Oleh: J.A. Noertjahyo | 03/03/2012

China-1: Pengobatan Tradisional

TANGGAL 24 Agustus 2011 saya melakukan pemeriksaan laboratorium di Malang. Hasilnya antara lain terkait dengan fungsi lever, yaitu SGOT 15-U/L dan SGPT 13-U/L (keduanya di bawah nilai rujukan, masing-masing 33 & 50-U/L). Berarti fungsi lever bagus.

Gedung pengobatan tradisional china

Minggu pertama September 2011 saya diperiksa ”dokter” pengobatan tradisional China di salah satu kota negeri itu. Dengan memegang nadi  pergelangan tangan sekitar satu menit, ”dokter” itu menyatakan bahwa fungsi lever saya ”terganggu”. Untuk menyembuhkan/menormalkan saya dianjurkan membeli ”ramuan tradisional” di situ, dua resep berharga sekitar Rp 1 juta.

Melalui penterjemah saya menyatakan hasil pemeriksaan lab di atas. Namun si ”dokter” itu mengatakan bahwa hasil lab tersebut sifatnya ”sementara”, dan lever saya memang ”terganggu”. Dengan obat tradisional china yang diresepkannya – katanya – lever saya akan baik untuk selamanya.

Saya menyatakan tidak bersedia membeli obat (tradisional china) yang diresepkan. Alasan (dalam hati) saya, (1) sudah lebih dari 25 tahun setelah dibiopsi lever saya selalu normal, (2) saya lebih percaya hasil pemeriksaan lab daripada hasil pemeriksaan “dokter” dengan memegang nadi pergelangan tangan saya sekitar satu menit.

Mengejutkan! Reaksi sang “dokter”: nampak kurang senang dan langsung berdiri lalu keluar dari ruang “pengobatan massal”. Tidak ada lagi teman lain yang diperiksa. Benak saya dipenuhi tanda-tanya! Ini tempat pengobatan, bisnis, atau pengobatan yang dikomersialkan?Gedung pengobatan

Ketika memasuki ruang pengobatan massal itu, rombongan kami yang berjumlah lebih dari 30 orang memang cukup kagum dan penuh harap. Kami langsung dipersilakan duduk di bangku pendek dan siap merendam kaki. ”Pimpinan” rumah pengobatan itu – seorang wanita – memberikan penjelasan panjang lebar tentang seluk-beluk pengobatan tradisional china, serta menawarkan ”plester” yang katanya mampu menyembuhkan gangguan kesehatan ringan, seperti capek, masuk angin, dsb.

Sementara itu sekitar lima karyawan langsung dengan sigap menyiapkan panci-panci berisi “air panas” di dekat kaki kami, untuk merendam kaki. Beberapa teman tidak tahan langsung merendam kakinya karena terlalu panas. Ada bau ”ramuan” yang tidak kami ketahui jenisnya. Hampir semuanya berharap ada tindakan pengobatan lebih lanjut.

Bereapa saat kemudian memang ada beberapa ”petugas” yang memeriksa kami, serta memberikan terapi untuk ini-itu dan menyarankan untuk membeli ramuan di situ. Misalnya bagi teman yang terkena varises, atau telapak kaki kasar, dsb. Hanya satu-dua teman yang menuruti nasehat petugas. Dan satu-satunya ”dokter”  yang masuk ke ruang pengobatan kami adalah yang memeriksa saya.

Hanya sekitar sepuluh teman yang diperiksa ”petugas” dan dibersihkan atau dikeringkan kakinya. Melihat si ”dokter” meninggalkan ruangan, serentak semua petugas juga pergi. Dan teman-teman yang belum ”terjamah” harus membersihkan/mengeringkan sendiri kakinya setelah diangkat dari baskom rendaman. Alasan petugas: ”Waktunya habis”.

Sebagian besar teman kami kecewa dan menggerutu, tapi mau apa? Protes? Kepada siapa? Dan saya sendiri yakin bahwa keputusan saya tidak mau membeli ramuan tradisional di situ adalah tepat! Mungkin pengalaman ini bermanfaat bagi Anda.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: