Oleh: J.A. Noertjahyo | 12/02/2012

Berbagi Pengalaman dan Kenangan Tahun 2011

KETIKA menapaki awal tahun baru 2011 dulu, “Kelompok Doa Pagi” Kapel Kolese Santo Yusup (Kosayu) dan sejumlah simpatisannya menyambut dengan penuh kegembiraan dan optimisme. Hal itu antara lain dimanifestasikan dengan berpiknik ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan mengunjungi Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Kegiatan itu dilakukan tanggal 2 Januari 2011 dengan menumpang dua bus besar. Selain Bu Clara dan para Frater CDD (Congregatio Discipulorum Domini), rombongan ini “dikawal” Romo Agustinus Lie CDD yang akrab dengan anak-anak serta ramah kepada setiap orang yang menyapanya.

Komplek WBL, pintu masuk

Ternyata WBL begitu luas dan indah-menawan. Di situlah sentuhan teknologi mempercantik ciptaan Tuhan, tangan-tangan manusia memoles keindahan alam.

Setelah membeli tiket masuk dan melewati gerbang, (saat itu) ada 43 fasilitas yang dapat dinikmati secara gratis, 23 fasilitas lainnya perlu membeli tiket lagi. Dan semua itu tidak mungkin bisa dinikmati pengunjung dalam sehari!

Kesan yang kami peroleh, lahan di kawasan Tanjung Kodok yang dulu gersang merana itu telah berubah menjadi obyek wisata yang cukup memukau. Ini berkat polesan teknologi terhadap keindahan alam oleh anak-anak manusia yang mampu mensyukuri anugerah Allah. Sayangnya, infrastruktur menuju kawasan itu kurang memadai, baik dari arah timur (Surabaya) maupun dari barat dan selatan. Jalanan sempit dan kurang terawat, banyak bopengnya. (NB: Dari arah utara sih laut, tidak/belum ada kapal dan pintu masuknya).

Klenteng Kwan Sing Bio pun sangat menarik, menghadap ke Laut Jawa yang luas dan lepas. Arealnya cukup luas, tertata rapi dan bersih. Meskipun banyak pengunjung (wisatawan), mereka yang sengaja datang untuk beribadah pun tidak merasa terganggu. Di situ ada disiplin, tenggang rasa dan toleransi, serta saling menghormati. Pengunjung pun tanpa pandang bulu (suku, agama, ras, dan antar-golongan) dapat makan secara gratis di ”kafetaria” klenteng. Jika kurang puas, di samping-depan klenteng juga banyak dijajakan makanan. Termasuk buah-buahan, pernak-pernik kebudayaan China, serta oleh-oleh khas Tuban.

Komplek Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban

Di situ kami merasakan, agama membimbing umatnya untuk hidup secara baik dan saling mencintai sesamanya. Inilah sebagian syarat untuk dapat masuk ke alam kehidupan baka, nirwana alias sorga.

* * *

            SEBAGIAN ”Kelompok Doa Pagi” Kosayu dan simpatisannya juga mengikuti ”Celco Fun Bike” dalam memperingati Bapak Pendiri CDD – Kongregasi Murid-murid Tuhan itu. Berspeda tertib-santai tanggal 16 Oktober 2011 dari Biara CDD Batu ke Kosayu di Simpang Borobudur Malang itu memang cukup jauh dan menguras tenaga semua peserta. Namun juga menggembirakan dan bernilai olahraga, persahabatan, serta keakraban. Rm Yuki dan RM Agus beserta seluruh Frater CDD bergabung dalam rombongan anak-anak sampai manula ini. Semua ceria, semua semangat. Hidup menjadi lebih indah dan bermakna …!

Kegiatan lain, mengikuti novena dan Trideum CDD bulan Oktober, Gerak Jalan Sehat Kopdit Kosayu (20 November), perayaan Emaus di komplek rumah retret Sawiran (27 April), serta lain-lain.

Markas Besar CDD di Yang Ming Shan, Taiwan.

Aktivitas yang cukup heboh dan nyaris fantastis adalah ”menyerbu” Markas Besar CDD di Yang Ming Shan, Taiwan. Di sinilah kediaman resmi Jenderal CDD yang mengemudikan seluruh kegiatan kongregasi ini. Dan di lokasi yang berhadapan dengan Chinese Cultural University ini pula berdomisili Provinsial CDD untuk Taiwan, Pastor Lioe. Beliau memperpendek waktu perjalanan di Indonesia karena kunjungan kami. Dan lebih hebat lagi, Pastor Lioe juga berkenan mendampingi kami untuk mengunjungi beberapa obyek wisata, bahkan bersama-sama naik bus umum dan MRT (mass rapid transportation).

Maka rombongan kami dibimbing Provinsial CDD Taiwan bersama (mantan) Provinsial CDD Indonesia, Rm Agustinus Lie CDD. Luar biasa …..! Selintas teringatlah bunyi sebait Injil: “ … sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani …” (Mat 20:28)

Chiang Kai Shek Memorial Hall, Taipei, Taiwan.

Rombongan kami sempat pula mencicipi beberapa obyek wisata di Taiwan, antara lain Kota Kuno Jiufen, komplek kediaman keluarga Chiang Kai Shek (CKS) termasuk kapelnya yang mungil, Chiang Kai Shek Memorial Hall dan Martir Shrine, pusat-pusat kerajinan dan perbelajaan, serta beberapa obyek lain.

Hikmat yang kami peroleh, kawasan Taiwan bagus, bersih, rapi, dan aman. Pemimpin pendahulunya (CKS) dan para pahlawan mereka sangat dihormati dan dihargai. Bahkan di komplek CKS Memorial Hall dan Martir Shrine selalu ada dua petugas piket yang berganti setiap jam, serta bendera nasional yang berkibar selama 24 jam non-stop. Bukan hanya sebuah bendera besar di tiang utama, tetapi sepanjang jalan dan halaman komplek itu pun ”barisan bendera” selalu berkibar! Luar biasa ….!

Perjalanan di Taiwan itu masih berlanjut dengan menjelajahi Hongkong dan Macau, dua lokasi yang sering disebut sebagai ‘surga’ belanja dan judi. Hongkong dan Macau memang ”kota kecil”, namun mampu menampilkan diri secara prima di mata dunia. Dan banyak kota atau negara besar – ditambah alamnya kaya-raya – hidupnya malah kedodoran.

Macau ......

Sebelum ke Taiwan-Hongkong-Macau, saya juga berkesempatan mengunjungi beberapa kota di China, Agustus-September 2011. Di negeri ini saya terkesan terhadap penghijauan dan pembangunan infrastruktur, serta penjualan obyek-obyek wisata yang dilakukan secara total-terpadu antara pemerintah dan swasta. Pariwisata benar-benar mampu mendukung kehidupan ekonomi rakyat, sehingga tidak mengherankan jika produk China banjir hampir ke seluruh penjuru dunia. Untuk menghubungkan satu obyek ke obyek wisata lain – atau kota yang satu ke kota lainnya – jembatan layang dibangun di atas rawa/sungai yang terkadang sangat panjang. Gunung pun ditembus dengan membuat terowongan, untuk ”memperpendek” jarak sehingga jalanan tidak panjang berliku-liku.

"Studio alam" shooting film di China.

Hasil permenanungan yang kami peroleh, maju-tidaknya suatu wilayah/negara tergantung pada pemimpinnya dalam menentukan berbagai kebijakan dan melaksanakannya. Kepentingan bersama (rakyat) merupakan tujuan utama, mengalahkan kepentingan pribadi atau kelompok.

* * *

            SELAIN jalan-jalan berekreasi, saya sangat bersyukur bahwa tahun 2011 merupakan tahun sibuk, tahun penuh berkat dan tantangan. Di antaranya saya dapat memenuhi permintaan untuk menyumbang tulisan dalam dua buah buku. Pertama, buku berjudul “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN terbitan Konsursium Pengembangan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi, Jl Katedral 5 Jakarta (September 2011). Tim Editor buku ini adalah A. Widyahadi Saputra, Y. Edi Mulyono, SJ, I. Masiya Suryataruna, GN Aswin, dan FA Teguh Santosa, Pr. Misi buku ini tersirat dalam kalimat pengantarnya: “Semoga setiap orang yang membaca buku ini tergerak hatinya untuk rela melakukan gerakan HPS (Hari Pangan Sedunia), termasuk berbagi rezeki kepada sesama yang miskin, lapar, tersisih, dan menderita.”

Menurut informasi, buku ini disebarkan ke seluruh gereja/paroki dan organisasi-organisasi Katolik di seluruh Indonesia yang tercatat di KWI.

Buku kedua, “Wisata Jajan Malang Raya, diterbitkan o;leh PT Intisari Mediatama Jakarta (November 2011) dengan Koodinator Mayong Suryo Laksono.  Isi keseluruhan buku ini terangkum dalam judul pengantarnya: “Malang Raya, Metropolitan Segala Makanan”.

Kegiatan untuk kedua buku tersebut memang cukup memakan waktu dan pemikiran, termasuk menghimpun berbagai bahan yang relevan dengan topiknya. Dengan kondisi seperti ini beberapa permintaan/undangan terpaksa tidak bisa saya penuhi, termasuk peresmian gedung Unit III RS Panti Nirmala. Dengan tulus saya mohon maaf atas kejadian seperti itu.

Masih ada permintaan untuk menulis tentang nasib anak-anak manusia di lereng Gunung Kelud, buku tentang pertanian terpadu, sejarah sebuah yayasan, dan biografi seseorang. Namun semua ini belum terealisasi dengan berbagai alasan. Ada yang masih bersikap ”maju-mundur” alias ragu-ragu, kekurangan data yang dihimpun, atau kendala-kendala lain yang melilit kehidupan mereka. Jika mereka sudah dapat mengatasi berbagai kendala yang dihadapi, rasanya tidak sulit untuk mewujudkan tulisan/buku-buku tersebut.

Saya pun masih mempunyai beberapa topik yang dapat disusun menjadi buku, namun juga masih tertunda-tunda karena rutinitas dan kegiatan orang/lembaga lain yang memerlukan bantuan. Mudah-mudahan dapat saya selesaikan sesuai dengan keinginan awal, dan bermanfaat bagi orang lain yang memerlukannya.

* * *

            BULAN Desember terjadi beberapa kejutan. Ultah ke-41 perkawinan kami tanpa rencana untuk pesta, namun adik-adik dan anak kami membuat acara spontan. Keluarga besar berkumpul, pesta pun terjadi, di rumah dan di Taman Indie Resto. Terima kasih semuanya, Tuhan memberkati kita semua.

Obyek wisata Gunung Gumitir.

Kami mengikuti Misa Malam Natal di Gereja St Jusuf Jember, dan berekreasi ke Perkebunan Gunung Gumitir, antara Jember–Banyuwangi. Sedangkan misa menjelang tahun baru 2012 kami ikuti di Gereja St Antonius Kotabaru Jogyakarta, dengan berwisata ke kaki Gunung Merapi serta Kota Jogya dan sekitarnya.

Di Gunung Gumitir kami menyantap ubi-tahu-pisang goreng dan makan siang bersama. Di kaki Gunung Merapi kami bertemu salak, dan di warung Mbah Carik tersedia tetel/jadah bersama tempe bacem, wajik, berbagai buah, termasuk durian.

Singkat kata, di penhujung tahun 2011 itu – baik saat berlibur di Jember maupun di Jogja – kami kebanyakan makan tanpa kerja. Kami melupakan nasihat ”You are what you eat”.

Hal yang di luar dugaan, di Jogya kami tidak menemukan kamar hotel, namun mendapat kamar di ”Omah Rojo” Family Guesthouse. ”Omah Rojo” berarti ”Rumah Raja”, jadi kami seperti raja saat berlibur di Jogya!

Teras "Omah Rojo", Jogja.

Dalam menapaki tahun 2012 ini kami menerima’hadiah luar biasa’ dengan mekarnya Anggrek-tebu di samping rumah, setelah kami rawat sekitarlima tahun. Pohon ’cherry china’ yang disemai dari biji juga berbuah. Terima kasih Tuhan ….

Masih banyak kenangan yang sangat mengesan dalam menapaki tahun 2011, antara lain terlibat dalam Prosesi Patung Bunda Maria, Ulang Tahun Ke-75  Gereja Blimbing, pertemuan lansia paroki, Misa Syukur HUT RS Panti Nirmala, dan lain-lain. Terlalu panjang jika semuanya kami tulis di sini, dan sebagian dipaparkan dalam edisi tersendiri.

Anggrek tebu di samping rumah.

Ternyata kegembiraan dan optimisme yang muncul di awal tahun membawa kami sekeluarga beserta para sahabat menjalani tahun 2011 dengan penuh berkah dan nikmat. Kami sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakasih sehingga hidup menjadi lebih bermakna dan bermartabat.

Menapaki tahun 2012 ini kita masih mengalami berbagai ’kegoncangan’ yang muncul dalam tahun-tahun sebelumnya. Marilah kita semua berdoa, saling memaafkan dan mengampuni, serta saling menguatkan agar bangsa dan negara tercinta ini segera terlepas dari penderitaan yang berlarut-larut. Kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah misteri. Misteri itu akan berwujud kenyataan yang membahagiakan jika kita hadapi dengan pikiran positif dan selalu berdoa untuk mohon kebaikan kepada Tuhan Yang Mahamurah.

Sediakan waktu untuk berdoa, karena doa adalah kekuatan yang paling dahsyat di dunia,”  bunyi nasihat yang bijak.

Melalui tulisan ini, kepada para sahabat dan kenalan yang belum sempat berkomunikasi atau bertemu, saya ucapkan Selamat Natal 2011 dan Selamat Tahun Baru 2012. Semoga kita

semua selalu dilimpahi rahmat Tuhan Yang Mahakasih. Amin.***

Hormat dan salam, J.A. Noertjahyo & Istri

Selamat Natal, 25 Desember 2011.

Selamat Tahun Baru, 1 Janusri 2012.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: