Oleh: J.A. Noertjahyo | 18/06/2011

F. Rahardi: Menggugat Kinerja Departemen (2)

SELURUH jurus serangan untuk membela kaum tani yang dikeluarkan oleh J.A. Noertjahyo, memang cukup telak menghajar mereka yng merasa terserang. Meskipun sebenarnya, sang penulis hanyalah sekadar melakukan kewajibannya sebagai seorang wartawan umum (nonpertanian), yang menyampaikan fakta dan juga opininya di sekitar sektor agro. Hingga sebenarnya tidak perlu ada yang dicurigai, lebih-lebih ditakuti. Justru sebenarnya, tulisan ini bisa memberi rangsangan bagi para pelaku agro hulu maupun hilir, untuk lebih intens mengkritisi diri sendiri.

Ini pulalah yang antara lain dikemukakan Unggul Abinowo pada bagian keempat (point 4: Manisnya Ubi Gunung Kawi). Ketua Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) yang berlokasi di Purwodadi, Pasuruan, Jatim ini mengeluhkan adanya kelemahan aspek pasar dan permodalan dalam sektor agro. “Sebab sektor Perbankan kurang memahami seluk-beluk sektor agro.” Komentarnya ini memperpanjang permasalahan yang dihadapi oleh petani, hingga tidak perlu ada salah satu pihak yang kemudian merasa dipojokkan, lebih-lebih tersinggung.

Sebab bank memang punya hukum kerja sendiri. Prinsip utama perbankan adalah, uang tabungan nasabah yang disalurkannya sebagai modal usaha bagi nasabah lain, harus tetap aman. Prinsip keamanan inilah yang pertama-tama dipegang oleh pihak perbankan. Hingga sebenarnya, upaya meyakinkan pihak perbankan bahwa uang yang dipinjamkannya ke sektor agro cukup aman, menjadi sangat urgent. Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang hyarus meyakinkan pihak perbankan itu?

Sebagai bahan pembanding, di Malaysia, Thailand, dan Filipina; tiga negara tetangga dekat kita, yang memberikan jaminan ke pihak perbankan adalah para petani sendiri. Sebab umumnya petani di tiga negara ini sudah sangat terorganisir dalam bentuk kelompok, koperasi dan asosiasi. Karena sudah terorganisir, mereka juga mampu menghadirkan database komoditas yang mereka tangani. Dukungan pemerintah untuk membentuk asosiasi petani sesuai dengan komoditasnya, juga datang dari pemerintah.

(Sambungan Kata Pengantar buku: Dari Ladang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petni, Penerbit Buku Kompas, Februari 2005).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: