yang disebut “Burki-Jecker”. Namun kini peternak di sana sudah mengikuti perkembangan yang mutakhir sehingga berbagai macam jenis kotak yang digunakan negara-negara lain dengan mudah diketemukan. Baik yang disebut model Dadant, Langstroth, maupun Zander.

Pada umumnya peternak lebah di Swiss yang berjumlah sekitar 25.000 orang melakukan kegiatan perlebahan secara “sambilan”, bukan matapencaharian pokok yang dikelola secara profesional. Karena itu rata-rata produksi madu di negara itu pun terhitung rendah, hanya sekitar 4-20 kg/koloni/tahun.

Sebagai bandingan, lebah lokal (Apis cerana) yang dipelihara penduduk kita rata-rata menghasilkan 5 kg/koloni/tahun, sedangkan lebah impor (Apis mellifera) milik para peternak bisa menghasilkan sekitar 40 kg/koloni/tahun.

Untuk memenuhi kebutuhannya Swiss masih harus mengimpor 5.000 – 6.000 ton madu per tahun, karena produksinya sendiri hanya berkisar 3.000 – 5.000 ton/tahun dari sekitar 3.000 koloni lebah yang ada di negari itu. Harga madu di sana cukup mahal, sekitar 20 Frs (sekitar Rp 40.000) per kilogram. (Di Indonesia harga berkisar Rp 5.000 – Rp 10.000/kg). Perbedaan harga yang sangat mencolok itu antara lain akibat tingkat biaya hidup yang sangat tinggi di Swiss.

Ahli perlebahan Swiss yang cukup menonjol di antaranya adalah Francois Huber (1750-1831), penemu fondasi sarang dari lilin lebah, Jonas de Gellen (penemu kotak super), Eduard Bertand dengan kepeloporannya dalam menerbitkan majalah “Sociate Romande D’ Apiculture” di tahun 1878, serta Jean Parel Cochard yang saat ini menjabat Ketua dari “Federation Des Societes Swiss D’ Apiculture”.

Kesan tentang Swiss dan penyelenggaraan Kongres Apimondia di Lausanne, rasanya banyak segi positifnya. Meski pengorganisasiian berbagai kegiatan sering tampak semrawut, namun secara umum banyak peserta yang puas terhadap kegiatan pengurus Apimondia tahun 1993-1995 termasuk terselenggaranya kongres tersebut. Karena itulah Ketua Apimondia, R Borneck dari Perancis, dipilih lagi sebagai ketua untuk masa jabatan 1995-1997.

Delegasi Indonesia umumnya terkesan pada rapinya penataan kota, keamanan yang mantap serta disiplin masyarakat yang sangat tinggi. Dan pasti yang sangat “mengesankan”, tingkat biaya hidup yang sangat tinggi. “Kalau mau beli jangan dikurs ke rupiah, bisa batal membeli,” ujar Ir Soengadi Djojomihardjo, Direktur Produksi Perum Perhutani yang bertindak selaku Wakil Ketua Delegasi Indonesia.

Agro Tawon, obyek wisata perlebahan di Lawang, Malang

Anjuran itu ada benarnya. Jenis makanan apa pun di kafetaria hotel Akasia yang kami inapi, seporsi makanan paling murah 12.50 Frs atau sekitar Rp 25.000. Harga makanan di Mac Donald yang kuantitas maupun kualitasnya sama dengan di Indonesia, harganya bisa melambung 7-8 kali lipat. Yang cukup unik, kafetaria di lokasi kongres tarifnya didasarkan ukuran piring. Piring kecil 12.50 Frs dan piring besar 16.50 Frs. Mereka yang pintar mengambil piring kecil dan diisi sebanyak-banyaknya sehingga jumlah makanan yang diperoleh bisa lebih banyak dibanding piring besar yang diisi secukupnya!

Taksi berargometer pun tarifnya 5-6 kali dibanding tarif di Jakarta. Bedanya, sopir di sana necis-necis (tak sedikit yang berdasi dan berjas), lugas (zakelijk), disiplin dan jujur, dengan mobil yang termasuk “wah” untuk ukuran Indonesia. Tarif bus kota paling murah 2.20 Frs (hampir Rp 4.500), bandingkan dengan tarif bus kota di sini) untuk dewasa dan 1.30 Frs untuk anak-anak, tapi bersih dan tepat waktu. Turis yang pintar akan membeli karcis yang berlaku selama 24 jam dengan harga 6 Frs. Pembelian karcis dilakukan di setiap halte lewat mesin otomatis. Pengawasan saat membeli karcis maupun di atas bus lebih pada “kejujuran pribadi” karena nyaris tak ada petugas pengontrolnya.

Disiplin masyarakat memang sangat menonjol di sana. Anak-anak yang pergi sendirian maupun berombongan tak mau melanggar rambu lalu-lintas saat menyeberang jalan, juga tak berbohong sewaktu membeli karcis bus kota. Pejalan kaki juga tak berani “keluar” dari wilayahnya, dan kendaraan mewah pun aman-aman saja parkir semalam suntuk di tempat peruntukannya.

Kami tentu menginginkan hal-hal yang baik itu bisa terjadi di negeri tercinta ini. ***

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: