Oleh: J.A. Noertjahyo | 05/03/2012

Jiufen, Kota Kuno Taiwan yang Genit

DALAM suatu perbincangan tentang pariwisata, seorang teman berkata: ”Jika ke Taiwan jangan lupa mengunjungi Jiufen, kota peristirahatan yang indah dan nyaman.”Pemandangan di kota Jiufen

Ternyata anjuran teman itu bukan omong kosong. Kota Jiufen yang terletak di ujung utara Pulau Formosa memang mengesankan. Kota pegunungan dengan pemandangan indah hampir ke segala arah. Jalan sempit berliku-liku, menanjak dan naik, lalu turun melandai atau curam. Di kiri-kanan jalan banyak terdapat berbagai bangunan dengan macam-macam arsitektur, yang kuno dan modern, kombinasi barat dan timur, dan entah apa lagi. Yang jelas, sebagian besar bangunan itu selalu dipoles dengan variasi arsitektur khas China, baik bentuk maupun warna. Terlebih bangunan yang digunakan untuk umum, seperti warung teh dan restoran, hotel dan vila, serta tempat-tempat hiburan.

Panorama nampak semakin indah mempesona saat menatap sebagian bangunan seperti dipangku rimbunnya hutan yang lebat menghijau, tidak goyah dan kokoh bergeming. Menyatunya bangunan dan hutan yang bermahkotakan awan putih-bersih seolah mewakili Penguasa Alam mengawasi ciptaan-Nya!

Berbagai keindahan alam pegunungan itu masih dilengkapi dengan menjulangnya Gunung Jiufen dan Gunung Ghinkuashin yang menjulang ”membelah angkasa”. Keduanya juga sering bersembunyi malu di belakang awan atau kabut meskipun terkadang hanya sebagian tubuhnya yang tersaput. Dan ”perkawinan” keindahan itu dipadu dengan belaian pantai Samudra Pasifik yang meliuk indah nun jauh di bawah! Itulah secuwil ”karya” Allah yang membawa pesan halus namun tidak terbatas bagi umat manusia …….!

* * *

KISAH keberadaan Jiufen pun sangat unik dan menarik. Konon pada awal pemerintahan Dinasti Qing, Jiufen hanyalah sebuah kampung kecil yang terpencil, terisolasi dan sepi. Penghuninya hanya sembilan kepala keluarga. Ditemukannya biji emas tahun 1890 di kawasan ini membuat Jiufen mulai muncul dalam perbincangan luas dan merupakan awal dalam mengukir sejarah baru yang gemilang.

Berita penemuan emas itu menyebar dengan cepat sehingga Jiufen ramai dikunjungi pendatang. Terutama para pendulang dan pemburu emas. Penduduknya terus bertambah sehingga dalam waktu yang tidak lama, dari sembilan KK membengkak menjadi lebih dari 4.000 kepala keluarga. Dan saat ini, tahun 2011, jumlah penduduk Jiufen sudah sekitar 20 juta jiwa. Dari jumlah itu sekitar 80 persennya adalah pendatang serta keturunannya yang bermarga Han.

”Jiufen dulu merupakan tambang emas terbesar di dunia,” kata seorang pemandu wisata. Dan hasil tambang itu sebagian (besar) diboyong Jepang ke negaranya. Ini merupakan hasil sampingan dari invasi Balatentara Matahari Terbit ke berbagai negara Asia-Pasifik.

”Pada masa kejayaan tambang emas itulah dibangun hotel-hotel dan villa lengkap dengan tempat hiburannya,” ujar si pemandu kami.

Setelah PD II usai, tambang emas di sini mulai menurun dan akhirnya tutup pada tahun 1971. Pelan namun pasti pamor Jiufen terus menurun seiring dengan padamnya gegap-gempita tambang emas. Dan nyaris dilupakan. Namun karena Jiufen merupakan daerah pegunungan dengan pemandangan yang indah, para wisatawan terutama warga Taipei dan sekitarnya banyak yang sering berlibur ke kawasan ini. Dan pelan tapi pasti Jiufen terputar haluannya dari ”kota tambang” menjadi ”kota pariwisata”.

* * *

ROMBONGAN kami yang mengunjungi Jiufen pada minggu terakhir bulan  Oktober 2011 memang menikmati indahnya kota pegunungan itu. Dari ”gardu pandang” di ujung Jiufen Old Street yang merupakan pusat belanja suvenir bagi wisatawan, kita dapat melihat pemandangan Jiufen bagian ”bawah” dengan jaringan jalan yang berkelok-kelok. Tampak juga pemandangan indah ke arah Lautan Pasifik, diselingi sosok berbagai bangunan-bangunan  tua yang didirikan pada masa kejayaan tambang emas.

Saat itu kami sengaja mengunjungi Jiufen Old Town sekitar pukul sembilan pagi, saat keadaan masih cukup sepi. Biasanya, meskipun hari biasa tempat ini sudah dipadati pengunjung (turis) mulai sekitar pukul 10.00 sampai malam hari. Pengunjung jadi kurang bebas untuk bergerak, berbelanja atau mencicipi berbagai makanan khas daerah ini.

Kami menyusuri jalan sempit berbelok-belok, namun tertata rapi dan bersih. Kendaraan kecil (pikup) pengangkut dagangan masih dapat lewat meskipun memakan hampir seluruh badan jalan. Juga kendaraan roda dua, umumnya skuter, keluar-masuk. Karena itu pengunjung harus ekstra hati-hati meskipun para pengemudi selalu mengutamakan pejalan kaki.

Jalan ini pun memiliki beberapa ”cabang” yang lebih kecil/sempit. Di sepanjang jalanan itu berjajar toko-toko penjual souvenir dan berbagai macam makanan khas daerah ini. Tapi juga ada penjual pakaian tradisional maupun modern. Beberapa toko kue memproses dan memasak dagangannya di lokasi itu juga. Tidak ada sampah berceceran, hampir semuanya bersih dan rapi. Itulah antara lain yang membuat pengunjung merasa nyaman. Jiufen yang kuno tetap cantik dan menarik ….! (J.A. NOERTJAHYO, Biarabebas, awal November 2011)

* Catatan: Bahan tulisan dari pengamatan pribadi, pemandu wisata, dan internet.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: