Oleh: J.A. Noertjahyo | 19/06/2011

F. Rahardi: Menggugat Kinerja Departemen (3)

DALAM era perdagangan modern yang di tingkat dunia diatur oleh WTO (World Trade Organization), masing-masing negara haruslah terbuka dan tidak boleh terlalu memberikan proteksi terhadap produk lokal mereka sendiri. Dalam kaitan ini, sikap pemerintah Indonesia yang selama ini sangat bernafsu untuk swasembada beras, kedelai, gula dll menjadi terkesan naif. Di bagian keenam buku ini (point 2: Kedelai antara Malang dan Jepang) Menperindag Rini M Suwandi (waktu itu) mempertanyakan, “Bisakah kita berswasembada kedelai tahun 2006?”

Tanah tandus untuk lahan kedelai, vs WTO.

Dengan adanya tingkat ketergantungan perajin tempe yang cukup tinggi terhadap kedelai impor, maka apabila kurs nilai tukar rupiah terhadap US $ naik, maka para perajin itulah yang akan terpuruk. Kalau kita hanya melihat kondisi ini, pernyataan Menperindag itu sangat tepat adanya. Namun para perajin tempe kita, terutama perajin tempe modern, justru menghendaki kedelai impor dan menolak kedelai lokal. Pertimbangannya, kedelai impor yang besar-besar bijinya itu, akan ”babar” (volumenya besar), kalau dibuat tempe.

Namun beda pula dengan perajin tahu. Mereka justru menolak kedelai impor dan menghendaki kedelai lokal. Sebab meskipun bijinya besar-besar, kedelai impor rendemennya sangat rendah kalau dibuat tahu. Dengan bobot sama, kedelai lokal akan menjadi tahu dengan volume lebih banyak dibanding kedelai impor. Hingga meskipun kedelai lokal lebih mahal dibanding impor, perajin tahu tetap lebih memilih kedelai lokal. Pengetahuan seperti ini, rupanya tidak dimiliki oleh aparat pemerintah kita, hingga pernyataannya menjadi terdengar minor.

Kedelai, kapas dan bawang putih, memang harus tetap diimpor. Sebab komoditas tersebut perlu sinar matahari optimal sampai 17 jam per hari. Tuntutan ini memang hanya bisa dipenuhi oleh agroklimat kawasan subtropis. Namun impor itu juga harus diimbangi dengan ekspor. Kedelai lokal kita yang hasilnya rendah dan bijinya kecil-kecil itu, ternyata bukan hanya diminati oleh perajin tahu kita, melainkan juga para perajin tahu di Jepang. Mereka minta kedelai lokal kita dengan harga yang jauh lebih tinggi dari kedelai AS. Kita tidak bisa melayani permintaan ini, karena secara total kebutuhan nasional masih kurang. (Sambungan, Kata Pengantar buku: Dari Ldang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani, Penerbit Buku Kompas, Februari 2005).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: