Oleh: J.A. Noertjahyo | 20/03/2012

China-2: Pariwisata Plus Bisnis

ImageRUPANYA China memang menjual obyek wisata secara habis-habisan. Bahkan sekaligus juga dikaitkan dengan bisnis. Dari sekian banyak paket wisata yang disediakan, semuanya disusupi kunjungan ke berbagai perusahaan dan pusat perbelanjaan. Mulai pabrik mutiara dan perhiasan sampai pabrik teh, pengobatan tradisional dan pabrik kue/roti, juga beberapa studio alam untuk pembuatan film. Peninggalan sejarah dan kebudayaan setempat termasuk “dijual”, misalnya tersedia pakaian kebesaran “raja” lengkap dengan tahta dan dayang-dayangnya yang dapat “disewa” wisatawan untuk berfoto. Dan masih banyak lagi.

Kunjungan ke berbagai perusahaan itu memang cukup membosankan, serta banyak membuang waktu. Dan pengunjung biasanya seperti dipaksa-paksa untuk membeli produknya. Namun Biro Perjalanan dari Indonesia tidak berkutik, karena mereka pun harus bekerja sama dengan Biro Perjalanan lokal yang sudah siap dengan satu paket kunjungan yang ditentukan. Menurut bisik-bisik pemandu, ada perusahaan yang dikunjungi harus menyediakan makan bagi wisatawan jika waktu kunjungannya memang pas jam makan. Karena itu terasa kadang-kadang wisatawan seperti dipaksa membeli produknya, bahkan pintu keluarnya pun ditutup (dan dikunci).

Pengalam saya, “dipaksa” membeli cincin di sebuah perusahaan perhiasan. Dengan sigap pramuniaga merayu dengan memuji-muji produk yang ditawarkan. Secara bergantian gadis-gadis cantik itu mencobakan cincin ke jari saya. Untunglah, tujuh cincin yang dicobakan ke jari saya semuanya tidak cocok! Kebesaran atau kekecilan di jari manis kanan saya. Dan saya tidak mau dicobakan di jari yang lain. Mereka pun akhirnya menyerah.

Bukan hanya obyek wisata terkenal seperti Tembok Raksasa yang ditawarkan, tetapi juga danau tidak menarik namun sudah dipoles dengan sarana dan prasarana yang memadai. Akses ke berbagai obyek yang disediakan pun baik, jalanan mulus dengan lingkungan yang menarik. Bus-bus pariwisata atau kendaraan lain yang diperlukan juga cukup tersedia. Demikian juga hotel-hotel dan rumah makan.

Satu kenyataan yang cukup menarik, ternyata “speda onthel” masih banyak digunakan sebagai kendaraan rakyat. Di atas itu ada “speda listrik”, kemudian speda motor yang terbatas merk-nya. Di beberapa tempat ada lokasi khusus untuk parkir speda onthel, dan stop kontak untuk mengisi-ulang speda listrik yang kehabisan setrum di jalanan (tersedia gratis). Perkir untuk speda motor juga tersedia dan mengatur diri sendiri dengan rapi. Selama di China, saya tidak melihat adanya “tukang parkir”, sehingga – mestinya – tidak ada “rebutan kapling” parkir.

Kendaraan umum juga tersedia cukup, baik bus kota/antarkota, atau taksi. Sepanjang pengalaman di sana, semua kendaraan itu cukup bersih dan baik, serta aman. Para pemakai jalan juga ”tahu diri”, tidak (jarang) terlihat serobot-menyerobot atau tidak mau memberi kesempatan kepada pemakai jalan lainnya.

Jalan-layang bertebaran di mana-mana, baik untuk mengatasi kesibukan kota atau ”menyeberangi” kali besar dan danau. Sepanjang penglihatan, semua jalan itu nampak sangat kokoh dan bagus. Juga terowongan yang menembus gunung untuk memperpendek jarak dan menghindari jalan yang berliku-liku. Rupanya infrastruktur sengaja dibangun untuk memudahkan hubungan antarlokasi sekaligus sebagai pendukung pariwisata.

Sepanjang jalan yang dilalui rombongan kami nampak penghijauan yang subur dan tertata rapi. Juga tidak terlihat adanya rumah-rumah atau toko dan kios-kios yang kumuh.

Menurut ceritera pemandu, pemerintah sengaja membangun rumah-rumah susun untuk hunian penduduk sehingga kelihatan tertata rapi. Sangat sedikit orang yang memiliki rumah tinggal sendiri dengan bangunan besar dan halaman luas. “Ada komplek perumahan mewah untuk orang-orang kaya, tapi jumlahnya sangat sedikit dan harganya sangat mahal. Itu pun terpisah agak jauh dengan rumah susun penduduk,” katanya.

Saya hanya berpikir, apakah kebijakan seperti itu berlaku untuk seluruh negara sampai ke pelosok-pelosok desa? Entahlah, karena paket wisata kami tidak sampai memasuki pedesaan!

Mudah-mudahan cerita singkat ini bermanfaat bagi kita. Dan saya pun  merenung, kapan obyek-obyek wisata di negeri kita memiliki infrastruktur serta sarana-sarana pendukung yang bagus? ***

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: