Oleh: J.A. Noertjahyo | 20/06/2011

F. Rahardi: Menggugat Kinerja Departemen (4-Selesai)

KEBIJAKAN yang tampak setengah hati juga terjadi pada sektor peternakan, khususnya unggas dan sapi pedaging. Di zaman Menteri Bungaran Saragih-lah terjadi silang pendapat antara Deptan dan Diperindag mengenai soal impor paha ayam beku dari AS. Impor sapi bakalan dan juga pedaging, tiap tahun juga bertambah volumenya. Sebab stok induk sapi betina kita memang kurang. Idealnya Indonesia impor bakalan induk sebanyak tiga sampai empat juta ekor secara bertahap agar suatu ketika bisa mengimbangi impor sapi bakalan maupun daging. Kalau saat ini impor kita hentikan, maka populasi sapi lokal kita akan menyusut drastis karena habis dipotong.

Satu lokasi peternakan ayam

Masalah persapian ini pulalah yang juga digugat oleh penulis dalam bagian sepuluh (point 4: Sapi makan sapi: kapan berakhir?). Dalam bab ini Penulis bukan sekadar menggugat kebijakan pemerintah, melainkan juga ”kebijakan alam”. Secara rutin pada musim kemarau, para peternak kita di Blitar Selatan akan menjual sebagian sapi mereka untuk memberi pakan pada sapi lain yang masih ingin dipelihara. Alam yang kering memang menuntut peternak, pemda dan juga pemerintah pusat untuk mengatasinya bersama-sama. Misalnya dalam bentuk pemberian modal guna membangun silo untuk tempat silase bagi pemenuhan kebutuhan pakan di musim kemarau. Sebab pada musim penghujan, hijauan sangat melimpah.

Salah satu lokasi peternakan sapi perah

Banyak sekali contoh pola kebijakan pertanian di Indonesia yang bukan hanya tampak janggal, melainkan juga lucu. Misalnya, selama bertahun-tahun dari 1966 sd 1999, kita tidak memiliki lembaga hortikultura. Lembaga yang dengan susah payah dirintis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ini, dibubarkan ketika terjadi resafel Kabinet 100 Menteri 1966. Ketika lembaga ini dihidupkan lagi, statusnya hanyalah direktorat yang berada di bawah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

Ketika itu saya mengkritiknya di depan anggota DPR RI. Waktu itu saya sebutkan bahwa Deptan itu merupakan kantornya lelembut. Sebab bunga-bungaan dianggap sebagai pangan. Kalau buah-buahan dan sayuran dikategorikan sebagai pangan memang masih benar. Tetapi, kalau bunga dianggap pangan? Setelah saya melancarkan kritik tersebut, di belakang nama Direktorat Jenderal Pangan ditambah kata ”Dan Hortikultura”. Baru pada jaman Gus Dur, lembaga hortikultura berdiri sendiri dengan status Direktorat Jenderal.

Macam-macam jeruk di negeri kita

Membaca keseluruhan buku Menggugat Nasib Petani ini, terasa betapa perjalanan bangsa kita masih akan sangat jauh. Bukan hanya kalau dibandingkan dengan Eropa, AS dan Jepang; melainkan juga Malaysia, Thailand bahkan juga Vietnam. JA Noertjahyo sebagai wartawan telah dengan sangat jelas menunjukkan kepada kita, sebagian dari permasalahan bangsa ini. Sayangnya, buku ini justru hanya merupakan ”ulasan” atau interpretasi ulang dari karya-karya penulis yang pernah dipublikasikan di Harian Kompas.

Saya sangat berharap, mudah-mudahan buku ini segera disusul oleh buku lain, yang khusus berisi tulisan-tulisan utuh J.A. Noertjahyo yang pernah dipublikasikan di Kompas. Termasuk tentu saja tulisannya tentang Java Kapokyang pernah memberinya penghargaan Adinegoro. Tulisan di koran memang sangat terkait dengan aktualitas.

Keindahan bunga anggrek mengagumkan .....

Namun, dengan membukukannya, tentu melalui proses editing sebagaimana mestinya, akan bisa memberikan gambaran yang utuh mengenai keadaan pertanian di Indonesia dalam satu kurun waktu. Selamat membaca. (Sambungan, Kata Pengantar buku: Dari Ladang sampai Kabinet, Menggugat Nasib Petani, Penerbit Buku Kompas, Februari 2005).

Cimanggis, 7 Januari 2005.

F. Rahardi, Ketua Forum Kerjasama Agribisnis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: