Oleh: J.A. Noertjahyo | 24/12/2013

Henri Supriyanto: Perpustakaan …

Henri Supriyanto, Perpustakaan untuk (Calon) Sarjana Miskin
Dia merintis perpustakaan tahun 1970 bermodalkan sekitar 2.000 judul buku. Dengan rajin berburu ke toko-toko buku bekas serta bantuan beberapa teman, koleksi bukunya terus bertambah. Juga dari buku baru pilihan yang dibelinya secara selektif. Tahun 2013 ini koleksinya sudah mencapai sekitar 7.500 judul. Sebagian besar menyangkut masalah sastra, seni, budaya pertunjukan, dan kesenian rakyat.
Uniknya, perpustakaan pribadi Prof Dr Henricus Supriyanto M.Hum itu bersifat nirlaba. Terbuka dan gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. Dan hasilnya pun boleh dikatakan luar biasa. Tercatat sekitar 70 peraih S1, 16 peraih S2, dan 9 peraih S3 telah memanfaatkan jasa perpustakaan ini. Dan umumnya mereka termasuk hidup dengan ekonomi pas-pasan, bahkan boleh dibilang miskin.
”Ada yang tak mampu membayar fotokopi untuk skripsinya,” ujar lelaki yang kocak dan pintar bercerita itu. Tidak mengherankan, karena pada masa mudanya Henri – sapaan akrabnya – pernah menjadi pimpinan sebuah grup kesenian khas Jawa Timur, Ludruk, sekaligus juga jadi pemainnya. Disertasinya pun tentang Ludruk, berjudul ”Lakon Sarip Tambakyasa dalam Seni Pertunjukan Ludruk, Analisis Wacana Post-Kolonial”.
Mereka yang memanfaatkan perpustakaan itu berasal dsari berbagai kampus. Di antaranya Universitas PGRI Surabaya, IKJ (Jakarta), ISI Yogyakarta, Jurusan Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya, Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar.
Keunikan lain perpustakaan ini, di samping dapat memanfaatkan buku-buku secara gratis, pengunjung juga boleh menginap secara gratis pula. Baik laki-laki maupun perempuan. Ada kamar tidur khusus bagi wanita dan kasur-kasur yang dapat digelar di ruangan terbuka untuk digunakan bersama-sama. ”Semuanya gratis, tapi untuk makan beli sendiri di warung,” ujar Henri sambil tertawa terkekeh-kekeh. Saat berbincang-bincang di rumahnya yang sekaligus dijadikan perpustakaan, di ”bibir” Permandian Wendit Malang, ayah dua putri dan kakek seorang cucu itu juga menunjukkan beberapa buku yang ”langka”. Setidaknya sulit dicari di toko-toko buku atau pasar buku rombengan. Di antaranya buku ”Tjerita Seratus Ampat dari Dalem Kitab Soetji” terbitan tahun 1916, dan Kitab Suci dalam bahasa Madura berjudul ”Tyareta Saratos Empa” yang diterbitkan tahun 1929. Juga buku ”Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin yang menandai heboh sastra tahun 1968.
* * *
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan Henri, pelajar sekolah guru umumnya berasal dari desa dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Bahkan tidak sedikit yang termasuk miskin. Jika berhasil lulus SGA (SPG) hanya sedikit yang mampu meneruskan studi ke perguruan tinggi. Dan mereka yang berhasil ini pun menghadapi banyak kesulitan. Termasuk mencari buku-buku wajib sampai buku untuk referensi skripsinya. Inilah motivasi Prof Henri mendirikan perpustakaannya.
Diakui, selain motif di atas, ia juga mendapat inspirasi dari dua dosennya untuk mengelola perpustakaan. Yaitu Prof Hasyim Amir dan Prof Wojowasito yang sering menyatakan bahwa buku adalah sahabat cendekiawan. ”Bagi Pak Wojo, buku baru bukanlah buku yang baru diterbitkan, tetapi buku yang belum kita baca,” kenang Henri terhadap pribadi Prof Wojowasito, pengarang kamus yang terkenal itu.
Perjalanan hidup Prof Dr Henricus Supriyanto M.Hum bisa dikatakan unik. Ia anak seorang guru yang ekonominya pas-pasan, hidupnya berpindah-pindah di daerah Malang dan Banyuwangi. Kondisi ekonomi keluarganya membawa dirinya masuk ke sekolah guru (SGB), kemudian ke SGA, lalu menjadi guru.
Sempat bekerja di pabrik rokok sekitar lima tahun, berhenti karena pabriknya bangkrut. Sambil bekerja Henri kuliah di IKIP EC (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Extention Course) Malang, kuliahnya jam 16.00-20.00. Gelar Drs (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diraihnya tahun 1970 saat bekerja sebagai guru SPG Katolik Frateran Malang. Tahun 1982 diterima sebagai dosen di IKIP Surabaya. Berpeluang mengikuti pendidikan jenjang pascasarjana di Universitas Udayana Denpasar (Bali) dan lulus tahun 2000. Setelah kembali mengajar di IKIP Surabaya, tahun 2003 ia mendapat kesempatan lagi kuliah di pascasarjana program doktor (S3) di Universitas Udayana. Setelah lulus dan mengajar lagi, akhirnya bisa menyandang pangkat guru besar (profesor) di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) IKIP/Universitas Negeri Surabaya tahun 2007 berdasarkan SK Mendikbud Prof Dr Bambang Sudibyo.
”Saya hanya 10 bulan menjadi guru besar di UNS, kemudian pensiun,” ujar Henri secara polos. Namun tahun 2009 dia diangkat sebagai guru besar Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Universitas PGRI Buana Surabaya.
Kehidupannya yang berliku-liku dengan segala suka-dukanya itu dia gunakan sebagai ”modal” untuk dapat menolong orang-orang senasib yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya.
* * *
Kemiskinan memang akrab membelit keluarga besar Henri. Ayahnya, Sadimin, dilahirkan di desa miskin daerah Bojonegoro dan hidup ngenger (mengabdi) pada seorang guru sehingga berkesempatan sekolah SR Ongko Siji (sampai kelas 3) sambil bertugas menggembalakan kambing. Selama tiga tahun ngenger ia mendapat upah seekor kambing, dijual untuk biaya ke Surabaya terus ke Jember. Di sini ia ngenger lagi pada wanita penjual nasi pecel yang kemudian meninggal. Ia pun hidup terlunta-lunta, sampai tertidur di teras gereja dan ditolong Pastor menjadi tukang kebun.
Pator itu menyekolahkan Sadimin sampai tamat SR Ongko Loro (kelas 6), berlanjut ke kursus guru selama satu tahun. Kemudian Sadimin berganti nama menjadi Ignatioes Soepratignjo dan diangkat menjadi guru SR di Desa Brongkal, Gondanglegi, Malang selatan. Dan ia menikah dengan putri seorang bakul mlijo. Demikianlah, suami-istri dan lima orang putra-putrinya hidup berpindah-pindah di daerah Malang dan Banyuwangi sebagai keluarga guru yang ekonominya pas-pasan.
Saat Henri sudah lulus SGA dan menjadi guru, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia. ”Bagaimanakah keluarga besar I Soepratignjo ketika soko guru itu roboh di pagi hari? Jawabannya hanya satu kata …. tercerai berai,” tulis Henri dalam buku ”Biografi Putra-putri I. Soepratignjo” yang disusun untuk keluarga besarnya.
Situasi yang menegangkan, tulis Henri, bertepatan dengan peringatan 40 hari meninggalnya sang ayah, putra keempat almarhum, Frater S Suprawito, memakai jubah pertama di Kapel Biara Karmel Batu, Malang. ”Atas anugerah Tuhan kami yakin, Badai Pasti Berlalu”, kalimat penutup catatan harian Henri. Dan keyakinan ini benar, seluruh keluarga besar Soepratignjo menjalani kehidupannya dengan baik meskipun tidak kaya raya. Yang jelas, seorang menjadi Pastor dengan julukan ”Romo Pratig” dan seorang lagi menjadi Prof Dr Henricus Supriyanto M.Hum.
Pada awal Kata Pengantar buku keluarga itu Prof Henri menggugah generasi penerus keluarganya: ”Upaya penerbitan buku ini merupakan terobosan budaya, merobek tradisi lama, untuk menciptakan kultur baru. Kepentingan utama ialah penyampaian pesan-pesan untuk generasi yang akan datang, generasi anak cucu yang menghadapi hidup semakin kompleks, semakin banyak tantangan. Permintaan kami, teruslah bergerak, menimba ilmu pengetahuan, menguasai teknologi terapan, agar ada perubahan di bidang kesejahteraan.”
Kemiskinan dan penderitaan pun mampu menggugah seseorang untuk menolong sesamanya. (J.A. Noertjahyo, wartawan tinggal di Malang).

Henricus Supriyanto:
– Lahir: Curahjati, Banyuwangi, 15 Juli 1942
– Pendidikan: SD Pagelaran, Malang
SGB-SGA Katolik Frateran Malang
S1 IKIP Malang
S2 Universitas Udayana Denpasar
S3 Universitas Udayana Denpasar
– Karier: Guru & Karyawan Pabrik Rokok
Dosen IKIP Suarabaya (Universitas Negeri Surabaya)
Guru Besar UNS/Universitas PGRI Surabaya.
– Istri: Bernadetta Suryati
– Anak: Anastasia Priastuti Suryaningtyas
Lucia Priandarini Suryaningrum


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: